
Aish menepis tangan Aldric yang menyentuh lengannya, matanya berkilat marah serta kecewa atas apa yang terjadi.
Naina tidak bercanda, ternyata pria yang melakukan ijab qabul bukanlah Ken, melainkan saudara kembarnya yang lain yaitu Aldric.
"Kenapa kau lancang mengambil kesempatan dalam hal ini?" tanya Aish tajam dengan mata yang sudah berlinang airmata, ia menatap Aldric dengan kesal luar biasa.
"Kenapa kau tega menikung saudara kembar mu sendiri? Aku harusnya menikah dengan Ken bukan kau Mas Aldric, kenapa kau jahat sekali? Mana Ken? Mana Ken?" teriak Aish sudah kehilangan akal.
Aldric hanya diam.
Naina memeluknya menenangkan, iparnya itu kembali mengatakan jika Ken di rumah sakit sekarang.
"Kenapa diam saja, ayo bawa aku ke rumah sakit!" teriak Aish lagi sambil melepaskan mahkota di kepalanya yang terasa sangat menekan dan membuatnya pusing.
Naina mengangguk, lalu ia merangkul pundak Aish yang mulai melangkah menjauhi Aldric yang menatap Aish dengan perasaan terluka. Lalu pria itu juga menyusul ke mobil.
Seketika suasana rumah mewah yang seharusnya berpesta dan bahagia berubah menjadi sebuah suasana duka setelah kabar musibah itu terdengar di telinga para tamu dan kerabat yang datang.
Semua jadi hening.
Dalam mobil Aish terus bertanya dalam kegusarannya pada Naina tanpa menghiraukan Aldric sedikit pun, pria itu hanya diam dan fokus mengemudi.
Naina hanya bisa menenangkan Aish, dan berkata bahwa Aish akan tahu jika sudah sampai rumah sakit nanti.
Aish menangis sepanjang perjalanan, ia tidak mengira hari bahagianya berakhir tidak terduga, terlebih ia dikejutkan bahwa ia sudah resmi dinikahi calon iparnya sendiri.
Semula ia menganggap lelucon, ia pikir semua orang sedang mengerjainya tapi kini Aish sadar ia sudah berada dalam perjalanan ke rumah sakit. Apa apa dengan Ken?
Semua menangis termasuk Aldric, pria itu diam tapi matanya tidak sedang berbohong, ia menangis dengan mata dan hidung yang merah. Pun Naina, istri Alvaro juga tidak berhenti menangis hingga sekarang.
Entah apa yang akan Aish hadapi di rumah sakit nanti.
Hingga mereka mencapai parkiran rumah sakit.
Aish dituntun Naina yang tidak meninggalkannya, membawa Aish menuju beberapa orang yang sedang menunggu mereka.
Aish berhenti melangkah, di luar IGD ia melihat mertuanya yang menangis pilu, ia tatap satu persatu wajah yang hilang dari acara ijab qabul tadi. Semua mereka ada di sana.
"Bunda?" panggil Aish perlahan mendekati Nayla yang tampak hancur.
Nayla keluar dari pelukan suaminya, ia berjalan menuju Aish dan memeluk menantunya itu dengan tangis yang kian pecah.
"Ada apa ini?" tanya Aish dengan suara tangis tertahan.
__ADS_1
Lalu Bunda Nayla melepas Aish dan menatap wajah perempuan itu mencoba untuk tetap tegar agar bisa menyampaikan berita itu pada calon istri Ken yang kini berada di hadapannya memakai busana pengantin bergaya melayu dengan indah dan cantik yang kian menangis itu.
"Aishwa, kau harus tahu bahwa Ken...."
Suara Nayla tertahan, ia menahan tangis yang seolah tidak mau berhenti.
Aish menunggu dengan tatapan nanar, menunggu jawaban pasti dari praduga nya sejak tadi.
"Apa Mas Ken kecelakaan? Apa dia baik-baik saja? Kenapa tidak ada yang memberitahu ku?"
Nayla melihat lagi wajah Aish yang kecewa. Lalu perempuan yang seharusnya paling berbahagia hari ini melihat putra keduanya menikah dengan wanita yang Ken cintai itu menggeleng.
"Ken meninggalkan kita semua Aish, dia berpulang sesaat setelah sholat Jumat, putraku sudah meninggal Aish, meninggalkan mu, meninggalkan ku, meninggalkan kita semua!"
Mendengar setiap kata dari Bunda Nayla membuat jantung Aish terasa ingin lepas dari tempatnya.
Ia melepaskan tangan Bunda Nayla yang menangis lagi, lalu Aish melirik pintu IGD yang biasa ia lewati untuk bekerja itu.
Tanpa berpikir panjang, Aish berlari setelah mengangkat gaunnya yang panjang menuju ruangan IGD.
Ia menghampiri pria yang terbaring kaku di brangkar, sedang ditangani para perawat. Tangannya sudah berada di atas perut.
