Purnama Merindu

Purnama Merindu
Bertemu lagi


__ADS_3

Aish berbalik arah berniat melanjutkan langkah untuk segera ke ruangan IGD.


Namun tiba-tiba kakinya berhenti, saat matanya bertemu dengan mata seorang perempuan. Indah, wanita itu menatap Aish saat ini.


Aish menarik napas panjang, ia maju beberapa langkah mendekati Indah yang tampak tidak bergeming dari tempatnya berdiri.


"Indah?"


"Iya, aku melihatnya. Aku melihat kau dengan Ken tadi," jawab Indah dengan wajah sulit dimengerti.


Wajah Aish mendadak murung, ia berpikir lalu bernapas sejenak kemudian menatap Indah lagi.


"Aku harap kau tidak salah paham padaku, ada baiknya kau tahu, aku dan Mas Ken sebenarnya sudah saling mengenal, maksudku sebelum pertemuan kita...." Aish bernapas sejenak, ia pun bingung bagaimana harus menjelaskannya.


"Aku tidak heran," sahut Indah mulai melunak.


Aish melihat Indah lagi dengan kening berkerut.


"Maksud mu?"


"Sepertinya gosip itu benar, dia seorang playboy, dia tampak menyukai mu, tapi dia juga mendekati ku, bukan hanya kita tapi ada banyak wanita di sekeliling Ken, aku tahu banyak dari teman ku yang sudah menjadi mantannya," ucap Indah geleng kepala.


"Apa?" Aish terkejut.


"Santai Aish, bukan hanya kau korban rayuannya. Ada banyak malah. Jadi jangan dianggap serius pria seperti itu, dia hanya mempermainkan hati wanita polos seperti mu. Aku sudah menyiapkan hati untuk ini, aku mau berkencan kemarin karena permintaan orangtuaku, aku juga penasaran seperti apa seorang playboy mendekati ku."


Indah bicara lancar seolah ia tidak marah pada Aish, ia bahkan menarik tangan temannya itu untuk berjalan bersama ke ruangan IGD.


Lalu Indah mendeskripsikan sosok Ken yang sebenarnya, sosok playboy tampan yang suka tebar pesona.


Aish terdiam, ia sungguh tidak menyangka jika Ken seperti yang Indah sebutkan. Ternyata pria itu memang pandai merayu rupanya, Aish merasa baru saja tertipu.


Denyut jantungnya terasa sumbang, ada perasaan janggal di sana. Apa ia kecewa akan kenyataan itu? Atau hati Aish yang telah terlanjur jatuh pada Ken, hingga cukup sakit rasanya mendengar ternyata pria yang beberapa kali menyatakan cinta padanya itu tidaklah serius.


"Aish," tegur Indah.


"Iya, Indah."


"Kau baik-baik saja?"

__ADS_1


"Kenapa bertanya seperti itu?"


"Jangan dipikirkan sayang, Ken itu memang playboy, banyak pacar, suka menggantungkan perasaan perempuan. Sudah banyak testimoni nya, jadi jangan mudah percaya Aish. Aku saja tidak terlalu berharap padanya, sejauh ini aku belum dirayu sedemikian rupa jadi tidak terlalu kepikiran untuk mendapatkan Ken lebih dari ini."


Aish menatap Indah, sahabat masa kuliahnya itu memang seperti ini adanya. Indah memang tidak suka terlalu mendalami sebuah kisah, meski ada cinta di sana, Indah orang yang mudah melupakan sesuatu.


Gadis yang terlalu santai menurut Aish, hingga tidak heran ia jarang sakit hati. Semua hal dianggap ringan.


Tidak seperti dirinya, Aish terbiasa mencintai Romi sejak SMA, hanya satu pacar hingga menikah, jadi tidak heran pula ia cukup trauma dan larut dalam luka yang pernah mendera karena Romi tidak setia.


Ken adalah pria kedua yang cukup menarik perhatiannya. Pria itu cukup gigih dalam menyatakan perasaan waktu di desa, bahkan hingga bertemu di kota sekarang Ken juga masih menyatakan perasaan yang sama.


Apa seperti itu seorang playboy menaklukkan wanitanya? Jika ia suka maka ia akan dapatkan apapun caranya, jika sudah dapat ia mudah mencari ganti sesuai selera. Bagitukah Ken?


