
Aish melangkah gontai menuju salah satu kamar kost yang ia datangi.
Dari informasi yang ia dapatkan dari teman Romi tadi, Aish memutuskan harus bertemu dan mengetahui hal yang sebenarnya terjadi pada Romi dan pernikahan mereka.
Tidak satu tapi beberapa pria yang tidak sengaja bertemu dengannya sesaat lalu, pria yang ia kenal sebagai teman satu kompi dengan sang suami. Pria-pria tersebut juga tengah berada di rumah kost yang tampak bebas itu.
Ini adalah hari Minggu, mungkin menjadi alasan rumah kost menjadi ramai, ramai pengunjung pria yang beberapa diantaranya Aish ketahui adalah prajurit sama seperti suaminya.
Rumah kost khusus wanita, tapi malah dipenuhi lelaki di mata Aish saat ini. Satu jam perjalanan ia tempuh dari lokasi gempa, beruntung daerah ini tidak terlalu merasakan akibatnya.
Beberapa kali Aish menarik napas, beberapa kali pula ia menyeka airmata saat telah berada di depan pintu kamar kost nomor 24 yang berada di lantai dua.
Beberapa kali ia hendak mengetuk pintu namun tidak bisa, Aish tidak kuat bahkan hanya mengangkat tangannya.
Tapi ia tidak bisa menerka, tidak pula ia bisa pergi begitu saja sebelum semuanya terungkap. Ia harus tahu bahwa pria yang sedang di kamar 24 itu adalah benar suaminya.
Suami yang ia tunggu-tunggu pulang dari tugas, suami yang ia selalu rindukan, Romi yang ia nanti dengan setia.
Suara ******* wanita itu membuat Aish luluh lantak, berulangkali Aish menyangkal bahwa suara itu berasal dari kamar yang berada di hadapannya namun suara itu kian nyata di telinga.
Sesekali ia mendengar pujian manja dari suara sang lelaki wanita yang kian mendesah kenikmatan itu. Suara Romi, Aish menyangkal lagi namun semakin lama ia berdiri di sana semakin pula jelas suara suaminya berada di dalam sana.
Aish melihat sekeliling, sepi. Di lantai dua tampak sepi, tidak seperti di lantai pertama rumah Kost yang cukup mewah itu dengan empat lantai.
Ia tidak bisa hanya menerka dan berburuk sangka saja seperti ini, Aish harus tahu siapa yang berada di dalam sana.
Tok tok tok. Aish mencoba mengetuk pintu dengan sisa tenaganya.
Tidak mendapat tanggapan, hingga Aish mengetuk beberapa kali lagi. Barulah beberapa menit kemudian, pintu terbuka menampilkan wajah pria yang berkeringat menggunakan handuk saja.
Demi apa, Aish seperti tengah berpijak di air bersiap tenggelam dalam kesakitan yang luar biasa.
__ADS_1
"Aish?" pria itu sungguh terkejut bahkan ingin tersedak.
"Iya, ini aku!" sahut Aish perlahan menitikkan airmata juga.
Suasa hening seolah mencekam, padahal hari masih sore dengan sinar matahari yang belum juga turun.
"Bisakah kalian berpakaian lengkap? Aku tidak harus melihat aurat seseorang di sini," ucap Aish pelan, suaranya lembut namun mampu meremukkan dada Romi.
Pria itu salah perhitungan, ia tidak pernah bisa mengira bahwa Aishwa bisa sampai di sana.
Segera Romi dan wanita itu memakai baju dan celana dengan semestinya, tidak memakai handuk seperti tadi.
Aish mencoba bersikap tenang diantara dadanya yang seolah ingin meledak oleh pemandangan di hadapannya itu.
Mereka duduk bertiga dengan pintu tertutup, Aish selalu pandai bersikap. Ia bukan tipe perempuan bar-bar yang bisa mengamuk layak harimau betina. Ia tidak datang untuk kegaduhan, ia datang untuk sebuah kejelasan.
Ia lebih suka bicara baik-baik agar semuanya baik pula meski kesakitan itu sungguh nyata ia alami saat ini.
