
Dan ternyata bertepatan dengan sebuah panggilan masuk dari kontak yang mempunyai nama.
Andira calling.
Andira? Bukankah itu nama mantan kekasih suaminya pikir Nayla sejenak. Ia menatap lagi layar ponsel yang masih bergetar di tangannya.
Nayla merasa gugup atas panggilan itu, hatinya tidak nyaman jika memang nama Andira di sana memang nama kontak mantan kekasih Ariq yang pertama.
Mencoba menetralisir perasaan dengan mengambil napas dalam-dalam lalu ia buang perlahan, dengan jari lentiknya ia usap layar ponsel itu untuk menerima panggilan.
Nayla mulai menempelkan ponsel ke telinganya, namun ia belum berani bersuara.
"Ariq, ariq...... Tolong aku, Ariq tolong ak......"
Terdengar suara teriakan dari seberang telepon, seperti meminta tolong dalam ketakutan, suara itu kemudian samar lalu berganti dengan suara lelaki yang memarahi sang wanita dengan kata-kata kasar dan umpatan, meski Nayla tidak mendengar secara jelas namun ia tahu ada sebuah pertengkaran di seberang sana.
Nayla bertambah cemas.
"Hallo, hallo....." Nayla mencoba menyahut, namun tidak terdengar balasan, sepertinya ponsel si penelepon terjatuh namun tidak mati hingga Nayla bisa mendengar pertengkaran itu hingga sekarang.
"Ada apa ini, siapa mereka?" Nayla bertanya-tanya dalam kebingungan.
Jika perempuan dan lelaki itu sedang bertengkar lantas apa hubungannya dengan Ariq? Kenapa perempuan itu menghubungi suaminya malam-malam seperti ini.
Terdengar suara tangisan lalu teriakan lagi seperti minta tolong, namun perlahan semakin menjauh, semakin samar dan perlahan menghilang. Namun panggilan itu masih terhubung.
Karena sudah terlalu lama menunggu namun tidak ada yang menyahut akhirnya Nayla matikan sepihak panggilan itu. Ia menoleh pada Ariq yang masih terpejam dengan manja dalam pangkuannya tanpa bergerak.
"Mas Ariq, apa yang kau sembunyikan dariku? Ini belum dua minggu kita menikah, kau sudah seperti ada rahasia."
Gumam Nayla menatap kepala suaminya dengan perasaan sedih, ia kecewa jika memang pria itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya terlebih soal wanita, entah itu teman atau siapa, bukankah tidak seharusnya menyembunyikan apapun antar suami istri.
Andira, apa dia mantan Ariq yang menelepon tadi atau Andira lainnya? Nayla mulai merasa sesak pada dadanya, bukan hanya penasaran namun ini menyangkut juga pada hatinya, perasaannya sebagai istri, istri yang baru dinikahi belum genap dua minggu.
Nayla mendorong Ariq agar ia bisa bebas bergerak, namun alih-alih lepas malah suaminya bertambah erat memeluk pinggang perempuan itu.
"Kau memang menyebalkan," geram Nayla sambil menggigit lengan Ariq dengan kesal.
Ariq terbangun karena terkejut.
"Sayang kau kenapa?" tanya Ariq beranjak dari Nayla sambil memegang lengannya yang kesakitan. Suaranya serak khas bangun tidur.
Nayla menatapnya dengan wajah kecewa, perempuan itu segera berdiri dari ranjang seraya berkata, "Perutku mulas."
Ariq menyipitkan matanya yang masih mengantuk, ia melihat Nayla berjalan ke arah kamar mandi tanpa curiga, ia pikir istrinya memang mulas hingga pria ini kembali menjatuhkan badannya kemudian tidur lagi dalam posisi tengkurap.
Keesokan paginya, Nayla sedang memasangkan dasi Ariq yang sudah bersiap akan ke kantor.
"Kau yakin ke kantor sepagi ini" tanya Nayla tanpa menoleh.
__ADS_1
"Iya, nanti ada rapat penting aku harus hadir."
"Benar rapat atau lain hal?"
"Hanya rapat," jawab Ariq enteng.
"Kau akan pulang malam lagi?"
"Iya, maaf...... Aku akan pulang malam beberapa hari ini."
Ariq menarik pinggang Nayla hingga semakin menempel.
"Mas Ariq, sebenarnya aku ingin bicara padamu tentang semalam."
"Tentang apa? Maaf sayang, aku tidak bisa lama. Bagaimana jika nanti malam kita bicara?"
