Purnama Merindu

Purnama Merindu
13 kali


__ADS_3

Bermain lama, kian lama hingga Nayla merasa kesakitan, ia meringis namun ia tetap bertahan demi kepuasan suaminya yang tampak memejamkan mata menikmati setiap gerakan yang mereka ciptakan.


Ariq tahu Nayla kesakitan, ia memelankan laju gesekan, ia raih lagi bibir hingga bermain lagi pada dua buah persik yang menggoda lidahnya. Lezat, sungguh Ariq merasakan kelezatan yang disuguhkan oleh tubuh istrinya tanpa seincipun yang terlewati.


Sampai pada sebuah lenguhan panjang, Ariq menancapkan dalam-dalam tubuhnya pada tubuh Nayla yang juga mengerang kenikmatan meski sedikit perih.


Nikmat bukan main, keduanya mencapai puncak bersama-sama lalu saling mendekap dengan erat tanpa memisahkan pedang dari sarungnya. Mereka saling diam, mengatur napas membiarkan bagian bawah mereka tetap menyatu dalam kenikmatan yang baru saja mereda.


Ariq mengusap keringat pada dahi Nayla, menyibak rambut indah itu ke tepi. Menatap mata istrinya dalam-dalam, senyum mereka saling mengembang.


"Kita beristirahat sebentar. Aku menginginkan mu lebih dari ini. Lagi dan lagi, aku rasa malam ini kita akan begadang," ucap Ariq sambil mengecup bibir istrinya sekilas.


"Mas Ariq, yang benar saja? Aku sudah lelah, kau benar-benar gila."


"Aku akan memberimu waktu istirahat, kau ingin makan? Ingin minum silahkan, sepertinya kau butuh tenaga sayang."


"Mas Ariq...." rengek Nayla menyembunyikan wajah di dada bidang suaminya.


"Karena 13 malam terlewati begitu saja, tentu harus dibayar malam ini ditambah kau mengerjaiku tadi."


"Mas Ariq?"


"Kau lebih dari perawan bagiku."


"Sayang," lirih Nayla memeluk Ariq lagi.


"Bersiaplah untuk 13 ronde berikutnya sayang."


"Apa?" Nayla melepas pelukan lalu menatap Ariq dengan mata yang membesar.


"Tentu saja harus dibayar malam ini, 13 malam dianggap hutang, lalu kau mengerjaiku tadi. 14 ronde, ini baru satu kali. Ada 13 berikutnya."


"Mas Ariq jangan gila."


"Memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Aku mana sanggup, ini saja aku sudah merasa remuk."


"Kau hanya perlu diam dan menikmati saja."


"Mana bisa seperti itu, aku lelah......" rengek Nayla menjauhkan diri namun tidak diberi kesempatan.


"Hanya diam, biar aku saja yang bergerak. Tapi.... sesekali kau boleh mendominasi."


"Mas Ariq."


"Hanya 13 kali lagi."


"Tidak mau!"


"Oke baiklah, aku diskon 12 kali."


"Jangan gila!"


"Oke 10 kali."


"Mas Ariq!"


"Sayang, aku bisa mati."


"Huh, bukankah kau merutuk selama 13 malam, kenapa sekarang malah mengelak?"


"Tidak dibayar tunai dalam semalam juga, ini gila. Aku mana tahan, kau mau aku sampai pingsan?"


"Oke aku sedang berbaik hati, 3 kali lagi."


"Mas Ariq!"


"2 kali?"


"Mas Ariq," rengek Nayla lagi.

__ADS_1


"Oke 2 kali, tidak ada penawaran lagi. Aku akan merajuk jika kau menolak!"


"Memang kau bisa merajuk?"


"Sebaiknya kau makan dan minum untuk 2 kali dengan durasi yang lebih panjang dari 13 kali."


"Apa?"


"Aku hanya bercanda," kekeh Ariq sambil menarik selimut menutupi hingga kepala mereka.


"Sayang aku lelah."


"2 kali 2 jam?"


"Mas Ariq, itu terlalu lama."


"Oke 2 kali 3 jam?"


"Kenapa bertambah?"


Ariq terkekeh, ia kembali memainkan tangannya di puncak dada yang ranum seperti buah persik itu. Sesekali ia memainkan dengan lidahnya.


"Mas Ariq," desis Nayla.


"Baiklah ke opsi pertama 2 kali 2 jam?"


"Mas Ariq."


Penawaran itu berlangsung hingga suara mereka hilang ditelan pergumulan dibawah selimut yang membuat ranjang itu kembali berguncang.


Entah keenakan atau kesakitan, namun malam panjang baru saja dimulai.


#####


Basah Basah Basah saat diri ini kau buai mesra, asyeekkkkkk eaaa eaaa.

__ADS_1


__ADS_2