
Pagi kembali menjelang, Nayla tampak memberi kompres hangat pada wajah suaminya yang tampak lebam akibat luka semalam, Nayla melakukannya dengan telaten meski hatinya bertanya-tanya namun ia cukupkan dalam hati, ia enggan saat Ariq seperti menyembunyikan sesuatu darinya, Nayla tahu itu.
"Terimakasih," ucap Ariq menangkap tangan Nayla yang baru saja selesai pada wajahnya.
Sejenak mereka saling memandang, lalu Nayla hanya mengangguk dan memilih pergi untuk menaruh baskom dan handuk kecil itu ke meja sudut kamar tanpa bicara apapun, kecewa, sudah pasti Nayla kecewa akan sikap Ariq yang seperti ini.
"Kau marah padaku?" tanya Ariq saat Nayla kembali ke hadapannya.
"Tidak, kenapa harus marah pada sesuatu yang disebabkan oleh urusan lelaki? Aku hanya heran, seperti apa urusan itu hingga aku tidak kau beritahu sedikit pun?"
Ariq tampak mengambil napas, ia raih lagi tangan Nayla agar lebih dekat dengannya.
"Aku ada sedikit masalah dengan seseorang, aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu, aku hanya tidak ingin kau mengira yang tidak-tidak."
"Kau pulang dengan luka seperti ini, aku harus biasa saja begitu? Lantas apa salah aku mengira bahwa kau sedang tidak-tidak diluar sana? Aku kecewa padamu."
Nayla menarik tangannya, ia menatap ke lain arah.
"Ayolah, ini masalah kecil jangan diambil hati," rayu Ariq sambil mengangkat tubuh Nayla duduk di atas pangkuannya.
"Aku minta maaf, ayolah jangan merajuk."
Nayla kesal namun akhirnya termakan rayuan juga jika seperti ini. Terlebih saat Ariq memainkan lehernya dengan hidung mancung pria itu.
"Baiklah, untuk menebus kesalahanku semalam ayo hari ini kita bebas pergi kemana pun kau mau!"
Nayla masih diam.
"Sayang, ayolah."
"Kau mau kemana akan ku kabulkan," tawar Ariq lagi dengan wajah manja menatap Nayla seperti anak kecil.
"Aku mau bertemu ayah dan anak-anak, aku merindukan mereka."
Ariq tersenyum, "Ide bagus, kita bisa makan siang di restoran ayah jika begitu."
Nayla mengangguk, senyumnya kembali muncul saat akan melepaskan kerinduan pada anak-anak mungil kesayangannya siang nanti.
Benar saja Nayla tampak bahagia sekali saat Ariq membawanya ke restoran yang baru saja sepi ketika jam makan siang berlalu, kebetulan anak-anak sudah pulang sekolah semua. Nayla puas memeluk satu persatu anak-anak mandiri itu dengan kerinduan yang mendalam, mereka belum pernah tidur terpisah sebelum Nayla menikah. Ini sudah tiga hari mereka tidak bertemu.
Ariq tersenyum melihat wajah cantik yang sedang tertawa itu, ia tahu mood Nayla akan membaik jika bertemu empat anak yang sekarang juga menjadi keponakannya.
"Bagaimana keadaan kalian setelah menikah?" cetus ayah Faisal saat menyusul Ariq duduk di salah satu meja.
"Baik, semuanya berjalan dengan baik," jawab Ariq sambil meminum kopi buatan istrinya.
"Kau bahagia menikahi putriku?"
"Bahagia sekali, ayah tahu itu."
Ayah Faisal mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Alhamdulillah, percayalah dia gadis yang baik dan penurut, dia satu-satunya hal paling berharga yang ayah miliki, jika kau menyakitinya itu artinya kau juga menyakiti orang tua tidak berguna ini, kau boleh mengembalikan Nayla pada ayah jika memang Nayla tidak bisa dididik menjadi istri yang baik, jika dia membangkang atau tidak bersikap layak seorang perempuan baik-baik dan membuatmu marah, kau boleh mengembalikannya pada ayah tanpa menyakiti fisiknya. Itu satu hal yang paling ku minta padamu."
Ariq menggenggam tangan mertuanya.
"Itu tidak akan terjadi ayah, percayalah aku mencintainya lahir dan batin. Aku bahagia, dan yakin pula bahwa istriku tidak akan seperti yang ayah sebutkan tadi. Menikah akan membuat kami menjadi lebih baik, kami akan sama-sama belajar untuk itu. Doakan kebaikan pada kami berdua, hingga pernikahan ini terus diberkahi."
Hati ayah Faisal menghangat saat mendengar penuturan menantunya itu, ia yakin pula bahwa pilihan Nayla memanglah yang terbaik meski sesekali Ariq pernah menjadi pria menyebalkan sebelum menikah.
