Purnama Merindu

Purnama Merindu
Apa kau mengajakku berselingkuh?


__ADS_3

"Nay," Vano tidak bisa menyembunyikan wajah berbinarnya saat Nayla kembali dari toilet.


"Aku mengikuti taksi mu."


"Lalu?"


"Nay, aku mencarimu sudah beberapa bulan. Aku bertemu Lia, sayangnya dia juga tidak tahu kau dimana saat ini. Aku frustasi Nay, aku tidak bahagia. Aku tidak bisa melupakanmu."


"Lalu?"


"Sayang, kembali padaku. Maaf atas pengecutnya sikapku waktu itu, aku menyesal Nay.... Sungguh."


"Aku tahu kau keguguran dari Lia, banyak hal yang kau alami sendiri selama kita berpisah. Sayang, aku kemari untukmu, aku mencarimu. Aku ingin kau Nayla, aku tidak mau wanita lain. Aku tidak bahagia dengan pernikahan paksa itu."


Nayla terdiam.


"Aku menyesal, aku benar-benar menyesal atas kehilangan janin kita. Aku menyesal sayang, aku lelaki jahat. Aku jahat padamu."


"Lantas apa maumu sekarang?" tanya Nayla masih dengan ekspresi yang sama, ekspresi datar, dingin tak tersentuh.


"Nay, kembali padaku! Aku mencarimu, aku rela melepaskan apapun saat ini, ini pernikahan konyol. Aku tidak mencintainya, aku tidak peduli tanggapan orang tuaku lagi setelah ini. Aku menemukan mu, aku menemukan cintaku, aku menemukan gairah hidupku lagi."


Vano meraih tangan Nayla, menggenggamnya erat dan mesra.


"Apa kau sedang mengajakku berselingkuh?"


"Sayang?"


"Kita sudah lama berakhir Vano. Kau dan aku sudah berpisah sejak lama. Aku sudah hancur, aku sudah mati untukmu. Aku hidup lagi untuk anak-anakku, bukan untuk siapapun, apalagi untukmu."


"Nay," lirih Vano terasa seperti kehilangan pijakan.


"Aku tengah sibuk menata lagi kepingan-kepingan kehidupanku yang seakan telah terkubur dalam kesepian disaat kalian semua meninggalkan ku, aku tidak mau kembali ke kisah buruk masa lalu kita, seperti kau yang bilang pernikahan mu konyol tanpa cinta, begitu pun kisah kita. Konyol sekali jika ingin diulang, aku tidak mau. Maafkan aku."


"Nayla, aku mencintaimu, masih mencintaimu. Aku menikah paksa, demi hutang budi orang tuaku, aku tidak pernah menyentuhnya, aku menjaga perasaanku untukmu, aku menjaga hatiku untukmu. Nayla aku mohon, aku menunggu cukup lama akan pertemuan ini."


"Aku tidak peduli, itu bukan urusanku."


"Sayang?"

__ADS_1


"Pulanglah, ini sudah larut. Jangan ganggu istirahat Zaza, kasihan dia."


"Nay."


"Aku yakin kau bukan lelaki pemaksa, pulanglah jangan sampai aku dikira pelakor meladeni suami orang di tengah malam begini. Kita sudah lama berakhir Vano, jangan lupa itu."


"Iya, kau benar.... Kita sudah berakhir, tapi tidak ada peraturan yang melarang ingin kembali pada mantan bukan? Aku memilihmu, aku memilih kembali padamu." Tegas Vano tanpa keraguan.


"Nayla Purnama, aku tidak akan melepaskanmu lagi setelah ini, pernah kehilanganmu sekali itu membuatku benar-benar gila, tidak akan kehilanganmu untuk kedua kalinya. Aku mencintaimu, hanya kau Nayla..... Bukan Annisa, atau siapapun. Aku pernah pengecut sekali, itu tidak akan terulang lagi."


"Terserah padamu, aku mohon pulanglah. Aku ingin istirahat."


Nayla naik ke ranjang Zaza, memeluk gadis kecilnya tanpa peduli Vano lagi.


"Baiklah aku akan pulang, aku akan kemari lagi besok."


Tangan Vano membelai rambut Nayla dari belakang sebelum benar-benar pergi lalu berkata dengan perasaan yang dalam.


