Purnama Merindu

Purnama Merindu
Marahnya Aish


__ADS_3

Aldric baru tersadar, ia geleng kepala merasa aneh dengan sikap Aish, karena ia mengira Aish keluar memang untuk jalan-jalan hingga ia tidak perlu menyusulnya. Aldric kembali pada laptop dan melanjutkan pekerjaannya.


Hari mulai senja, tidak juga ada tanda-tanda Aish kembali. Aldric mulai cemas, sudah terlalu lama istrinya pergi.


Ia bertanya pada anak buahnya yang mengetahui jika ada taman hutan pinus tidak jauh dari penginapan mereka, namun mereka juga tidak tahu Aish berada dimana sebab mereka juga jalan-jalan di taman itu sore ini.


Tetapi tidak ada yang melihat Aish ke sana. Aldric bertambah cemas saat ponsel perempuan itu tidak bisa dihubungi.


Aldric menyusul bersama dua orang lelaki yang merupakan karyawannya yang ia perintahkan ikut mencari istrinya jika memang ke taman hutan pinus seperti yang Aish katakan tadi.


Nihil, tidak ada Aish disana. Taman sudah mulai sepi karena langit mulai memerah, Aldric memutuskan untuk kembali ke penginapan mana tahu Aish sudah pulang lebih dulu.


Sampai hotel pun, tidak ada Aish disana. Aldric mulai frustasi, ia menyesal kenapa tidak ikut saja menemani Aish pergi.


"Kemana kau Aish? Ayolah jangan buat aku cemas," gumam Aldric yang berusaha terus menghubungi istrinya itu.


Nihil, ponsel Aish sama sekali tidak bisa dihubungi. Perempuan itu tidak juga kembali meski waktu Maghrib sudah tiba. Kemana Aish pikir Aldric?


Pria itu mencoba untuk tetap tenang agar pikirannya tidak kemana-mana, ia memberi perintah pada anak buahnya untuk kembali ke kamar masing-masing guna melaksanakan ibadah sholat Maghrib terlebih dahulu.


Setelah waktu Maghrib mereka kembali berkumpul di lobi hotel, semua sedang berpikir kemana harus mencari istri dari bos mereka yang menghilang sejak siang menjelang sore tadi.


Aldric mengusap wajahnya beberapa kali, ia takut jika Aish terkena masalah, atau terjadi hal yang tidak-tidak, teringat pula ia saat baru awal-awal bertemu Aish dulu.


Bukankah pertemuan mereka waktu itu Aish hampir ditabrak oleh pengguna motor jika bukan Aldric yang menyelamatkan perempuan itu ke tepi.


Mengingat pula pertemuan mereka yang kedua, Aldric sendiri yang hampir menabrak Aish karena istrinya itu sedang melamun tanpa melihat jalan.


Aldric benar-benar frustasi, bagaimana jika istrinya melamun, bagaimana jika Aish sedang tidak dalam keadaan yang baik sekarang. Memikirkan itu membuat Aldric buntu sendiri.


Kemana ia harus mencari Aish, ke taman hutan pinus sudah, ia juga sudah mencari Aish ke hamparan sawah yang luas tidak jauh dari penginapan mereka, mana tahu Aish jalan-jalan ke sana, namun tetap saja tidak ada perempuan itu dimana-mana.


"Pak Aldric tenang dulu, ayo kita berpikir dengan baik kemana lagi kita harus mencari istri Pak Aldric, kita semua berdoa semoga Nona Aishwa cepat pulang dalam keadaan baik-baik saja," ujar salah seorang anak buahnya mencoba menenangkan Aldric yang semakin pusing dan cemas akan istrinya.


Aldric tidak bisa diam, ia mondar-mandir berpikir kemana lagi kemungkinan ia bisa menemukan Aish. Rasanya sangat membuat dadanya tidak lega bernapas, istrinya belum juga pulang meski waktu isya sudah pula masuk.


