
Nenek Dijah tidak juga membaik meski oksigen sudah terpasang, Aish tampak frustasi saat neneknya tidak mau dibawa ke rumah sakit.
"Ini akan memakan waktu yang lama, Aish.... Nenek berpesan satu hal padamu," ucap Nenek Dijah tersengal dalam napasnya, meski bicaranya pelo namun Aishwa mendengarnya dengan jelas.
Aishwa berkali-kali menggeleng dalam tangisnya, seolah ia tahu apa yang akan ia hadapi sekarang.
Aishwa tidak melonggarkan genggaman tangannya pada tangan tua neneknya yang sudah sangat dingin.
"Aku mohon Nek, kita akan ke rumah sakit!" seru Aish lagi.
Ken melihat semuanya, Aishwa benar-benar menghadapi sebuah takdir yang sedih hari ini. Ken dan Ratih melihat bahwa Aishwa telah mengantarkan neneknya menemui ajal.
Sambil tergugu Aishwa membetulkan baring Nenek Dijah, melipat tangan ke perut dan menutup dengan selimut hingga ke kepala.
Beberapa saat lalu neneknya meninggalkan sebuah pesan yang mendalam pada Aish, entah apa itu hanya mereka yang tahu.
Aish berdiri meminta Ratih mengabarkan berita duka ini pada warga dan sanak saudara jauhnya di sana. Ia melirik Ken yang ternyata sudah ada sejak tadi.
"Aku turut berduka Aish," ucap Ken kehilangan kata-kata saat melihat mata Aish yang masih basah, entah kenapa pemandangan itu membuat dadanya cukup sulit bernapas.
Aishwa mengangguk.
Tidak ada percakapan apapun antara Ken dan Aishwa sampai warga dan saudara jauh nenek Dijah datang melayat.
Semua dipersiapkan warga kampung hingga ke pemakaman, Ken salut melihat kompaknya semua warga tampak membantu saat ada kemalangan.
Semua urusan bisa selesai tanpa Aishwa bersusah payah mengurus sendiri, gotong royong warga lagi-lagi membuat Ken kagum. Terlebih Aish adalah dokter andalan di kampung ini hingga tidak heran semua warga datang melayat demi menghormati Aish.
Ken bertemu Doni, temannya itu sudah menunggu lama di rumah Ali.
"Ken," lirih Doni seolah memastikan apa yang sahabatnya katakan beberapa saat lalu.
Ken mengangguk, "Iya, aku akan di sini untuk beberapa hari lagi. Jadi pulanglah, aku akan menghubungimu nanti."
Entah mengapa Ken tidak bisa meninggalkan Aish dalam keadaan berkabung seperti ini.
Doni hanya bisa terheran pada sahabatnya itu, tidak ia pungkiri Ken tampak betah di kampung itu karena satu alasan, yaitu seorang dokter cantik yang telah menolongnya tempo hari kini tengah ditimpa kemalangan.
Sampai pada hari ketujuh kepergian Nenek Dijah, Ken yang hendak menemui Aish menjadi berhenti saat melihat perempuan itu sedang mengobrol dengan beberapa orang di halaman rumah Aish.
Ken penasaran dibuat reaksi tidak terduga dari perempuan yang ia ketahui sudah menjadi janda diam-diam itu. Aish tampak terkejut lalu menangis didampingi Ratih.
__ADS_1
Ken mendekat setelah dua orang itu pergi dari sana.
"Aish?" panggil Ken saat mendekati perempuan yang tengah terduduk lesu di bangku teras itu.
Ratih menoleh namun Aish tidak, ia hanya memasang wajah murung nan sedih.
"Tuan Ken," sapa Ratih sopan.
Ken mengangguk, "Ada apa Ratih? Siapa mereka dan kenapa Aish menangis?" tanya Ken tidak sabar.
Ratih menoleh pada Aishwa yang berusaha tegar.
"Tuan Ken ingin masuk? Aku buatkan teh mau?" tawar Ratih mengelak pertanyaan pria itu.
Ken melirik lagi Aishwa. Perempuan itu segera berdiri.
"Tuan Ken masih di sini rupanya, aku kira kau sudah pulang. Maafkan aku, ayo masuklah," ucap Aish berbasa basi dengan sopan.
Ken mengangguk, ia dipersilakan masuk oleh Aish.
Namun belum juga mencapai kursi tamu Ken melihat raut lain dari Aish, perempuan itu memijat keningnya lalu terhuyung seperti ingin terjatuh jika tidak Ken yang menahan tubuhnya yang limbung.
"Aish kau kenapa?" tanya Ken seraya membantu Aishwa duduk di kursi.
