
"Maafkan aku Lia, aku tidak mau menerima bantuan mu lagi. Aku akan mencoba mandiri mulai sekarang, ada anak-anak yang harus ku prioritaskan, aku tidak ingin ada kecemburuan sosial pada pegawai lain yang mengira aku mendapat hak istimewa di rumah laundry ini, kau lihat semua sibuk bekerja sedang aku sibuk mengurus Zaza yang belum terbiasa ku bawa kemana-mana seperti ini."
Nayla menolak halus tawaran demi tawaran bantuan dari sahabatnya lagi, Lia sudah banyak membantu. Nayla tidak ingin merepotkan semua orang oleh karena ia tidak bisa meninggalkan Zaza sendiri di rumah.
Lia tampak sedih, "Nay, aku tidak akan memaksa kali ini. Tapi sungguh kak Aqilla tidak keberatan kau bekerja sambil membawa Zaza. Tapi jika keputusan mu ingin berhenti bekerja dan mencari pekerjaan yang tidak mengikat waktu aku juga tidak keberatan."
"Jika kau butuh bantuan hubungi aku, jangan sungkan kita sudah berteman lama Nay, tidak ada jarak lagi diantara kita."
Lia berkata dalam seraya mengelus pipi Zaza yang tertidur di pangkuan Nayla. Gadis itu memutuskan untuk berhenti bekerja dari rumah laundry milik Aqilla.
Nayla tersenyum, "Jika kau ingin membantu, cukup bantu anak-anak ini saja. Mereka sekolah tentu lebih banyak kebutuhan daripada aku."
"Soal mereka, kau tenang saja Nay, aku akan menjamin uang jajan sekolah mereka," kata Lia mantap.
"Terimakasih banyak Lia, kau tidak pernah meninggalkan ku," jawab Nayla dengan raut sendu.
Lia mengangguk, "Maaf aku tidak bisa lama, ada mata kuliah lagi siang ini. Jangan sungkan menghubungi ku jika kau kesulitan." kembali Lia menekankan kata-katanya.
Mereka berpelukan sebelum berpisah.
Nayla mendapat tawaran dari tetangga barunya bahwa ada satu keluarga yang membutuhkan tenaga pelayan khusus untuk mencuci pakaian pakai tangan, hanya mencuci setelah itu bisa pulang, gaji yang ditawarkan cukup besar jika hasil kerja memuaskan hingga Nayla langsung mengiyakan pekerjaan itu terlebih mengingat rumah yang membutuhkan tenaganya masih di kawasan yang sama dengan kontrakan barunya.
Seakan mendapat jalan yang dimudahkan oleh takdir, kontrakan yang murah tidak jauh dari sekolah Arinda, Zandi dan Denia.
Nayla tidak perlu mengeluarkan ongkos lagi sebab ia bisa berjalan kaki pulang dan pergi saat bekerja, kontrakan yang hanya berjarak tujuh ratus meter saja dari rumah majikan tempat kerjanya yang baru nanti.
Hingga Nayla merasa mudah dalam menjalani rutinitasnya nanti tanpa mengabaikan keempat keponakannya yang bisa ia kontrol dalam waktu yang fleksibel dalam bekerja dan membagi waktu untuk mereka.
Sampai pada suatu hari, ia dipanggil untuk bekerja mulai hari ini menggantikan buruh cuci yang lama yang telah berhenti bekerja. Ia mendapat pakaian seragam pelayan yang sama dengan semua pelayan di rumah itu.
Rumah besar, pagar yang tinggi menjulang di jaga oleh beberapa petugas keamanan, ada total tujuh belas pelayan yang bekerja sesuai tugas masing-masing, Nayla datang dan masuk dari pintu gerbang bagian belakang khusus untuk para pelayan mengakses keluar masuk rumah majikan mereka itu.
__ADS_1
Hari pertama, Nayla cukup gugup sebab ia baru tahu rumah majikannya sekaya ini, ia di dampingi tetangganya yang juga bernama Dewi, lebih tua beberapa tahun darinya. Sudah berkeluarga namun belum memiliki anak, ia sudah bekerja lama di rumah itu, ia bertugas di bagian dapur membantu pelayan utama.
Nayla lega setidaknya Dewi bisa membimbingnya nanti dalam pekerjaan, jika boleh jujur Nayla belum pernah bekerja kasar sebelumnya, ia adalah nona kaya yang mendadak miskin.
Hanya bermodal pengalaman bekerja di rumah laundry yang ia andalkan saat ini, namun jika di rumah laundry ia hanya sebagai admin bukan tukang cuci, sekarang ia menjelma menjadi buruh cuci bukan mesin melainkan cuci tangan.
Entahlah, karena niat bulat untuk bekerja mencari nafkah untuk melanjutkan hidup bersama empat anak-anaknya Nayla mantap tanpa ragu, ia akan bekerja keras mulai sekarang apapun itu.
"Huh, hidup benar-benar tidak bisa ditebak. Dulu aku punya segalanya, lalu kehilangan segalanya pula, hari ini seperti hari baru, untuk mereka berempat yang menjadi penyemangat hidupku apapun itu, aku siap. Hidup terlalu singkat untuk diratapi," gumam Nayla menatap bayangan dirinya di cermin saat di kamar ganti.
