
Pingkan berlalu dalam rasa malu yang luar biasa setelah ia bertemu Nayla dan Dirga, ia bahkan langsung minta pulang pada temannya, ia tidak betah berada di sana dalam situasi seolah Nayla menertawakannya.
Nayla kembali mengangguk saat Dirga ingin mengambilkan minum untuknya, meski ia telah menolak namun kakak tiri tampannya itu tetap memaksa untuk minum bersama. Sedang Dirga pergi, Nayla malah dikejutkan oleh Angga yang menghampirinya dalam keheranan pula.
"Mas Angga?"
"Nayla?"
Mereka saling bertegur sapa meski sedikit terkejut bahwa mereka tengah berada di pesta yang sama tanpa disadari.
"Apa pesta ini yang mas Angga maksud kemarin?"
"Iya Nayla, inilah yang ku maksud. Aku tidak mengira Rahayu adalah keluargamu jika tidak salah dengar kau menyebutnya begitu kemarin."
"Iya, Rahayu saudara ku mas Angga, ayahku menikah dengan ibunya."
"Oh begitukah? Hmmmm aku turut senang mendengarnya, aku adalah pembimbing skripsi Rahayu, aku senang dia mengingatku ketika sudah sukses seperti ini."
Nayla mengerti sekarang, mereka mengobrol sambil saling pandang memandang, lalu Angga menawarkan ingin mengambilkan Nayla minum agar mereka bisa duduk dan minum bersama.
"Biar aku saja yang ambilkan, kau duduklah di sana. Kau sudah cantik, jadi biar aku yang melayanimu," ucap Angga tetap ingin ia yang mengambilkan minum untuk Nayla padahal gadis itu bisa mengambilkan sendiri.
Nayla hanya bisa menahan senyum saja, sebab sudah dua pria yang mengambilkannya minum, Dirga yang belum kembali, sekarang Angga yang ingin mengambilkan lagi. Nayla tidak ingin mengecewakan dua orang itu hingga ia mengangguk dan menunggu seperti permintaan Angga dan Dirga.
Karena pesta cukup ramai, hingga Nayla seperti hilang ditelan keramaian. Ia menatap pada seorang MC yang mulai membuka acara, MC itu meminta Rahayu naik ke depan untuk menyampaikan sepatah dua patah kata penyambutan pesta yang meresmikan gadis itu sebagai pengganti ibunya di perusahaan.
Saat Rahayu ke depan, semua bertepuk tangan termasuk Nayla sendiri. Lampu mulai redup di bagian tamu dan lampu terang menyoroti Rahayu yang cantik dan berdiri tegak di hadapan para tamu penting yang akan merajut kerja sama dengannya setelah ia menjadi pemimpin baru.
Nayla sungguh salut pada saudari tirinya itu, apa yang tidak dicapai Rahayu sekarang. Baru juga sudah diwisuda beberapa waktu lalu, kini gadis itu sudah pula menempati posisi direktur perusahaan ibunya yang cukup bergengsi.
Cantik, muda, berprestasi, pintar dalam ilmu bisnis membuat sosok Rahayu tampak begitu sempurna di mata Nayla yang menatapnya dengan bangga bahwa gadis di depan sana itu adalah saudari tirinya. Semua kehidupan Rahayu seakan begitu mulus tanpa cela.
Alangkah jauh jika dibandingkan dengan Nayla, ia tersenyum tipis jika mengingat Ariq. Saudarinya itu masih berharap pada pria itu seperti yang dikatakan oleh ayahnya, Nayla merasa tidak mampu untuk tetap bersaing dengan Rahayu, yang mana tentu ia kalah sangat jauh dalam hal apapun dibanding Rahayu yang kini mulai memiliki kekuasaan.
Terlebih ibu Rena yang juga mengidolakan Ariq untuk jadi menantunya, sungguh Nayla tidak bisa melukai orang sebaik ibu tirinya itu, begitu banyak hutang budi yang mengangkat kehidupannya dan ayah Faisal hingga sebaik ini sekarang. Bagaimana ia bisa egois disaat ibu Rena berharap Ariq menjadi jodohnya Rahayu sang putri sempurna.
Inilah dilema hatinya yang paling sulit, benar kata ayahnya soal Angga yang memang serius ingin mengenal Nayla lebih jauh lagi jika perkenalan mereka cocok mungkin Angga ingin segera menikahi Nayla dalam kekurangannya, ditambah orangtua pria itu yang menerimanya dengan tangan terbuka.