Sampai pada matanya melihat ke arah pintu masuk hotel, terdapat sosok cantik yang ia cari sejak tadi, berjalan melenggang seperti tidak terjadi sesuatu.


Aish muncul dengan minuman boba di tangannya. Demi apa Aldric mau gila rasanya.


Pria itu berlari ke arah Aish, menarik perempuan itu dalam pelukannya tanpa berpikir panjang.


"Aish kau benar-benar membuat ku gila," lirih Aldric memeluk Aish dengan erat, erat sekali.


Aish terkejut, Aldric memeluknya dengan dada berdebar kuat, ia merasakan serta mendengarnya dengan jelas.


"Mas Aldric?" Aish tersenyum saat melihat semua berkumpul di sana, ia tahu Aldric pasti sedang mencarinya.


"Kau kemana Aish? Kau membuat ku gila, kami semua mencari mu kemana-mana. Tapi tidak satupun yang menemukan mu, kenapa baru pulang? Kenapa tidak menelepon ku? Apa kau baik-baik saja? Apa kau mendapat masalah?" cerca Aldric saat melepaskan Aish dari pelukannya.


Aish melirik anak buah Aldric yang juga berwajah serius semua seolah sedang menunggu jawaban darinya.


"Aku, aku, aku tadi menolong ibu melahirkan darurat di rumahnya, aku tidak ke taman hutan pinus, aku jalan-jalan di sekitar sini saja, kebetulan ada kehebohan yang ternyata ada ibu-ibu sudah melahirkan seorang diri di ambang pintu rumahnya. Jadi aku menolong sampai semuanya baik-baik saja."


"Maafkan aku, ponselku mati," sesal Aish.


Aldric menghembus napas panjang setelah mendengar penjelasan dari mulut mungil yang ia rindukan itu. Aish baik-baik saja, hal itu merupakan beban berat yang baru saja ia lepas dari dadanya.


Aldric lega, Aishwa kembali dalam keadaan baik.


Aldric menarik Aish dalam pelukannya lagi. Kini Aish yang gugup, pertama kalinya ia dipeluk seorang suami yang mencemaskan keadaannya.


Aish bahagia bukan main. Aldric memeluknya erat, demi apa pelukan itu terasa sangat hangat dan menenangkan dari apapun, Aish tidak mau apapun, ia mau Aldric. Ia mau suaminya yang seperti ini.


"Apa kau marah?" tanya Aish yang juga melingkarkan tangannya ke badan besar Aldric.


Aldric menggeleng.


"Aku tidak marah, aku hanya cemas."


Aish tersenyum. Saat Aldric tersadar telah memeluk Aish tanpa permisi barulah pria itu melepaskan Aish dengan raut canggung.


Pria itu segera menyuruh anak buahnya kembali ke kamar masing-masing, ia tidak ingin membuat gaduh lobi hotel.


Aish tersenyum lagi.


"Ayo kita ke kamar!" ajak Aldric.

__ADS_1


Aish tersenyum menggoda.


"Apa maksudmu ke kamar?"


Aldric terdiam.


"Apa aku salah bicara?"


"Coba kau artikan sendiri kata kamar dalam konteks suami istri?" pancing Aish dengan senyum geli.


Aldric tampak memerah.


"Aish, jangan bercanda."


"Iya, baiklah maafkan aku. Ayo!" Ajak Aish seraya menggamit tangan Aldric agar mereka bergandengan.


"Kemana?" Aldric mulai tidak fokus lagi, ia melirik tangan Aish yang menggandeng tangannya dengan mesra.


"Bukankah kita akan ke kamar? Kenapa bertanya lagi?"


Aldric tersenyum kaku.


"Iya, aku lupa. Maaf!"


Aish tertawa lagi, Aldric benar-benar pria yang diluar dugaan.


"Mas Aldric butuh minum, agar kembali fokus."


Aish memberikan minuman boba nya pada Aldric. Namun pria itu menggeleng.


"Aku tidak minum minuman manis seperti itu."


"Ah, kau terlalu hidup sehat. Sesekali minum ini biar hidup tidak terlalu kaku dan monoton, ayo cobalah!"


