
Aish tidak banyak bicara selama perjalanan, ia masih gugup berhadapan dengan Ken, apalagi semobil seperti ini. Entahlah, Aish tidak bisa menerka apa yang ia rasa pada pria itu, atau lebih tepatnya Aish tidak mau memikirkan ke arah sana.
"Aish," panggil Ken.
"Iya?" sahut Aish menoleh.
"Ada banyak pertanyaan yang akan aku ajukan, tapi aku lupa ingin bertanya apa."
Aish mengerutkan keningnya.
"Bertanya saja, tidak ada salahnya."
"Bertemu dengan mu hari ini, membuat aku lupa banyak hal."
"Tuan Ken, jangan berbelit!"
"Berhenti memanggilku Tuan, aku bukan orang lain. Juga bukan seorang pasien yang harus dipanggil formal seperti itu," tukas Ken tidak suka.
"Jadi aku harus panggil apa?"
"Di rumah aku dipanggil Mas Ken oleh adik bungsu ku," ujar Ken seraya melirik Aish dengan mata hitamnya.
Aish tersenyum mendengarnya.
"Apa itu tidak cocok?" tanya Ken saat raut wajah Aish menahan tawa.
"Tentu saja cocok, apa aku juga harus memanggilmu seperti itu?"
Ken mengangguk.
"Baiklah, Mas Ken!"
Ken melirik Aish, ia tersenyum lebar dan puas. Pun Aish, ia hanya bisa memberikan senyum terbaiknya.
Kemudian hening.
Ken ingin bicara banyak hal pada Aish, namun tidak di mobil seperti ini. Ia diam saja membuat fokusnya terbagi antara jalan dan wanita di sampingnya itu, apalagi jika mereka bicara serius tentang cerita panjang Ken mencari Aish selama ini.
Pria itu memutuskan untuk bicara dan bertanya sepuasnya setelah di rumah Aish nanti. Bahkan Ken tidak sabar ingin tahu Aish tinggal di daerah mana, agar ia tidak kehilangan perempuan itu lagi.
__ADS_1
"Baiklah Aish, dimana tempat tinggal mu?" tanya Ken setelah mereka mencapai lampu merah.
Aish ingin menjawab namun lebih dulu mereka dikejutkan oleh kejadian naas yang mengerikan.
Brakkkkkkkkk. Suara tabrakan keras yang terdengar hingga ke telinga Aish dan Ken.
"Astaghfirullah," ucap Aish yang melihat langsung kejadian kecelakaan yang baru saja menimpa sebuah motor ditabrak sebuah mobil yang melaju dari arah lampu hijau.
Pemotor yang berani melewati lampu merah dengan kecepatan tinggi sedang kendaraan dari lampu hijau mulai berjalan dari arah yang berbeda. Dan terjadilah kecelakaan.
Suasana langsung gaduh, persimpangan lampu merah menjadi tidak terkendali karena insiden itu tepat di tengah jalan yang akan dilewati para pengendara dari berbagai arah.
Aish melihat pengendara motor yang tertabrak itu terpental cukup jauh hingga tiga meter. Dua orang lelaki yang menjadi korban, satu terpental dan satu lagi terseret motornya sendiri.
Lampu merah perlahan berganti hijau di bagian mereka, namun Aish tanpa berpikir panjang ia langsung membuka pintu mobil ingin keluar.
"Aish kau mau kemana?" teriak Ken pada Aish yang tidak mendengarnya lagi sebab perempuan itu tampak berlari ke lokasi kecelakaan.
Klakson dari mobil lain membuat Ken tidak bisa menyusul Aish disaat lampu mereka hijau seperti ini. Pria itu segera melaju dan mencari tempat untuk memarkirkan kendaraannya.
Dan benar saja persimpangan itu dipenuhi pengendara yang ingin lewat dari satu arah dan arah yang lain. Karena kecelakaan tepat di tengah, hingga lalu lintas menjadi kacau.
Ada yang peduli hingga ikut turun dari mobil dan melihat kecelakaan, ada juga yang terus lewat tanpa menghiraukan.
"Tolong atur lalu lintasnya Pak, saya seorang dokter. Saya akan menolong korban sebelum ambulance datang," ucap Aish pada salah seorang polisi yang sedang mendekatinya dan korban yang tampak tidak bergerak di aspal.
