
"Aku lelah melihat ke pintu itu, sedang ada banyak pintu lain menunggu untuk ku buka. Aku tidak mau menambah daftar sakit hatiku, apalagi daftar orang yang ku sakiti."
Lelah mencari Januari di reremang pagi. Sejuknya embun menerpa wajah seorang gadis, gadis bertahi lalat di atas bibir itu baru saja membuka jendela kamarnya.
Semburat pagi sudah tiba, pemandangan dimana beberapa pot bunga mawar yang baru mulai kuncup itu dipenuhi embun yang begitu estetik memanjakan mata Nayla pagi ini. Pot bunga yang ia tanam mawar di sana sebagai penghias teras kontrakannya yang kebetulan berada di depan jendela kamar.
Hari minggu di awal Januari, dimana senyumnya mengembang tipis saat matanya melihat pasangan suami istri Dewi dan bang Jhon tengah berolahraga di halaman rumah mereka padahal masih sangat pagi.
Pasangan itu awet sekali, selalu mesra dan kocak jika berdekatan, meski telah lama menikah namun belum juga mendapatkan karunia seorang keturunan, tidak membuat keduanya menjadi bosan apalagi renggang, Dewi yang cekatan dalam segala hal dipadu dengan bang Jhon yang suka lelet, saling melengkapi. Begitulah seharusnya pasangan saling menutupi saling menyempurnakan.
Nayla bersyukur sekali mendapatkan tetangga seperti mereka, baik, suka menolong, apalagi mereka ikut menyayangi anak-anak yatim milik Nayla itu tanpa pamrih, mereka terus saja Nayla repotkan dengan seringnya menitip anak-anak pada mereka jika sedang tidak bekerja, terlebih Zaza yang masih kecil.
Sejak kemarin hingga pagi ini Nayla terus memikirkan tentang perkataan atau pertemuannya dengan ibu Rena soal Rahayu, meski ia tidak mengerti betul apa itu penyakit Bipolar namun Nayla dapat menangkap makna yang dalam tengang apa yang tengah Rahayu idap saat ini bahkan seumur hidup.
Nayla mencari informasi melalui internet soal penyakit ini agar hatinya tidak bertanya-tanya apakah memang berbahaya atau tidak bagi penderitanya seperti Rahayu yang membuat ibunya memohon pada Nayla agar melepaskan Ariq untuk putrinya agar tidak kambuh dan membahayakan diri Rahayu.
Alangkah terkejutnya Nayla saat membaca bahwa penyakit Bipolar itu adalah suatu gangguan yang berhubungan dengan perubahan suasana hati mulai dari posisi terendah depresif/tertekan ke tertinggi/manik.
Penyebab pasti gangguan bipolar tidak diketahui, namun kombinasi genetika, lingkungan, serta struktur dan senyawa kimia pada otak yang berubah mungkin berperan atas terjadinya gangguan.
Membutuhkan diagnosis medis, dan Rahayu memang telah dinyatakan mengalami gangguan Bipolar sejak ia remaja, dan parahnya ia pernah hampir bunuh diri karena mengalami bullying di sekolah akibat perceraian orangtuanya.
Apa? Rahayu pernah ingin bunuh diri? Sungguh Nayla terkejut bukan main, dari penuturan ibu Rena sejak sembuh dari depresi saat itu pula ibu dan kakak Rahayu membangkitkan lagi semangat dan tekad Rahayu agar membuktikan pada orang-orang yang memandang rendah dirinya sebagai korban perceraian.
Hingga gadis itu mandiri hingga sekarang bisa mencapai prestasi yang belum tentu dicapai oleh anak dengan orangtua lengkap. Namun tak ayal pula hal itu membuatnya menjadi gadis ambisius dan pantang menyerah, termasuk menginginkan Ariq saat ini.
Episode manik pada penderita Bipolar dapat mencakup gejala seperti energi tinggi, jam tidur yang kurang, dan sering berkhayal.
Episode depresi dapat meliputi gejala seperti energi rendah, motivasi rendah, dan kehilangan minat dalam aktivitas sehari-hari.
Episode mood terjadi selama beberapa hari hingga berbulan-bulan sekaligus dan mungkin juga terkait dengan pikiran untuk bunuh diri.
Seperti halnya Rahayu, ia mudah sekali berubah moodnya karena suatu hal, misal ia mudah sekali tersinggung dan memendamnya hingga ia sakit sendiri, pun sebaliknya ia akan mudah pula membaik jika disanjung, maka tidak heran ibunya Rena selalu memberikan yang terbaik untuk anaknya apapun itu agar tidak terulang lagi kejadian yang hampir merenggut jiwa putri kesayangannya itu.
