
Ariq memarkirkan mobil di depan restoran mertuanya, ia keluar dengan tergesa-gesa lalu langkahnya terhenti saat menoleh seorang perempuan berjilbab abu-abu tampak membuang sampah di pintu samping restoran dengan posisi membelakanginya.
Entah karena terlalu gusar atau memang sedang kurang fokus hingga Ariq langsung berlari ke arah gadis itu karena mengira Nayla.
"Sayang, syukurlah kau ada di sini," ucap Ariq menarik lengan perempuan itu lalu memeluknya tanpa memperhatikan dengan jelas.
Gadis itu tertejut, namun tidak menolak saat tahu bahwa yang memeluknya adalah pria tampan saat ia mendongak menatap wajah Ariq yang memejamkan matanya.
"Mas ini siapa?"
Mendengar pertanyaan serta suara lain yang diyakini bukan suara istrinya membuat Ariq terperanjat, ia melepaskan gadis itu sambil mundur beberapa langkah.
"Siapa kau?" teriaknya kaget.
Gadis itu baru melihat dengan jelas dengan siapa ia berhadapan, ia segera menunduk takut saat tahu pria ini adalah suami dari Nayla anak dari bos restoran.
"Mas Ariq rupanya, apa mas Ariq sedang mencari nona Nayla?" ucap gadis yang bernama Ely itu.
"Ah sial, kau bukan istriku! Awas jika kau memelukku lagi!" seru Ariq lagi sambil berlalu pergi dari sana meninggalkan gadis yang mematung yang juga cukup terkejut itu.
"Bukankah dia yang memelukku lebih dulu?" gumam gadis yang ternyata adalah karyawan restoran ayah Faisal. Ely hanya bisa menggeleng pelan, lalu wajahnya merah menahan geli dan malu sendiri.
"Mimpi apa aku semalam dipeluk mas Ariq tiba-tiba hari ini? Ah, dia lucu sekali."
Ely segera menepuk mulutnya saat menyadari ucapan yang tidak pantas ia keluarkan.
Ariq berlari lagi masuk ke restoran, kebetulan belum terlalu ramai pelanggan hingga ia leluasa masuk mencari mertuanya.
"Ayah!" panggil Ariq pada mertuanya dengan napas terengah-engah.
Ayah Faisal tentu mengerutkan dahi melihat wajah Ariq yang tampak tidak baik-baik saja.
"Ariq, kau kemari ada apa?" tanya ayah Faisal seraya mengulurkan tangan saat Ariq menyalaminya.
"Mana istriku? Aku mohon, ini hanya salah paham ayah, tidak seperti yang Nayla kira."
Ayah Faisal bertambah bingung, disusul ibu Rena yang langsung menghampiri saat tahu Ariq kemari.
"Ariq, kau kemari?" basa basi ibu Rena dengan senyumnya.
Ariq langsung menyalami lagi ibu Rena dengan wajah sulit dimengerti, ia terlihat bingung.
"Aku mencari Nayla bu, apa dia kemari?"
Belum juga ibu Rena menjawab, ayah Faisal bertanya lagi.
"Ariq ada apa ini? Kau terlihat sesak, ayo tenanglah kau bisa bicara baik-baik. Kenapa kau seperti ini, ada apa?"
"Aku bahkan sangat sulit bernapas sekarang, aku mohon kembalikan Nayla padaku, ayah tahu aku mencintainya bukan? Ini hanya salah paham, percayalah aku tidak menyakitinya ayah, ibu ayolah suruh istriku keluar aku akan membawanya pulang," ucap Ariq dengan nada rendah, pria itu tampak lesu.
Ariq tampak bicara dengan wajah memelas, matanya berkaca-kaca. Membuat ibu Rena dan ayah Faisal saling menatap satu sama lain dalam keheranan yang sama.
"Ariq, bicaralah yang jelas ada apa? Kau bertengkar dengan istrimu?" desak ayah mertuanya lagi.
Membuat Ariq mengusap wajahnya dengan kasar, ia sibuk melihat kesana kemari mencari keberadaan Nayla.