Aish melihat itu seperti kehilangan pijakan. Tubuhnya teras limbung, hatinya hancur berkeping-keping.
Beberapa kali Aish menyuruh Ken bangun namun nihil, pria itu bahkan tidak menampakkan pergerakan sama sekali.
Perawat yang biasa menjadi rekan kerja Aish itu menjadi menangis pula melihat betapa tidak beruntungnya Aish bahkan di hari pernikahannya sang calon suami telah berpulang lebih dulu sebelum acara dimulai.
Dokter Siska, teman sesama dokter Aish menghampiri perempuan yang malang itu.
"Aish, jangan seperti ini," ucap dokter Siska merangkul Aish penuh rasa iba.
"Dia belum mati kan? Kenapa kau tidak memberinya CPR?" teriak Aish dalam tangisnya.
Entah dirasuki oleh apa, Aish bahkan langsung memberi kompresi dada agar seperti ia sedang menyelamatkan nyawa orang yang sedang kritis.
Dokter siska menghentikan tangan Aish, ia memeluk Aish agar wanita itu tenang.
"Berhenti Aish, jangan lakukan hal yang sia-sia."
"Sia-sia? Kenapa kau jahat padaku? Kenapa kau tidak menyelamatkan nyawa calon suamiku Siska? Kenapa kau biarkan Mas Ken pergi begitu saja tanpa usaha memberinya bantuan hidup?" ucap Aish kian lirih, setiap kata terasa sangat sulit ia ucapkan.
"Aish, Tuan Ken mengalami serangan jantung saat dia menjalani sholat Jumat, dia sudah meninggal satu jam yang lalu," jawab dokter Siska dengan tangisnya.
__ADS_1
Aish melihat lagi Ken yang terbujur kaku, wajah pria itu tidak sepucat mayat biasa, wajahnya seperti Ken yang biasa tertidur dengan pulas, hanya saja tubuhnya dingin sedingin hati Aish sekarang.
Aish kaku, ia terdiam. Ia hanya berdiri memandang dengan seksama benarkah apa yang terjadi saat ini adalah nyata, atau ia hanya mimpi buruk karena terlalu gugup menghadapi pernikahan?
Semua mata menatap Aish dengan tangis yang tidak berhenti, terlebih mendekat pula Nayla dan Ariq yang tidak kalah terpukul telah kehilangan putra mereka yang nakal itu.
Aldric berdiri tidak jauh dari istrinya itu, ia juga menangis dalam diam, ia telah kehilangan salah satu saudara kembarnya, Ken yang nakal, Ken yang jahil sejak kecil itu kini sudah tidak bernyawa, Ken yang beberapa saat lalu menunaikan kewajiban sholat Jumat bersamanya di Masjid tidak jauh dari kediaman keluarga Nayla dan Ariq.
Rencana menikah menjadi sebuah musibah kematian, siapa yang bisa menebaknya?
Aldric merasa pundaknya disentuh seseorang. Itu Alvaro, saling menatap akhirnya pecah juga tangis yang tertahan. Mereka berpelukan, disusul si bungsu Faiz yang juga tidak kalah sedih kehilangan salah satu kakak terbaiknya.
"Aish," panggil Nayla menyentuh pundak menantunya itu.
Aish menoleh. Perempuan itu limbung seketika sesaat setelah menatap wajah sang ibunda yang telah melahirkan Ken.
"Aish?" Aldric berlari segera menopang Aish hingga tidak jatuh ke lantai.
Pria itu menggendong wanita yang baru saja ia nikahi tiba-tiba ke atas brangkar, dokter Siska mendekat, ia segera memasangkan selang oksigen pada dokter yang memakai baju pengantin itu.
Karena tidak boleh ramai di dalam IGD, hanya satu orang yang boleh mendampingi pasien di sana setelah merasa cukup untuk keluarga Ken masuk ke sana, dokter Siska meminta mereka keluar agar tidak mengganggu pasien lain.
Jenazah Ken sudah dipulangkan, Aish didampingi Aldric di sana, menunggu perempuan itu sadar dengan setia.
Semua keluarga telah pulang ke rumah pengantin yang berubah menjadi rumah duka.
Aldric melihat Aish membuka mata.
"Aish."
Aish melirik Aldric lalu berpaling. Perempuan itu kini duduk dan melepaskan sendiri selang oksigen.
Aldric memegang lengan Aish ketika hendak turun dari brangkar. Namun Aish menepis tangan suaminya itu.
"Jangan sentuh aku!" ucap Aish dingin.
Ia sudah kuat berdiri, ia berjalan meninggalkan Aldric yang mematung mendapat penolakan keras dari wanita itu.
"Aish kau masih lemah, ini teh hangat minumlah dulu!" balas Aldric mencegah Aish lagi.
Aish menatap Aldric dengan tatapan luka yang dalam.
"Aku bilang jangan sentuh aku!" tepis Aish lagi, kali ini bahkan sampai menepis teh hangat dalam gelas plastik itu hingga terjatuh dan tumpah ke lantai.
__ADS_1