Depresi, ingin bunuh diri tentu Nayla juga pernah berada di posisi itu, apakah ia juga penderita bipolar? Ah tidak, Nayla segera menyangkalnya, gadis itu terpuruk karena memang kenyataan hidupnya yang terlalu menyakitkan terjadi bertubi-tubi pada satu waktu, semua terjadi bersamaan hingga ia hilang akal rasanya dan ingin ikut mati waktu itu.
Tentu berbeda dengan penderita Bipolar, perubahan mood yang bisa terjadi kapanpun dan akan berlangsung bahkan seumur hidup, penderita juga selalu dikontrol dengan pengobatan maupun psikoterapi.
Seperti sekarang, ibu Rena mengatakan Rahayu sedang sakit. Ia kehilangan mood ke kantor, kehilangan selera makan hingga hanya mengurung diri di kamar hanya karena merasa kecewa pada Nayla yang tidak mau mengalah kemarin.
Lalu Nayla harus bagaimana sekarang? Ibu Rena dan Rahayu adalah ibu dan saudara sambung baginya saat ini, mereka adalah keluarganya sekarang. Tentu ia tidak boleh pula menutup mata dan telinga hanya karena keegoisannya ingin pula berbahagia dengan Ariq.
Satu sisi lain Nayla juga bimbang memikirkan bahwa betapa sulitnya mendapatkan restu dari orangtua Ariq, dan kemarin seolah telah dimudahkan, pria itu benar-benar ingin menikahinya. Lalu harus seperti apa Nayla mengambil sikap?
Pusing, Nayla sungguh pusing sekarang.
Lalu matanya tertuju lagi pada sosok lelaki yang untuk kesekian kalinya datang pagi-pagi hanya untuk memberikan rangkaian bunga Lily untuknya, tapi kali ini terlalu pagi Vano datang, lelaki itu tampak tidak membawa sesuatu, tidak ada bunga Lily seperti biasa.
Nayla kasihan pada pria ini, Vano cukup berarti baginya di masa lalu. Pria itu tidak pernah menyakitinya apalagi berbuat kasar, tidak pernah sama sekali. Hanya satu kali, satu kali meninggalkan Nayla demi menurut kemauan orangtua.
Tapi justru karena hal itulah takdir Nayla berubah bahkan seratus delapan puluh derajat bahkan hatinya, hatinya yang terpaut ke lain hati setelah semua yang terjadi atas ulah Vano.
Lagi, takdir siapa yang tahu betapapun Nayla mencintai Vano dulu namun kini seakan hilang tanpa jejak sejak hadir pria bernama Ariq. Dari pengalaman itu membuat Nayla membenarkan kata ayahnya tempo hari, hati memanglah suka berubah, tidak menutup kemungkinan ia akan bisa ikhlas melepas Ariq seperti ia melepas Vano dulu.
Hatinya masih sama, tentu akan mudah pulih nanti jika ada yang akan mengisi, Angga misalnya. Nayla mulai membuka pikirannya akan hal yang mungkin saja akan terjadi padanya nanti begitu seterusnya hingga ia menemukan cinta sejati, cinta seorang suami dalam pernikahan yang bahagia.
Nayla melangkah keluar. Senyum ia ulas untuk Vano yang seakan sudah tahu bahwa Nayla sudah berjalan keluar untuknya.
__ADS_1
Mereka berdiri berhadapan di halaman, disaksikan oleh pasangan suami istri Dewi dan bang Jhon yang tidak terkejut lagi akan hal itu.
"Kau kemari lagi?"
Vano mengangguk, kali ini wajahnya tampak menatap Nayla dengan tatapan paling dalam.
"Tidak membawa bunga Lily lagi?"
Vano menggeleng, "Belum ada toko bunga yang buka jam segini," jawab pria itu terkekeh.
"Alasan masuk akal, aku tahu kau datang untuk mengatakan sesuatu." Vano mengangguk lagi, ia tersenyum getir.
"Bicaralah!"
"Aku tidak akan memaksa mu lagi Nay..... Aku tahu apa yang ku lakukan sekarang adalah hal sia-sia," kata Vano dengan wajah tampak murung.
"Iya, aku tahu kau bukan lelaki pemaksa."
"Terimakasih atas hari-harimu yang telah ku ganggu, mungkin setelah ini aku tidak akan mengganggu mu lagi."
"Memang sudah seharusnya seperti itu."
"Kau akan selalu menjadi yang terbaik di hati Nayla, aku mendoakan kebahagiaan mu yang semakin ku yakini bukanlah bersamaku."
"Aku pun berdoa untuk kebaikan mu Vano."
"Terimakasih atas hari-hari terbaik kita, aku selalu merindukan itu. Tapi setelah ini aku harus mencoba menerima, seperti kau yang telah menerima akhir dari kisah kita."
"Iya, karena inilah akhirnya. Kau dan aku memang bukan ditakdirkan bersama. Aku tahu kau mulai mengerti sekarang."
