Purnama Merindu

Purnama Merindu
Cinderella's Stepsister


__ADS_3

Backsound part ini adalah "It Has To Be You" dari oppa Yesung Super Junior, ost drakor Cinderella's Stepsister. Ngenaaaa banget, coba deh dengerin sambil baca part ini.


****


Today, i wander in my memory


I’m pasing around on the end of this way


You’re still holding me tightly, even though i can’t see you any more


I’m losing my way again


 


I’m praying to the sky i want see you and hold you more


that i want to see you and hold you more


 


It can’t be if it’s not you


i can’t be without you


it’s okay if i’m hurt for a day and a year like this


it’s fine even if my heart’s hurts


yes because i’m just in love with you


 


i cannot send you away one more time


i can’t live without you


 


it can’t be if it’s not you


i can’t be without you


it’s okay if i’m hurt for a day and a year like this


it’s fine even if my heart’s hurts


yes because i’m just in love with you


 


my bruised heart


is screaming to me to find you


where are you?


can’t you hear my voice?


to me…


 


if i live my life again


if i’m born over and over again


i can’t live without you for a day


You’re the one i will keep

__ADS_1


you’re the one i will love


i’m…yes because i’m happy enough if i could be with you


Lirik yang memiliki makna sangat dalam.


*****


"Sah."


Semua mengangkat tangan berdoa untuk segala yang terbaik untuk pasangan yang baru menikah beberapa detik lalu, pasangan yang sudah tidak muda lagi. Ayah Faisal mengulurkan tangannya pada istri barunya itu.


Semua bahagia atas pernikahan sederhana tersebut, Nayla mengusap airmata yang jatuh dari sudut matanya yang menyipit karena senyum.


Nayla ikut bahagia menatap senyum sumringah ayahnya, meski dalam diam ia mengingat pula mendiang ibunya yang telah tiada. Beginilah hidup, ada yang datang dan ada yang pergi. Bak pepatah patah tumbuh hilang berganti.


Yang meninggal tidak akan hidup lagi, meneruskan hidup dan terus memperbaiki diri adalah yang utama bagi Nayla dan ayahnya saat ini.


Nayla menatap Rahayu, gadis yang resmi menjadi saudara tirinya saat ini. Rahayu yang akan wisuda esok hari. Mereka cantik mengenakan gaun sederhana berwarna hijau pupus dipadu dengan jilbab berwarna putih dengan motif bunga di ujung sudutnya, hanya potongan model yang berbeda. Mereka tampak sama-sama cantik dalam balutan itu dihari istimewa ayah dan ibu mereka.


Pun dengan kakak Rahayu yang juga hadir, ia gagah dengan balutan jas mahalnya, pria yang menjadi pengacara ternama dan berbakat diusianya yang masih muda. Namanya Dirga. Pria ambisius dengan segudang prestasi, dingin terhadap wanita.


Dirga pria mapan dengan karir yang bagus, masih belum menemukan cinta sejati yang mampu menaklukkannya dalam sebuah pernikahan, hingga ia kini hanya sibuk di dunia hukum yang mengalihkan seluruh dunianya.


Namun hari ini, kali pertamanya ia bertemu Nayla karena terlalu sibuk hingga ia tidak hadir saat berkenalan dengan anak calon ayah barunya tempo hari.


Senyumnya mengembang, ia tidak tahu akan bersaudara tiri dengan perempuan cantik yang menggugah selera, gadis bernama Nayla. Gadis yang terpaut usia lima tahun darinya.


Potret bahagia sebagai keluarga kecil yang baru akan menempuh hidup untuk masa depan yang lebih baik.


Esok hari.


Mendung kelabu menjelma menutupi awan cerah pagi tadi, badai petir yang tidak merata sering terjadi di bulan Desember. Bulannya banjir di beberapa daerah tanah air.


