Purnama Merindu

Purnama Merindu
Disensor


__ADS_3

Peringatan keras: Jangan baca kalo belum 21+


****


"Mas Ariq, bisa lepaskan aku? Badanmu berat."


Diam.


"Mas Ariq."


"Tidak mau," jawab pria itu masih menindih Nayla yang mulai sesak.


"Aku tidak bisa bernapas."


Ariq mengangkat kepala menatap wajah Nayla dengan raut kecewa.


"Kau benar menstruasi?"


Nayla menahan senyum, lalu ia mengangguk. Terdengar suara napas berat dari suaminya, setelah cukup lama saling memandang akhirnya Ariq menyingkir membiarkan Nayla bebas dari tubuhnya yang besar.


Nayla ingin beranjak dari ranjang namun Ariq menahannya.


"Mau kemana?"


"Aku akan ke kamar mandi sebentar."


"Mau apa?"


Nayla menghembuskan napas kasar.


"Huh, sayang aku ingin pipis."


Nayla melepaskan tangan Ariq.

__ADS_1


"Ikut."


"Mas Ariq, jangan bercanda. Aku hanya sebentar."


Nayla melepaskan suaminya lalu berlari masuk ke kamar mandi. Ariq melihatnya cukup kesal, entahlah pria itu sungguh kecewa malam ini.


Ariq berbaring telentang, satu tangan ia gunakan menopang kepala. Sesekali ia melirik pada kejantanannya yang bahkan tidak ingin melemas, masih saja betah berdiri dengan tegang. Sungguh sesak rasanya.


Ia menahan hasrat bercinta hanya untuk menunggu malam ini, ingin menikmati rasa itu di hari spesial istrinya serta hari istimewa kepindahan mereka ke rumah baru. Sedikit konyol tapi inilah akhirnya ia kecewa dan menyesal juga.


Di dalam kamar mandi.


Nayla membersihkan diri, lalu ia memakai sebuah lingerie seksi yang telah disiapkan Dewi yang semula telah ditaruh di kamar mandi, lingerie pemberian Oma.


Nayla berdecak kagum, sungguh Oma Rika pandai memilih model yang juga disukai oleh perempuan ini.


Dadanya gugup, tidak memungkiri Nayla juga berhasrat pada suaminya, perasaan mendamba bahkan telah lama sejak menikah.


Kini, malam ini ia pikir akan menyerahkan diri sepenuhnya meski dipoles drama balas dendam sederhana untuk mengerjai suaminya.


Lingerie berbahan sutra itu menyatu sempurna dengan tubuh indahnya, di sana juga terdapat parfum yang juga disiapkan Oma. Wangi yang lembut, Nayla sangat suka.


"Oma memang yang terbaik, semuanya sempurna," gumam Nayla memperhatikan dirinya di cermin.


Setelah merasa siap, ia pun keluar.


Ariq menatapnya heran sekaligus kesal, ia menyambut tangan Nayla yang mengulur padanya yang telah mendudukkan diri di kepala ranjang.


"Sayang, kau?" Ariq tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya saat Nayla tersenyum lalu duduk di pangkuan suaminya dengan gerakan menggoda.


Perempuan itu duduk dengan posisi menghadap sempurna hingga Nayla merasakan kejantanan suaminya di bawah sana.


"Aku memang menstruasi, tapi itu sudah berakhir minggu lalu."

__ADS_1


"Benarkah?" Ariq berbinar, tangannya sudah melingkari pinggang Nayla.


"Aku hanya mengerjaimu saja, tubuh ini milikmu sayang...... Aku siap kau nikmati malam ini. Akupun sama menginginkan mu dalam hasrat yang sama, aku mendambakan malam ini bahkan sejak kita menikah."


Nayla berkata lembut seolah berbisik manja, gelanyar hasrat yang kian membara saat Ariq memainkan tangannya mengelus lembut punggung Nayla yang terbuka menampilkan kulit mulus yang sempurna.


Ariq tidak bisa berkata-kata lagi, ia hanya bisa tersenyum puas dalam hati. Meski kesal diawal namun ia mengakui Nayla mampu membuatnya gila malam ini.


"Aku menginginkan mu sekarang juga," balas Ariq yang semakin pening kepala bawahnya oleh gesekan menggoda dari perempuan yang menindihnya saat ini.


"Kau bebas melakukan apapun," jawab Nayla lirih, napasnya kian menderu seiring buah dadanya yang naik turun.


Nayla merekahkan mulut pria itu dibawah mulutnya, mulai bermain lidah meski ini bukan yang pertama bagi mereka. Namun entah kenapa gelanyar perasaan itu kian memuncak, sentuhan-sentuhan tangan Ariq pada punggungnya kian terasa geli. Kulitnya tiba-tiba menjadi peka malam ini, setiap sentuhan terasa berarti.


Ia memejamkan mata saat mulutnya terbuka membiarkan Ariq masuk mengabsen seluruh isinya, bibir pria itu lembut bak sutra, napasnya sehangat mentari pagi, lidah suaminya terasa lezat menggoda Nayla. Bermain dengan mulut dan lidah suaminya yang juga mendamba.


Tangan Nayla kian mencengkram rambut Ariq yang kian liar mencicipi rasa demi rasa dari lidahnya.


Dadanya kian naik turun seiring deru napas yang seolah meminta lebih, benar saja pria itu melepaskan tautan bibir lalu beralih pada leher jenjang Nayla yang siap untuk dinikmati selanjutnya.


Nayla mengerang, melenguh karena gelanyar nikmat yang tercipta, suaminya pandai bermain lidah mengukur lehernya yang putih mulus tanpa cela.


Tangan Nayla mulai naik turun mengelus lembut punggung suaminya yang telah telanjang, usapan-usapan yang memberi kenikmatan pada pria itu. Nayla ingin menikmati Ariq tanpa celah, seluruhnya ia ingin memiliki apa yang ia damba selama ini.


Setelah meninggalkan beberapa bekas merah pada leher manis itu, kini Ariq mulai menyentuh lebih pada hal yang memang telah menjadi haknya.


Tangan kekarnya yang semula melingkari punggung dan pinggang istrinya kini beralih ke depan, mulai memainkan dada yang telah ia genggam dengan dua tangannya.


Ia menyingkap bahkan telah membuka balutan sutra yang dipakai Nayla dari arah bawah, hingga tubuh dan dada sempurna menyembul dengan indahnya membuat matanya kian lapar tidak sabar.


Tangannya meluncur begitu saja.


(Adegan detail disensor, jika tetap keukeh ayo dilanjut di komen aja, potongan bab akan ada di sana, karena bab ini sudah ditolak berkali-kali. Wkwkwkwk)

__ADS_1


****


__ADS_2