Purnama Merindu

Purnama Merindu
Sudut pandang orang membenci


__ADS_3

"Bagaimana apa kau mau menjelaskan sesuatu tentang semalam?" tanya papa Alif seraya menyesap teh manis buatan istrinya tercinta.


Teh yang selalu mampu membawa kehangatan dalam rumah tangganya yang sudah berjalan tiga puluh satu tahun.


Ariq masih diam, ia hanya memandang ke satu arah rak buku yang berada di sudut. Tatapan kosong.


"Ariq," tegur papanya lagi.


"Iya, semalam aku pergi," Ariq mulai bersuara setelah hening cukup lama.


"Kenapa? Kenapa kau mulai tidak sopan pada orangtua?"


"Huh, sulit dijelaskan."


"Kau bisa minum teh mu dulu, mana tahu lidah mu akan lancar bicara setelah itu."


"Jika aku mengatakan bahwa aku....."


"Santai boy..... Minumlah dulu."


Ariq mengangguk, ia pun mengambilkan gelas tehnya.


"Sudah lebih baik?"


Ariq mengangguk, "Sekarang jelaskan pada papa apa yang kau lakukan semalam?"


"Maafkan aku, aku sungguh ingin gila rasanya."


"Wow....... Siapa yang membuatmu seperti itu?"


Papa Alif yang sudah dapat mengira arah pembicaraan pun menjadi lebih tertarik saat ini. Raut putranya yang dingin menambah rasa penasaran saja.


"Aku sebenarnya sudah lama ingin bicara, menunggu papa dan mama pulang. Tapi untuk semalam aku tidak ingin mengecewakan kalian hingga aku ikut pergi."


"Jangan berbelit."


"Aku ingin menolak perjodohan itu."


Diam, papa Alif diam sejenak seolah mengatur isi kepala yang akan ia rubah menjadi kata-kata.


"Oke, bukankah memang tidak ada pemaksaan dalam hal ini. Kenapa kau baru bicara sekarang? Kenapa tidak jauh sebelum pertemuan hingga kita tidak perlu bertemu seperti semalam?"


"Maafkan aku."


"Kau tahu, bahwa semalam itu kau menyakiti semua orang. Jelaskan alasan mu kenapa?"


"Aku sebenarnya sudah memiliki pilihan sendiri."


"Sudah papa tebak, apa kau kembali pada Andira? Apa kau berhasil merebut perempuan itu dari suaminya?"


"Papa jangan sembarangan."


"Lalu? Bukankah hanya Andira yang masuk dalam kehidupan mu?" papa Alif mulai menatap putranya dengan wajah serius.


"Bukan."

__ADS_1


"Oke, kau bisa katakan sekarang."


"Ini sangat sulit dijelaskan, aku jatuh cinta lagi pada perempuan lain. Perempuan yang tidak biasa, dia bukan seperti gadis lain. Dia seperti bulan purnama untukku."


Hal itu membuat papa Alif tersenyum.


"Bisakah kau menjelaskannya dengan kata-kata sederhana saja, itu terlalu puitis untuk bicara pada papamu sendiri," kekeh papa Alif.


"Intinya aku mencintai wanita lain, aku ingin memilihnya sebagai jodoh masa depan, aku menolak perjodohan ini. Maafkan aku."


"Sejauh ini papa dapat mengerti, baiklah..... Siapa wanita itu? Kenapa tidak kau kenalkan pada kami padahal ini sudah beberapa hari kami berada di tanah air, seharusnya semalam itu kita batalkan pertemuan jika kau bicara lebih awal."


"Kau tahu ini masalah sepele, kau mencintai wanita lain apa salahnya bicara. Karena hal ini semuanya menjadi serius, papa malu pada keluarga bibi Rena tentang semalam. Ini kecil Ariq, kecil sekali urusannya tapi kenapa kau buat semua menjadi rumit disaat keluarga mereka menerima rencana ini dengan begitu harap. Nak Rahayu suka padamu."


"Andai kita batalkan sejak jauh hari mungkin mereka tidak akan sekecewa ini."


"Maafkan aku," sesal Ariq lagi.


"Baiklah nanti papa dan mama akan bicarakan lagi pada bibi Rena. Santai bung, ini bukanlah pemaksaan, jika kau punya pilihan sendiri itu lebih bagus, tidak repot pula orangtua mu ini sibuk mencarikan mu jodoh, aku hanya takut karena pisah dari Andira kau jadi menutup hati dan lama-lama kau menjadi tidak suka wanita lagi. Semua takut akan hal ini, banyak pria yang seperti itu akhirnya menyukai sesama jenis. Naudzubillah....."


"Ya Allah, papa terlalu jauh.... Aku tidak menyukai wanita bukan berarti berubah haluan juga."


Ariq bertambah kesal mendengar hal itu, namun papanya tertawa pelan sambil kembali meminum tehnya.


Pria ini mulai menceritakan siapa yang ia cintai dan ingin ia nikahi, setelah tahu gadis itu masih bersangkut paut dengan keluarga Rena membuat papa Alif menjadi tersedak sendiri.


"Nayla? Nayla putri sambungnya Rena?"


Ariq mengangguk lagi.


"Aku mencintainya."


"Ingin menikahinya?"


