Purnama Merindu

Purnama Merindu
Drama meja makan


__ADS_3

Nayla menatap suaminya yang sibuk dengan ponsel. Ia tidak banyak bicara setelah subuh ternyata Ariq menyuruhnya segera bersiap untuk pulang karena keluarganya menunggu untuk sarapan bersama.


"Sayang, kau sudah siap?"


Lamunan Nayla terbuyar saat Ariq meraih tangannya.


Nayla mengangguk dan tersenyum seraya menjawab, "Iya, aku sudah siap."


"Tidak ada yang telah tertinggal?"


Nayla hanya menggeleng tanpa menjawab.


"Ayo!" Ariq menarik tangan perempuan yang sudah sah menjadi istrinya itu dengan satu tangan, dan tangannya yang lain ia gunakan untuk membawa koper.


Baru masuk mobil, Nayla dibuat salah tingkah saat Ariq memasangkan sabuk pengaman untuknya, lelaki itu memperlakukan dirinya dengan baik.


Saat ia menoleh, bersamaan dengan sebuah kecupan mendarat di bibir tipis bertahi lalat di atas sudut kiri bibirnya. Ariq tersenyum setelah itu ia duduk sempurna di bangku kemudi, bersiap menjalankan mobilnya meski hari masih sangat pagi baru pukul enam lewat lima menit.


"Mas Ariq," panggil Nayla setelah mereka hening cukup lama.


"Hmmmm iya."


"Boleh aku bertanya?"


"Tentang apa?"


"Kau mencintaiku?"


Ariq menoleh lalu tersenyum, ia meraih tangan Nayla lalu mengecupnya dengan lembut.


"Jangan ragukan itu sayang."


"Tapi aku merasa kau sedikit aneh dan tidak biasanya bahkan ini ku rasakan sudah beberapa hari menjelang kita menikah."


"Itu hanya perasaanmu saja."


"Entahlah jawabanmu selalu meninggalkan tanda tanya lain, apa aku yang terlalu sensitif?"


"Bisa jadi," jawab Ariq enteng.


Nayla bertambah kesal dibuatnya.


"Ck..... Jawabanmu selalu tidak enak didengar."


"Jadi aku harus bagaimana?"


"Entahlah, kau seperti tidak sama dengan mas Ariq ku sebelum menikah."


Ariq terkekeh lagi dibuat ungkapan Nayla itu.


"Kau tertawa?"


"Itu hanya perasaanmu saja, aku mencintaimu sayang jangan ragukan itu!"


Kembali Ariq mencium tangan istrinya dengan gemas, ia menatap ke depan sambil terus fokus mengemudi.


Entahlah Nayla merasa dongkol sendiri sekarang.


"Mas Ariq," panggil Nayla lagi.


"Hmmmmm."


"Boleh aku bertanya lagi?"

__ADS_1


"Kau bebas ingin bertanya apapun sayang," jawab Ariq enteng lagi seraya menoleh pada Nayla sejenak.


"Apa kita akan tinggal di rumah Oma setelah ini?" tanya Nayla hati-hati, karena ia dan Ariq belum membicarakan kemana mereka setelah menikah.


"Hmmmm maafkan aku mas Ariq jika kau tersinggung atas pertanyaan ini, aku hanya perlu mengingatkan bahwa aku ada tanggungan empat anak-anakku nanti, tentu aku tidak bisa membawa serta mereka ke rumah Oma jika kita memang tinggal di sana dalam waktu lama."


"Untuk sementara kita akan di rumah Oma dulu, sampai semuanya siap baru kita akan pindah."


"Pindah kemana?"


"Kemana saja, apa kau keberatan pindah ke kontrakan misalnya?"


Nayla menggeleng, "Tentu tidak kenapa aku harus keberatan, aku menurut saja kemana kau membawaku nanti, yang ku pikirkan hanya Arinda dan adik-adiknya, itu saja."


"Kau tenang saja, tidak akan lama, aku janji."


"Untuk sementara waktu, Arinda dan adik-adiknya akan tinggal bersama ayah dan ibu Rena. Itu yang ayah katakan kemarin," ucap Nayla pelan.


"Oh aku bersyukur punya mertua yang pengertian," seloroh Ariq sambil tangannya mengelus pipi Nayla dengan lembut.


"Tapi aku tidak ingin merepotkan ibu Rena jika mereka lama di sana, maaf aku bukan mendesakmu setidaknya pahamilah kondisi ku yang memang menjadi ibu pengganti bagi mereka."


