Purnama Merindu

Purnama Merindu
Akhir rencana perjodohan


__ADS_3

Senyum manis Rahayu ulas saat Ariq berjalan masuk ke kedai untuk menjemputnya.


"Aku kemari menjemput Rahayu, juga sekaligus meminta maaf pada paman dan bibi atas kelancangan ku tadi malam yang pergi tanpa pamit."


Ariq menyalami dua orang paruh baya itu dengan sopan. Lalu ekor matanya melirik pula Nayla yang berdiri di samping ayahnya dengan wajah canggung.


"Bukan hal yang besar nak, kami mengerti mungkin kau sedang ada urusan yang mendesak. Baiklah lupakan, sekarang ingin langsung berangkat atau mau minum dulu?" tawar ibu Rena.


"Tidak perlu bi, aku dan Rahayu langsung pergi saja. Ada banyak pekerjaan yang menunggu," tolak Ariq sungkan, ia tidak ingin berlama di sana karena enggan bertatap muka dengan Nayla yang tampak dingin.


"Ayo apa kau sudah siap?" tanya Ariq beralih pada Rahayu yang sejak tadi sibuk terkesima dengan lelaki itu.


"Bisa menunggu sebentar? Aku hendak ke toilet dulu."


Ariq mengangguk, Rahayu ke toilet.


"Nak Ariq bisa duduk dulu," tawar ayah Faisal lagi. Ibu Rena mengangguk.


Nayla yang kian canggung, meraih Zaza dari ibu Rena. Menggenggam tangan gadis kecil itu lalu menunduk membujuk Zaza agar mau pergi dengannya.


"Sayang, bunda lupa jika ada puding di dalam kulkas, kau mau?"


Zaza mengangguk, "Oke mari kita ke belakang," ucap Nayla seraya berlalu tanpa berbasa basi pada pria yang menatapnya kesal itu.


Ariq melihat punggung Nayla yang menjauh, matanya tidak berkedip, hatinya kian bergetar, ia merasa sesak oleh sikap Nayla yang dingin tidak menyapanya.


Lalu ia melihat Rahayu kembali dari toilet melewati Nayla yang akan ke dapur, mereka berdua tampak dingin pula.


"Aku pergi bu, ayah....." Rahayu menyalami kedua orang tua itu, disusul oleh Ariq juga yang ikut pamit.


"Ayo mas Ariq!" ujar Rahayu saat mendapati pria itu masih melirik ke arah belakang.


Ariq mengangguk.


"Berhati-hati di jalan sayang," seru ibu Rena pada putrinya.


Nayla hanya bisa menoleh dari balik dinding pembatas, ia mengakui bahwa Rahayu serasi dengan Ariq jika dilihat sepadannya mereka dalam balutan busana casual untuk ke kantor itu. Lalu ia melirik pula penampilannya yang hanya memakai apron.


"Aku senang kau menyukai Rahayu, mas Ariq."


Di dalam mobil.


"Mas Ariq," panggil Rahayu.


"Iya," jawab lelaki itu singkat tanpa menoleh, ia fokus mengemudi.


"Apa kau masih menginginkan Nayla?"


Ariq diam.


"Kenapa bertanya seperti itu?" tanya balik Ariq sambil geleng kepala.


"Aku hanya ingin tahu, tentang semalam aku pun merasa seperti mimpi kau bicara tentang Nayla."

__ADS_1


"Nayla adalah hidupku."


Deg. Sesak, kata-kata itu seolah masih menjadi belati tajam bagi Rahayu yang mendengarnya.


"Tidak bisakah kau juga memberiku kesempatan untuk itu?"


"Maaf Rahayu, hatiku cuma satu. Itu masalahnya," jawab Ariq santai.


Rahayu menarik napas dalam, ia tidak pernah merendahkan harga dirinya seperti ini apalagi untuk seorang lelaki. Namun Ariq berbeda, ia benar-benar jatuh cinta pada pria ini.


"Kenapa Nayla?"


"Entahlah, aku juga bingung kenapa dia begitu membuatku gila."


Rahayu tersenyum sungging.


"Iya, dia cantik dan baik namun...... " ucapan Rahayu menggantung saat Ariq memotongnya.


"Namun apa?" tanya pria itu.


"Apa kau tahu tentang masa lalu Nayla?"


Ariq mengangguk dengan enteng.


"Justru dia dan masa lalunya yang membuatku jatuh cinta berkali-kali padanya."


Rahayu memejamkan matanya mendengar pernyataan itu.


"Aku menyaksikan semuanya bahkan sejak dia terpuruk lalu bangkit, dan semuanya tidak mudah, seperti itu pula hatiku, tidak mudah jatuh cinta pada wanita lain, tapi bahkan jatuh berkali-kali pada Nayla. Gadis dingin yang membuatku terus penasaran, dia benar-benar berbeda."