"Menjadi nona kaya sudah ku alami, menjadi mahasiswa sudah kurasakan, ditinggal kekasih juga sudah, hamil lalu keguguran juga sudah ku lalui, kehilangan orang-orang tercinta, terpuruk seorang dan hampir bunuh diri juga baru saja berlalu, semua hal hampir sudah kulewati. Sekarang menjadi pelayanpun jadi, yang penting digaji."
"Saatnya bangkit Nayla, hidup hanya satu kali. Empat bocah harus makan dan sekolah, tidak ada waktu untuk menangisi apa yang sudah terjadi. Jangan terpuruk lagi, beruntung aku masih muda dan sehat mendapat ujian seberat ini, tidak semua wanita bisa menjadi diriku."
"Inilah ketika tidak kehilangan rasa syukur, semua terasa menjadi ringan, hatiku kian lapang, tidak apa jika tidak ada lelaki yang ingin menikahiku lagipula aku sudah punya empat anak sekarang. Tidak kesepian lagi."
Nayla bergumam sendiri, seolah bicara pada hatinya sendiri melalui bayangan dirinya yang kini memakai seragam pelayan. Rambutnya ia kuncir dengan rapi, senyum ia kembangkan sebelum keluar dari kamar ganti khusus pelayan yang tidak menginap.
Nayla terkekeh, ia raih tangan Zaza yang menunggu di dapur dari Dewi yang menjadi teman barunya.
"Nayla, kau cantik dalam busana apapun. Jadi pelayan saja kau cantik, kau harus bersemangat Nayla," ucap Dewi kagum.
"Kak Dewi berlebihan, ayo aku sudah siap!"
Dewi mengangguk, "Kita akan menghadap Oma dulu, karena kau baru jadi harus berkenalan pada tuan rumah, Oma Rika orangnya baik tidak pernah membeda-bedakan kita sebagai pelayan, hanya saja kesehatan orang tua itu cukup menurun akhir-akhir ini."
"Begitukah, baiklah aku siap. Aku akan bekerja dengan baik," jawab Nayla tanpa ragu.
"Bukan hanya Oma Rika, tapi ada anaknya nyonya Arina, nyonya besar itu cukup dingin dan mengerikan tapi suaminya baik, ada satu lagi nona muda dalam keluarga ini, nona Nisa dia putri tunggal nyonya Arina yang baru menikah beberapa bulan lalu, nona Nisa sosok yang cukup arogan seperti ibunya, nama juga orang kaya ya sudahlah, satu lagi cucu Oma yang juga tinggal di sini namanya Mas Ar---"
Nayla segera memotong pembicaraan, "Apa itu penting untuk diketahui oleh pelayan rendahan sepertiku?"
__ADS_1
Dewi menyengir saja.
"Tidak juga, baiklah..... Mana tahu kau ingin mengenal siapa saja majikan kita," jawab Dewi terkekeh.
"Mungkin bagi pelayan yang bekerja di dalam memang iya, tapi aku hanya akan bekerja di belakang, mencuci pakaian lalu menjemurnya lalu aku boleh pulang menjelang pakaiannya kering begitu bukan?"
Dewi angguk angguk saja.
"Benar juga, kau hanya bekerja tidak sampai separuh hari. Tapi jangan anggap enteng Nay, sebab yang kau cuci adalah pakaian pria, pakaian mahal, jas mahal, tidak asal cuci."
Nayla diam.
"Benarkah?"
"Iya, sebaiknya kau ku antar menghadap Oma Rika sekarang. Kita bisa bicara lagi nanti, kasihan Zaza sampai mengantuk mendengar kita mengoceh." Dewi menggendong Zaza lalu meraih tangan Nayla berjalan menuju sebuah ruangan.
Nayla gugup saat masuk ke sebuah perpustakaan mini milik majikan barunya itu, tampak seorang wanita tua yang duduk di salah satu sofa sambil melihat album foto di sana.
"Assalamualaikum Oma," ucap Dewi dan Nayla bersamaan.
Perempuan yang genap berumur delapan puluh tahun beberapa bulan lalu memakai jilbab berwarna putih itu menoleh. Yang mengherankan bagi Nayla dan Dewi adalah perempuan dengan usia senja itu sedang menangis.
"Dewi?"
"Iya Oma, ini Nayla pelayan baru yang ku janjikan kemarin menggantikan bibi Yuni, nyonya Arina menyuruh mulai bekerja hari ini."
Nayla menunduk hormat, ia tersenyum pada oma Rika.
Oma Rika menoleh, lama ia menatap Nayla yang berdiri di samping Dewi dan anak kecil yang setia digenggaman tangan gadis itu.
Oma Rika berdiri dan berjalan menuju Nayla, ia memeluk Nayla yang bertambah menangis.
__ADS_1
"Humairah?" ucap oma Rika lalu menyentuh wajah Nayla yang terkejut sekaligus bingung.