
"Terimakasih banyak atas tumpangannya mas Angga, ingin mampir atau bagaimana?"
"Tentu saja mampir dulu seperti niatku diawal, aku ada jam mengajar jam sembilan nanti masih ada satu jam lagi."
Nayla mengangguk lalu mempersilahkan Angga untuk masuk ke kedai ayahnya yang belum dibuka.
Angga begitu santun mengenalkan diri sebagai teman lama Nayla di pesantren dulu pada ayah Faisal, Angga menyalami orang tua itu lalu mengobrol ringan sebagai basa basi selagi Nayla ke belakang membersihkan Zaza karena anak itu pup.
Saat Nayla kembali membawa Zaza, ayahnya menoleh dan berkata.
"Nay..... Buatkan nak Angga ini minuman, ajaklah mengobrol di meja depan, ruangan ini akan ayah bersihkan dulu."
"Ayo Zaza ikut kakek," ajak ayah Faisal pada cucunya yang paling kecil itu, agar Nayla bisa mengobrol dengan Angga.
Nayla mengangguk lalu bertanya tentang minuman yang ingin ia buatkan untuk Angga, pria itu ingin kopi lalu ia keluar dan menunggu di meja luar restoran sederhana itu.
"Apa ibu Rena akan kemari hari ini ayah?" tanya Nayla sambil membuat kopi.
"Iya, nanti dia menyusul. Lagi sibuk di kantor, ibumu memutuskan ingin membantu ayah saja di sini."
Nayla menoleh, "Benarkah? Lalu kantornya bagaimana?"
"Akan diteruskan Rahayu, sebab dia sudah wisuda. Dirga sudah puas menjadi pengacara, dia tidak berniat mengambil alih perusahaan. Biar Rahayu saja karena anak itu memang berambisi menjadi wanita dengan karir yang hebat seperti ibunya."
Nayla tertegun sejenak, apa yang tidak bisa Rahayu taklukkan dengan berbekal ilmu bisnis yang ia peroleh saat kuliah, ilmu kepemimpinan yang sudah ia latih sejak menjabat ketua BEM kampus waktu itu, apa yang tidak bisa Rahayu taklukkan dengan kepintaran yang ia miliki saat ini.
Membayangkan saja membuat Nayla begitu ciut jika harus menyandingkan dengan dirinya yang hanya punya pengalaman mencuci baju, kuliah yang hanya sampai semester tiga, Nayla hanya pandai menjaga anak-anaknya saja.
Bakat mengasuh cukup ia banggakan selama mengasuh anak-anak kakaknya itu, Nayla menjadi pandai mengatur waktu dan segala keperluan rumah, berhemat dan menjadi pandai pula memasak dan mengerjakan segala pekerjaan rumah.
Ia menjadi tersenyum dan cukup berbesar hati dengan pencapaiannya itu dibanding tidak memiliki keahlian apa-apa. Setidaknya ia ahli mengasuh empat anak.
"Aku senang mendengarnya, ibu Rena begitu baik dan mau menerima kita yang sudah tidak ada apa-apanya ini," sahut Nayla sambil tersenyum.
"Ayah bahagia kau mau menerima pernikahan ini, percayalah sayang ibumu akan selalu ada dalam hati ayah yang terdalam."
Ayah Faisal meraih tangan Nayla lalu menggenggamnya dengan erat.
"Aku selalu percaya pada ayah. Aku juga senang pada ibu Rena dan anak-anaknya. Aku menjadi punya saudara sekarang."
"Ayah tidak akan menyinggung soal semalam, ayah tidak akan ikut campur masalah percintaan anak muda seperti kalian, percayalah semua yang kau lakukan sudah benar."
"Anggap saja kau tidak berjodoh dengan nak Ariq. Juga ayah tidak akan membela Rahayu dalam hal ini. Kalian anak-anak ayah tahu yang terbaik untuk kalian masing-masing."