Hujan mulai mengguyur setiap pelosok kota. Pada sebuah ballroom hotel, Nayla tersenyum melihat ayah dan ibu sambungnya mendampingi Rahayu yang naik ke atas podium menerima hadiah dan selempang lulusan terbaik kampus dimana Nayla pernah mencicipi sebagai mahasiswi di sana.


"Jika kau mau kuliah lagi, aku akan membiayai mu Nayla" ujar Dirga yang duduk di samping adik tirinya itu.


Dirga memandang wajah cantik Nayla dari samping, entahlah perasaannya sungguh suka pada gadis itu. Gadis tegar yang menjalani hidup yang tidak mudah, ditinggal mati ibu dan kakaknya sekaligus, mengemban amanah empat yatim piatu di usianya yang masih sangat muda.


Dimana gadis lain akan sibuk mencari jati diri, namun Nayla sibuk menata masa depan meski terasa berat. Terkedu sekali hati Dirga pada sosok gadis yang masih menatap ke arah depan itu.


"Aku kagum padamu."


"Untuk apa?" tanya Nayla akhirnya menoleh juga.


"Untuk semuanya, hei jangan menatapku seperti itu. Bagaimana jika aku jatuh cinta padamu?"


"Kita bersaudara," balas Nayla terkekeh.


"Andai tidak bersaudara, ini menyebalkan!" lirih Dirga terkekeh juga yang ikut menyaksikan adik kebanggannya meraih gelar di depan sana.


Rahayu memeluk Nayla setelah selesai acara wisuda, ia bahagia sambil memegangi buket bunga.


"Aku turut bahagia untukmu."


Nayla pun membalas pelukan yang tak kalah sayang, ia mengernyitkan dahi saat Rahayu memegangi buket bunga dengan rangkaian aneka bunga dan warna itu. Padahal ada banyak bunga sebagai ucapan selamat padanya dari berbagai pihak namun dibiarkan Rahayu begitu saja hingga seorang pembantu yang ia bawa dari rumah sibuk memegangi banyak buket bunga dari yang lain.


"Aku rasa itu rangakaian bunga istimewa dari yang lain, aku melihat kau tidak pernah melepasnya sejak tadi," ujar Nayla penasaran.


"Oh sayang, tentu saja ini adalah bunga paling istimewa hari ini. Karena orangnya berhalangan hadir jadi dia mengirim bunga ini sebagai permintaan maaf," jawab Rahayu malu-malu.


Deg..... Sebuah detakan yang terasa sumbang pada jantungnya saat ini, jika dari raut bahagia Rahayu bisa dipastikan itu buket bunga dari seorang lelaki.


Ariq, pikiran Nayla langsung tertuju pada pria itu.


"Maksudmu?"


"Iya, ini bunga dari calon jodohku Nay..... Dari mas Ariq."

__ADS_1


Entah kenapa dada Nayla merasa ada yang menembakkan anak panah tepat mengarah ke jantungnya saat ini.


"Dia berhalangan hadir urusan pekerjaan, dia mengirim bunga ini untukku, kau lihat tidakkah bentuk dan rangkaian ini begitu tampak istimewa dari yang lain?"


Nayla menghela napas berat, ia mengangguk memaksakan senyum.


"Iya, istimewa sekali."


Nayla kemudian pamit ke toilet sedang ayah dan ibu sambungnya sibuk berfoto dengan Rahayu serta kakaknya Dirga.


Lama Nayla terduduk di toilet, ia membuka ponsel yang berisi puluhan panggilan dari Ariq dan Vano. Ada juga pesan dari dua pria itu yang enggan sekali ia baca.


Yang ada dipikirannya saat ini adalah Ariq mengirimi Rahayu bunga karena tidak bisa hadir, apa mereka sudah menjalin kedekatan meski belum bertemu? Apa Ariq menerima perjodohan itu? Entahlah, Nayla enggan bertanya apalagi membahas hal yang tentu akan merugikan hatinya.


Ariq memang tidak pernah membahas masalah perjodohannya pada Nayla. Gadis itu pun tidak pernah bertanya soal itu.


