Purnama Merindu

Purnama Merindu
Saling mengakui


__ADS_3

"Aku mencintai mu!" kata Aldric dengan malu.


"Kau menyebalkan!"


"Aku tahu, makanya aku..."


"Makanya apa?" potong Aish semakin geram.


"Makanya kau menikahi ku?"


Aldric terdiam.


"Makanya kau mau melepaskan ku lagi sekarang? Kau benar-benar jahat Mas Aldric."


Aldric terdiam lagi.


"Apa hanya hal seperti ini yang mampu kau lakukan?"


"Iya, aku tidak seperti Ken yang bisa mengambil hati mu dengan cepat, ini sudah delapan bulan Aish. Aku tidak ingin kau tersakiti karena pernikahan ini."


"Aku seolah memaksa mu untuk melihat ke arahku, tapi lagi-lagi kau hanya menganggap ku sebagai teman. Aku bisa apa, aku bukan Ken itu masalahnya."


"Dan kau hanya mencintai Ken, kau selalu mengatakan hanya Ken yang bisa mengambil hatimu. Sedang aku?"


Aish ingin tertawa ada pula untuk hal yang satu ini. Sungguh suaminya sangat polos dalam menanggapi sikapnya selama ini.


"Iya, aku memang mencintai Ken. Ken yang pandai membujuk ku jika sedang merajuk, dia yang pandai merayu jika sedang berdua, dia yang pandai bercanda jika aku sedang sedih."


Aldric terdiam lagi, ia kecewa lagi saat Aish menegaskan hal itu.


"Tapi satu hal yang tidak bisa Ken lakukan padaku."


Aldric menatap Aish lagi.


"Apa itu?"


"Dia tidak bisa membuatku tergila-gila padanya."


"Sedang suamiku ini, pria yang payah. Pria yang berada dalam kutukan Ken. Pria ini, pria yang tidak banyak tingkah, pria yang tidak peka pada apa yang ku rasakan, pria ini pria yang membuatku tergila-gila."


"Kau Aldric, kau pria menyebalkan itu. Aku mencintai mu bodoh, kenapa malah mau berpisah!!!" teriak Aish memukul dada Aldric dengan kesal.


Aldric bagai terhipnotis.


"Apa?"


Aish mengangguk, ia memukul dengan geram pria yang membuatnya cemas di pagi hari seperti ini.


"Kau kira aku sedang bercanda?"


Aldric mengerjapkan matanya.


"Aish?"


"Aku mencintai mu Mas Aldric, kenapa kau bodoh sekali! Aku mencintai mu yang payah ini, aku mencintai mu yang kaku ini, aku mencintai suamiku apa adanya, aku tidak mau yang lain, aku sudah kehilangan Ken, jangan pula kau mau pergi juga!"


Aish menangis lagi.


Demi apa Aldric mendengar apa yang Aish teriakkan padanya saat ini.


"Aish?"


Wanita itu masih menangis.


"Aish, jika benar apa yang kau katakan, bisakah kau menatap mataku?" tanya Aldric saat menangkap tangan Aish agar berhenti memukulnya.

__ADS_1


Aish mengangkat wajahnya. Menatap wajah Aish yang basah oleh tangis membuat Aldric ingin mati rasanya.


"Aku mencintai mu Mas Aldric, aku menerima mu sebagai suami ku, hanya kau saja yang tidak menyadarinya, bahkan aku sudah membalas perasaanmu di empat bulan kita menikah."


"Apa?"


Aish mengangguk lagi.


"Aish jangan bercanda!"


"Apa aku terlihat seperti bercanda? Aku kemari seperti sedang mengejar mimpi, sangat lelah berlari, masuk rumah ternyata kau disini, kau masih berpikir aku bercanda? Aku mau gila Mas Aldric, aku mau gila membaca surat mu yang tidak penting itu, apalagi harus mengisi formulir kertas laknat itu."