"Nayla tidak ada di sini, dia baru saja pergi," akhirnya ibu Rena bersuara.
Ariq menghembus napas kasar.
"Pergi?"
Ibu Rena mengangguk polos.
"Ya Allah.... Dia benar-benar pergi," gumam Ariq frustasi.
"Mungkin sedang menunggu bis di halte, Nayla mengatakan dia akan naik bis daripada membawa mobil, dia akan pergi ke...." cetus ibu Rena lagi namun segera dipotong oleh menantunya itu.
"Benarkah? Halte yang tidak jauh dari sini?"
Ibu Rena mengangguk lagi.
"Aku akan pergi sekarang, aku harus menyusul istriku," jawab Ariq lalu melihat ayah mertuanya, "Aku harap ayah dan ibu percaya padaku, aku sama sekali tidak menyakitinya. Ini hanya salah paham. Benar-benar diluar dugaan."
Ayah Faisal bingung ingin menjawab apa. Ariq segera pergi dari sana dengan tergesa-gesa pula.
Meninggalkan dua orang mertuanya itu dalam kebingungan luar biasa.
"Apa mereka bertengkar?" tanya ibu Rena.
"Aku juga bingung, bukankah Nayla terlihat biasa saja hari ini, atau Nayla ada cerita padamu?"
Ibu Rena menggeleng.
"Tidak, Nayla tidak mengatakan apa-apa, dia tampak baik-baik saja. Apa karena Nayla tidak ingin kita tahu, hingga dia memilih diam dan memendam sendiri masalahnya? Jika tidak bertengkar tidak mungkin Ariq sekacau ini bukan?"
Ayah Faisal mengangguk lagi, ia berpikir keras karena hal ini. Hatinya menjadi cemas, ada apa dengan rumah tangga putrinya yang baru 14 hari menikah.
"Hei, jangan seperti ini. Yakinlah mereka akan baik-baik saja, kita bisa tanyakan itu nanti. Hanya saja aku bingung, jika sudah seperti ini lalu bagaimana dengan acara nanti malam?" ucap ibu Rena ikut bingung sendiri, ia menggenggam tangan suaminya menguatkan.
Ariq mengemudi kencang menuju halte, namun sudah tidak ada siapa-siapa di sana, sepertinya bis sudah pergi dari tadi, ia memukul stir mobilnya dengan kesal.
Perasaan yang tidak menentu membuatnya buntu untuk berpikir, ia hanya melajukan kendaraannya terus ke arah jurusan yang biasa dilalui oleh bis itu.
Sudah beberapa kilometer namun tidak menemukan bis yang ia harap istrinya ada di sana.
__ADS_1
Ariq mengemudi lebih kencang lagi, benar saja pandangannya mulai menangkap sebuah bis yang sedang melaju dengan kecepatan sedang, entah ada atau tidak Nayla di sana yang pasti lelaki ini berniat mengejar bis agar ia bisa memastikan istrinya di sana.
Bis berhenti di depan, Ariq tidak berpikir panjang ia melajukan lagi mobilnya dengan kecepatan lebih tinggi agar bisa menyusul bis yang berhenti itu.
"Kita akan pulang Nayla, tidak semudah itu kau kabur dariku! Tidak mudah menyiapkan ini semua," gumam Alif dengan dada yang terasa penuh, sesak bukan main.
Matanya membesar saat ia meyakini bahwa sosok perempuan yang baru keluar dari bis menuntun seorang nenek dan seorang anak kecil adalah istrinya, setelah membantu nenek dan anak kecil itu turun, Nayla kembali menaiki bis tanpa menoleh kearah manapun.
Namun bis belum berjalan karena sang sopir ikut menurunkan barang-barang milik nenek itu.
Membuat Ariq menelan ludah, ia kehilangan fokus saat matanya tidak beralih dari bis dan hatinya berharap bis tidak segera berjalan sebelum ia menyusul ke sana.
Namun diluar dugaan Ariq malah harus menginjak rem secara mendadak.
Ciiiiiiiiiiiiit. Beruntung Ariq memakai sedang memakai sabuk pengaman.
