Purnama Merindu

Purnama Merindu
Sentuhan tanggung


__ADS_3

Nayla menatap suaminya dengan seksama, wajah yang mulai terlelap di depannya ini sungguh pria yang agresif dan posesif sebelum menikah, namun ternyata itu berbanding terbalik saat mereka sudah halal dalam hal apapun sekarang.


Ariq hanya memberi ciuman biasa lalu mengajak tidur di malam pertama pernikahan. Bukankah itu sedikit aneh. Apa memang seperti ini semua pengantin baru? Akan beristirahat sebelum memulai semuanya setelah menikah. Entahlah, Nayla hanya bisa menelan kekecewaan itu dengan senyum yang tidak seharusnya luntur malam ini.


Ia membelai dan mengagumi wajah Ariq dalam jarak yang sangat dekat saat ini, wajah tampan yang menyebalkan, ia benar-benar mencintai Ariq dari hati yang paling dalam, sosok lelaki yang mendampinginya hingga kehidupannya kembali bangkit.


Tangannya meraba rahang berbulu halus itu dengan lembut, membuat suaminya sesekali menggeliat. Nayla menyayangkan sekali malam ini terlewati begitu saja, padahal ia sama sekali tidak mengantuk.


Mengagumi dalam keheningan malam yang kian menyedihkan. Nayla tatap lekat-lekat wajah itu, hidung mancung dan bibir yang sedikit terbuka ketika tidur itu benar-benar polos sekarang.


Nayla melepaskan tangan Ariq yang melingkarinya, perempuan itu beranjak dari ranjang. Karena belum bisa memejamkan mata Nayla memutuskan mengemasi pakaian ia dan suaminya ke dalam koper untuk bersiap pulang besok pagi.


Menyibukkan diri mengemasi pakaian sambil terduduk di lantai yang penuh kelopak mawar, sesekali ia melirik pria di atas ranjang, hening semuanya diam ditelan keheningan.


Drrrttttt drrrrttttt, terdengar getar ponsel. Nayla berdiri mencari asal getaran ponsel itu apakah dari miliknya atau milik Ariq. Rupanya getar itu berasal dari ponsel suaminya di atas meja di sudut kamar, Nayla mendekatinya, ia melihat nomor asing sedang melakukan panggilan.


"Siapa yang menelepon di jam seperti ini?" Gumam Nayla heran.


Nayla melihat jam masih menunjukkan pukul dua pagi, siapa yang menghubungi suaminya di jam seperti ini pikir Nayla? Ingin mengangkat panggilan itu namun urung saat Nayla merasa lancang, ia takut Ariq marah nantinya. Namun ingin membangunkan Ariq rasanya tidak tega pula sedang suaminya tidur dengan lelap.


Nayla akhirnya membiarkan panggilan itu dengan alasan nomor asing tanpa nama kecuali panggilan dari anggota keluarga tentu ia akan membangunkan Ariq mana tahu panggilan itu penting.


Setelah berberes semuanya selesai hampir jam tiga pagi, Nayla belum juga merasa mengantuk. Ia memutuskan ingin berendam air hangat menjelang subuh, ia ingin meregangkan otot-otot lelahnya dari prosesi pernikahan yang telah ia lewati dengan tanpa jeda.


Nayla tersenyum getir saat melihat air di bathub yang penuh lagi dengan kelopak mawar merah menyala, tidak ingin larut dalam kekecewaan Nayla mengeringkan air itu lalu mengisi lagi dengan air hangat.


Aroma lilin yang wangi, aroma ribuan kelopak mawar yang mengelilingi tubuhnya yang hilang dalam bathtub, membuat Nayla benar-benar rileks, ia bernapas dengan tenang, kepalanya ia isi dengan pikiran-pikiran positif yang membawa kebaikan untuk tubuhnya saat ini.


"Pengantin baru," gumam Nayla dengan senyum sungging.


"Sayang sekali semua ini dinikmati seorang diri."


