Purnama Merindu

Purnama Merindu
Nayla vs Pingkan


__ADS_3


(Nayla Purnama alias si bulan 14)



(enak ya dielus2 bini)



(Duduk sore di pantai belakang rumah gaesss)



(Mas Ariq & Nayla di Dubai pemirsahhhh)


*********


Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada memiliki keluarga yang menyayangi dan menerima Nayla layak keluarga kandung.


Sejak hamil bahkan Nayla merasa malu sendiri diperlakukan seperti anak manja, semua dibantu, semua terfasilitasi tanpa kecuali. Hatinya bahagia namun tubuhnya tidak, Nayla mengalami Hiperemesis Gravidarum atau mual dan muntah berat yang sering terjadi di kehamilan trimester pertama.


Semua Nayla nikmati baik senang maupun susahnya menjalani kehamilan, ini kehamilan yang kedua, jika yang pertama ia tidak merasakan apapun karena terlalu stress berat dengan masalah yang bertubi-tubi hingga janinnya tidak bertahan oleh keadaan apalagi kehamilan itu tidak pernah diinginkan.


Kini kehamilan ini, semua menginginkannya semua anggota keluarga bahagia atas berita ini tanpa kecuali, tapi tubuhnya kian lemah, baru keluar dari rumah sakit sebab tidak bisa makan berhari-hari hingga lemas dan butuh perawatan di rumah sakit.


Hari ini semua sudah membaik, nafsu makan perlahan ada lagi di umur kehamilan yang ke 11 minggu.


Karena semua khawatir terutama Oma jika Nayla tetap tinggal di rumah baru, hingga sebuah keputusan terbaik bahwa Nayla kembali harus tinggal di rumah Oma sampai melahirkan.


Kunjungan sang mertua yang kembali tanah air saat mereka mendengar kabar menantunya dirawat di rumah sakit. Mama Humairah dan Papa Alif tentu tidak sabar ingin tahu keadaan Nayla yang sebenarnya.


Semua tampak normal, sampai suatu malam Nayla tidak sengaja mendengar ponsel suaminya kembali bergetar di tengah malam.


Sebuah panggilan dari perempuan bernama Andira. Nayla melirik suaminya yang lelap tidur sambil memeluk perutnya, Nayla perlahan mendorong tubuh Ariq hingga menjauh. Ia turun dari ranjang, lalu menerima panggilan seraya berjalan ke arah kamar mandi.


"Hallo...." dengan dada gugup Nayla berani bersuara.


Namun yang terdengar bukan jawaban, melainkan suara gaduh dan pertengkaran antara dua orang lelaki dan perempuan saling menyahut dengan kata-kata kasar.


Nayla melirik suaminya lagi yang masih tidak bergerak di atas ranjang. Hatinya kian bertanya-tanya apa hubungannya Ariq dengan orang itu hingga di tengah malam seperti ini Andira menelepon suaminya hanya sekedar memperdengarkan pertengkaran.


"Apa perempuan ini sengaja ingin menarik perhatian suamiku lagi?" gumam Nayla setelah menutup panggilan sepihak.


Ia berjalan mendekat, ia naik lagi ke ranjang setelah mematikan ponsel hingga tidak bisa di hubungi dan menaruhnya di atas nakas.


Ia menatap wajah Ariq yang tidur polos.


"Apa yang kau sembunyikan dariku mas Ariq?" tanya Nayla dalam hati, ia teringat panggilan itu pertama kali di malam awal-awal mereka menikah, Andira menelepon di tengah malam dan juga terdengar pertengkaran seperti tadi.


Nayla heran, suaminya tidak bercerita apapun tentang Andira. Nayla bahkan sudah lupa tentang panggilan yang dulu, namun teringat lagi malam ini.


Sejak hamil perasaannya cukup sensitif dibandingkan sebelum hamil, ia suka berandai yang tidak-tidak, suka membayangkan hal negatif jika terjadi sesuatu.


Seperti setelah mendapat panggilan telepon Andira malam ini, ia mulai beranggapan bahwa panggilan itu sudah sering terjadi, mungkin saja suaminya terus menerima tanpa sepengetahuannya.