"Astaghfirullah," ucap Ariq terkejut setengah mati, ia segera keluar mobil saat menyadari ada seseorang yang hampir ia tabrak.
Ariq melihat pria terjatuh di samping sebuah gerobak yang memuat barang-barang bekas, ia pikir dari penampilan pria itu sepertinya ia hampir menabrak seorang pemulung, namun telah menabrak gerobaknya saja.
Seorang pria tampak belum terlalu tua yang hampir ia tabrak itu berdiri dari jatuhnya, ia tampak marah karena gerobak yang ia bawa tadi terbalik hingga barang-barang bekas itu terbuyar ke jalan.
"Apa kau baik-baik saja? Maafkan aku, aku benar-benar terburu. Aku minta maaf, akan ku ganti rugi semuanya, apa kau terluka?" tanya Ariq mau tidak mau membagi fokus perhatiannya dari bis.
"Tidak, bukan masalah terluka atau tidak. Orang kaya seperti mu selalu saja ingin membeli semuanya dengan uang agar semua urusan menjadi beres."
"Kalau mau mengebut di sirkuit bukan jalan raya, tidak lihat apa aku dan gerobak sebesar ini hingga ditabrak juga?"
Orang itu tampak marah dan kesal sambil melirik barang-barangnya.
"Aku sudah minta maaf, bukankah aku tidak jadi menabrakmu? Aku ada urusan lebih penting dari semua ini, kau minta berapapun akan ku ganti, minggirlah beri aku lewat. Tunggu akan ku ambilkan dompetku!"
"Cih..... Kau pikir bisa pergi begitu saja? Selain kau harus membayar semua ini, kau juga harus membantu ku membereskan semuanya agar tidak menghalangi jalan pengendara lain," cegah pria itu menahan bahu Ariq yang ingin kembali ke mobil berniat mengambilkan uang.
"Tidak bisa, mengertilah. Aku harus pergi sekarang. Kau ku ganti rugi saja, tapi aku tidak bisa membantu membereskan semua ini."
"Jika begitu kau harus ganti berkali-kali lipat, jangan hanya sombong saja, ayo tunjukkan jika kau memang kaya dan banyak uang, bisakah kau mengganti semua kerugian ku ini dengan uang yang banyak!"
Ariq sudah kehilangan akal, ia menoleh pada bis yang mulai berjalan. Ia merutuk dalam hati atas sikap pria di hadapannya sekarang, yang seolah mengambil kesempatan dalam insiden yang hanya membuat pria itu terjatuh saja tanpa luka apapun.
"Bagaimana? Jika tidak mau, aku tidak akan memberimu jalan." Pria itu menghadang tubuh Ariq.
"Ck..... Kau memerasku rupanya," kata Ariq seraya menoleh ke depan dan mulai menyadari bis sudah semakin menjauh.
"Ah sial, kita terlalu lama berbasa basi. Kau boleh ambil mobilku sebagai gantinya. Minggirlah, kau benar-benar membuatku kesal."
Ariq berteriak marah pada pria tadi lalu mendorong tubuh sang pria tanpa berpikir panjang lagi, pria itu terhuyung ke samping dan cukup terkejut.
"Apa? Mobil?" pria itu menoleh ke arah mobil mewah milik Ariq, mobil yang berharga milyaran rupiah itu ditunjuk sebagai ganti rugi.
"Kau boleh ambil pria sialan," umpat Ariq mengerling kesal lalu mulai fokus lagi pada bis yang telah berjalan namun belum terlalu jauh.
"Nayla...... Nayla....." teriak Ariq memanggil istrinya sambil berlari mengejar bis dan meninggalkan pria tadi yang kebingungan sendiri.
Baru juga beberapa langkah berlari ada sebuah sepeda motor yang oleng mengarah padanya, hingga insiden tabrakan pun tidak terhindarkan
"Aaaaaa....." teriak sang pengendara motor yang merupakan seorang wanita.
Ariq terpental beberapa meter karena ia ditabrak saat berlari, meski tidak ngebut motor itu pun jatuh beserta pengendaranya.