Rahayu terdiam, ia cukup membenarkan dalam hati perkataan Ariq tersebut.


"Maafkan aku Rahayu, aku mencintai Nayla. Dia hidupku."


"Iya, aku mengerti, jangan diperjelas juga," rajuk Rahayu.


Ariq terkekeh.


"Lalu bagaimana dengan rencana perjodohan?" tanya gadis itu hati-hati.


"Aku sudah bicara pada orangtua ku, meski sedikit kecewa namun kembali lagi ini bukanlah sebuah pemaksaan. Dan aku memutuskan menolak rencana ini agar kau tidak terluka, maafkan aku Rahayu. Aku mencintai Nayla."


Rahayu berkaca-kaca saat ini, ia tahu harapannya lah yang pupus untuk mendapatkan jodoh seperti Ariq.


"Aku belum bicara pada ibuku, aku juga bingung menjelaskan bahwa kau rupanya telah punya Nayla, saudariku sendiri."


"Iya. Tapi masalahnya Nayla menolakku. Dia melepasku untuk tetap pada perjodohan kita. Dia terluka untuk kesekian kalinya, aku benar-benar jahat padanya."


Rahayu terdiam lagi.


"Benarkah? Nayla menolakmu?"


Ariq mengangguk.

__ADS_1


"Lalu bagaimana?" harap Rahayu seakan mendapat kesempatan meski terkesan jahat pada Nayla.


"Aku tetap menolak perjodohan ini, aku tidak ingin melukai mu Rahayu, kau gadis baik kau pantas bahagia bersama lelaki yang bisa mencintaimu kelak. Dan maaf sepertinya itu bukan aku. Kita bisa berteman bukan? Lagi pula kita bekerja sama sekarang."


Rahayu diam lagi.


"Lalu apa kau akan kembali pada Nayla?"


"Entahlah, dia membenciku saat ini. Semua rumit. Keluargaku masih belum bisa menerimanya."


"Lalu?"


"Aku hanya tidak ingin melibatkan mu yang tidak bersalah Rahayu, kita akhiri saja drama perjodohan ini agar aku tidak ikut jahat padamu, aku tidak ingin melukaimu."


"Aku mengerti."


"Jika jodoh mungkin kita akan dipertemukan lagi dalam suatu hubungan, kita tidak ada yang bisa menebak masa depan bukan?"


Rahayu cerah lagi. Ia tersenyum lalu mengangguk.


"Iya mas Ariq, aku masih berharap untuk kesempatan itu. Jika bisa aku ingin berjodoh denganmu."


"Entahlah, yang pasti aku ingin berjodoh dengan Nayla."


"Oh itu mengesankan, aku sedih mendengarnya."


"Jangan tersinggung, kau juga akan mendapatkan jodoh terbaik yang sepadan dengan mu nanti, percayalah....."


"Lalu Nayla?" tanya Rahayu yang masih penasaran.


"Entahlah, untuk saat ini kami benar-benar rumit, tidak mudah membuat keluargaku percaya Nayla adalah gadis baik, terlebih bibiku yang masih terus memanasi orangtuaku, tapi tidak berarti aku menyerah, aku hanya sedang mencari cara. Semua tidak mudah, memang tidak ada yang sederhana dalam cinta, aku harus menghadapi ini Rahayu, jadi aku mohon pengertianmu."


"Aku mengerti mas Ariq, aku akan bicara pada ibuku nanti. Aku senang kau bersikap tegas seperti ini, hingga aku dapat mengira bahwa memang hatimu sulit sekali ku dapatkan."


"Aku mendoakan yang terbaik untukmu Rahayu, kau wanita baik akan dapat jodoh yang baik pula nanti."


"Apa ini benar-benar akhir dari rencana perjodohan kita?"


Ariq mengangguk pasti.


"Bukankah kita yang akan menjalani nanti, orangtua hanya sebagai pemberi jalan kalau saja kita bisa berjodoh, tapi maaf sekali aku harus mengakhiri ini. Ini bukan paksaan Rahayu, kita bebas menentukan menerima atau tidak rencana orangtua kita ini, dan aku tetap memilih menolak. Maafkan aku."


"Baiklah aku mengerti."


"Terimakasih doa mu," sambung perempuan itu lagi.


Ariq terkekeh, ia mengangguk lalu tersenyum lepas. Ada beban berat yang terasa lepas dari dadanya saat ini. Lega telah mengutarakan semua niatnya pada Rahayu agar gadis itu tidak melanjutkan harap padanya lagi.


Mereka saling melempar senyum setelah sampai pada sebuah gedung bertingkat tempat kantor Rahayu.


"Kita sudah sampai."


"Terimakasih tumpangannya," jawab Rahayu tersenyum lagi.

__ADS_1


__ADS_2