Ariq mengangguk lagi, untuk kali ini papanya terdiam sejenak, bukankah Nayla dan Rahayu menjadi saudari tiri sekarang sedang Rahayu juga menyukai Ariq dan berharap berjodoh. Disinilah papa Alif mulai mengerti seberapa rumit hal ini.


Menarik napas dalam-dalam papa Alif berusaha tenang menghadapi kenyataan itu, ia menghabiskan tehnya lalu berkata pada putra sulungnya yang nakal itu.


"Baiklah, biar papa bicara pada bibi Rena nanti soal ini. Sekarang bawalah nak Nayla kemari, kenalkan dia pada keluargamu. Jangan buat semakin rumit dengan menyembunyikan hal ini dari keluarga mu sendiri."


Ariq tersenyum, ia seperti hidup lagi sekarang.


"Apa kau ingin ke kantor dulu? Santai saja, kau bisa membawa Nayla kemari sore nanti, papa cukup penasaran apa yang telah dia lakukan padamu, hingga kau berhasil move on dari Andira."


"Papa jadi ingat wajah Nayla yang berubah saat kembali dari toilet, seperti habis menangis. Kasihan gadis itu, kau memang anak nakal, seharusnya kau bisa menjaga perasaan Nayla dengan membatalkan pertemuan itu."


"Aku juga baru tahu mereka bersaudara tiri semalam, ayahnya menikah dengan bibi Rena baru beberapa hari."


Papa Alif mengangguk tanda mengerti.


"Baiklah, pergilah ke kantor dengan tenang.... Nanti sore bawalah Nayla kemari. Biar papa bicara pada mama mu soal ini."


Ariq tersenyum lagi lalu menggeleng..


"Tidak, aku akan menjemput Nayla sekarang!"

__ADS_1


Ariq berdiri dengan semangat, namun belum juga melangkah sebuah suara tajam menghentikannya.


"Tidak."


Suara bibi Arina dengan tegas, ia berjalan dari arah pintu menuju kakak dan keponakannya berada. Papa Alif menoleh dengan heran.


"Arina, apa maksudmu?"


"Sepertinya putramu belum mengatakan seluruhnya."


"Arina?"


"Iya, seluruh tentang gadis sialan itu!" Bibi Arina melirik Ariq dengan wajah kesal, lalu ia duduk di sebelah kakaknya.


"Arina apa maksudmu? Ariq?" lalu papa Alif menatap putranya lagi.


Ariq bungkam, ia tahu bibinya akan mengatakan hal yang menyakitkan tentang Nayla.


"Kau tahu mas Alif, putramu mencintai wanita murahan."


Papa Alif masih diam dan menunggu, ia menangkap raut tidak bersahabat dari adiknya itu.


"Nayla adalah wanita murahan, tidak pantas untuk masuk ke keluarga kita."


"Kau tahu tentang Nayla?" tanya papa Alif heran.


Bibi Arina mengangguk.


"Bahkan tahu segalanya, Ariq telah dibutakan oleh cinta. Entah apa yang telah dilakukan wanita itu hingga Ariq tergila-gila padanya."


"Bisakah kau menjelaskan tanpa berbelit!" tukas papa Alif tidak sabar.


"Nayla, dia pernah bekerja di sini sebagai pelayan yang mencuci pakaian Ariq. Dia wanita yang sangat tidak layak dijadikan istri. Dia terlibat pergaulan bebas bersama kekasihnya hingga hamil di luar nikah, dia menggugurkan kadungannya karena malu. Ayahnya seorang mantan narapidana kasus korupsi."


"Apa?"


Ariq berkaca-kaca matanya, ia sudah mengira sang bibi akan bicara seperti itu.


"Ibunya meninggal karena malu punya anak yang hamil diluar nikah, ayahnya bisa bebas berkat bantuan putra Rena yang merupakan pengacara hebat. Aku tidak tahu kenapa Rena begitu bodoh mau menikah dengan pria mantan napi itu."


"Dan paling harus kau tahu, Nayla adalah wanita yang merusak pernikahan putriku, Annisa tidak bisa bahagia dengan suaminya sejak wanita itu muncul, kau tahu mas Alif.... Vano, Vano adalah lelaki yang menghamili Nayla."


"Dia mengabaikan putriku dan memilih kembali pada gadis sialan itu padahal mas Hendra sudah membantu keluarganya dari kebangkrutan. Dan bodohnya Ariq pun sama tidak mau berpisah meski Nayla menerima Vano lagi sekarang, entah ada berapa lelaki yang didekatinya."


"Bibi, cukup!" Ariq membentak bibinya. Matanya memerah.


"Ariq?" papa Alif telah pula menanggapi hal ini dengan serius.


"Kau lihat, sejak bergaul dengan gadis bekas itu putramu jadi pandai melawan orangtua."


"Aku bisa jelaskan semua ini, semua perkataan bibi hanya dibicarakan melalui sudut pandang orang yang membenci. Aku tahu papa tidak akan menelan mentah informasi ini. Aku akan bicara berdua dengan papa. Aku ingin bicara berdua saja, tidak ada bibi di sini."


"Ckkk.... Lihat mas Alif? Putramu berani mengusirku."


Papa Alif menarik napas lalu menjawab, "Arina, tenangkan dirimu....... Aku tidak membela putraku, tapi ada baiknya aku mendengar pula dari sudut pandang Ariq yang mengalami semua ini."

__ADS_1


__ADS_2