Nayla meringkuk masuk mendekatkan diri dalam dekapan suaminya, ia tidak mau jika pria itu kembali pada mantannya Andira. Memikirkannya saja membuat Nayla bertambah mual. Ia tidak mau kehilangan suami sebaik Ariq.


"Tidak boleh, awas kau jika bermain-main di belakangku!" gumam Nayla kesal sendiri, ia memeluk suaminya dengan erat seolah takut kehilangan.


...****************...


Keesokan harinya, Nayla diam dan tidak memberitahu Ariq soal panggilan semalam, sikap suaminya biasa saja, tidak ada yang berubah. Yang berubah itu perasaan Nayla yang merasa sedikit was-was, hatinya tidak tentram jika belum bicarakan hal ini namun entah kenapa ia tidak ingin bicara tentang semalam. Memilih diam dan memendam rasa curiga yang kian muncul saat melihat Ariq melambai tangan lalu perlahan menjauh dengan mobilnya ke kantor.


"Sayang, kau baik-baik saja?" tegur mama Humairah saat melihat Nayla diam dan murung saat melihat menantunya masih terpaku di teras rumah padahal suaminya sudah hilang di balik pagar.


"Aku baik ma," sahut Nayla tersenyum.


"Mama tahu kau bosan, ayo bagaimana jika kita membuat kue, mama ada resep baru. Suamimu pasti suka."


Nayla berbinar, ia punya ide sekarang, ia segera mengangguk.


Nayla membantu mama Humairah membuat kue hingga selesai, mertua dan menantu idaman, akrab seperti ibu dan anak. Tidak dipungkiri Nayla mengambil hati semua keluarga, semua menyayanginya bahkan bibi Arina yang mulai punya hubungan baik dengan perempuan yang pernah ia benci itu.


"Ma, apa boleh aku sendiri yang membawa kue ini untuk mas Ariq cicipi siang ini?" tanya Nayla hati-hati.


Ia tahu, pasca di opname minggu lalu ia dilarang bepergian.


Mama Humairah tersenyum, ia tahu Nayla bosan terus dikurung di rumah.

__ADS_1


"Tentu saja boleh, ingin mama temani?"


"Tidak ma, tidak perlu. Aku bisa sendiri, aku malu diperlukan seperti orang sakit, aku sudah jauh lebih baik, lihatlah aku sudah sehat sekarang, lagi pula kehamilanku semuanya baik, tidak ada keluhan lagi."


Mama Humairah berpikir sejenak, lalu ia mengangguk.


"Baiklah, jika kau merasa pusing atau mual harus beritahu dan berjanji untuk pulang segera. Biar kau diantar mas Anto, tidak boleh menyetir sendiri."


Nayla mengangguk, ia bersemangat sekali untuk berkunjung ke kantor suaminya.


"Setelah itu apa boleh aku mampir ke restoran ayah sebentar?"


"Oh tentu saja sayang, lakukan selagi kau nyaman dan tidak ada keluhan. Mama tidak ingin kau sakit dan mempengaruhi kehamilan mu Nay, itu saja. Selebihnya kau bebas, percayalah kami semua tidak ada yang mengekangmu."


Nayla memeluk mama mertuanya yang pengertian.


Setelah bersiap, Nayla sengaja tidak memberitahu Ariq jika ia ke kantor siang ini.


Dalam perjalanan, ia sibuk melihat pemandangan jalan yang cukup sesak. Panas terik, jalanan berdebu, serta padat pengendara.


Nayla tersenyum saat tiba, ia melangkah anggun turun dari mobil. Sampai lobi gedung ia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang perempuan.


"Maaf, maaf.... Aku tidak sengaja," kata Nayla segera meminta maaf ketika ia merasa telah salah.


Perempuan itu menoleh dengan raut terkejut.


"Nayla?"


"Pingkan?" Nayla pun terkejut.


"Kenapa kau bisa kemari?" tanya Pingkan sambil melihat penampilan Nayla yang sederhana dan membawa kotak makanan.


"Aku, aku kemari ingin...."


"Oh, apa kau bekerja disini?" potong Pingkan.


Nayla menggeleng bingung.


"Iya juga jika kau bekerja di sini kenapa tidak pernah bertemu, lalu mau apa kau kemari?" tanya gadis yang merupakan sepupu Nayla itu dengan tatapan remeh.