__ADS_1
Di sisi lain, Nayla sedang berada di dapur bersama ibu Rena dan anak-anak.
"Nayla, ibu mohon..... Kau sudah punya kehidupan sendiri sekarang, kau berhak bahagia bersama suamimu, biarlah anak-anak menjadi tanggung jawab kakek dan neneknya saja, percayalah ibu sungguh bahagia mereka bisa tinggal bersama kami, mereka akan ibu sewa dua pengasuh untuk membantu mengurus mereka nanti. Jangan khawatir, ibu akan memantau perkembangan mereka secara langsung," ucap ibu Rena dengan raut memohon.
"Tapi bu, apa itu tidak merepotkan?"
"Sayang percayakan semua pada kami, tidak merepotkan sama sekali, tentu mereka boleh menginap di rumah kalian nanti jika kau sudah pindah dari rumah mertuamu, kita akan mengasuh mereka bersama-sama. Membesarkan mereka adalah prioritas kita mulai sekarang, bukan kau saja. Ibu ingin kau mengenyam indahnya berumah tangga Nayla, tidak ada yang mengganggu pengantin baru seperti kalian, semua sudah ibu bicarakan pada ayah mu."
Nayla diam, ingin membantah rasanya enggan pula untuk menolak niat baik istri ayahnya ini.
"Nayla sayang ayolah."
"Tapi bu, apa kak Dirga dan Rahayu tidak terganggu nanti jika mereka tinggal di sana? Aku tidak ingin menimbulkan masalah karena anak-anak nantinya."
"Oh sayang, ibu lupa bicara padamu. Ayah dan ibu sudah menempati rumah baru, Rahayu dan Dirga tetap di rumah utama, mereka tidak keberatan sama sekali, tidak akan terjadi apa yang kau takutkan, hanya ayah dan ibu yang tinggal di sana merawat mereka bersama dua pengasuh yang akan mulai bekerja mulai besok."
"Nay, memang sudah sudah seharusnya mereka kami ambil alih sebagai wali mereka mulai sekarang, kau sudah banyak berkorban selama ini, sudah saatnya pula kau mementingkan kehidupan pribadi mu, berbahagia lah sayang..... Semua ingin kau bahagia, lupakan masa lalu, kita bisa membesarkan mereka bersama-sama. Biarlah ibu dan ayah yang merawat mereka."
"Kau pengantin baru, pasti banyak hal yang kau harus beradaptasi setelah menikah, fokus binalah rumah tangga mu dengan baik mulai sekarang, tentang anak-anak ayah dan ibu akan menjamin masa depannya. Sudah saatnya kau memikirkan dirimu yang sudah menjadi seorang istri sekarang, semua butuh proses Nay..... Terkadang menikah itu butuh adaptasi yang panjang."
Nayla diam lagi, ia membenarkan dalam hati. Sungguh ia bersyukur bahwa ayahnya menikahi perempuan yang tepat.
Ia melirik pula suaminya yang sedang bicara dengan ayah Faisal. Ibu Rena meninggalkan Nayla saat Arinda menghampiri, ia membiarkan Nayla bicara pada si sulung.
"Kami akan berjanji tidak akan merepotkan nenek dan kakek, bundnay harus bahagia bersama paman Ariq, kami tidak akan nakal, jadi bundnay jangan khawatirkan kami, nenek Rena baik dan kami senang tinggal di sana, lagi pula kita bisa bertemu di restoran kakek kenapa bundnay jadi cengeng sekali, kita tidak berpisah jauh."
Arinda menghapus airmata Nayla, ia bicara seolah memperjelas bahwa mereka memang lebih baik tinggal bersama kakek mereka saja daripada mengganggu kebahagiaan pengantin baru itu.
"Siapa yang mengajarimu bicara seperti ini? Itu terlalu dewasa untuk anak seusiamu sayang, bunda ingin yang terbaik untuk kalian, kita akan bersama-sama lagi nanti, untuk sekarang memang lebih baik bersama kakek dulu..... Sebab bunda belum punya rumah untuk membawa kalian tinggal bersama lagi, berjanjilah kau akan menjaga adik-adikmu!"
Nayla menangis seperti anak kecil, ia tidak bisa memaksakan untuk tetap membawa anak-anak tinggal bersama nya lagi sedang ia saja masih menumpang dengan keluarga Ariq belum tahu kapan ia akan dibawa pindah oleh suaminya nanti.
Nayla tersenyum kesal, mereka berpelukan untuk sekian kalinya.
"Apa paman mengganggu?"
Nayla dan Arinda menoleh pada pria yang baru saja menegur mereka.
Nayla menghapus airmatanya saat suaminya mendekat.
"Paman akan membahagiakan BundNay kan?" Ucap Arinda tanpa takut pada Ariq yang mengusap kepalanya.