"Aish, aku tidak tahu kau juga?" Aldric terdiam saat bibir Aish lebih dulu membungkam mulut pria itu.


Aldric terdiam. Terdiam dalam perasaan yang ingin menenggelamkannya dari rasa malu dan bahagia sekaligus.


"Berhenti bilang ....." ucapan Aish menggantung saat Aldric menyambutnya dengan suka cita.


Pria itu kian membenamkan bibirnya pada bibir istri yang ia kira hanya ada dalam khayalan saja.


Aish tersenyum. Mereka berciuman cukup lama di bawah sinar matahari yang mulai merangkak naik.


Angin yang bertiup dari arah laut membuat wajah keduanya kian sejuk dan larut. Aish melingkarkan tangannya di leher sang suami, menikmati ciuman demi ciuman panjang yang seolah tidak mau berhenti.


Aish dan Aldric sudah saling mengakui, saling menerima dalam perasaan yang terdalam, pada cinta yang hadir pada mereka setelah menikah.


Aldric mencintai Aish, pun sebaliknya.


Pemandangan itu membuat iri Naina dan Al yang kebetulan sedang menikmati obrolan hangat antar pasangan yang akan menimang bayi sebentar lagi, mereka duduk di taman samping rumah Nayla dan Ariq, rumah yang menghadap bibir pantai sebagai penyejuk mata sejauh memandang.


"Aku tahu mereka akan baik-baik saja," ujar Al menatap istrinya dengan senyum penuh arti.


"Iya, aku bahagia melihat mereka seperti itu. Terlalu lama memendam perasaan itu tidak baik."


"Jika aku jadi Aish, mungkin aku tidak bisa bersabar selama itu."


"Apa maksudmu?"


"Tentu saja Aish hebat bisa tahan serumah dengan pria tampan yang kaku dan polos, kau mengerti maksud ku kan? Aldric itu payah, sedang Aish cinta saja dia tidak peka, bagaimana dia bisa mengerti hal yang lain, benar-benar pria diluar dugaan, pandai sekali saudara mu itu menahan nafsu, aku tidak habis pikir."


Al menatap istrinya yang berkomentar.


"Kau tahu banyak tentang mereka?"


"Aish sering mengeluh padaku!"


"Kenapa kau tidak cerita Naina? Jika begitu aku bisa mengatakan pada Aldric, jadi tidak perlu menunggu sampai hari ini juga, ini sudah delapan bulan sayang, huh ini benar-benar membuatku lelah berpikir, kapan Aldric bisa berubah?"


"Kau pikir dia power rangers bisa berubah? Aldric itu pria yang serius, apa adanya, jika iya dia bilang iya, jika tidak ya dia bilang tidak, jika memendam perasaan maka ia akan memendamnya. Jadi wajar jika Aish bisa gila menghadapi Aldric yang seperti itu, tapi justru semua itu yang membuat Aish jatuh cinta pada suaminya."


"Bagaimana Aldric dengan polosnya percaya Aish hanya menganggapnya teman, padahal maksud Aish itu adalah teman hidup, Aldric saja yang keterlaluan polosnya. Aku saja gemas apalagi Aish yang hidup dan tinggal dengannya setiap hari."


"Aku tertinggal banyak pada kisah mereka, kau hebat bisa membina hubungan baik antar sesama ipar," kekeh Al.


"Tentu saja, aku ini mahasiswa mu yang paling pintar!" balas Naina tersenyum manja.


"Begitukah? Baiklah, mahasiswa yang pintar.... Berhenti menilai hubungan orang lain, sebaiknya kau periksa lagi skripsi mu sudah sampai mana?"


Naina menyengir.


"Aku sedang malas mengerjakan apapun," rengeknya lagi saat teringat tugas skripsi yang ia abaikan sejak hamil.


Aldric masuk halaman rumah bagian samping yang terdapat Al dan Naina yang baru saja hendak masuk, Aldric yang menggendong Aish di punggung, sebab perempuan itu minta digendong karena terlalu lelah berlari mengejar Aldric ke pantai.


