
Ken pulang dengan wajah berbinar. Ia mengingat semua apa yang Aish lakukan beberapa saat lalu. Sungguh Aish menggunakan ilmunya dengan baik untuk menolong sesama.
Bunda Nayla menangkap raut tersenyum dan wajah cerah Ken saat pulang, membuatnya tertarik mendekati pria nomor dua dari kembar tiganya itu.
"Sepertinya putraku menyukai pertemuan tadi? Jika boleh Bunda tahu, apa itu kencan yang berkesan?" tanya Nayla yang menghampiri putranya ke dalam kamar.
Ken menatap sang ibunda dengan wajah berseri.
"Bunda benar-benar membuatku senang atas pertemuan itu, kencan yang berkesan bahkan lebih dari itu," jawab Ken memeluk Nayla dengan manja.
Nayla senang bukan main mendengarnya.
"Benarkah?"
Ken mengangguk.
"Ternyata menjodohkan seorang playboy itu mudah, tentu saja karena kau menyukai setiap wanita, asal cantik tentu saja kau mau. Huuh," terdengar Nayla mendengus kasar, ia tahu Ken pasti tidak akan menolak jika menyangkut wanita cantik.
Tentu saja kecantikan Indah dalam balutan busana muslimnya membuat Ken terpesona. Dokter itu cantik dan mudah bergaul, Nayla tahu mereka pasti mudah beradaptasi.
Mendengar itu Ken tersenyum lagi menatap Bundanya.
"Aku menyayangimu Bunda, kau selalu yang terbaik. Terimakasih sudah mengembalikan gairah hidupku karena pertemuan tadi."
"Ck, gairah hidup apa? Kau selalu bergairah jika menyangkut wanita, itu sudah biasa Ken. Bukan hal yang mengejutkan," ucap Nayla mengusap kepala Ken dengan gemas.
Pria itu menyengir.
"Baiklah, Bunda senang mendengarnya. Sekarang kau mandi, kita ada hal yang mau dibicarakan soal rencana pernikahan Al."
Ken mengangguk mengerti, Nayla berlalu dari sana, dari senyuman Ken yang kian terkembang karena bahagia luar biasa sudah menemukan Aishwa lewat Indah.
Di sisi yang berbeda. Aish baru menyadari barang belanjaannya tertinggal di mobil Ken. Perempuan ini mengambil napas panjang jika mengingat pria itu bertemu dengannya tadi.
Pertemuan mereka disela kencan pertama Ken dan Indah. Aish merasa tidak enak hati pada temannya itu jika mengingat Ken menyukainya.
Tidak memungkiri Aish pun menaruh perhatian yang cukup pada sosok pria yang cukup lama tersesat di kampungnya kala itu. Pria yang cukup berkesan di hati Aish saat ini meski Ken tahu kebenaran dirinya yang sudah menjadi seorang janda.
Namun Aish tidak mau menjadi penghalang bagi Indah dalam menemukan kebahagiaannya, Indah sahabatnya. Bagaimana jika ia tahu Ken menyukai Aish nanti, bagaimana reaksi Indah.
Apa sahabatnya itu bisa menerima atau tidak, Aish hanya takut Indah berubah padanya hanya soal lelaki.
Memikirkan pertemuan tadi membuat Aish pusing, terlebih mengingat bagaimana Ken menggenggam tangannya selama dalam mobil. Pria itu suka padanya, Aish tahu itu.
Perempuan itu meninggalkan rumah sakit setelah memberikan keterangan pada petugas IGD Rumah Sakit terdekat dari lokasi kecelakaan yang menerima korban untuk ditangani. Ia juga sudah memberikan kesaksian pada pihak berwajib atas kejadian naas itu.
Bajunya tampak kotor, ada beberapa bekas darah disana karena ia menolong korban tanpa alat pelindung. Setidaknya Aish lega, kedua korban selamat meski mendapat cedera yang serius.
Ia berjalan menuju jalan raya, ia merogoh tasnya memeriksa ponselnya mana tahu ada yang menghubunginya.
__ADS_1
Aish terlalu fokus pada ponselnya hingga ia tidak menyadari sudah berada di bahu jalan. Ia terus berjalan masih dengan ponselnya karena baru masuk sebuah pesan.
Aish membacanya sambil terus berjalan, ia lupa ia sedang di tepi jalan raya sekarang.
Saat Aish memasukkan ponselnya lagi ke tas, saat itu pula ia menyadari ada pengendara motor yang melaju cukup kencang, Aish terkejut lalu kelagapan ingin menghindar namun motor itu terlalu mengebut ke arahnya.
Aish memekik.
"Aaaaaaaa," teriak wanita itu ketakutan.
Namun secepat kilat pula seseorang menariknya dari sana hingga beruntung motor yang mengebut itu tidak sampai menabrak Aish.
Aish terjatuh bersama seorang pria yang menangkap tubuhnya menyelamatkan.
Tampak dan terdengar pula pengendara motor itu memaki dari jauh karena marah perempuan itu tidak berhati-hati di jalan besar seperti ini.