"Tentu saja sayang."
"Dia pengganti orangtuaku, setidaknya jangan sakiti dia seperti kau menyakiti paman Vano waktu kemarin. Awas jika paman memukul bundnay seperti itu."
"Apa?" Ariq terdiam sejenak, ingatannya memutar memori pada saat ia pernah memukul Vano di depan anak-anak tempo hari.
"Ya ampun sayang, pikiranmu terlalu jauh, itu perkelahian antar lelaki. Tidak mungkin paman melakukan itu pada perempuan, apalagi pada bundamu yang cantik ini."
Ariq memeluk Nayla di depan Arinda yang menatapnya penuh intimidasi namun menggemaskan.
Nayla hanya tersenyum sambil terus menghapus airmatanya yang masih saja mengalir sesekali.
"Paman janji?"
"Paman janji, apa kau tidak lihat paman sangat menyayangi bunda Nayla, sama seperti paman menyayangimu dan adik-adikmu juga..... Jadilah anak yang baik dan tidak nakal selama kita belum bisa tinggal bersama!"
Arinda mengangguk, anak kelas empat SD itu mengatakan janjinya seperti pada Nayla tadi. Membuat Ariq tersenyum bangga, ia mengusap lagi kepala Arinda dengan gemas lalu melakukan janji saling menautkan kelingking sebagai simbol akan menepati janji diantara mereka.
__ADS_1
Arinda pergi dari sana, Ariq menatap istrinya lagi yang masih tampak cengeng.
"Sayang ayolah, jangan menangis lagi..... Ayah sudah jelaskan padaku tentang sebaiknya mereka tinggal dimana, anak-anak akan baik-baik saja. Kau percaya pada ayah bukan?"
Nayla mengangguk.
"Lagi pula kau bisa bertemu mereka setiap hari, jangan bersedih lagi kita bukan hendak berpisah jauh. Hanya beda rumah saja."
Ariq mengelap pipi Nayla dari sisa airmatanya, lalu memeluk lagi istrinya itu dengan sayang.
"Ehem."
Ariq dan Nayla sama-sama menoleh.
"Rahayu?" Nayla melepaskan diri dari pelukan suaminya.
"Hai pengantin baru, ada apa ini kenapa menangis Nay?" Tanya Rahayu segera menghampiri Nayla yang hanya bisa tersenyum malu.
"Biasa, soal anak-anak," jawab Ariq santai.
"Kau tidak ke kantor?" Basa basi Nayla pada saudari tirinya itu.
"Aku ada urusan di luar, aku mampir ingin mengambil sesuatu yang tertinggal pada ibu. Ayolah kenapa kau menangis Nayla?"
"Bukan apa-apa, maafkan aku.... Apa aku tampak menyedihkan sekali?" Nayla mengusap matanya agar lebih baik.
Ariq meraih pinggang istrinya lagi, membantu mengelap sisa airmata Nayla dengan tangan kanannya, membuat Rahayu menatap mereka dengan perasaan lain. Iri sungguh ia iri, tampak sekali Ariq memang mencintai saudarinya itu, saling mencintai tentu mereka pantas bersama.
"Aku rasa ingin mencuci wajah saja biar lebih baik, aku ke toilet sebentar."
Nayla pamit, berlalu dari sana meninggalkan Ariq dan Rahayu yang sama-sama menatapnya menjauh. Lalu mereka saling menoleh satu sama lain.
"Bagaimana pekerjaan mu?" basa basi Ariq.
"Baik, semuanya lancar."
"Kau ingin bertemu ibumu? Beliau ada di dapur, aku akan melihat anak-anak dulu," ucap Ariq ingin menyudahi pertemuan itu.
"Mas Ariq," panggil Rahayu hingga mencegah pria itu melangkah menjauh.
"Iya?"
"Apa kau bahagia menikahi Nayla?"
"Iya, tentu saja aku bahagia. Nayla hidupku, kau tahu itu," tegas Ariq dengan nada santai.
Rahayu diam sejenak sebelum menjawab, "Huh, aku senang mendengarnya. Aku tahu pula bahwa cinta itu memang harus saling memiliki."
"Dan aku milik saudarimu.... Nayla!"
"Ck..... Apa itu? Kenapa kau bicara seolah aku menggodamu hingga hal itu kau pertegas lagi."
Ariq hanya terkekeh.
"Baiklah, jika kau sudah paham sekarang lebih baik temui ibumu. Aku akan ke sana dulu."
Ariq pergi tanpa menunggu tanggapan Rahayu, ia melangkah mendekati Zaza yang bermain dengan Denia.
Jam bergulir, waktu terus berlalu hingga satu hari pun sudah terlewati.
__ADS_1
Dan malam pun menjelang.