"Apa ada hal yang kau rahasiakan dariku?" Nayla tetap bertanya.
"Apa maksudmu?"
"Entahlah, aku merasa kau merahasiakan sesuatu dariku. Kau pulang malam beberapa hari padahal kata Oma kau tidak pernah pulang terlalu malam."
Ariq menyelipkan rambut istrinya ke belakang telinga, ia tersenyum menikmati raut wajah cantik yang merajuk nan menggemaskan itu.
"Aku mencari uang lebih."
"Ck....." Nayla hanya berdecak mendengar kata-kata itu seolah tidak percaya.
"Semalam ada yang menelepon mu."
"Siapa?"
"Nama kontaknya Andira."
"Lalu?"
"Maaf aku lancang menerima panggilan itu. Hanya saja aku tidak tahu apa itu mantan kekasihmu atau bukan."
"Iya, Andira. Aku masih menyimpan nomornya, kami masih berhubungan baik. Tidak masalah bukan? Kalian bicara apa?"
Nayla mendongak, ia menautkan alis karena jawaban mulus dari bibir suaminya itu.
"Jadi benar, dia mantan kekasih mu?"
Ariq mengangguk, "Kami memanglah harus tetap terhubung, sebab kami menjalin kerjasama antar pekerjaan. Tidak lebih, percaya padaku, dia sudah menikah akupun sudah beristri, kami juga hanya bertemu saat ada rapat penting saja."
Nayla menelan ludah, inikah yang dimaksud oleh bibi Arina semalam, bahwa Nayla harus pula tahu siapa teman dan pergaulan suaminya jika di luar.
Kecil, Nayla merasa semakin kecil, ia tidak paham sama sekali pola kehidupan Ariq selama ini yang mungkin saja dikelilingi banyak wanita, alangkah naifnya Nayla berpikir Ariq akan selalu menoleh padanya sedang di luar sana tentu suaminya sudah terbiasa terhubung dengan banyak wanita yang bahkan bisa jauh lebih cantik darinya.
__ADS_1
"Mungkin dia menelepon masalah pekerjaan, dia tidak pernah menghubungi ku diluar urusan pekerjaan, kami hanya sebatas hubungan profesional sekarang."
Nayla menggeleng pelan, ia teringat akan sesuatu yang terdengar oleh telinganya dari sambungan telepon semalam, suara tangis, teriakan kesakitan meminta tolong dengan menyebut nama Ariq, lalu kata-kata kasar dan umpatan dari suara seorang pria, membuat Nayla berpikir sejenak, jika seperti itu bukankah hal tersebut urusan pribadi bukan cerita pekerjaan?
"Aku pergi dulu, aku tidak bisa terlambat. Jangan terlalu dipikirkan. Aku hanya butuh kau percaya padaku Nayla....."
"Aku akan pulang seperti semalam. Kau tidurlah lebih dulu, tidak perlu menunggu ku, ada banyak hal yang harus ku kerjakan, dan itu harus selesai dalam minggu ini."
Nayla hanya diam.
"Aku akan pergi sekarang, aku mencintaimu sayang..... Minta bang Jhon yang mengantarmu ke restoran. Oke!"
Ariq mengecup bibir Nayla beberapa kali, lalu ia mulai menjauh.
"Tapi mas Ariq, aku belum selesai bicara soal telepon semalam, aku rasa itu cukup serius," cegah Nayla sambil menahan lengan suaminya.
"Kita akan bicara itu nanti sayang, aku harus pergi sekarang."
Nayla hanya bisa menghela napas panjang, menatap suaminya yang menjauh dan perlahan menghilang di balik pintu kamar mereka.
Sudah beberapa hari Ariq seperti ini, pergi pagi pulang malam terkadang cukup larut. Apa seperti itu sibuknya pria kantoran? Lalu saat Ariq mendekatinya dulu bukankah pria itu bebas keluar kapan saja bahkan terkadang tidak masuk kantor hanya karena ingin bersama? Entahlah, kini Nayla menatap dirinya di pantulan cermin, pikiran-pikiran yang merugikan hatinya mulai bermunculan.
Istri yang sudah hampir dua minggu belum dijamah suaminya, jika dibilang Ariq tidak mencintai dan tidak menginginkannya tetapi sikapnya selalu hangat dan mesra jika berada berdua, tapi dibalik itu tidak ada malam pertama di antara mereka. Apalah arti kemesraan itu pikir Nayla, mereka suami istri bukan sedang berpacaran.