Aish memegang dadanya yang ketakutan. Sepersekian detik lalu nyawanya hampir bahaya karena kelalaiannya sendiri.
Sepersekian detik pula seseorang telah menyelamatkan Aishwa.
Pria itu membantu Aish berdiri. Aishwa menatapnya dengan terpana.
"Terimakasih, kau menyelamatkan ku," ucap Aish menunduk.
"Lain kali jangan main ponsel di tepi jalan, ini jalan lurus, semua pengendara agak mengemudi lebih cepat. Berhati-hati lah lain kali."
Suara berat pria bermata elang itu membuat Aish mengangguk tanpa membantah.
"Baiklah, sebaiknya tenangkan dirimu, kau hampir tertabrak aku mengerti kau pasti cemas. Aku ada minum, tunggulah sebentar."
Pria itu berlalu ke mobilnya, Aish hanya bisa menunggu dan melihat pria itu kembali dengan sebotol air mineral.
"Minumlah," ia memberinya pada Aish.
Lagi, Aish mengangguk. Perempuan itu segera meminumnya hingga setengah botol.
"Sepertinya kau haus!"
Aish tersenyum, ia berterima kasih lagi untuk sekian kalinya. Jika bukan karena pria itu mungkin dirinya sudah berada di IGD sekarang sebagai korban kecelakaan berikutnya.
"Kau mau kemana?" tanya pria itu membuyarkan lamunan Aish.
"Aku hendak pulang," jawab Aish polos.
"Karena aku sedang terburu, maaf aku tidak bisa mengantarmu. Berhati-hatilah lain kali, maaf aku pergi duluan."
Aish mengangguk dan berterima kasih lagi.
"Bukankah kita harus saling menolong, jadi santai saja."
__ADS_1
Aish mengangguk saja. Dan menyaksikan pria itu masuk mobil lalu menghilang berkendara bersama mobil-mobil lainnya.
Aish terduduk, ia masih merasa jantungnya berdegup lebih cepat. Ia takut sekali, takut akan kejadian tadi, hampir saja nyawanya melayang hanya karena tidak fokus di dijalan.
Aish meminum lagi air mineral pemberian pria tadi.
Aish suka menolong orang lain jika sedang kesulitan, jadi tidak heran pula ada orang yang membantunya pula. Jika berbuat baik maka akan kebaikan pula yang didapat.
Aish merasakan saat ini, bagaimana Tuhan membalas perlakuan baiknya pada sesama dengan orang yang baik pula mau menolongnya yang hampir kecelakaan.
Indahnya hidup tolong menolong.
Keesokan harinya, Ken turun dari kamarnya dengan penampilan sudah rapi.
Ia duduk di meja makan seperti biasa, sarapan bersama keluarganya. Ia menatap satu-satunya wanita di meja makan itu, sang ibunda.
Wanita yang melahirkan empat anak lelaki, tidak memiliki anak perempuan. Nayla menjadi satu-satunya wanita cantik diantara para pangeran tampan miliknya itu.
Ini perkumpulan yang lengkap, biasanya tidak seperti ini sejak mereka dewasa lebih memilih hidup mandiri di apartemen masing-masing.
Karena membahas rencana pernikahan Al si sulung dari 3 kembar itu membuat mereka berkumpul di rumah orang tua mereka.
Tampak kembar ketiga Aldric, pria tampan bermata elang yang menakutkan. Pria itu dingin, tidak banyak bicara apalagi bercanda seperti tiga saudaranya yang lain.
Aldric lebih pendiam dan malu. Bicara yang penting-penting saja. Namun siapa sangka, ia mantap ingin menikah, ia pun sudah mengenalkan calon istrinya pada Nayla dan Ariq.
Ia bukan pria setipe dengan Ken yang suka memberi harapan palsu pada banyak wanita, ia pria jujur dan apa adanya. Suka ia akan katakan suka, menikah maka ia akan menikah.
Sesimpel itu hidup Aldric. Bukan seperti Ken yang suka berpetualang di alam dan suka mengganti-ganti pacar selama ini. Ken memang yang paling nakal diantara mereka bertiga.
Hening, sarapan pagi dengan suasana tenang.
Sampai pada seorang pelayan Nayla panggil untuk mengambilkan sesuatu dari kulkas. Lalu ketika pelayan itu hendak memberikannya pada nyonya besar rumah itu Ken menatapnya tidak percaya.
"Ratih?" seru Ken hampir berteriak.
Ratih menoleh.
"Tuan Ken?"
Mereka sama-sama terkejut.
"Ken kau mengenal Ratih?" tanya Nayla heran diiringi tatapan dari saudaranya yang lain.
Bukan menjawab Ken malah berdiri dan memeluk Ratih kegirangan.
"Benarkah ini kau Ratih?"
Ratih kecanggungan luar biasa dipeluk tiba-tiba oleh Ken.
__ADS_1
"Ken?" panggil Nayla dan Ariq keheranan.