Purnama Merindu

Purnama Merindu
Rindu atau benci?


__ADS_3

Nayla dijemput oleh seseorang yang terdapat Dewi dalam mobilnya, perempuan itu meraih Zaza yang sedang bermain dan membalas tatapan penuh tanya Nayla yang heran saat ia datang dengan mobil dan seorang sopir keluarga Oma Rika.


"Kak Dewi ada apa?" tanya Nayla cemas.


"Nay, ayo bersiap kau harus ikut aku!"


"Kemana?"


"Oma Rika kambuh Nay, dia mencarimu.... Oma mengamuk dan merajuk tidak ingin makan sejak tadi pagi hingga siang ini, dia ingin bertemu Humairah dalam bentuk Nayla."


"Apa?"


"Iya, ayolah sayang..... Kasihan Oma, dia orang baik Nay, dan kau tahu seperti apa nyonya Arina memohon padaku untuk menjemput mu karena tidak siapapun yang bisa menenangkan Oma bahkan mas Ariq sekalipun, huh aku baru tahu seperti itu jika Oma kambuh pikunnya, semua kebingungan. Hanya kau Nayla, hanya kau yang diinginkan Oma saat ini, dia ingin menantu kw nya ini yang menyuapinya makan."


Dewi tertawa di akhir kalimat.


"Tapi.... Aku tidak ingin kembali ke rumah itu."


"Apa kau mengabaikan permohonan Oma Rika? Tidakkah kau kasihan Nay, dia sudah senja.... Mana tahu umurnya tidak panjang lagi? Mana tahu ini adalah keinginan terakhirnya untuk makan dari tanganmu? Ayolah Nay, biar mas Ariq melihat sisi lain darimu, kau mampu membuat siapapun tunduk bahkan Oma Rika."


Nayla menggeleng.


"Aku tidak bisa membuat mereka menyukaiku, aku takut jika nyonya Arina marah padaku lagi, aku juga tidak ingin berhubungan dengan nona Annisa dan Vano lagi jika saja mereka juga ada di sana sekarang."


"Nay, kau harus tahu.... Tidak ada mas Vano atau nona Nisa di sana, sepertinya hubungan mereka benar-benar dingin, mas Vano sering pulang ke rumah orangtuanya, itu baru gosip yang ku dengar."


"Pantas saja dia selalu muncul di depan rumah ini saat anak-anak sekolah."


"Benarkah?" tanya Dewi terkejut.


"Iya."


"Wah mas Vano ini nekad juga, apa dia jahat padamu?"


Nayla menggeleng, "Tidak, Vano tidak melakukan apapun, hanya bertemu dan meminta maaf, meski sudah ku maafkan tapi tetap saja setiap hari kemari. Aku lelah menghadapi pria itu, dia masih berharap aku mau kembali padanya, ironis sekali."


"Apa kau masih ada hati padanya?"


"Entahlah, Vano tidak pernah menyakiti ku..... Itu poin penting penilaian ku terhadapnya, aku kasihan padanya."


"Aku bertanya apa kau masih ada hati padanya? Nay, jawab jujur apa kau masih mencintai mas Vano?" Dewi penasaran bukan main.


Nayla diam sejenak, lalu ia menggeleng pelan.


"Aku mencintai mas Ariq," jawab Nayla berkaca-kaca.


Senyum Dewi mengembang, "Kau bersiaplah, ikutlah denganku hanya kau yang bisa mengatasi kegaduhan yang dibuat Oma Rika, mas Ariq ada di sana, dia sebagai Alif dan Oma menunggu kau sebagai Humairah. Ya Allah..... Ini sungguh takdir yang manis, aku percaya sekali bahwa mas Ariq akan memaafkanmu nanti."


"Aku tidak yakin, dia bahkan tidak menghubungi ku hingga sekarang, dia hilang begitu saja. Bahkan membalas pesanku saja tidak mau, aku tidak akan berharap lagi, aku akan ikut demi Oma Rika."

__ADS_1


"Dia mencintaimu Nay, aku tahu sekali hal itu."


"Jika cinta dia tidak akan seperti ini, dia tidak akan hilang kak Dewi, jika cinta dia akan menerima ku apa adanya, tidak ada cinta yang benar-benar tulus di dunia ini. Semua beralasan, semua bersyarat. Dan aku tidak termasuk dalam syarat itu."


Nayla mulai masuk ke kamar dan berganti pakaian.


"Oh Nayla, aku pusing dengan kisah cintamu...."


"Aku dan bang Jhon memiliki kisah yang lurus-lurus saja, pacaran dan menikah. Tidak ada pertengkaran ataupun konflik berat, hanya sedang diuji saja belum mendapatkan momongan hingga sekarang, selebihnya kami bahagia. Simpel bukan?"


Nayla hanya membalas dengan tawa manisnya seraya memakai kerudung berwarna hitam.


"Kau tahu kak Dewi, aku bahkan mendambakan hidup sesimpel itu."


****


Nayla dilanda gugup luar biasa, kakinya kembali ke rumah itu. Rumah dimana ia pernah bekerja, ada secarik kenangan yang terlintas saat melewati pintu belakang khusus pelayan.


Kakinya berhenti melangkah, Dewi kembali menarik tangan Nayla dengan gemas.


"Ayo Nay, kasihan Oma menunggu lama."