"Maafkan aku, terimakasih!" ucap Aishwa membetulkan duduknya.
Ratih datang membawa air putih pada Aish, perempuan itu segera meminumnya hingga habis.
Menarik napas panjang Aish menatap Ken.
"Maaf Tuan Ken, ada apa kau kemari?"
Pertanyaan itu membuat Ken tidak suka.
"Aku kemari untuk melihat keadaan mu," balas Ken.
"Aku baik-baik saja," jawab Aish pelan.
"Aishwa, ada apa? Apa kau sedang ada masalah?" tanya Ken peduli.
Ratih ikut duduk.
__ADS_1
"Aish hanya terkejut, Almarhum Nenek Dijah ternyata punya banyak hutang," cetus Ratih polos.
"Orang yang datang tadi memberitahu bahwa jika rumah ini sebagai pelunas hutang itu. Mereka mau rumah ini!" sambung Ratih lagi dengan raut kesalnya.
"Apa?" Ken terkejut bukan main.
"Maafkan aku, tidak seharusnya kau tahu urusan ini," tukas Aish menatap Ken.
Pria itu menghembus napas kasar. "Aish, jangan sungkan, mana tahu aku bisa membantu, seperti kau yang sudah menyelamatkan ku hingga kemari."
"Ini urusan keluarga dan sangat pribadi Tuan Ken, pulanglah!" elak Aish.
Ken justru meraih tangan Aishwa.
"Aish, aku serius jika kau mau aku bisa membantu mu. Katakan berapa kau butuh uang untuk hutang itu?"
Aishwa tersenyum, ia melepaskan tangan Ken dari jemarinya.
"Terimakasih banyak Tuan Ken, aku tidak mau berhutang kembali demi melunasi hutang yang ini, biarlah mungkin memang jalannya seperti ini. Rumah ini adalah pelunas hutang Nenek ku, dan tentu aku tidak ingin Almarhumah menjadi tidak tenang karena hal ini, hutang tentu harus dilunasi," jawab Aishwa.
Ken menjadi terdiam, ia semakin penasaran dengan sosok perempuan yang berada di hadapannya ini. Mengapa perempuan itu sungguh berbeda pikir Ken, Aishwa tidak mau dibantu padahal perkara mudah jika menyangkut uang bagi Ken.
Aishwa berdiri lalu pamit ke kamarnya dengan alasan untuk beristirahat. Ken pulang dengan rasa kecewa padahal ia ingin bicara lebih banyak dengan Aish hanya untuk menghibur lara yang dialami perempuan itu sekarang.
Ken mendapat telepon dari orang tuanya yang menangis karena pria itu tidak pulang-pulang meski Doni sudah menjemput ke desa itu. Ken mengerti akan kekhawatiran ayah bundanya setelah mengetahui keadaannya setelah Doni memberitahu.
Jika sudah mendengar sang bunda menangis Ken tidak bisa menolak meski ia masih ingin tinggal di sana dalam beberapa hari setidaknya sampai ia bisa membantu Aishwa yang baru saja mendapatkan masalah baru.
Esok harinya.
Aldi menahan airmata saat Ken memberinya satu amplop berisi uang yang banyak di hadapan Doni dan Ali.
Hari ini Doni kembali menjemputnya ke kampung itu.
"Tuan Ken," lirih Aldi terharu.
"Sudah ku katakan, kau tidak akan kekurangan apapun setelah ini. Pakai uang ini untuk modal usaha, hubungi orang tua kalian untuk segera pulang kemari! Kalian masih anak-anak, butuh orangtua yang mendampingi pertumbuhan terutama Ali," ucap Ken sambil mengusap kepala Ali.
"Aku masih berharap kau bisa melanjutkan sekolah tinggi Aldi, tapi jika kau tidak mau setidaknya pakai uang ini untuk membuat usaha yang bisa menghidupi kau dan keluarga mu nanti, jangan jadi kuli panggul lagi!"
Aldi mengangguk saja tanpa membantah. Ken mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi Ali.
__ADS_1
"Dan kau anak nakal tapi cengeng, belajar yang rajin oke! Jangan sampai putus sekolah, urusan biaya, kau hanya tinggal menghubungi ku nanti," ucap Ken mengusap kepala Ali dengan sayang.
Cukup lama Ken berterimakasih untuk beberapa minggu ia tinggal di rumah Ali dan kakaknya itu, pria ini meninggalkan banyak uang untuk modal Aldi dan keluarganya sebagai rasa terimakasih Ken telah mendapatkan tempat tinggal dan dijamu dengan baik di sana.