"Jangan karena hal itu kau dan Rahayu menjadi tidak baik, ingatlah semua akan indah pada waktunya, putus cinta itu hal biasa. Jodoh itu di tangan Tuhan, jangan memaksa hal yang bukan menjadi ranah manusia. Ayah yakin kau sudah dewasa. Seperti kau berakhir dengan Vano anggap pula seperti itu kau dengan Ariq. Semua biasa terjadi apalagi kau masih muda, perjalanan mu masih panjang nak... Lihatlah nak Angga di depan, atau siapapun nanti kau tahu yang terbaik untukmu."
"Jangan mas Angga ayah, dia masih beristri."
Nayla terkekeh dibuat ayahnya yang menyebutkan Angga.
"Benarkah, wah sayang..... Jangan sampai kau disalah sangka oleh orang-orang. Kita baru buka restoran ini seminggu jangan kau buat viral karena diserang istrinya nanti kemari."
Nayla tertawa.
__ADS_1
"Ya Allah, ayah berlebihan..... Lagi pula mas Angga akan bercerai."
"Apa? Naylaaaaaa?"
"Jangan menatapku seperti itu ayah..... Bukan aku penyebabnya, dia memang sudah lama akan bercerai jauh sebelum bertemu denganku."
Ayah Faisal bernapas lega.
"Baiklah, kau terlalu lama nanti kopi itu keburu dingin sebelum diminum calon duda mu," kekeh ayah Faisal yang menangkap senyum penuh arti dari wajah anaknya.
Nayla tertawa lagi, ayahnya pandai mengembalikan moodnya hari ini.
"Aku akan ke depan ayah," sambung Nayla lagi.
"Iya, mengobrol yang normal saja Nay...... Dia belum resmi menjadi duda."
"Oh apa aku akan dapat menantu duda?"
"Ayaaaaaaahhh," rengek Nayla dengan manja.
"Ayah suka, sepertinya dia lelaki baik dan santun."
"Ayah berlebihan, aku dan mas Angga hanya teman lama, bukan ada hal lain. Dia memang baik, dia dosen baru di kampusku dulu, guru ngaji, juga berpendidikan tinggi dia lulusan Kairo. Aku sedikit minder jadinya."
"Wah sayang..... Yang seperti ini jangan sampai lepas, until Jannah," goda ayah Faisal mencairkan suasana.
"Ayah mulai lagi, aku ke depan dulu."
Sesampai di depan, Angga tampak menunggu sambil bermain ponselnya.
"Mas Angga, maaf kau menunggu lama."
Nayla menaruh kopi ke hadapan orangtua Angga.
"Tidak masalah. Terimakasih Nayla, kopinya enak."
Pria itu langsung menyesap kopi buatan Nayla dengan mata berbinar.
"Disini cukup strategis untuk sebuah usaha tempat makan, udaranya segar banyak pepohonan. Aku harap kedai ini selalu ramai, tempat yang sangat bagus untuk para mahasiswa makan siang."
Begitulah tanggapan Angga setelah melihat-lihat sekitar, ia kagum dengan Nayla dan ayahnya yang memulai dari bawah lagi, merintis usaha padahal mereka dulu orang berada.
Cukup lama mereka mengobrol tentang mereka masing-masing, sesekali mengenang saat-saat menjadi santri dulu hingga hal-hal lucu yang terjadi di pesantren saat mereka menimbah ilmu di sana. Tawa Nayla lepas saat mengingat hal paling memalukan yang terjadi padanya dulu.
Menampilkan giginya yang berderet rapi dan putih, matanya kian menyipit karena lena dalam tawa. Angga suka sekali pemandangan itu, pemandangan yang dulu hadir dalam Nayla yang merupakan gadis remaja saat itu.
Ariq melihat mereka dari jauh, ia bahkan tidak pernah melihat Nayla tertawa selepas itu saat bersamanya.
Matanya yang semula setajam elang yang siap memangsa, kini berubah menjadi layu bahkan tampak berkaca-kaca. Ia menghidupkan lagi mesin mobilnya, ia memegang kemudi lalu pergi tanpa tahu siapapun.