Belum tentu Nayla akan temukan pria semacam Angga dan keluarganya kelak jika ia menolak sekarang. Bukankah kesempatan tidak akan datang dua kali? Angga dan keluarganya seperti sebuah sinyal mulus dari Allah tentang jodoh dan masa depannya kelak, meski meragu saat hatinya kembali berkata bahwa Nayla mencintai Ariq hingga saat ini.
Namun apalah arti cinta jika dibanding niat yang tulus dan keluarga yang menerima dari Angga, dibanding Ariq meski saling mencintai namun ada banyak rintangan di hadapan, Vano dan Rahayu seakan menjadi jalan buntu untuk Nayla menerima pria itu.
Entahlah, yang jelas saat ini Nayla kagum saat melihat sosok Rahayu yang sedang berbicara di depan. Entah apa yang disampaikan gadis itu, namun Nayla cukup. larut dalam lamunannya.
Sampai sebuah tangan meraih tangannya dengan mesra, bisikan suara yang indah yang ia rindukan beberapa hari ini. Kini hadir dalam bentuk Ariq yang nyata, menatapnya penuh cinta, hingga sejenak Nayla larut dalam aksi tatap menatap satu sama lain di tengah redupnya lampu para tamu, yang semua tamu pesta sedang fokus pada gadis di depan sana yang tersorot lampu terang karena gadis itulah bintangnya malam ini.
Ariq tidak peduli pesta itu ataupun yang sedang berpidato di sana, namun satu yang pasti, hanya Nayla yang selalu di hatinya hingga nanti.
"Kau selalu saja muncul tiba-tiba."
Ariq terkekeh, "Ayo kita pergi, disini pengap."
Ariq menarik pelan dan mengeratkan genggaman tangannya dengan lembut seraya mengajak Nayla berlalu dari sana dalam keriuhan tepuk tangan untuk Rahayu yang baru saja menyampaikan kata-kata motivasi.
"Kau akan membawaku kemana?" tanya Nayla saat mereka sudah berhasil melewati para tamu dan keluar dari ruang pesta.
"Kemana saja yang penting keluar dari pesta membosankan itu."
"Itu adalah pesta besar calon istrimu," sindir Nayla dengan nada bercanda.
"Aku tidak mengatakan Rahayu calon istri ku. Jangan mengada-ada."
Ariq mencium tangan Nayla dengan gemas, lalu mengigitnya pelan.
__ADS_1
"Mas Ariq, hentikan. Itu sakit."
Ariq terkekeh, mereka sudah sampai parkiran rupanya.
"Masuklah!" perintah Ariq saat ia membukakan pintu mobil untuk Nayla.
Gadis itu masuk, lalu kembali menatap Ariq yang kini duduk di kursi kemudi.
"Kau mau membawaku kemana? Pestanya belum berakhir."
"Aku tidak peduli pestanya, aku akan menculikmu dari hotel ini," jawab Ariq seraya menjalankan mobilnya meninggalkan area parkiran hotel.
"Huh."
Nayla tampak menghela napas berat, entah apa yang sedang ia pikirkan namun riak wajah dan lengkungan bibirnya yang membentuk senyuman manis terkembang begitu saja, ia menatap keluar jendela mobil demi menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Aku merindukanmu," kata Ariq saat satu tangannya meraih tangan Nayla, menggenggamnya erat saat mobil yang ia kemudikan itu melewati jalan lurus.
Nayla hanya diam.
"Kau tidak merindukan ku?"
Nayla menggeleng. Siapa sangka Ariq menghentikan mobilnya mendadak.
"Mas Ariq ada apa?"
"Kau tidak merindukanku?" ulang Ariq lagi. Membuat wanita itu tersenyum lagi.
"Aku tidak akan menjawabnya."
"Kau selalu begitu," tukas Ariq sambil melajukan lagi mobilnya.
Nayla tersenyum saja, sesekali pandangan mereka bertemu, saling menatap dengan dalam seakan banyak makna yang tersirat meski lewat sorot mata.
"Ke suatu tempat."
Gadis itu hanya bisa menghela napas, percuma jika ia berdebat dengan pria menyebalkan itu soal tempat yang akan menjadi tujuan mereka saat ini. Nayla memilih diam lagi.
"Bagaimana dengan Oma?" Nayla memecah keheningan.
"Kita akan bertemu Oma setelah ini, untuk itu pula aku menculikmu sekarang, jangan khawatir Oma sudah lebih baik sekarang," jawab Ariq menatap Nayla dengan raut penuh arti.
"Baiklah terserah kau saja, aku senang jika Oma sudah lebih baik."
Nayla mengernyitkan dahi saat mereka ternyata menuju pantai pinggir kota, ramai pengunjung di sana. Nayla turun saat Ariq membuka pintu mobil untuknya dan Nayla menerima uluran tangan Ariq hingga mereka bergandengan menuju salah satu meja pedagang aneka olahan makanan laut, seperti udang bakar, cumi krispy, dan lain sebagainya.
