Purnama Merindu

Purnama Merindu
Jangan terlalu cepat menyimpulkan


__ADS_3

Aish sudah bersiap untuk berangkat bekerja. Hari ini ia jaga pagi. Perempuan itu melihat jam di pergelangan tangannya.


Segera Aish berjalan cepat menuju jalan raya demi sebuah ojek yang ingin ia tumpangi ke rumah sakit.


Aish terhenti saat sebuah mobil menghalangi jalannya.


"Hai!" sapa seseorang yang baru keluar dari mobil mewah itu.


"Mas Ken?"


"Iya, ini aku."


"Mas Ken mau kemana? Maaf aku sedang terburu, nanti takut terlambat ke rumah sakit."


Ken menghalangi Aish yang ingin melewatinya.


"Ayo masuklah, aku sengaja datang untuk mengantar mu ke rumah sakit," sahut Ken seraya membuka pintu mobil untuk Aish.


Perempuan itu berpikir sejenak, lalu mengangguk saat ia rasa waktu terus mengejarnya.


"Baiklah, terimakasih." Aish masuk ke mobil membuat Ken senang bukan main.


"Aku bekerja di Rumah Sakit Husada," Aish memberitahu Ken.


"Aku tahu."


"Tahu darimana?"


"Ratih."


"Apa? Kau bertemu Ratih?" Aish terheran.


"Kau pikir aku tahu alamat mu dari mana?"


Aish mengangguk mengerti.


"Kami belum sempat bicara, jadi aku tidak tahu kau sudah bertemu dengannya," balas Aish.


"Dia bekerja di rumah orangtua ku!"


"Benarkah?"


Ken mengangguk.


"Kita berjodoh bukan?" goda Ken seraya meraih tangan Aish tanpa malu.

__ADS_1


Gadis tapi janda itu terkejut, ia melepaskan tangan Ken perlahan dengan semburat merah di pipinya. Entah mengapa ada rasa geli di perutnya saat mendapat perlakuan Ken yang seperti ini.


Pria itu meraihnya lagi.


"Kau gugup? Tanganmu dingin," ucap Ken tersenyum melirik Aish di sebelahnya.


"Ini bukan waktunya bercanda Mas Ken, aku harus bekerja."


"Aku tidak bercanda Aish."


Aish diam, ia memalingkan wajahnya ke luar mobil.


"Kau menolak ku?"


Aish diam. Sebelum Ken pulang ke kota beberapa waktu lalu, pria itu memang beberapa kali mengatakan jika ia menyukai Aish tidak peduli ia janda sekali pun.


Kini pria itu makin berani, bahkan di depan Indah Ken bisa menipu gadis yang diharapkan bertemu dengannya oleh saran orang tua mereka itu, tanpa Indah sadari Ken ternyata masih melirik Aish dengan cueknya.


Bagaimana Aish bisa menatap Indah jika seperti ini. Indah temannya, Ken menyukainya. Dan Aish? Apa ia juga menyukai Ken? Aish paham betul arti dari gugupnya saat ini.


"Kau belum mengenal ku, jangan salah langkah, berhenti menyukai ku, aku bukan perempuan pilihan," jawab Aish pelan.


"Dan aku pikir ini waktunya kita saling mengenal, aku serius dengan perasaan ku Aish!" Ken memberhentikan mobilnya.


"Jika begitu, jangan suruh aku berhenti pada perasaan ini!"


Aish menatap Ken, ia tidak pernah menangkap raut seserius ini dari lelaki itu.


"Kita baru saja bertemu, jangan terlalu cepat menyimpulkan perasaan mu."


"Untuk itulah aku menemui mu, aku yang memutuskan tentang perasaan ku bukan kau! Dan aku tetap pada pilihan menyukai mu!" ujar Ken dengan nada yakin, ia meraih lagi tangan Aishwa lalu digenggamnya erat.


Aish bungkam.


"Aku akan terlambat," lirih Aish menunduk seraya melihat jam di pergelangan tangannya lagi.


"Aku tidak peduli."


"Mas Ken jangan seperti ini."


"Lalu aku harus seperti apa? Aku ingin gila rasanya Aish, aku mengunjungi mu di desa bahkan berkali-kali jauh ke sana hanya untuk mencarimu dan berharap kau memberi kabar pada Aldi tentang kemana kalian pindah hari itu."


"Dan sekarang aku bertemu dengan mu, kau seenaknya menolak. Itu tidak bisa! Kau tidak bisa seenaknya menolak cintaku!"


Aish menatap Ken antara senyum dan kesal. Pria itu ternyata seorang pemaksa.

__ADS_1


"Jangan seperti ini Mas Ken, nanti Indah bisa salah paham padaku."


"Ini antara kita berdua bukan soal orang lain!" bantah Ken.


"Kau lupa? Indah bukan orang lain, dia dikenalkan oleh orangtua kalian. Aku tahu sekali itu, Indah memberitahu soal perjodohan kalian."


"Cih, mana ada seperti itu. Hanya bertemu biasa belum tentu ingin berjodoh juga kan? Lagi pula aku sudah menemukan mu, aku tidak butuh siapapun lagi," jawab Ken enteng.


"Ayo jalankan mobilnya."


Ken mengalah, ia mulai menjalankan lagi mobilnya.


Setelah itu mereka hening. Bahkan sampai depan rumah sakit. Aish turun disusul Ken.


"Terimakasih, aku akan masuk sudah saatnya jam kerjaku dimulai. Sepertinya di IGD sedang ramai pasien, terimakasih tumpangannya," ucap Aish seraya memperhatikan IGD tempatnya bekerja.


"Jam berapa kau pulang?"


"Delapan jam dari sekarang," jawab Aish.


Ken mengembus napas, lalu ia raih lagi tangan Aish dengan penuh harap.


"Aku akan menjemputmu tepat waktu, ada banyak hal yang harus ku katakan, ada banyak ungkapan cinta yang ku tunda. Jadi jangan lewatkan itu."


Pria itu tersenyum manis lalu mencium punggung tangan Aish dengan wajah memuja.


Aish mendadak kaku dibuat pria ini. Sungguh Ken pandai merayu. Wajahnya yang tegas ternyata ia adalah sosok yang lembut pada wanita pikir Aish.


Aish bungkam, namun tidak berusaha menolak genggaman tangan Ken saat ini, pikiran dan hatinya tidak sejalan.


"Aku akan masuk sekarang."


"Aku bahkan menyesal sekarang."


Aish mengerutkan keningnya.


"Menyesal?"


Ken mengangguk. "Iya, aku menyesal kenapa tidak jadi dokter saja, jika begitu aku bisa bekerja berdampingan dengan mu. Ah, andai waktu dapat ku putar."


Aish tersenyum juga mendengarnya.


"Berhati-hatilah mengemudi."


Ken mengangguk, mereka berpisah saat Ken menghilang di tikungan jalan. Aish bergegas masuk ruangan IGD setelah menyadari ia terlambat beberapa menit dari seharusnya.

__ADS_1


__ADS_2