"Aku, aku aku gugup. Sudah hampir tiga minggu aku tidak kemari."


"Gugup lama tidak kemari atau gugup karena ada mas Ariq di rumah ini sekarang?" goda Dewi terkekeh geli.


"Kau terlalu cemas sayang, mas Ariq mungkin hanya butuh waktu saja bukan berarti dia akan menatapmu tajam dan marah-marah. Aku yakin dia tidak seperti itu."


Nayla berhenti melangkah lagi.


"Nayla, ayo!"


Langkah mereka bertemu dengan para pelayan lain yang menatap mereka dengan heran.


"Lama tidak kemari nona Cinderella? Gosip sudah menyebar tapi masih melenggang tidak tahu malu ke rumah ini lagi. Kenapa kau membawa gadis bekas ini kemari? Apa kau masih ingin memaksa dia bekerja lagi? Menimbulkan masalah lagi? Lalu dipecat lagi begitu?"


Suara tajam dari seorang pelayan yang tidak suka pada Nayla. Ia bertanya seraya mengejek pada Dewi.


"Ck.... Aku akan meremukkan mulut bocormu itu lihat saja nanti, selalu saja mau tahu urusan orang lain. Nayla kemari bukan untuk bekerja lagi, tapi lebih dari itu. Nayla kemari atas permintaan Oma, kau dengan baik-baik Nayla ini adalah obat penenang bagi Oma Rika. Awas jika kau berani padaku!" bentak Dewi seraya meraih tangan Nayla agar mereka segera pergi dari dapur.


Sampai di kamar Nayla disambut tatapan sinis dari nyonya Arina, lalu ia beralih menatap Ariq yang setia di samping Oma Rika.


Dingin, Ariq tampak dingin sekali. Tidak menyapa Nayla yang sejak tadi menelan ludah dan meremas tangannya yang berkeringat.


"Kemarilah, entah apa yang telah kau berikan pada mamaku hingga dia bisa begitu terobsesi padamu dengan mengatasnamakan penyakit pikun yang menyebalkan ini, Oma mengamuk dan mencarimu."


Nyonya Arina berkata lantang.


"Aku memanggilmu untuk Oma, lakukan yang terbaik untuknya, aku akan memberimu uang nanti. Anggap saja kau sedang bekerja sekarang."

__ADS_1


Nyonya Arina pergi dari sana setelah mengatakan semua itu.


Nayla tidak menjawab, ia langsung mendekati Oma saat nenek tua itu melambaikan tangan ke arahnya. Nayla sejenak saling berpandangan dengan lelaki yang berdiri di samping ranjang Oma dengan raut dinginnya.


"Oma, ini aku Nayla...."


Oma Rika bangkit dari baringnya, "Humairah? Kau pulang nak?"


Nayla menatap lagi Ariq lalu ia beralih lagi pada Oma Rika.


"Iya, mama... Aku pulang, mama bisa tenang sekarang," ucap Nayla seraya mengelap sisa air mata Oma Rika yang menangis sejak tadi.


Ariq hanya diam dan memperhatikan gerak gerik Nayla menangani Oma nya dengan telaten, memberi makan dan minum obat tanpa perlawanan Oma seperti tadi.


Benar-benar tertegun Ariq dibuatnya, hanya dengan hadir saja Oma sudah diam dan tidak mengoceh lagi seperti tadi. Nayla tersenyum melihat Oma tertidur sambil memegangi tangannya.


Hening. Ariq diam Nayla pun diam dalam kebisuan, dimana hanya terdengar suara dengkuran halus dari Oma Rika yang mulai terlelap. Tidak sampai setengah jam, Oma Rika berhasil ditaklukkan oleh gadis cantik bernama Nayla.


"Oma sudah tertidur, efek obat akan memberi reaksi tidur yang cukup lama. Aku harap setelah bangun nanti Oma akan kembali normal, aku pamit pulang dulu," ucap Nayla memecah suasana.


Nayla berdiri dari pinggir ranjang setelah menaikkan selimut dan menaikkan juga suhu AC yang dirasa Nayla terlalu dingin, sedingin sikap Ariq saat ini.


"Terimakasih."


Nayla tersenyum saat mendengar kata pertama dari lelaki yang menghilang sudah hampir tiga minggu itu.


Nayla tersenyum lalu mengangguk, "Aku akan pulang sekarang."


Nayla menunggu jawaban, namun nihil. Ariq kembali diam. Nayla mengalah ia pergi melangkah dari sana, ia tidak ingin berlama disaat Ariq tampak membencinya.


Namun hendak mencapai pintu keluar terdengar suara pria itu memanggilnya meski pelan.


"Nay...."


Nayla berbalik badan, ia menatap Ariq yang berjalan mendekat.


Dan.


Lelaki yang Nayla rindukan itu memeluknya tanpa basa basi. Erat, Ariq membawa Nayla dalam kungkungan badan besarnya, erat sekali.


"Aku merindukanmu Nay..... Sangat rindu."


Suara Ariq tertahan, ia menyembunyikan wajahnya di balik leher Nayla yang tertutup kerudung hitam yang manis.


"Apa kau membenciku?" tanya Nayla dengan suara menahan tangis.


Ariq menggeleng.


"Tidak."

__ADS_1


__ADS_2