Pria itu tidak jadi ke kantor, entah kenapa bayangan Nayla tertawa terus membuatnya lesu, Ariq pulang.
"Ariq? Kau pulang nak, apa ada yang tertinggal?" tanya mama Humairah yang kebetulan ingin ke dapur, bertepatan dengan Ariq yang muncul dari arah luar.
__ADS_1
"Iya, hatiku," jawab Ariq singkat. Ia berlalu begitu saja, membuat sang mama curiga.
Mama Humairah mengikuti putranya, jika tidak salah dengar Humairah mendengar Ariq mengatakan hatinya saat ia bertanya alasan pria pria itu pulang lagi ke rumah.
"Ariq, berhenti!" cegah mamanya dengan suara tegas, ia tidak suka anaknya bermuram tanpa sebab.
Ariq berhenti, ia berbalik badan membalas tatapan mamanya dengan wajah lesu.
"Iya ma."
Humairah menarik napas dalam.
"Mama ingin bicara denganmu semalam, tapi kau pulang ke rumah kakek, pagi ini kau hilang pagi-pagi sekali, kata pelayan kau ke kantor, tapi sekarang kau pulang. Ada apa?"
"Aku hanya tidak enak badan," jawab Ariq menghindar.
"Jangan bohong, baiklah karena kau sudah pulang ayo bicara dan jelaskan pada orangtua mu ini tentang semalam! Apa maksudmu menghilang dari acara makan malam tanpa memberitahu siapapun, kau tahu ulah mu itu dinilai tidak sopan dan terkesan tidak menghormati kami para orangtua di sana."
"Coba jelaskan pada mama?"
Ariq masih diam, dalam moodnya yang kurang baik seperti ini ia sungguh malas untuk bicara soal semalam.
"Sayang ada apa ini?" Tanya papa Alif yang baru saja keluar dari kamar.
"Ini pria yang kita cari sejak semalam, dia pulang subuh tadi lalu hilang lagi pagi-pagi buta, aku kira putramu ke kantor, tapi sekarang dia pulang lagi kemari."
Papa Alif menatap putra sulungnya dengan penuh tanya.
"Apa kau ingin bicara berdua dengan papa? Papa rasa sepertinya ini urusan lelaki, ayo ikutlah ke perpustakaan agar kita bisa minum kopi di sana! Papa rasa kau ada hal yang ingin disampaikan soal semalam."
Papa Alif mendekati istrinya yang menajamkan mata pada lelaki paruh baya yang masih tampan itu.
"Mas Alif, tidak harus diperpustakaan bukan? Aku ingin tahu maksud anak ini tidak menghormati kita semalam dengan menghilang begitu saja, sulit dihubungi dan tidak pulang ke rumah."
Mama Humairah tampak kesal.
"Sayang ayolah, ocehanmu tidak akan membuat putra kita mau terbuka. Lihatlah mata lelahnya, mungkin saja dia tidak tidur semalam. Biar aku yang bicara, dari raut wajah Ariq mungkin ini adalah urusan lelaki" ucap papa Alif menenangkan istrinya.
"Huh, memangnya serumit apa urusan lelaki?"
"Serumit ocehanmu yang selalu membuatku gila," kekeh papa Alif menggoda istrinya.
"Terserah kalian, aku mau ke dapur."
"Bagus, buatkan aku teh hangat pengingat kenangan kita."
Mama Humairah hanya bisa berdecak kesal, dalam situasi apapun suaminya pandai membuatnya bungkam.
"Ingat umur mas Alif," jawab Humairah sambil geleng kepala, ia berlalu meneruskan niat ke dapur. Alif terkekeh melihat istrinya kesal, lalu ia menatap Ariq lagi.
"Ayo ikut papa!"
Ariq yang hanya diam sejak tadi itu mengangguk saja dan mengikuti langkah papanya menuju perpustakaan mini rumah itu.
__ADS_1