"Kita akan makan seafood. Kau suka makanan ini?" tanya Ariq sebelum duduk.
Nayla mengangguk, "Aku suka semua makanan laut."
Mereka duduk bersebelahan, debur ombak terdengar jelas, angin yang bertiup dari arah laut semakin menerpa wajah cantik pemilik hati Ariq saat ini. Nayla tersenyum saat Ariq kembali ke meja setelah ia memesan minuman di meja pedangang yang lain.
Entahlah, Ariq tidak banyak bicara malam ini. Pria itu makan dengan lahap apa yang mereka pesan, Nayla merasa sikap Ariq agak lain ketika mereka sampai pantai.
Sampai ketika Nayla juga menghabiskan porsi makanannya. Ia melirik Ariq dengan senyuman yang ia sembunyikan.
Pria itu seakan tersadar, ia menoleh pada piring Nayla yang sudah kosong.
"Sayang, kau habiskan semuanya?"
"Iya, memangnya kenapa? Aku juga lapar, tadi belum sempat makan."
"Nayla, yang benar saja. Apa kau tidak menemukan sesuatu?" tanya Ariq mulai memeriksa piring Nayla membolak balikkan piring tersebut.
__ADS_1
"Sesuatu apa mas Ariq? Aku tidak mengerti."
"Sayang, aishhhhh sial....." Ariq mengusap wajahnya kasar.
"Ada apa hei?" Nayla menghentikan tangan Ariq.
"Nayla apa kau tidak merasakan apa-apa pada makananmu?"
Nayla menggeleng.
"Sayang ayolah, yang benar saja. Kau tidak menemukan sebuah cincin?"
"Cincin? Cincin apa?"
"Nayla, ayo buka mulutmu!" perintah Ariq mulai tampak panik.
"Mas Ariq ada apa?"
"Mungkin saja kau tertelan, ayo buka. Apa benar kau tidak merasakan sesuatu yang keras saat menelan?"
Nayla menggeleng.
"Sayang ayolah, jangan bercanda, aku menaruh cincin di makananmu, bagaimana kau bisa tidak menyadarinya Nayla, memangnya selapar apa perutmu hingga cincin sebesar itu tidak terlihat. Ahh."
Ariq masih membuka mulut Nayla dengan panik, lalu ia pukul punggung dan tengkuk perempuan itu.
"Mas Ariq, kau apakan aku ini," teriak Nayla.
"Ayo muntahkan, itu berbahaya bagaimana jika memang tertelan, ya Allah Nayla....... Ayo cepat muntahkan, cepat muntahkan semuanya!"
Ariq masih dengan wajah paniknya memukul kuduk Nayla yang mulai terkikik geli.
"Mas Ariq hentikan, aku tidak bisa muntah."
"Harus muntah Nayla itu berbahaya. Cepat lakukan jangan membuatku cemas."
"Hei kau, kemari!" teriak Ariq pada seorang penjual tempat ia memesan makanan Nayla tadi. Penjual itu segera mendekat.
"Iya tuan? Apa ada masalah?"
"Apa kau menaruh cincinnya dengan benar?"
Pria penjual itu mengangguk. "Iya tuan, aku menaruhnya sesuai yang diperintahkan."
"Ah sial, kau akan ku bunuh jika Nayla memang tertelan. Awas kau!"
Ariq marah-marah pada penjual yang kebingungan itu.
"Lagi pula kenapa kau menaruh cincin di dalam makanan?" tanya Nayla kesal.
"Itu untuk melamarmu Naylaaaaaaaa, kau benar-benar kelaparan hingga cincin sekeras itu saja kau makan juga. Huh aku bukan hanya gagal tapi juga membahayakan mu. Sayang ayo kita ke rumah sakit sekarang!"
Ariq sudah berdiri menarik tangan Nayla agar gadis itu segera berdiri dari tempat duduk mereka semula.
"Mas Ariq tenanglah, hei...." cegah Nayla masih tertawa.
"Nayla ini serius, kau tertelan cincin, kenapa malah tertawa? Ayo cepat jangan membuatku cemas."
Diluar dugaan Nayla membuka telapak tangannya.
"Apa ini cincin yang kau maksud?" tanya Nayla tersenyum pada Ariq yang berwajah memerah.
Terdengar pria itu menghembus napas kasar, lalu tanpa berkata lagi ia memeluk Nayla dengan erat. Lega, Ariq lega gadis itu tidak menelan benda kecil itu.
__ADS_1
"Kau membuatku ingin mati Nayla."