Purnama Merindu

Purnama Merindu
Aldric suamimu


__ADS_3

Aish menatap dirinya di cermin.


Dejavu, perempuan yang sedang mengenakan gaun akad nikah yang bergaya melayu berwarna biru lembut, selembut kulit tangannya yang dipakaikan henna berwarna putih.


Ia baru saja selesai make up oleh seorang MUA profesional, wajahnya berubah bak boneka Barbie yang bernyawa, make up flawless menghiasi wajah cantik Aishwa Zulaikha siang menjelang sore ini.


Hari yang mereka nanti, hari yang selalu ia dan Ken tunggu sebagai bentuk keseriusan hubungan mereka.


Prosesi ijab qabul akan dimulai setelah sholat Jumat bertempat di rumah besar milik Nayla dan Ariq yang telah didekor sedemikian rupa dengan ribuan bunga berwarna putih menghiasi seluruh ruangan.


Aish berkeringat dingin rasanya, sebentar lagi acara pernikahannya dimulai. Semua keluarga berkumpul, keluarga Nayla dan Ariq tanpa kecuali.


Terkadang menatap wajah-wajah baru yang akan menjadi keluarganya juga nanti, di sanalah Aish merasa kecil hati atas takdirnya yang tersisa seorang diri. Ia hanya punya kerabat jauh, dan mungkin tidak bisa datang meski ia telah mengundang ke kampungnya.


Akses kampung ke kota yang jauh, belum lagi jika cuaca hujan tidak bisa keluar dari sana karena jalan licin, terlebih butuh ongkos yang mahal jika hendak ke kota menggunakan angkutan umum.


Banyak pertimbangan hingga orang-orang yang Aish harap kehadirannya hanya bisa memberi doa restu lewat telepon saja. Semua bahagia mendengar dokter cantik kebanggaan warga kampung mereka kini telah menemukan kebahagiaan baru yang menikah dengan orang kaya.


Semua itu pantas Aish dapatkan, Aldi dan Ali baru saja melakukan panggilan video pada Aish beberapa saat lalu, kakak adik itu turut senang meski tidak bisa datang, mereka menitipkan salam pada Ken.


Aish bahkan baru tahu jika keluarga pria yang akan menikahinya sebentar lagi itu adalah keluarga besar, semua datang dan bahagia atas pernikahan Ken dan Aishwa.


Tanpa kecuali.


Kini, Aish menatap lagi wajahnya di cermin. Dalam diamnya tersisa sebuah ketakutan, takut jika ekspektasi pernikahan dengan Ken tidaklah seperti yang dibayangkan, namun Aish memantapkan hatinya.


Ia berusaha menghilangkan trauma hubungannya dengan Romi di masa lalu. Aish bernapas berkali-kali menetralisir perasaan gugupnya saat ini.


"Oke baiklah Aish, bukankah kau mencintai Ken? Mengapa harus segugup ini ya Allah, Mas Ken akan membahagiakan ku nanti, kami akan menjalani pernikahan yang indah," gumam Aish bicara pada dirinya sendiri.


"Oke Aish, hentikan bayangan Romi yang menyebalkan itu, lebih baik dapat suami play boy insyaf daripada suami yang sempurna ternyata ada main di belakangku. Oke baiklah, hentikan pikiran seperti ini ya Allah, aku benar-benar gugup sekarang," gumam Aish lagi dan lagi.

__ADS_1


Beruntung ia hanya ditemani anak-anak kecil putra dan putri sepupu Ken di dalam kamar itu. Melihat wajah dan percakapan polos anak-anak kecil itu sedikit membuat Aish merasa ringan.


Aish bahkan tidak fokus pada acara ijab qabul yang baru saja selesai.


Sampai pada, Naina mengetuk dan membuka pintu kamar yang terdapat Aish di dalamnya. Perempuan yang tengah mereguk manisnya pengantin baru itu menjemput wanita yang menjadi iparnya mulai saat ini.


"Aish, kemarilah!" panggil Naina.


Aish tersenyum, namun ia heran dengan wajah Naina yang tidak menampakkan sebuah kebahagiaan di sana.


Aish berdiri, ia menyambut tangan Naina dengan wajah heran.


"Naina, apa kau habis menangis?" tanya Aish bingung.


"Tidak sayang, aku sedang flu. Ayo keluar sekarang, semua menunggu mu," jawab Naina tersenyum seperti terpaksa.


Aish merasa lain saat memegang tangan Naina. Yang menikah itu Aish kenapa tangan Naina yang dingin dan berkeringat pikir Aish.


Naina hanya mengangguk tanpa menjawab.


Lalu matanya menatap semua wajah yang terasa aneh bagi Aish. Ia bertambah bingung saat merasa semua orang menjadi hening, hening sekali. Semua mata tertuju padanya, Aish menjadi bertambah grogi sekarang.


Aura yang berbeda dalam ruangan itu, lalu Aish mencari sosok yang penting dari acara tersebut. Mertuanya tidak ada di sana. Sosok yang inti satu persatu tidak ada di sana.


Aish memastikan mereka semua hadir, kenapa sekarang malah tidak nampak batang hidungnya. Yang tampak hanya Aldric di sana.


Lalu ia menatap Naina yang telah menjatuhkan airmatanya.


"Naina?" lirih Aish mulai curiga.


Naina tidak menjawab, ia hanya menarik napas panjang lalu membawa Aish menuju Aldric berdiri dengan mata merah seperti habis menangis.

__ADS_1


"Mana Mas Ken? Ada apa ini? Mana Ayah dan Bunda?" tanya Aish berbisik lagi pada Naina.


Tanpa Aish sadari semua mata yang melihatnya telah pula tampak basah. Perempuan itu kian bingung.


Sampai pada Naina berhenti di hadapan Aldric.


"Aish, Mas Aldric suamimu!"


"Apa?"


Aish menatap Aldric dengan tatapan bingung lalu ia beralih menatap Naina yang kembali mengangguk, Aish ingin menajamkan pendengarannya, jika ia tidak salah dengar Naina mengatakan Aldric suaminya.


"Naina?"


"Iya Aish, Mas Aldric yang menikahimu," jawab Naina langsung pecah tangisnya.


"Apa maksudmu Naina? Kenapa kau malah menangis?"


Naina tidak kuasa menjawab.


Aish menatap Aldric yang juga telah menjatuhkan airmatanya.


"Ada apa ini? Ayolah, jangan bercanda. Mana suamiku? Mana Mas Ken? Mana yang lain?" cerca Aish yang sudah tidak sabar menunggu jawaban semua orang yang terdiam menatapnya dengan nanar.


Aldric diam, pria itu hanya diam seribu bahasa, ia hanya menatap Aish dengan raut penuh arti. Aish gusar, Aish mulai bertanya dengan nada kesal.


"Aku bertanya mana suamiku Naina?"


Naina memeluk Aish tidak kuasa menahan tangis.


"Aku tidak bercanda Aish, kau menikah dengan Mas Aldric, semua orang di rumah sakit sekarang. Mas Ken, Mas Ken di rumah sakit." jawab Naina tergagap.

__ADS_1


__ADS_2