Purnama Merindu

Purnama Merindu
Lewat Indah


__ADS_3

"Ken!" panggil Alvaro kembarannya Ken.


Ken menoleh ada wajah-wajah yang menatapnya keheranan dan penuh tanya.


Bukannya melepaskan Ratih malah Ken membawa gadis itu menjauh dari keluarganya yang menunggu jawaban dari seribu tanya di pikiran mereka saat ini.


Nayla dan Ariq saling menoleh.


"Ken benar-benar tidak bisa dipercaya, bahkan pembantu pun dia mau juga. Saudara ku benar-benar hebat soal wanita," decak Alvaro geleng-geleng kepala dengan perasaan geli.


Berbeda dengan Aldric, ia hanya menatap datar lalu kembali fokus dan melanjutkan pada sarapannya.


Faiz, si bungsu yang juga tengah geleng kepala atas kelakuan Ken. Kakaknya benar-benar serakah jika menyangkut wanita, pembantu muda seperti Ratih pun Ken sukai juga pikir Faiz.


"Playboy itu tidak berubah," gumam Faiz dalam hati.


"Aku bangga pada mu Mas Ken!" puji Faiz dengan nada bercanda.


Ken menarik tangan Ratih lalu memastikan wanita itu benar adalah sahabat Aish dari kampung.


"Tuan Ken jangan seperti ini, aku malu," desis Ratih dengan wajah memerah.


"Aku sungguh senang bertemu denganmu sekarang Ratih, maaf soal tadi aku terlalu kegirangan," cengir Ken.


"Aku juga terkejut, ternyata aku bekerja di rumah orangtua mu. Soal Aish...."


"Nah, itu maksud ku Ratih, aku senang bertemu dengan mu karena kau jembatan pertemuan ku dengan Aish untuk selanjutnya."


Ratih tersenyum, ia sudah menduga hal ini. Ratih tahu Ken mencari Aish di kampung beberapa waktu lalu ketika gadis itu menghubungi orangtuanya memberi kabar bahwa ia baik dan mendapatkan pekerjaan di kota.


Di sambungan telepon pula lah Ratih mengetahui bahwa Ken pernah mencari Aish ke rumah orangtuanya bahkan beberapa kali datang ke sana hanya untuk seorang dokter cantik bernama Aishwa.


"Aish bekerja di Rumah Sakit Husada, dia tinggal bersama ku di rumah kost tidak jauh dari rumah ini," kata Ratih mengerti tatapan Ken. Ia pun memberikan informasi alamat dan nomor telepon Aish secara lengkap pada Ken


Mendengar itu Ken tersenyum puas, ia tahu kemana harus mencari Aish setelah ini.


"Terimakasih banyak Ratih, kau tahu sekali apa yang ku inginkan," balas Ken menggenggam tangan Ratih dengan rasa terimakasihnya.


"Sepertinya ada sinyal jodoh diantara kami," kekeh Ken lagi.


Ratih mengangguk. Ia pun tidak menyangka Ken benar-benar menyukai Aish hingga sekarang. Padahal Aish bahkan tidak membicarakan soal Ken lagi setelah mereka pindah.


Aish memang cukup tertutup soal masalah hatinya dari siapa pun meski Ratih adalah sahabatnya.


"Maaf mengganggu kerja mu, kembali lah ke belakang. Aku akan kembali ke meja makan, pasti mereka semua penasaran akan hal ini," kekeh Ken seraya melirik suasana meja makan yang masih berada dalam pandangan matanya.


Ratih mengangguk lagi dan segera permisi.

__ADS_1


Ken kembali pada orangtua dan saudara-saudaranya.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Ken dengan wajah berseri.


"Ken, kau berhasil membuat Bunda tidak bisa melanjutkan sarapan. Sekarang jelaskan apa yang kau lakukan pada Ratih?" tanya Nayla dengan tatapan mematikan.


Nayla tampak menjauhkan piringnya dari hadapan perempuan satu-satunya dalam keluarga bahagia itu.


"Ayo Ken, tunggu apalagi? Tidakkah kau bisa menjelaskan siapa Ratih bagimu? Apa dia wanita lain yang kau sukai juga?" Atau dia pacar baru mu lagi?" desak ayah Ariq.


Ken duduk dengan santai.


"Santai Ayah.... Aku bisa menjelaskannya soal ini," balas Ken terkekeh.


Tiga saudara laki-lakinya yang lain hanya bisa mendengus kesal dengan tingkah Ken yang sok tampan itu.


"Dia Ratih."


"Ken, semua kami tahu dia adalah Ratih," sahut Nayla lagi.


"Bunda jangan marah dulu."


"Kau memeluk anak gadis orang Ken, kau tahu tidak Ratih itu gadis yang berasal dari kampung baru pindah ke kota, kau tentu tahu maksud Bunda, mana ada gadis baik-baik dari kampung mau kau peluk-peluk begitu saja. Jangan seperti itu Ken!!!"