Ariq terguling beberapa kali, keningnya tampak terluka dan mulai berdarah. Ia tidak merasakan apapun, ia bahkan tidak peduli pada pengendara motor.
"Ah, ini benar-benar sial," desis Ariq kesal sambil mencoba berdiri.
Ia bangkit dan berlari lagi seperti orang gila mengejar bis yang sudah semakin jauh.
"Nayla, Nayla......." teriaknya lagi dengan kecepatan lari yang meningkat.
Tidak ada jawaban.
"Naylaaaaaaa."
Berlari dan terus berlari hingga bis itu tampak berjalan pelan karena sang sopir sedang menelepon.
"Apa dia sedang mengejar bis ini?" gumam salah satu penumpang kebetulan duduk di samping Nayla. Perempuan itu tidak sengaja melihat ke belakang.
Nayla semula tidak peduli, ia sedang fokus melihat pemandangan pohon pelindung pinggir jalan yang memberikan angin segar di wajahnya yang menghadap jendela yang sengaja ia buka.
"Pak berhenti, sepertinya ada pria yang mengejar bis ini," teriak salah satu penumpang lain yang melihat Ariq benar-benar berlari mengejar mereka.
Nayla akhirnya menoleh saat semua penumpang sudah heboh oleh lelaki yang mengejar mereka dengan kening yang berdarah.
"Mas Ariq?" gumam Nayla.
Lalu ia berdiri keluar dari bangku dan menajamkan lagi penglihatannya. Benar pria itu adalah suaminya.
"Pak berhenti, aku mohon berhenti sekarang!" teriak Nayla pada sopir.
Dan bis berhenti mendadak.
"Maafkan aku, aku harus turun di sini saja," ucap Nayla pada sopir dan membayar ongkosnya.
Ia turun dan berlari menghampiri Ariq yang sudah mulai kelelahan, pria itu berjarak beberapa puluh meter darinya.
"Mas Ariq!" teriak Nayla, gadis ini cemas saat melihat suaminya yang tampak kacau sekali.
__ADS_1
Dengan napas terengah-engah, Ariq memeluk Nayla dengan erat.
"Sayang, jangan tinggalkan aku."
"Mas Ariq ada apa? Kenapa kau mengejar kami?" tanya Nayla penasaran, ia melepaskan pelukan lalu melihat wajah berkeringat bercampur darah yang mengalir dari kening suaminya.
"Nay, aku mohon! Maafkan aku atas semuanya, percayalah aku tidak berniat menyakitimu, aku bahkan sedang menyiapkan semua keperluan untuk masa depan kita. Sayang ayo pulang!" rengek pria yang tiba-tiba membuat Nayla bingung sekarang.
Ariq memeluk Nayla lagi.
"Mas Ariq aku tidak mengerti, kau ini bicara apa? Lihatlah kau terluka, ayo bicara baik-baik jangan membuatku takut!" Nayla mengusap keringat suaminya dengan tatapan cemas.
"Kenapa kau mengejar bis ini? Apa terjadi sesuatu padamu?" Nayla menunggu jawaban dengan hati yang gusar.
"Jangan tinggalkan aku, kau boleh marah setelah ini. Percayalah semua tidak seperti yang kau pikirkan sayang..... Aku mohon, ayo kita pulang."
"Mas Ariq, jelaskan padaku! Kau kenapa? Apa maksud dari perkataan mu ini? Aku sama sekali tidak mengerti, kau mengejar ku sampai kemari, lihatlah pakaian mu kotor, kau juga terluka. Kau membuatku takut."
Nayla meneteskan air mata melihat suaminya dengan kondisi menyedihkan dan sekacau ini. Nayla mengelap keringat Ariq yang mengalir dari kepala.
"Kenapa kau kabur dari rumah? Kau boleh marah, tapi jangan pergi Nayla..... Aku mohon, aku bisa gila, kau meninggalkanku disaat semuanya sudah siap, aku menahan semua hasratku untuk malam nanti, aku ingin semuanya berjalan sempurna tapi kau.... Kau malah kabur dari rumah, bagaimana aku tidak gila Nayla."