Nayla pamit pulang, karena sudah lama meninggalkan empat keponakannya di rumah Dewi selagi menghadiri acara wisuda Rahayu.


Sesampainya di kontrakan, Vano tampak bermain dengan Zaza. Nayla menatap pria itu dengan tatapan dingin.


"Hai, kau sudah pulang?" Vano menangkap tubuh kecil Zaza setelah main lari-larian.


"Bundnay....." Pekik anak itu menghambur ke pelukan Nayla, gadis itu menerimanya dengan kasih sayang.


"Maaf sayang meninggalkan kalian cukup lama." Nayla melambai tangan pada ketiga kakak Zaza yang sedang bermain ular tangga.


Lalu Nayla beralih pada Vano yang menunggu disapa.


"Kenapa kau kemari lagi?"


Vano tersenyum.


"Aku ingin bertemu denganmu, ternyata Dewi yang menjaga anak-anak."


"Iya, karena kak Dewi sedang libur. Aku pergi sebentar menghadiri wisuda saudaraku."


"Nayla."


"Iya."


"Mas Ariq akan bertemu calon jodohnya nanti malam. Lepaskan dia, kembali padaku. Jangan mempersulit keadaanmu sendiri, keluarganya tahu tentang kita kecuali ayah ibunya. Tentu restu tidak akan didapat meski mas Ariq menginginkan mu sekalipun."


"Lantas?"


"Kembali padaku Nay..... Kita bisa mengulang kisah, memulai dengan hal baru. Tidak akan sulit karena kita pernah bersama dalam perasaan yang besar. Aku menyesal Nayla, aku ingin menebus kesalahan dan memperbaiki diri bersamamu....."


Nayla menahan airmatanya.


"Lalu istrimu?"


"Aku akan bercerai, tidak ada cinta untuk Annisa. Aku juga ingin segera mengakhiri luka Annisa, aku tidak bisa memberi perasaanku padanya."


"Andai hatiku semudah itu Vano."


Nayla menjawab singkat seraya mendudukkan diri pada sebuah kursi di teras kontrakannya.


Pandangannya mengedar ke sebuah pohon rambutan yang tampak berputik di halaman rumah Dewi.


"Nayla, aku tidak memaksamu sekarang. Tapi aku akan tetap menunggumu hingga kau lelah sendiri dan menerimaku lagi. Aku juga tidak mendesak, hanya saja aku ingin memberi saran setidaknya jangan mas Ariq, kau akan terluka Nay.... Terluka oleh keluarganya, mereka orang kaya dan terpandang, aku sungguh tidak ingin mereka merendahkan mu karena masa lalu kita, biarkan aku saja yang bertanggung jawab atas segala perbuatanku padamu."


"Terimakasih Vano, aku senang mendengar kau peduli padaku. Untuk sekarang maaf, aku hanya ingin menata hidupku yang baru dimulai lagi, aku bahkan masih berpikir kemana arah tujuan hidupku mulai sekarang. Aku tidak ingin terpaku pada satu pintu saja, sedang ada banyak pintu yang harus ku buka. Pintu masa depan yang lebih baik."


"Soal mas Ariq, kau tenang saja.... Aku tidak pula menaruh harapan besar padanya, aku cukup tahu diri Vano. Aku sudah tahu soal perjodohan mereka, bahkan sudah tahu pula dimana keluarga mereka akan bertemu malam nanti."


"Pulanglah, aku akan memanfaatkan hari ini dengan beristirahat karena restoran libur hari ini, juga jangan mengirimi aku bunga lagi. Hargailah istrimu jika kau ingin dihargai keluarganya."


Vano terdiam.


Jauh dari mereka berada, Ariq melihat dua orang mantan kekasih itu bicara di teras kontrakan Nayla. Meski ada anak-anak di sana namun Ariq menangkap kesan bahwa Nayla menerima Vano di sana.

__ADS_1


"Ternyata ini alasan dia tidak menerima panggilan ku sejak tadi, tidak pula membalas pesanku."


__ADS_2