Nayla menunduk sedih, ia khawatir jika mereka akan tinggal lama di rumah Oma tentu anak-anaknya juga akan lebih lama merepotkan ayahnya dan ibu Rena selama Nayla tidak bisa membawa mereka ke rumah keluarga Ariq, dan Nayla tidak ingin merepotkan siapapun nantinya.


"Bersabarlah sebentar, tidak akan lama aku janji sayang. Percaya padaku, kita akan pindah jika semua sudah siap nantinya."


"Apa kau punya rumah lain?"


"Ck.... Apa kau meragukan kekayaanku?"


Ariq menatap Nayla.


"Aku hanya tahu kau pulang ke rumah kakek Imran selain rumah Oma, aku heran kenapa kau tidak punya rumah sendiri?"


"Untuk apa punya rumah jika tinggal sendiri," jawab Ariq tersenyum penuh arti.


"Iya, kau benar juga. Apa kita harus membeli rumah?"


Nayla menatap Ariq dengan kesal.


"Itu yang ku maksud," balas Nayla sambil menggigit bibir bawahnya.


"Asal kau tahu sayang, Oma tidak mengizinkan ku pergi dari rumah itu kecuali aku sudah menikah."


"Sekarang sudah menikah bukan?"


"Baru satu hari Nayla."


"Iya, kau benar. Baru satu hari. Baiklah maafkan aku," ucap Nayla menatap suaminya dengan manja.


Ariq mengusap puncak kepala Nayla dengan gemas.


"Kita akan pindah dan membawa anak-anak, tenang saja. Bersabarlah sebentar."


"Iya, aku akan sabar menunggu," balas Nayla dengan senyumnya yang menawan.


Nayla tersenyum bahagia, selama perjalanan pulang suaminya seperti sedia kala, sikap mesum dan posesif, Nayla merasa suaminya benar-benar seorang Ariq yang mencintainya seperti sebelum menikah.


Beberapa kali mobil mereka berhenti hanya untuk berciuman, juga selama perjalanan tidak pernah mereka hening, berdebat dan bergurau seperti Ariq yang biasanya. Nayla bahkan dengan mudahnya melupakan kekecewaan malam pertama yang sia-sia semalam.


Ia pikir mungkin saja suaminya memang lelah setelah resepsi, bukankah mereka bisa melakukannya kapan saja nanti, yang terpenting mereka sudah halal dan bebas kapanpun mau.


"Mas Ariq," lirih Nayla saat memasuki rumah Oma yang masih tampak sepi.

__ADS_1


Tangan Nayla berkeringat dalam genggaman suaminya.


"Apa kau gugup?"


Nayla mengangguk.


"Tenanglah, mereka tidak akan memakanmu."


Nayla tersenyum canggung, ia sungguh gugup menghadapi pagi ini. Sarapan perdana ia dan keluarga besar suaminya, tentu ia akan duduk berjejer dengan menantu-menantu idaman mertuanya nanti, belum lagi bibi Arina yang tidak menyukainya.


Menelan ludah ia ikut melangkah di samping Ariq yang terus menggenggam tangannya hingga Nayla menjadi tercengang saat semua mata tertuju padanya.


Pantas rumah itu tampak sepi, ternyata sudah berkumpul di meja makan. Semua hadir kecuali Annisa dan Vano. Nayla menatap kedua mertuanya duduk bersebelahan, bibi Arina dan suaminya, Oma Rika yang di dampingi pelayan, tentu ada pula Aziz dan istrinya, lalu Ammar dan istrinya pula. Lengkap dengan dua adik perempuan Ariq yang baru saja turun dari kamar mereka.


"Mas Ariq? Tidak ingin duduk?" tanya Fatimah adik perempuannya pada pasangan suami istri yang tengah mematung menghadap mereka.


"Ayo," ajak Ariq pada Nayla, ia membuka kursi untuk istrinya lalu Nayla duduk dengan senyum yang dipaksakan dalam kegugupan.


"Sayang, ayo jangan malu, mama mengerti perasaanmu karena ini perdana. Percayalah semua akan terbiasa nanti, jadi jangan sungkan oke..... Semua yang ada di sini adalah keluargamu," ucap mama Humairah tersenyum manis pada menantunya itu.


"Iya mama, maaf kami terlambat," sahut Nayla pelan.


"Tidak masalah, seharusnya kamilah yang meminta maaf mengganggu acara pengantin baru pagi-pagi sudah harus pulang kemari, itu karena Fatim dan Maryam akan pulang lebih dulu nanti sore, hingga kebersamaan kita ini tidak boleh terlewati begitu saja apalagi kau baru hadir di keluarga ini, mereka sangat jarang bisa berkumpul seperti ini Nayla, mama harap kau tidak marah sudah diajak pulang."