Kenapa Aish menjadi lemah, hanya dua kali pertemuan kemarin dan hari ini, namun efeknya cukup membuat ia terlena, hingga kenyataan dari Indah membuat hatinya cukup kecil sekarang.


Seharusnya jantung Aish tidak merespon seperti ini pikirnya, tidak harus kecewa mendengar setiap kalimat Indah.


Ah, Aish ingin menyangkal perasaannya sekarang, bahwa untuk sekian kali ia kembali kecewa oleh seorang lelaki padahal mereka belum ke arah yang serius.


Apa Aish berharap Ken serius dengan perkataannya tadi? Atau Aish yang terlalu cepat menanggapi. Entahlah, Aish cukup sulit bernapas oleh hal ini.


Janda perawan itu mencuci tangan setelah semua tindakan medis yang ia lakukan pada seorang pasien lansia yang baru saja berpulang ke Rahmatullah.


Semua upaya telah dilaksanakan, namun takdir kematian tetap pada pendiriannya. Tidak siapapun yang mampu mencegah mati.


Beruntung keluarga pasien dapat menerima setelah melihat para pekerja medis melakukan upaya terbaik agar menyelamatkan nyawa perempuan yang berumur hampir delapan puluh tahun itu.


Namun siapa yang mampu menunda kematian? Semua orang akan mengalami semua fase kehilangan pun dengan keluarga pasien yang baru saja ditinggalkan, dan Aish bahkan sudah menghadapinya berkali-kali.


Setelah memastikan pasien mendapatkan perawatan jenazah, Aish meninggalkan rekan kerjanya ke belakang. Ia membasuh tangan hingga wajah berkali-kali.


Aish menitikkan juga airmata yang sempat ia tahan sejak tadi. Bagaimana ia teringat sosok Almarhumah Nenek Dijah.


Waktu bergulir, menangani setiap pasien yang datang membuat waktu Aish terasa cepat berlalu, kini sudah waktunya dia pulang.


Aish berjalan menuju jalan raya, ia melamun dalam langkahnya. Entah sedang memikirkan apa.


Lagi, Aish dikejutkan sebuah klakson dari sebuah mobil yang berhenti mendadak tepat beberapa langkah darinya.

__ADS_1


"Astaghfirullah," gumam Aish mengurut dada


"Maaf maaf maafkan aku!" Aish menunduk meminta maaf pada sosok orang yang baru saja keluar dari mobil tersebut.


"Kau lagi?"


Aish menegakkan wajah saat mendengar suara berat pria itu.


"Maafkan aku, aku salah sudah melamun," ucap Aish lagi berusaha mengingat pria tampan di hadapannya ini.


"Ah, bukankah Tuan yang menyelamatkan ku kemarin?"


Pria itu mengangguk dengan wajah datar.


"Maaf, sekali lagi maaf mengganggu jalan anda Tuan. Aku akan minggir," ucap Aish mundur dari tepi jalan.


Pria itu hanya menggeleng keheranan. Ia bertemu lagi dengan perempuan yang ia selamatkan kemarin, dan hari ini dengan alasan yang sama wanita itu melamun hingga tidak sadar telah membahayakan dirinya sendiri.


"Baiklah, berhati-hatilah.... Tidak baik melamun di jalan, itu membahayakan kau sendiri dan pengendara lain."


Aish mengangguk lagi. Ia melihat pria itu kembali ke mobil lalu pergi begitu saja. Perempuan itu menghela napas panjang, lagi-lagi ia hampir celaka hanya karena sebuah pikiran.


Aish berjalan menuju Halte, ia duduk guna menetralisir perasaan cemasnya. Hingga tidak ia sadari sebuah mobil berhenti di hadapannya.


"Aish."


Mendengar namanya disebutkan, Aish menoleh. Ken, itu Ken.


Aish tampak menatap Ken sejenak lalu menunduk lagi.


"Aku menunggu mu di depan rumah sakit, rupanya disini," ujar Ken menghampiri Aish yang sedang duduk.


"Iya."


Ken meraih tangan Aish lalu menariknya menuju mobil. Aish menghentikan langkahnya membuat Ken menoleh dengan heran.


"Aish, ayo!" ajak Ken lagi.


"Maaf aku tidak bisa!"

__ADS_1


__ADS_2