Polisi itu mengangguk, ia dan temannya segera mengatur lalu lintas agar tidak melewati bagian kecelakaan, satu polisi lain sedang minta keterangan pengguna mobil yang menabrak dua pengendara motor itu.
Aish langsung pada korban yang tergeletak tidak bergerak dengan posisi telungkup itu.
Setelah memanggil, namun tidak ada sahutan. Aish memeriksa denyut nadi lelaki yang ia kira masih seorang mahasiswa itu dilihat dari almamater yang sedang korban kenakan.
Korban tidak memakai helm, terlihat luka lecet dan berdarah di wajah lelaki itu dipastikan karena mencium aspal setelah terbang dari motor yang membawanya.
Denyut nadi tidak teraba, tidak ada pergerakan napas dari dada. Aish tidak menunggu lama, ia segera memberikan kompresi dada.
Seketika suasana riuh menjadi sedikit lebih hening, semua mata tertuju pada seorang perempuan yang sedang berjuang menyelamatkan nyawa seorang lelaki yang tergeletak tidak bergerak.
Satu korban lainnya berhasil diamankan polisi karena tidak sampai hilang kesadaran, ia hanya menderita luka lecet saja.
__ADS_1
Aish tampak berkeringat, ia tidak berhenti sampai bunyi mobil ambulans datang. Segera petugas ambulance menghampiri Aish dengan alat bantu kehidupan.
Aish lega, denyut nadi pria itu mulai teraba. Aish memberi perintah sesuai urutan memberi bantuan hidup dasar pada petugas medis dari ambulans.
Mereka berkolaborasi dengan baik hingga perlahan, nadi dan napas pria itu kembali. Dilanjutkan dengan Aish dan satu petugas ambulance yang lain memasangkan bidai pada satu kaki korban yang Aish kira patah tulang.
Aish membantu tindakan itu hingga korban dibawa menggunakan tandu ke dalam ambulans.
Satu petugas tetap setia memegang ambu bag sebagai alat bantu napas korban hingga dalam ambulans.
Lagi, Ken terpesona atas aksi heroik Aish menyelamatkan nyawa korban yang tidak tahu itu siapa, namun dokter cantik itu tidak berpangku tangan hanya melihat saja.
Ken melihat keringat bercucuran di kening Aish, entah kenapa pria itu kian jatuh hati dibuatnya. Ia melihat semua apa yang Aish lakukan, betapa dokter itu tidak menolong dengan setengah hati, Aish berjuang mengembalikan denyut nadi dengan memberi kompresi dada seorang diri dan itu cukup lama hingga takdir masih memihak pria yang menjadi korban itu.
Sampai petugas ambulance datang, Aish tidak berhenti ia juga ikut memastikan korban selamat dari kematian setidaknya sampai pria itu masuk ambulans.
Aish tampak bicara pada polisi, sungguh wanita yang cantik dan pintar pikir Ken.
"Mas Ken!"
Ken terkejut saat Aish memanggil namanya yang sejak tadi berdiri terpaku memandang Aish penuh kekaguman.
"Aish?"
"Mas Ken bisa pulang sekarang, maaf aku harus ikut mengantarkan korban ke rumah sakit. Aku harus memberi keterangan di sana sebagai penolong pertama."
"Apa?"
"Iya, terimakasih sudah mau mengantar ku hingga di sini. Pulanglah, aku akan naik ambulans."
Aish tersenyum lalu pergi di dampingi polisi hingga naik ambulans.
Ken yang mengejar Aish hanya bisa berdecak. Ia bahkan bingung ingin mengatakan apa sekarang.
Ken hanya bisa menatap kepergian ambulans dengan rasa penasaran yang belum terpecahkan.
Ken kembali ke mobil. Pria itu diam sejenak lalu memukul stir mobil saat mendapat pesan dari saudaranya bahwa ia disuruh pulang sekarang.
Padahal Ken sudah bergegas hendak menyusul Aish dan ambulan itu demi mengikuti Aish hingga ke rumah sakit.
__ADS_1
Ken melirik beberapa tas belanjaan Aish yang ditinggalkan janda muda itu di mobil Ken.
Pria itu tersenyum puas. "Kau jodohku Aishwa," gumam Ken terkekeh sambil menjalankan mobilnya.