Tentu keduanya sudah memiliki kebutuhan biologis saat bersama, hasrat seksual dan merasa itu adalah suatu kewajiban untuk melayani satu sama lain. Tapi mereka belum melakukannya, sudah hampir dua minggu. Dan Nayla mulai sadar, ini tidaklah baik jika terus terjadi.
Jika bukan tubuhnya lalu tubuh wanita mana yang bisa memuaskan hasrat seorang suami seperti Ariq? Wanita lain? Jika begitu kenapa mau menikah dengan Nayla jika harus diabaikan selama itu? Atau Ariq menginginkan seorang yang masih perawan yang tidak akan pernah mampu Nayla kabulkan.
Nayla cukup dewasa untuk berpikir ke arah sana, terlebih ia cukup sering membaca novel yang isinya seorang suami menikahi wanita yang sudah tidak gadis namun karena mencintai tetap dinikahi juga, tapi dibalik itu sang suami memiliki wanita lain yang masih perawan untuk melengkapi istrinya yang tidak akan memberikan hal itu.
Lalu jika curiga pada telepon semalam, bukankah Andira juga sudah bersuami? Jika mencari seorang perawan tentu bukan Andira orangnya, karena perempuan itu sudah menikah.
Atau...... Mereka masih terlibat perasaan yang belum usai hingga perkataan Ariq seperti tidak sesuai dengan kenyataan bahwa perempuan itu meneleponnya urusan pribadi bukan pekerjaan.
Teringat pula ia dengan cerita Oma Rika tentang masa lalu papa Alif dan mama Humairah yang dulu pernah terlibat poligami hanya karena papa Alif tidak bisa melepaskan kekasihnya meski telah menikahi mama Humairah.
Jika menilik siapa mama mertuanya dulu, seorang perempuan baik-baik, masih gadis, kuliah lulusan terbaik, punya banyak prestasi, berbudi pekerti, tidak banyak menuntut meski dipoligami. Mama Humairah yang sempurna saja masih bisa disakiti seperti itu, apalagi seorang Nayla.
Siapalah dirinya, hanya perempuan tidak bersekolah tinggi, dari keluarga yang sudah hancur, tidak memiliki prestasi apa-apa. Terlebih ia sudah tidak gadis dan memiliki masa lalu kelam, bukan hanya tidak gadis lagi namun Nayla pernah hamil dan keguguran tanpa menikah.
Jika berpikir seperti ini ada kala Nayla merasa ingin menyerah, sampai kapan pernikahan ini semu. Tidak seperti pasangan lain, mereka saling mencintai tapi ada banyak hal yang tidak bisa menyatu. Bukankah semua terasa percuma? Dua minggu bukan waktu yang singkat hanya untuk menunggu malam pertama.
Alasan lelah setelah pernikahan masih logis, Nayla menerima, lalu malam-malam berikutnya pun tidak ada kemesraan di atas ranjang padahal sejatinya para pasangan baru menikah sedang menikmati madunya dunia di awal-awal pernikahan. Bukankah semua terlalu aneh jika dibiarkan begitu saja?
"Oh ya Allah....... Kenapa pikiran dan hatiku mulai sejalan sekarang? Ini bukanlah pernikahan yang ku inginkan, aku tidak sesempurna mama Humairah yang sabar dalam segala arah, aku wanita biasa, aku lemah, aku butuh pria yang menerimaku lahir batin, aku butuh suami yang menjadikan aku istri sesungguhnya, hampir dua minggu tidak melaksanakan kewajiban bukankah aku termasuk wanita yang tidak baik karena tidak memberi kepuasan batin pada suaminya?"
"Salahkah aku berpikir bahwa sebenarnya mas Ariq belum benar-benar menerima kekuranganku, hingga tidak siap menjamah karena mungkin saja pria itu akan terlalu kecewa karena tubuhku sudah pernah dipakai lelaki lain? Aku bukan janda, itu masalahnya."
Nayla mengelap butiran bening yang jatuh di pelupuk matanya, ia menggeleng, ini terlalu aneh jika disebut sebuah pernikahan, mereka saling mencintai bukan pernikahan kontrak atau semacamnya hingga tidak terlibat adegan ranjang, mereka menikah atas dasar cinta bukan paksaan.
__ADS_1
Nayla menjatuhkan dirinya ke ranjang, menatap langit-langit kamar yang seakan memberi bayanga-bayangan menyedihkan.