"Maafkan aku, oke baiklah aku salah!"


Ken tidak menghiraukan tanggapan Al.


"Ken," tegur ayahnya lagi.


"Iya Ayah."


"Katakan padaku, siapa Ratih dan apa hubungan kalian? Jika kau hanya bermain-main, jangan dia. Kasihan, dia gadis yang jauh dari keluarganya."


"Bukan Ratih, Ayah. Ratih adalah sahabat perempuan itu," ucap Ken tersenyum.


"Perempuan mana lagi Ken? Kau ini benar-benar gila sudah menyukai Ratih, sekarang kau bilang suka sahabatnya pula?" Tanya Al dengan nada kesal. Saudara kembarnya yang bernama Kenzo ini benar-benar ajaib pikirnya.


Ken yang selalu dikelilingi wanita cantik, hingga tampak seperti pria yang suka mempermainkan wanita.


"Itu bukan urusanmu!!!" tukas Ken lalu berpaling ke arah ibunya lagi.


"Dokter Aishwa, dokter yang berhasil mengambil hatiku dalam arti yang sebenarnya," jawab Ken dengan nada pelan, ia membayangkan wajah Aishwa yang berkeringat saat memberi bantuan kehidupan pada korban kecelakaan kemarin.


Hening.


"Siapa tadi?" tanya Bunda Nayla seolah tidak percaya.

__ADS_1


"Aishwa Zulaikha, namanya Aishwa Zulaikha," jawab Ken dengan senyum penuh arti.


Nayla tampak murung.


"Bunda?" lirih Ariq menangkap raut lain istrinya.


"Kemarin dia bertemu dengan Indah, dia pulang kegirangan. Ken bilang dia sangat bahagia atas pertemuan itu, dan sekarang dia memeluk Ratih, kegirangan pula menemukan Ratih lalu dia mengaku suka sahabatnya pula, perempuan yang membuatnya penasaran dari kampung itu."


"Kau tidak berubah soal wanita Ken, semua wanita kau inginkan. Jangan bermain-main dengan Indah. Bunda tidak akan setuju dia kau buat sama dengan perempuan yang kau kencani selama ini," tegur Bunda Nayla lagi.


"Bunda kira kau senang sudah bertemu Indah karena kau merasa cocok, dia cantik tentu saja. Tapi tidak mengira pula kau akan masih seperti ini, suka pada semua wanita cantik. Bahkan Ratih sekalipun," sambung wanita yang belum genap lima puluh tahun itu.


Ken mengusap lehernya bingung.


"Sepertinya Bunda sudah salah paham," cetus Ken setelah menangkap maksud perkataan sang ibunda.


"Salah paham apa maksudmu?" tanya Ariq pada putranya yang kedua itu.


"Aku tidak bilang aku menyukai Indah dari pertemuan itu. Aku juga tidak bilang menyukai Ratih hanya karena aku memeluknya tadi."


"Lalu?" desak Alvaro mulai jengah.


Aldric dan Faiz saling menoleh.


"Aku tidak mau ikut campur drama soal wanita Ken pagi-pagi buta seperti ini, aku sudah selesai sarapan, sudah waktunya aku ke kantor," cetus Aldric disela perdebatan Ken soal wanita-wanita tadi.


Aldric mencium pipi Nayla sebelum berlalu dari sana. Ia pamit bersama adik bungsunya Faiz yang juga sudah selesai sarapan. Mereka sudah tidak heran dengan Ken, maka darinya ia dan Faiz pun terlihat biasa saja atas apa yang Ken lakukan pagi ini.


Nayla bernapas kasar, ia menatap Ken lagi setelah memastikan dua anak lelakinya yang lain telah hilang dari pandangan.


"Ken?" tegur Ariq lagi.


Ken menarik napas panjang sebelum melanjutkan.


"Yang menjadi poin utama pembicaraan ini adalah dokter Aishwa, perempuan yang ku mau."


"Jangan berbelit bodoh!" sanggah Alvaro menendang kaki saudara kembarnya itu.


"Oke baiklah, dokter cantik itu namanya Aishwa Zulaikha."


"Ken, kau sudah mengulanginya beberapa kali," tukas Nayla geleng kepala atas putranya.


Ken terkekeh melihat raut penasaran 3 orang berarti baginya itu.


"Maksud ku, Aishwa sekarang berada tidak terlalu jauh dariku, Ratih tinggal bersamanya. Yang jadi masalah Bunda harus tahu bahwa, Indah perempuan yang Bunda kenalkan padaku kemarin, dia adalah teman dekat Aishwa. Iya dokter Indah dan dokter Aishwa berteman dekat."


"Dan kemarin aku bertemu dengannya lewat Indah."

__ADS_1


"Apa?" Ariq dan Nayla saling menoleh.


__ADS_2