"Apa kalian sudah menikah?" tanya Aish dengan suara lembutnya namun terasa mengiris.
"Jika begitu, uruslah semuanya dan menikah dalam waktu dekat. Jangan mempermainkan suatu hubungan dalam ikatan terlarang, setiap wanita itu pantas untuk dihargai, dihargai dengan pernikahan yang baik," ucap Aish lagi.
Wanita itu hanya bungkam dan menunduk, Romi menatap Aish yang kian terluka olehnya.
"Maafkan aku Aish, aku menyakiti mu," balas Romi meraih tangan Aishwa. Pria itu tampak memelas.
Aish tersenyum penuh luka.
"Aku tidak bisa Mas Romi, aku tidak bisa punya suami yang tidak bisa menjaga komitmen, meski hanya Tuhan yang tahu bahwa sakitnya lahir dan batin ku saat ini, tapi tidak pula aku menyalahkan mu atas semua yang terjadi."
"Aku mengerti kau pria yang normal, kau punya keinginan seksual sedang istrimu jauh menetap di kampung, aku akan mencoba mengerti dengan alasan ini," sambung Aish dengan mata kembali berair.
__ADS_1
"Aish."
"Tapi sekarang giliran kau yang harus mengerti Mas Romi, aku yang mengira hanya dimadu oleh negara, kini ternyata aku juga akan dimadu dengan wanita lain. Aku tidak bisa Mas Romi, mohon kau mengerti akan hal ini."
"Aish," lirih Romi dengan mata yang perlahan berair. Pria itu menggenggam tangan Aish dengan penyesalan yang mulai terlintas.
"Aku tidak akan menyuruh kau memilih antara aku atau dia, tapi aku mau kau melepaskan salah satu dari kami?"
Romi terdiam. Aish menoleh pada wanita yang menunduk dengan tangis itu.
"Dari aku dan wanita ini, siapa yang paling rugi jika kau tinggalkan? Aku yang masih perawan, atau dia yang sudah beberapa kali kau pakai?"
Kini suara Aish terdengar tegas dari sebelumnya.
Romi tidak bisa menjawab, pria itu tidak berkutik sedikitpun.
"Lepaskan aku, nikahi perempuan ini. Masalah selesai, aku tidak akan menuntut apapun tentang hari ini, aku tidak akan menghancurkan karir mu dengan perbuatan rendah mu ini Mas Romi."
"Aishwa?"
"Lepaskan aku, dan nikahi perempuan ini secepatnya. Jangan jadi pria pengecut yang hanya tahu enaknya saja, kau seorang prajurit. Jangan membuat malu seragam mu, berani berbuat berani bertanggung jawab, harga diri mu ada di sikap dan perbuatan mu Mas Romi," ucap Aish lagi.
"Dan kau, aku harap setelah menikah kau bisa ikut kemana Mas Romi bertugas jika tidak mau berada di posisi ku saat ini. Ketahui lah, Mas Romi pria yang baik, kau boleh memiliki nya, jangan terlena dalam hubungan seperti ini, kau wanita sama seperti ku, semua wanita layak dihargai dengan pernikahan."
"Ingat ada banyak hati yang sedang kau permainkan Mas Romi, hatiku, hati orangtua mu, dan harga diri seragam mu! Aku hanya ingin berakhir dengan baik, aku sudah memutuskan untuk tidak berada di sisi lelaki yang tidak bisa menjaga cintanya, maafkan aku atas kekurangan ku yang ini," ucap Aish membalas genggaman tangan Romi lagi.
"Aku tidak bisa dimadu selain negara, aku belum siap untuk itu!"
Aish menangis juga, ia bahkan menunduk dan menutup wajahnya. Tersisa bahu yang bergetar tanda ia sedang menangis dan terluka amat dalam.
Romi memeluknya, pria itu bahkan kehilangan kata-kata menghadapi Aish nya, Aishwa Zulaikha yang mungkin tidak akan ia miliki lagi setelah ini.
__ADS_1
Flash back off
"Kita sudah sampai, Aish!" seru Pak Rahmat menyadarkan Aish dari lamunan panjang dokter cantik itu.