Ariq merengek dan memelas lagi memohon Nayla memaafkannya dan mau kembali pulang. Ia sangat takut Nayla pergi jauh hingga naik bis seperti sekarang.
"Apa? Kabur?" Nayla terkejut.
"Apa maksudmu mas Ariq?"
"Kau kabur dan meninggalkan rumah Oma, membawa barang dan pakaian. Jangan seperti ini sayang, aku mohon ayo kita pulang. Mana barangmu?"
"Beruntung kau tidak jauh, aku merasa Tuhan masih sayang padaku hingga bisa mengejarmu hingga kemari dan tidak sampai kau pergi jauh."
"Mas Ariq ayo tenangkan dirimu dulu, bernapaslah dengan pelan, aku naik bis kota bukan bis antar provinsi yang sekiranya bisa membawaku jauh keluar kota."
Ariq memeluknya lagi.
"Mas Ariq? Siapa yang bilang aku kabur?"
"Oma, kau bahkan meninggalkan ponselmu dan sebuah surat, apa itu aku benci isi surat itu."
"Surat?" Nayla bertambah bingung.
"Surat apa mas Ariq? Ya Allah.... Lama-lama aku yang akan gila sekarang, ada apa dengan mu? Aku tidak kabur, aku juga tidak menulis surat."
Ariq terdiam. Ia menatap Nayla serius.
"Sayang?"
"Mas Ariq dengarkan aku, aku rasa kau butuh minum. Kau kurang fokus, ayolah aku hanya ingin pergi berziarah ke makam ibu dan kak Juna menjelang Arinda dan Zandi pulang sekolah. Aku tidak kabur, aku juga tidak membawa barang seperti yang kau katakan. Sama sekali tidak, lelucon apa ini. Aku saja bingung."
"Benarkah?"
Nayla mengangguk.
"Sayang, katakan kau tidak pergi meninggalkan ku?"
"Meski aku memang sedang kecewa, tapi aku tidak meninggalkan mu, aku sama sekali tidak kabur...... Aku bukan wanita seperti itu, sedikit ada masalah langsung kabur, tidak mas Ariq, aku juga bingung kenapa ini terjadi?"
"Huh....." Terdengar napas panjang dari Ariq, ia memeluk Nayla lagi dan lagi.
"Apa Oma sedang mengerjaiku?" gumam Ariq di sela pelukan mereka.
Nayla menjadi heran.
"Baiklah lupakan, kita bisa tanyakan itu nanti," sahut Nayla lalu melepas lagi Ariq dan menatap wajah serta meraba luka di kening suaminya.
"Kau benar-benar membuatku takut, lihatlah kau terluka.... Mana mobilmu? Kenapa berlari? Kenapa keningmu bisa berdarah?"
"Mobilku aku berikan pada pria sialan itu."
"Pria sialan mana?"
"Itu tidak penting, yang penting kau sudah ku temukan, ayo kita pulang!"
"Ck, aku tidak hilang."
"Aku mencintaimu Nayla, jangan tinggalkan aku....... Kita akan memulai semuanya nanti malam, percaya padaku! Beri aku kesempatan menjelaskannya padamu nanti."
Arip memeluk Nayla lagi seakan takut jika perempuan itu akan pergi.
"Sepertinya kita memang harus pulang, kau terluka, juga sedang tidak fokus hingga bicara mu kacau. Lihatlah keningmu berdarah, aku rasa ini butuh jahitan."
Nayla meraba dan melihat lebih jelas luka di kening suaminya.
"Apa?"
Nayla mengangguk, "Ini luka robek mas Ariq, lihatlah darahnya keluar terus."
Ariq meraba keningnya, lalu melihat darah memenuhi tangannya yang bercampur keringat hingga terlihat darah berwarna merah yang banyak.
Seketika penglihatannya menjadi buram, kepalanya mendadak pusing, kakinya lemas dan selang beberapa detik Nayla berteriak saat mendapati suaminya limbung jatuh ke aspal belum sempat ia tahan.
Ariq pingsan, matanya terpejam tidak sadarkan diri.
"Mas Ariq?"
__ADS_1