Nayla segera menggeleng, "Tidak ma, aku sama sekali tidak keberatan, aku senang bisa ikut sarapan bersama semua keluarga pagi ini," sahut Nayla mencoba tetap tersenyum.


Ia menatap sekeliling, hatinya menghangat semua tersenyum padanya kecuali bibi Arina yang seolah menghindar kontak mata dengannya.


Tampak suaminya saling bicara dengan Aziz dan Ammar.


"Selamat datang di keluarga Oma Nayla sayang, Oma harap kau betah dan mau berbaur dengan kami di sini. Semua menyambut mu dengan baik, tidak ada harapan yang baik selain kau dan Ariq akan berbahagia sayang."


Orang tua itu bicara menatap Nayla dengan penuh kasih, ia meraih tangan Nayla yang sengaja disuruh duduk di dekatnya, saling menggenggam.


"Terimakasih Oma, aku merasa sangat dihargai saat ini" Nayla menggenggam tangan Oma yang duduk di sisi kirinya.


"Sayang ini masakan mu?" tanya Alif pada Humairah.


"Iya, aku memasak pagi-pagi khusus untuk menyambut pengantin baru kita," jawab Humairah tersenyum bahagia.


"Baiklah nak, ayo kita mulai sarapan. Sepertinya Ariq membutuhkan banyak makanan untuk memulihkan tenaga sebab semalam," goda papa Alif dengan nada bercanda, semua tertawa, kecuali bibi Arina yang tampak memutar bola matanya dengan malas.


Nayla memerah pipinya karena malu. Ariq terkekeh, ia seakan sudah siap oleh godaan-godaan yang ia yakini akan didalangi papanya sendiri.


"Apa kau kesusahan memerawani seorang wanita hingga kau tidak berkutik sekarang sebab kehilangan tenaga? Ayolah boy jangan lesu, kau membuatku malu," goda Ammar pada kakaknya yang duduk kebetulan di sebelah Ariq berada.


Ammar bicara lancar selancar jalan tol, pada kenyataannya ia memanglah tidak tahu menahu soal Nayla dan masa lalunya, ia berniat menggoda pengantin baru itu hanya untuk bahan bercanda, namun siapa yang menyangka kata-kata yang baru keluar dari mulutnya itu membuat semua orang bungkam kecuali ia dan istrinya Clarissa juga dua adik perempuannya yang tidak tahu menahu soal Nayla dan latar belakang gadis itu sebelum menikah.


Ammar merasa aneh saat ini semua orang terdiam padahal ia ingin sekali tertawa. Adik Ariq yang satu ini memang terkenal dengan sifat frontalnya dalam berbicara, terkadang juga suka bercanda berlebihan.


Aqilla menatap Aziz dengan kesal, ingin sekali ia marah pada adik iparnya itu untuk menjaga ucapan. Ia menatap Nayla yang terus menunduk, jika bukan karena berjauhan duduk saat ini sudah ia peluk Nayla sekarang, Aqilla sudah menganggap Nayla seperti adiknya sendiri sejak bersahabat dengan Lia.


Dan Nayla, adalah orang yang paling tersinggung dalam hal ini. Beberapa detik lalu kebahagiaannya seakan runtuh oleh candaan yang keluar dari Ammar. Kata-kata seolah Ariq kesusahan menjebol keperawanannya semalam.


Airmatanya langsung saja jatuh tanpa permisi, beruntung Nayla menunduk hingga tidak terlihat jelas wajahnya yang memerah menahan tangis. Nayla tersinggung, sungguh tersinggung.


Pun Ariq, ia hanya bisa terdiam. Lalu beberapa saat kemudian ia raih lagi tangan istrinya, menggenggamnya erat di bawah meja seolah menenangkan.


"Ammar," tegur papa Alif dengan nada kesal.


"Baiklah maafkan aku," balas Ammar canggung.


"Nayla, Ariq, jangan diambil hati oke.... Ayo kita sarapan, jangan bercanda lagi. Jika sedang makan papa kalian tidak suka keributan, tentu masih ingat bukan?" kata mama Humairah menambahkan.

__ADS_1


Semuanya mengangguk, lalu mereka mulai makan namun diselimuti keheningan yang terasa menusuk ke jantung hati Nayla, ia merasa sangat ciut sekarang.


Mengingat pula Ariq tidak menyentuhnya sampai benar-benar bercinta semalam, membuat Nayla berpikir bisa saja karena hal itu, hal yang menjadi kekurangannya, hal yang menjadi noda yang tidak bisa ia ubah.


__ADS_2