Melihat penampilan Pingkan Nayla jadi bertanya, "Apa kau magang di kantor ini?" tanya Nayla penasaran.


"Iya, aku magang di sini. Apa kau iri? Aku bisa magang di perusahaan besar, sedang kau hanya bisa membawa kotak makanan seperti kurir. Aku heran, bukankah kau punya ibu baru yang kaya raya? Lalu kak Dirga apa dia tidak bisa memberimu uang untuk kuliah lagi? Rahayu, bukankah dia jadi bos perusahaan ibunya? Ckkkk jangan katakan jika mereka hanya ibu dan kakak tiri yang pelit yang tidak pernah menganggap mu ada!"


Nayla ingin menjawab namun Pingkan kembali mendominasi pertemuan itu.


"Katakan padaku, kau mau kemana? Gedung ini besar, mungkin kau akan tersesat nanti.... Biarpun kita tidak akur kau tetap sepupuku, mari ku antar, kau mau ke ruang apa?"


Nayla hanya bisa menghela napas panjang, Pingkan memang seperti itu adanya.


"Apa kau tidak menerima undangan pernikahan ku?" tanya Nayla masih dengan raut tenang.


"Menikah? Kau menikah?" tanya Pingkan terkejut.


Nayla mengangguk.


"Aku rasa terjadi kesalahan, sepertinya undangan itu tidak sampai pada Paman dan Bibi, semula aku kecewa kalian tidak datang, hari ini aku tahu kalian hanya tidak menerima undangan hingga kau tidak tahu aku sudah menikah, bahkan sudah hampir enam bulan."


"Benarkah? Nay.... Jangan bercanda."


Nayla mengangguk lagi, ia meyakinkan Pingkan dengan cincin kawin di jari manisnya. Pingkan menutup mulut karena terkejut lagi.


"Huh, lalu kau kemari buat apa?"


"Aku kemari ingin bertemu suamiku? Kotak makanan ini berisi kue, aku membawanya untuk dicicipi suamiku."


"Ckkkk, kenapa tidak bilang.... Kau menikah dengan siapa? Dengan Security atau OB kantor ini? Atau karyawan bagian mana?"


Nayla ingin tertawa rasanya.


"Aku memang belum hafal semua ruangan di gedung ini, tapi aku sudah tahu jalan ke ruangan suamiku, jadi kau tidak perlu repot mengantar."


"Ruangan? Memangnya satpam ada ruangan?"


"Aku tidak bilang suamiku satpam."


"Lalu siapa? OB? Ruangan para OB di sana, jangan lewat disini."


Nayla menggeleng lagi.

__ADS_1


"Bukan OB, daripada kau penasaran, ayo ku kenalkan. Mana tahu dengan berkenalan dia bisa tahu kau adalah sepupuku, nilai magangmu bisa jauh lebih baik dan urusan magangmu tentu akan mudah dengan koneksi orang dalam bukan?" balas Nayla dengan senyum penuh arti.


"Apa?" Pingkan bingung sendiri.


"Ayo, aku pusing terlalu lama berdiri. Kau sepupu ku tentu kau harus tahu siapa suamiku." Nayla menarik tangan Pingkan menuju lift.


Meski kesal namun Pingkan menurut saja, sampai pada sebuah ruangan yang membuat Pingkan tercengang.


"Nayla? Jangan membuat lelucon," lirih Pingkan kesal saat berhadapan dengan seorang sekretaris yang baru keluar dari ruangan Ariq.


"Nona Nayla...."


"Hai nona Riska, apa suamiku ada di dalam?" tanya Nayla yang membuat Pingkan bertambah bingung.


"Ada, kami baru saja selesai meeting. Silahkan masuk," ucap sekretaris Ariq itu.


"Ayo!" Nayla menarik tangan gadis itu masuk.


Ariq terkejut saat melihat dua perempuan datang dari luar. Istrinya datang siang ini tanpa memberitahu.


"Sayang, kau kemari? Apa-apaan ini, kenapa tidak memberitahu? Aku bisa menjemput mu!" ucap Ariq yang terkejut kedatangan istrinya, ia segera menghampiri dan memeluk Nayla dengan erat serta mengelus perut Nayla gemas.


Pingkan ternganga.


