
Satu minggu sebelumnya.
"Aku membawa banyak pakaian yang perlu dicuci."
Sebuah suara berat dari seorang pria menyadarkan Nayla dari kesibukan pekerjaannya.
Ia menoleh pada pria itu, senyum tipis ia kembangkan menyambut Ariq yang lagi-lagi datang kesana, anehnya kali ini pria itu membawa kantong plastik besar di tangannya.
Ariq menaruh bawaannya di atas meja, Nayla hanya mengangguk lalu mengangkat kantong berwarna hitam itu ke atas timbangan.
"Lima kilo," ucapnya memberi tahu.
"Terserah berapa pun beratnya, aku ingin kau mencucinya dengan bersih dan wangi."
Nayla mengangguk lagi, ia membuka kantong berisi pakaian itu, ia mengernyitkan dahi saat melihat bagian atas pakaian itu tampak rapi, ia membuka seluruhnya. Dan benar saja semua pakaian yang dimaksud Ariq adalah pakaian yang masih bersih dan rapi, tercium wangi pelembut pakaian di sana.
"Maaf, ini pakaian bersih," ucap Nayla menatap Ariq dengan wajah datarnya.
"Tidak, itu sudah kotor," bantah Ariq.
"Ini masih rapi," jawab Nayla memastikan lagi.
"Aku hanya menyuruhmu mencucinya, kenapa protes?"
"Tapi ini semua masih bersih dan rapi, aku rasa kau salah bawa."
"Benarkah?"
Ariq mendekat ke arah Nayla, ia ikut memeriksa.
"Tidak, ini kotor. Aku sudah memakainya. Cuci saja, jangan membantah!"
Nayla hanya diam, ia menoleh lagi pada pakaian itu dan ia yakin bahwa semuanya masih bersih dan rapi belum dipakai seperti keterangan dari Ariq.
"Kenapa?" cetus Ariq melihat Nayla yang terdiam menatapnya.
"Baiklah," jawab Nayla mengangguk.
__ADS_1
"Bagus," balas Ariq tersenyum.
Nayla mencatat di nota pesanan, Ariq memperhatikan wajah gadis itu dengan seksama.
"Kau sudah makan siang?"
Nayla hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Huh, bicaralah jangan angguk angguk dan geleng geleng saja."
"Aku sudah makan," jawab Nayla pelan.
"Tapi aku belum, apa kau mau menemani ku makan siang?"
Nayla berhenti menulis sejenak. "Maaf, aku sedang bekerja. Jam makan siang ku sudah berakhir," jawab Nayla yang kemudian melanjutkan menulis.
"Oh itu soal mudah, ini usaha laundry adik iparku, kau bebas jika menyangkut kakak iparnya."
Nayla menatap Ariq dengan tatapan datar namun mata sayunya entah kenapa cukup mempesona bagi lelaki itu akhir-akhir ini.
"Maksudku biar ku hubungi Aqilla untuk memberimu izin," jawab Ariq canggung.
"Diam artinya iya."
Nayla masih tidak bersuara, ia menyelesaikan tulisannya lalu memberi kertas nota berwarna merah mudah pada Ariq setelah memberi stempel sebagai bukti penyerahan pakaian yang akan dicuci.
Ariq menerimanya dengan senyum, tidak Nayla ia bahkan langsung berpaling lalu membawa kantong hitam berisi pakaian milik lelaki itu ke belakang.
Lama Ariq menunggu namun Nayla tidak keluar juga.
"Huh, dia benar-benar menyebalkan. Tidak bisakah dia menghargai ajakan orang pernah menolongnya," rutuk Ariq yang terus melihat kesana kemari namun belum juga ada tanda-tanda Nayla muncul.
Pria itu menghubungi Aqilla dan bicara sesuatu yang diyakini adalah agar memberi izin Nayla untuk pergi dengannya.
Lima menit kemudian benar saja Nayla datang dari arah belakang dengan tas sandangnya.
"Aku tidak bisa lama," ucapnya pada Ariq yang tersenyum puas, ia yakin Aqilla memaksa Nayla untuk ikut dengannya lewat telepon rumah laundry itu.
__ADS_1
"Cukup menemaniku makan siang."
Nayla mengangguk saja, dan mereka berlalu dari sana menuju sebuah restoran yang sudah menjadi langganan Ariq jika makan siang diluar.
****
"Kau mau minum apa?"
"Air putih saja," jawab Nayla enggan, perempuan itu kembali berpaling arah pada objek lain.
Ariq menarik napas dalam dibuat gadis ini.
"Nayla."
Oleh panggilan itu Nayla menoleh pada Ariq.
"Kenapa kau berubah sedingin ini?" tanya Ariq tiba-tiba.
"Jangan bicara seolah kau mengenalku."
"Lia bilang kau tidak seperti ini sebelumnya."
Nayla diam.
"Manusia mahluk sosial, kau tahu itu. Kita tidak bisa hidup sendirian, kita saling membutuhkan satu sama lain. Itu artinya kau tidak sendiri, kehilangan memang membuat kita sakit tapi tidak boleh pula berlarut didalamnya."
"Bukankah ada pepatah mengatakan patah tumbuh hilang berganti, kehilangan ibu dan kakak dalam waktu yang cukup dekat memanglah terasa berat untukmu. Aku mengerti perasaanmu, aku tidak berniat apa-apa padamu, selain kau adik temanku kau juga hampir menjadi korban dari kelalaian mengemudi ku waktu lalu meski kau sengaja melakukannya."
"Aku juga mengalami hal yang cukup sulit akhir-akhir ini. Aku juga kehilangan seseorang yang berharga, aku ----" ucapan Ariq menggantung saat Nayla memotongnya.
"Maaf, aku ke toilet dulu."
Hening, Ariq terdiam saat Nayla berdiri tanpa menunggu persetujuannya, gadis itu meninggalkan Ariq menuju toilet.
"Ya Allah, apa aku sudah tidak ada harganya sekarang? Inikah kutukan cinta pertama?" gumam Ariq kesal sendiri.
"Bukan dia yang dingin dan tertutup, tapi aku yang terlalu terbuka sekarang. Oh putus cinta membuatku melihat semua wanita itu cantik, bahkan wanita dingin seperti Nayla cukup menggoda, ada apa dengan mataku? Semua wanita terasa ingin ku kencani, Nayla yang dingin saja menarik apalagi jika gadis hangat."
__ADS_1
Ariq bergumam sendiri, lalu ia tidak sengaja menoleh ke arah lain yang menampilkan seorang wanita cantik dengan tinggi semampai baru saja duduk di meja sebelahnya.
Mata mereka bertemu.