Aldric menggeleng.


"Mas Aldric," rengek Aish sambil terus memberikan Aldric minuman boba nya.


"Aish jangan seperti ini, lihat orang-orang melihat ke arah kita, jangan paksa aku minum itu, aku tidak suka boba!"


"Ck, itu karena aku yang memaksa mu. Coba saja yang berdiri di sini Anara, pasti kau mau mau saja bukan?"


"Apa karena Anara, kau pergi tadi?" pria itu baru sadar sekarang.


Aish memutar bola matanya malas, ia menjadi kesal lagi sekarang. Aish pergi meninggalkan Aldric menuju kamar mereka, Aldric hanya bisa menghela napas panjang dibuat tingkah Aish akhir-akhir ini.


Aish baru saja sudah mandi, Aldric segera berpaling berpura baik-baik saja menghadap laptopnya, padahal ia tidak fokus karena melihat Aish keluar kamar mandi dengan handuk dan berpakaian tanpa malu di sana.


Aldric gugup lagi, bagaimana ia bisa menahan terlalu lama pada hasrat yang sering muncul jika Aish seperti itu.


Aish tidak lagi malu menampilkan lekuk tubuh di depan Aldric, selain ia merasa tidak berdosa, ia juga sengaja menggoda iman Aldric jika memang pria itu normal pikir Aish.


Namun Aldric pandai sekali mengendalikan nafsu, Aish salut akan hal itu.


Dengan rambut basah serta mamakai dress tidur yang cukup membuat kelelakian Aldric sesak di sana, Aish menghampiri suaminya setelah perempuan itu melaksanakan sholat isya.


"Kau masih lama?"


"Iya, kau ingin makan? Biar ku pesankan," kata Aldric.


Aish menggeleng, "Aku sudah makan, makanya aku hilang lama. Sudah membantu ibu tadi melahirkan, aku dijamu makan oleh keluarganya, mereka semua ramah-ramah. Aku senang bisa membantu," kenang Aish.


"Baiklah, aku sangat bersyukur kau kembali dalam keadaan baik, aku mencemaskan mu Aish."


Aish tersenyum, ia duduk di samping Aldric, ia berniat memeluk suaminya itu dari samping namun Aldric beranjak karena sebuah panggilan masuk ke ponsel pria itu yang berada di atas meja.


"Siapa?"


Aldric terdiam sejenak.


"Anara," jawabnya.


Kini Aishwa yang terdiam.


"Apa aku boleh menerimanya?" tanya Aldric.


"Kenapa bertanya seperti itu? Bukankah kau tidak perlu persetujuan ku untuk menerima telepon dari siapa saja termasuk Anara," jawab Aish dengan nada kesal menekankan kata Anara.

__ADS_1


Aldric melihat raut tidak suka, maka darinya ia menolak panggilan tersebut.


"Kenapa ditolak? Apa aku mengganggu? Apa kau tidak mau aku mendengar percakapan kalian? Kau bisa menelepon di balkon seperti tadi sore, entah kalian mau bicara soal pekerjaan atau soal pribadi, aku tidak peduli!" kata Aish sambil meninggalkan Aldric menuju ranjang.


Aldric tercengang melihat respon Aish. Ia menutup laptop dan menyusul Aish ke ranjang.


Perempuan itu berbaring miring membelakangi Aldric yang juga sudah naik ke ranjang.


"Apa aku boleh tidur disini?"


Aish diam tanpa menjawab.


"Apa kau marah padaku?"


Aish masih diam.


"Apa kau sedang cemburu?"


Pertanyaan Aldric membuat Aish ingin menelan pria itu hidup-hidup.


"Tidak," tukas Aish dengan mata berkaca-kaca siap menumpahkan tangis yang tertahan.


"Aish."


Aish berhasil menangis. Pria itu mendengarnya.


"Aish kenapa kau menangis? Jika aku salah, aku minta maaf, jangan seperti ini!"


Aish bertambah menangis.