Sejenak matanya terpejam menikmati aroma-aroma menenangkan, air hangat itu perlahan dingin karena terlalu lama berendam. Nayla bangkit, memakai jubah handuk lalu keluar kamar mandi.


Namun saat keluar kamar mandi, ia mengernyitkan dahi saat menatap ranjang yang kosong. Tidak ada suaminya di sana.


"Mana dia?"


Nayla mencari ke segala arah, dan kembali buku kuduknya merinding saat mendapati Ariq memeluknya dari belakang.


"Mas Ariq kau membuatku terkejut."


Nayla bernapas kasar dibuat suaminya itu.


Ariq terkekeh, "Kau mencariku?" tanya Ariq seraya menciumi leher Nayla yang wangi dan memabukkan.


"Mas Ariq, itu geli."

__ADS_1


Nayla menciutkan tubuhnya kegelian, namun pria itu benar-benar memegangi tubuhnya hingga tidak bisa bergerak. Ariq tidak menjawab, ia sibuk mencium pipi hingga leher Nayla dengan mesra.


Nayla membalikkan badannya, membuat mereka bertatapan.


"Apa kau tidak tidur?" tanya Ariq sambil membuka handuk yang mengeringkan rambut Nayla hingga rambut indah istrinya tergerai basah.


Nayla menggeleng, "Aku tidak mengantuk, aku berberes pakaian dan setelahnya aku berendam, itu menyenangkan."


"Maaf kau berberes sendirian, apa aku terlalu lelap?"


Nayla mengangguk, "Iya, kau terlihat lelah. Sebenarnya ada panggilan tidak terjawab di ponselmu, tapi aku tidak berani membangunkan mu."


Nayla menggigit bibir bawahnya takut Ariq marah karena tidak membangunkannya tadi.


"Dari siapa?"


"Tidak tahu, nomor asing."


"Huh, baiklah..... Jika nomor asing tidak perlu ditanggapi, itu tidak penting. Lain hal jika keluarga yang menelepon tentu harus diterima, kau boleh menerima panggilan apapun di ponselku. Jangan sungkan, kau istriku, tentu kau boleh mengakses semua kehidupan ku termasuk ponsel dan panggilan apapun di sana."


Nayla tersenyum mendengarnya.


"Terimakasih."


Ariq mengecup bibir istrinya dengan lembut, mereka saling melempar senyum sejenak. Lalu Ariq memeluknya dengan erat.


Terasa berdesir darah saat Nayla mendengar kata itu setelah menikah seperti ini, jauh lebih indah dibanding sebelum mereka menikah. Nayla membalas pelukan itu tak kalah erat, ia mengangguk tapi tidak menjawab.


"Kenapa kau wangi sekali?"


"Karena aku berendam air ribuan kelopak mawar," balas Nayla dengan nada kesal.


"Ini istriku atau taman bunga?"


Nayla terkekeh, ia tidak menjawab melainkan membenamkan wajahnya di dada pria berwajah bangun tidur itu.


"Aku akan mandi," ucap Ariq melepaskan pelukan.


"Ingin ku temani?" goda Nayla meski menahan malu luar biasa.


Ariq tersenyum seraya mencium pipi Nayla sekali lagi.


"Tidak perlu, hanya sebentar," jawab Ariq tertawa kecil.


Nayla hanya bisa mengangguk lagi. Dan benar saja hanya selang beberapa detik saja suaminya hilang di balik pintu kamar mandi.


Nayla kembali bernapas berat, memang tidak berselerakah Ariq pada tubuhnya yang sempurna dan wangi ini? Lagi Nayla merasa kecewa suaminya terasa menghindar lagi sekarang.

__ADS_1


Nayla menuju lemari yang terdapat pakaian yang sudah ia siapkan untuk pagi ini sebelum pulang. Baru melangkah Nayla menatap lagi pada arah ponsel Ariq yang kembali bergetar.