"Aku mencintaimu, selalu mencintaimu."


Nayla mengerling seraya meneteskan airmata lagi dan lagi karena pria itu.


Pagi menjelang, Nayla terbangun oleh Zaza yang mengatakan haus ingin minum. Senyum manis Nayla ulas untuk keponakannya tercinta.


Ia memberi minum, menggantikan popok sekaligus menyeka badan Zaza dengan handuk basah agar anak malang itu menjadi nyaman meski tidak mandi.


Zaza menurut saja, tidak rewel seakan ia sudah mengerti dan tidak ingin merepotkan bibinya.


Nayla menyuapi Zaza dengan bubur yang telah diantarkan oleh petugas gizi rumah sakit, Nayla tidak fokus saat ini terlebih ia mengingat ada tiga anak lain yang ia tinggal di rumah dan tentu merepotkan Dewi dan suaminya saat ini.


"Cepat sembuh sayang, kita bisa pulang dan berkumpul lagi," seru Nayla menahan tangis teringat wajah Denia yang suka manja padanya.


Lamunan Nayla buyar saat seorang perawat menghampirinya dengan sopan, menjelaskan pada gadis itu bahwa Zaza akan dipindahkan ke ruang rawat VIP. Nayla terkejut.


Di saat bersamaan Ariq muncul di sana.


"Mas Ariq?"


"Kenapa tidak menghubungiku jika Zaza sakit?"

__ADS_1


Ariq bertanya sambil meraih tubuh Nayla lalu memeluknya penuh kerinduan, padahal baru pagi ini Nayla absen bekerja.


"Apa kak Dewi yang memberitahu mu?" Nayla berusaha menghindar terlebih ia malu ada perawat yang sedang memberi obat sekaligus menunggu persetujuannya untuk pindah kamar rawat.


"Iya, aku kehilangan kekasihku pagi-pagi, beruntung Dewi memberitahu."


Nayla mengulum senyum mendengarnya.


"Apa kau yang ingin memindahkan kami dari kamar rawat ini?"


"Tentu saja, biar lebih nyaman."


"Disini juga nyaman, kelas dua atau VIP akan sama saja karena sama-sama di rumah sakit."


"Tidak boleh menolak," Ariq tersenyum lalu melanjutkan, "Silahkan suster, ayo sayang mana barang yang harus dipindahkan?"


Nayla mendengus kesal, ia merogoh laci yang terdapat tasnya di sana.


"Aku tidak membawa apa-apa kemari," jawab Nayla menunjuk tasnya saja.


"Baiklah, ayo Zaza sayang kita pindah kamar, biar kau cepat sembuh," ujar Ariq pada Zaza, ia gendong anak itu dengan lengan kekarnya dan tangannya yang lain ia gunakan memegang botol infus Zaza tanpa menghiraukan Nayla yang tersenyum kesal menatap punggung pria yang membawa keponakannya pergi.


Sampai di kamar VIP yang telah disiapkan sebelumnya, Nayla terhenti saat ingin masuk ke sana.


Matanya melihat keranjang buah yang besar, di sampingnya terdapat buket bunga mawar yang besar sekali berwarna merah menyala.


"Ini untukmu," ucap Ariq memberikan buket mawar merah yang jika dihitung mungkin lebih dari ratusan tangkai.


Zaza sedang di urus perawat, Nayla sedang bingung sendiri harus bersikap seperti apa pagi ini atas kedatangan Ariq dengan ratusan tangkai mawar di hadapannya.


"Untuk apa bunga sebanyak ini?"


"Kau membuatku cemas pagi-pagi, aku kira kau sengaja tidak masuk bekerja karena hilang lagi. Aku kira kau pindah lagi, hilang lagi seperti waktu itu."


Mendengarnya membuat Nayla ingin tertawa.


Ariq merentangkan tangannya. Nayla bingung.


"Ah aku lupa kau adalah gadis dingin yang selalu menolak pelukanku."

__ADS_1


Ariq maju dan memeluknya lagi dengan erat, "Aku merindukanmu," lirih lelaki itu, entah kenapa Ariq merasa lain pagi ini, ia begitu mendamba Nayla lebih dari sebelumnya.


###jangan lupa jejaknya gaessss 😘


__ADS_2