"Maaf atas semua kesalahanku padamu Nay, aku menyesalinya seumur hidupku."
Nayla yang mengangguk kali ini.
"Aku bahkan telah memaafkan mu sejak lama."
"Baiklah, sekali lagi terimakasih atas semua hal terindah yang pernah kau berikan padaku dulu."
"Akan tetap terindah dalam ingatan Vano, kau juga selalu berkesan di hatiku. Terimakasih juga sudah mau mengerti, mari kita akhiri dengan baik pagi ini."
"Iya, aku harap kau menemukan jodoh terbaikmu dari Tuhan."
"Amin," jawab Nayla tersenyum.
" Baiklah aku sudah lega, aku akan pergi sekarang."
"Iya, berhati-hatilah....."
Vano meraih tangan Nayla sejenak menggenggamnya erat.
"Berbahagialah Nayla......"
"Kau juga Vano," sahut Nayla tersenyum lalu perlahan melepaskan genggaman tangan mereka.
Nayla menatap kepergian Vano dengan senyum terbaiknya pagi ini. Lega sekali.
Vano menyeka matanya yang mulai berair sebelum ia masuk mobil meninggalkan Nayla mematung seorang diri.
__ADS_1
Vano telah pulang.
Nayla berbalik badan ingin masuk rumah lagi, namun suara sebuah mobil menghentikannya lagi. Pria itu keluar dengan wajah tidak bersahabat.
Nayla urung meneruskan langkah.
"Mas Ariq, kau juga kemari?"
"Kita harus bicara!"
"Ayo kita bisa bicara di teras."
Nayla melangkah lebih dulu. Ariq menuruti gadis itu.
"Ingin duduk dan minum teh?" tawar Nayla masih dengan senyum yang sama.
"Apa kau punya banyak hati?" tanya Ariq tanpa basa basi.
"Setiap manusia hanya punya satu."
"Kenapa kau tega padaku?"
"Tega? Apa maksudmu?"
Ariq mengeluarkan semua lembaran foto dari saku mantelnya. Pria itu hempaskan di atas meja kecil di hadapan Nayla.
Nayla menatap itu dengan heran.
"Jangan tanya aku dapatkan ini dari mana, aku semula ingin menyangkal tapi setelah pagi ini aku melihat Vano memang datang aku jadi percaya bahwa foto itu bukan rekayasa."
"Foto ini benar, semuanya benar," jawab Nayla santai.
"Kau menerima bunga Lily dari Vano setiap pagi? Kau menerima bunga dari suami adikku setiap hari? Aku tidak menyangka Nay....."
"Iya, bunga Lily itu kesukaanku, aku menerimanya bukan berarti juga menerima Vano. Yang salah itu Vano bukan bunganya, dan seiring berjalannya waktu Vano sudah mulai mengerti akan hal itu, akan hal yang tidak mungkin bisa diulang apa yang pernah terjadi diantara kami."
"Dia baru saja datang untuk pamit, dia mulai menerima. Semua butuh waktu mas Ariq."
"Aku tidak percaya! Kau jahat Nayla, aku menjaga hatiku untukmu, dan kau bukan hanya Vano yang merupakan suami adikku, tapi juga pria lain yang semula hanya mengaku sebagai senior, lihatlah foto itu memperlihatkan kau bertemu kedua orangtuanya. Kau beberapa kali pergi dengan Angga sialan itu."
Nayla diam. Matanya melirik momen ketika baru pertama kali bertemu abi dan umi Angga.
"Iya, itu benar."
"Ck..... Kau mengakuinya juga sekarang, lalu apa artinya aku bagimu hingga kau bisa melakukan hal seperti ini dibelakang ku?"
"Karena aku belum sah milikmu, aku hanya mengikuti takdir yang menghampiri. Angga yang ingin mengenalkan ku pada orang tuanya apa salahnya bukan? Itu terjadi ketika kau menghilang, kau mendiamkan aku setelah mengatakan menerima Rahayu."
Ariq terdiam.
"Jadi dimana letak salahnya? Bukankah jodoh kita tidak bisa menebaknya, bisa saja aku berjodoh dengan Angga, atau pria lainnya. Yang jelas aku tidak akan berjodoh dengan pria yang tidak mempercayai ku hingga aku seperti diselidiki dari jauh tanpa menyelidiki pula kebenarannya."
Nayla membuka cincin dari jari manisnya, ia taruh ke atas foto-foto itu.
"Nayla?"
"Pergilah jika kau datang hanya untuk merendahkan ku dengan tuduhan-tuduhan atas dasar foto itu. Ketahuilah, mas Angga lebih disukai oleh ayahku, dan kau lebih disukai ibu Rena untuk Rahayu."
__ADS_1