"Maaf, aku bosan di rumah. Mama boleh aku kemari, kami membuat kue bersama jadi aku bawa untukmu, aku diantar mas Anto, tenang saja....." balas Nayla dengan manja sambil menunjukkan kotak makanan yang ia bawa.


Ariq menoleh pada Pingkan.


"Siapa dia?"


"Oh aku lupa, ini Pingkan..... Sepupuku, anak Paman Doni yang ku ceritakan tempo hari. Ternyata dia magang di kantor ini."


Ariq mengangguk mengerti.


"Nayla jangan bercanda," lirih Pingkan dengan wajah pucat pias.


"Aku tidak bercanda, ini mas Ariq..... Dia suamiku, aku rasa kau kenal siapa mas Ariq di kantor ini," ucap Nayla lagi mengenalkan suaminya pada gadis yang benar-benar merasa dipermalukan.


"Apa?"


"Hai, aku suaminya Nayla..... Senang bertemu denganmu. Aku tidak tahu kenapa kau dan orangtua mu tidak datang ke pernikahan kami. Semoga kau nyaman magang di kantor ini."


Nayla memberitahu bahwa undangan pernikahan mereka tidak sampai pada keluarga pamannya.


"Begitukah, pantas saja tidak hadir. Baiklah Pingkan, senang berkenalan denganmu, jika kau kesulitan kau bisa melapor ke sekretaris ku jika butuh bantuan."


Pingkan hanya mengangguk canggung saja. Ia melihat jelas kemesraan sepupunya itu di depan mata kepalanya sendiri, bos kantornya magang adalah suami Nayla, pria yang memandang Nayla seolah dia perempuan satu-satunya di dunia. Pingkan bisa melihat mereka saling mencintai hanya dengan pandangan saja.


Pingkan ingin tenggelam rasanya. Malu bukan main. Sepupu yang ia anggap remeh dan kecil itu mampu menaklukkan seorang pria seperti Ariq hingga menikah. Sialnya lagi Pingkan bahkan tidak bisa menaklukkan pria rendahan sekalipun hingga ia tetap saja tidak punya pacar hingga sekarang.


"Maaf Pingkan, kau boleh keluar sekarang! Seperti biasa jika istriku kemari tentu di ruangan ini tidak boleh ada orang lain. Maaf bukan mengusir, hanya saja ini waktunya istirahat. Kau bisa istirahat dengan temanmu, Nayla akan tetap di sini."


"Mas Ariq?" lirih Nayla merasa tidak enak pada Pingkan.


"Seperti kata ku tadi, kau bisa menghubungi sekretaris ku jika mendapat kesulitan urusan tugas magang, nanti ku beritahu bahwa kau adalah sepupu istriku."


Pingkan masih mematung dengan rasa tidak percaya.


"Pingkan kau baik-baik saja?" tanya Nayla.


"Nay, kenapa kau tidak bunuh saja aku."


Nayla terkekeh, "Sudah ku katakan, kau akan magang dengan mudah jika ada koneksi orang dalam. Aku senang bertemu denganmu, maaf mas Ariq memang suka begitu, jika aku kemari tidak ada yang boleh masuk."


Nayla memeluk Pingkan seraya menenangkan.


"Nayla, kau jahat sekali."


"Sayang ayo, kau bawa apa?" Ariq meraih istrinya dari hadapan Pingkan yang mematung kebingungan.


Nayla tersenyum lalu menunjukkan kotak kue.


"Aku akan keluar sekarang," ucap Pingkan yang mulai merasa tidak diacuhkan.


Nayla menoleh lalu mengangguk.


"Senang bertemu denganmu Pingkan," ucap Nayla tulus sebelum mengakhiri pertemuan.


Pingkan segera keluar setelah melirik Ariq sejenak.

__ADS_1


Langkahnya terhenti saat menoleh sebentar ke arah Nayla dan Ariq yang bermesraan di belakangnya. Sungguh Pingkan tidak percaya ini. Kata-kata cinta nan manja merusak pendengarannya sebelum benar-benar keluar dari sana.


"Oh aku bisa gila," gumam Pingkan mengacak rambutnya sendiri setelah tidak sengaja melirik lagi dua sejoli itu berciuman sebelum ia menutup pintu ruangan.


__ADS_2