"Aish."


"Aku merindukan Ken, aku merindukan Ken yang pandai membujuk ku, aku merindukan saudara kembar mu Mas Aldric."


Aish duduk lalu menatap Aldric dengan perasaan campur aduk. Matanya kian basah.


Demi apa, Aldric dibuat menelan ludah oleh kata-kata Aish yang baru saja keluar berbarengan dengan tangis istrinya itu.


Tangisan yang membuat Aldric tidak berkutik, tangisan yang membuat hatinya ikut teriris, Aldric terdiam cukup lama.


"Tenangkan dirimu, tidur dan istirahat lah.... Aku tahu, aku tahu Aish. Aku tahu kau memang hanya mencintai Ken, aku mengerti."


"Jangan menangis, aku jadi tidak tega. Aku tidak akan berbuat yang macam-macam padamu, tenanglah Aish. Aku mohon jangan menangis lagi, aku tidak bisa melihat kau bersedih lagi, aku terluka jika kau seperti ini," ucap Aldric pelan.


"Tidurlah, aku akan kembali meneruskan pekerjaan ku."


Aldric kecewa, ia turun dari ranjang menuju kembali pada sofa dan meja tempatnya memantau pekerjaan.


Aish pun diam, ia hanya diam meski ia merasa dongkol pada Aldric yang tidak peka pada perasaannya. Perasaan cemburu pada Anara.


Ia menghapus air matanya, lalu berbaring lagi sambil menarik selimut menyembunyikan tubuhnya yang mulai dingin.


Aldric bingung pada sikap Aish akhir-akhir ini, kadang hangat kadang marah-marah, semula ia berpikir Aish mungkin saja cemburu pada Anara namun Aldric tersadar lagi bahwa perempuan itu hanya mencintai Ken.


Ken yang pandai dalam hal wanita, ia bahkan tidak tahu harus apa untuk menarik perhatian Aish padanya. Ia memang tidak pandai menebak perasaan wanita, apalagi mengambil hatinya. Aldric bukan Ken itu masalahnya.


Aldric memutuskan untuk tidur di sofa. Aish melihat itu menjadi kecewa.


Sejak malam itu pula mereka terlibat hubungan yang dingin satu sama lain bahkan sampai pulang dari kota kecil itu.


Aish kembali pisah kamar seperti biasa, menjalani rutinitas masing-masing seperti hari-hari sebelumnya.


Sampai pada Aish bertemu Anara di rumah sakit yang datang bersama Aldric. Aish baru saja hendak makan siang di kantin rumah sakit malah bertemu suaminya dan Anara di sana.


"Aish, kau tidak menerima telepon ku. Aku menghubungi mu mau bertanya dimana kami bisa menemukan ruangan Melati 3, salah satu karyawan ku kemarin kecelakaan, dia di rawat disini."


"Kami ingin menjenguknya," lanjut Aldric.


Aish menoleh Anara, mereka cukup lama saling memandang dengan praduga masing-masing.


"Kau bisa bertanya pada bagian informasi, aku dokter IGD, rumah sakit ini besar aku belum terlalu hafal letak semua ruangan. Lagi pula kalian bisa mengikuti tanda panah penunjuk arah!" jawab Aish dingin seraya berlalu dari hadapan suaminya dan Anara.


Aldric merasa lesu dengan sikap Aish, padahal ia sengaja ingin mencari alasan agar bisa bertemu Aish di rumah sakit itu dengan alasan bertanya ruangan. Tapi malah ia sendiri menjadi kecewa, ia menoleh Anara di sampingnya yang menatap Aish kian menjauh.


Demi apa Aldric baru menyadari sesuatu, bisa saja Aish marah karena ia datang bersama Anara. Ah Aldric merutuk dalam hati, ia telah salah untuk ke sekian kali.


"Ayo kita ikuti saran Aish," ajak Anara menarik tangan Aldric dari sana.

__ADS_1


Aish bahkan tidak jadi ke kantin, selera makannya hilang entah kemana.


__ADS_2