Bersamaan dengan itu Ariq dan Nayla muncul dari arah pintu berniat menyusul Naina dan Al di sana. Mereka berniat mencari tahu pada anak menantu mereka tentang Aish yang datang dalam keadaan menangis dan tergesa-gesa.

__ADS_1


Semua mata tertuju pada mereka.


Aldric tiba-tiba gugup, tangannya tanpa sadar melepaskan diri dari menyanggah tubuh Aish.


Hingga Aish terjatuh seketika Aldric melepasnya.


"Ahhhhhh!" pekik Aish yang kembali dijatuhkan oleh suaminya yang gugup mendapatkan tatapan mata dari semua orang.


"Aish!" lirih Nayla yang segera mendekat.


Demi apa Aldric berbuat salah lagi, ia segera membantu istrinya bangun dari rumput yang hijau dan bersih itu.


"Mas Aldric, kau ini kenapa suka sekali menjatuhkan ku tiba-tiba, ah...." kesal Aish sambil meraba bokongnya yang sakit.


"Maaf maaf," Aldric ikut membersihkan pakaian Nayla yang kotor.


"Aldric kau kenapa?" tanya Ayahnya geleng kepala.


Aldric hanya diam tidak berani menjawab.


"Beritahu orang tuamu ini, ada apa Aish kemari dengan tergesa-gesa dan menangis?"


Aldric menoleh istrinya yang tersenyum mengejek. Lalu ia menatap lagi wajah Ayahnya yang sedang serius.


"Ayah."


"Ayah rasa kita perlu bicara serius Aldric, ini bukan hal main-main."


Aldric mengangguk saja tidak berani membantah.


"Apa ini? Form ini untuk siapa? Aish menjatuhkan kertas ini tadi," tunjuk Bunda Nayla dengan wajah tak kalah serius dari suaminya.


Aldric dan Aish saling menoleh. Perempuan itu menggigit bibir bawahnya bingung, ia telah menjatuhkan kertas permohonan cerai yang diberikan Aldric padanya di meja makan, kenapa bisa jatuh di hadapan orangtua itu pikir Aish.


"Aldric."


"Iya Ayah."


"Ayo kita bicara, ini sangat serius!!!!" Ariq menekankan setiap kata-katanya pada sang putra.


Aish menggenggam tangan suaminya dengan erat, lalu ia mengangguk saat Aldric menoleh ke arahnya.


"Sudah seharusnya kau jujur dan bertanggungjawab atas apa yang kau lakukan padaku pagi ini," bisik Aish menggoda.


Aldric tampak bernapas kasar ia menatap wajah Aish yang tersenyum menatapnya penuh cinta, membuatnya bersemangat lagi apapun yang akan ayahnya katakan nanti, sudah pasti kedua orang tuanya akan memarahinya.


Aldric mengabaikan Naina dan Al yang menyindirnya sejak tadi.


"Diamlah, aku sedang serius!" cetus Aldric pada Al yang menggodanya.


"Kau bahkan terlalu serius menanggapi semua hal, makanya begini. Dasar Aldric," gumam Al mengejek Aldric.


Aldric menarik tangan istrinya, mengikuti langkah ayah dan bundanya masuk meninggalkan Al dan Naina yang tertawa.


"Kau gugup?" tanya Aish pada suaminya.


"Tidak, jika kau menggenggam ku seperti ini."


"Dan aku akan melakukannya seumur hidupku, aku mencintaimu Mas Aldric, apapun itu akan kita hadapi bersama, kita bisa bicara baik-baik pada Ayah dan Bunda biar tidak salah paham atas kertas itu."


Aldric berhenti lalu menoleh istrinya lagi.


"Aku bahkan membutuhkan istriku dalam hal apapun."


Aish tersenyum, pun Aldric.

__ADS_1


__ADS_2