Ia mendekat, lagi matanya menangkap nomor asing seperti beberapa jam lalu menghubungi suaminya, sedikit gugup Nayla memberanikan diri mengangkat panggilan itu.


"Hallo," sapa Nayla setelah menerima panggilan itu.


Nayla mengernyit heran saat tidak mendengar jawaban dari sana. Ia ulangi beberapa kali namun tidak juga menyahut.


Lalu ia melihat layar ponsel, ia hanya menghela napas lalu menggelengkan kepala.


"Rupanya mati," gumam Nayla saat menyadari ponsel suaminya kehabisan baterai.


Kembali perempuan yang masih memakai jubah handuk itu merasa ada gelanyar perasaan yang membuat tubuhnya seperti tersengat listrik saat suaminya memeluknya lagi dari arah belakang.


"Mas Ariq," cetus Nayla sambil memiringkan wajahnya yang kegelian oleh ulah bibir Ariq yang sepertinya suka sekali pada lehernya yang mulus dan jenjang dibalik rambut yang tergerai basah itu.


"Ada apa? Siapa yang menelepon?" tanya Ariq yang masih menyembunyikan wajah pada leher istrinya yang wangi.


"Tidak tahu, dari nomor yang tadi. Aku menerimanya tapi sayang sekali ponselmu mati."


Nayla menaruh lagi ponsel itu ke atas meja, lalu ia berbalik badan menghadap suaminya yang bertelanjang dada, hanya memakai handuk saja menutupi bagian bawah tubuhnya.


"Apa itu panggilan penting?" tanya Nayla heran.


Ariq hanya mengangkat bahunya tanpa menjawab, ia menempelkan lagi tubuh Nayla ke arahnya, tangannya membelai wajah cantik yang polos tanpa make up, membuat dada Nayla terasa ingin meledak oleh tatapan mematikan itu.


Ariq kembali membawa Nayla pada ciuman panjang yang memabukkan, liar semakin liar. Tangan Ariq mulai meraba paha dan mereka jatuh ke ranjang, Nayla menerima semua perlakuan suaminya dengan penuh cinta, ia pikir mungkin sekarang waktunya untuk menyerahkan diri terlihat dari sikap Ariq yang tampak menginginkannya sekarang.


Mereka tidak melepas tautan bibir yang semakin panas, sampai pada sebuah lenguhan dari bibir Nayla terdengar saat Ariq telah bermain di leher, meninggalkan beberapa bekas merah di sana. Nayla merasakan gairah mereka mulai naik sekarang.


Namun Ariq terhenti saat terdengar suara adzan yang berkumandang dari ponsel Nayla.


Ia mengangkat kepala menatap Nayla yang menatapnya dengan kecewa.


"Sudah subuh," kata Ariq lalu ia mengecup bibir Nayla cukup lama sebelum bangkit dari tubuh istrinya itu.


"Aku akan berwudhu lebih dulu."


Tanpa menunggu Nayla menjawab, Ariq lebih dulu beranjak dari ranjang menuju kamar mandi lagi.


Nayla mematung, menatap suaminya yang lagi-lagi memberi sentuhan yang tanggung. Perasaannya sulit diungkapkan, matanya berkaca-kaca, lalu ia bangkit dan duduk menatap dadanya yang mulai terbuka namun belum sempat disentuh.


Nayla menghela napas, menutup kembali jubah mandi lalu mengikatnya sembarang. Ia bangkit dan berjalan menuju lemari dan mengeluarkan keperluan ibadah subuh mereka.


Tanpa Nayla sadari, Ariq tampak mengguyuri lagi badannya di bawah shower yang mengalir air hangat di sana. Ia menunduk, menunduk dalam raut yang sulit dimengerti. Kesal Ariq kesal saat ini.


"Ini benar-benar menyebalkan!"

__ADS_1


"Awas saja jika semuanya kacau bang Jhon! Akan ku bunuh kau nanti."


__ADS_2