
"Mas Ariq, kita mau kemana?" tanya Nayla yang sejak tadi tidak berhenti bertanya karena ia belum mendapat jawaban pasti dari suaminya mereka akan kemana.
Ariq hanya menampilkan senyum penuh arti saja, ia tidak menjawab meski ia sudah bosan mendengar Nayla mengoceh sejak mereka berangkat dari rumah.
Nayla menghela napas kasar, ia kembali bersandar, matanya mengarah ke jendela mobil. Melihat pemandangan jalanan yang lengang, entah mereka hendak kemana malam ini.
"Sayang."
"Hmmm," sahut Nayla malas.
"Ayolah."
"Aku disuruh dandan hanya untuk keliling kota saja, dalam mobil bahkan sudah satu jam kita tidak menemukan tujuan. Kau menyebalkan, enak tidur saja di rumah," balas Nayla kesal.
Bagaimana tidak, ia sudah berdandan cantik memakai dress panjang berwarna hitam motif bunga-bunga kecil berwarna pink, dipadu dengan hijab pashmina berwarna senada. Hiasan wajah yang dipoles tipis dengan gincu merah muda menghiasi bibirnya.
Semula Ariq mengatakan hanya ingin mengajaknya malam mingguan di luar sebagai permintaan maaf. Namun entah kenapa sudah satu jam mereka tidak menemukan tujuan untuk bermalam minggu berdua.
"Aku lapar," rengek Nayla lagi.
"Bersabarlah sebentar lagi kita akan sampai."
"Sudah berapa restoran yang kita lewati, tapi tidak juga berhenti. Sebenarnya kita mau kemana?"
"Ke suatu tempat. Kita akan bermalam panjang disana."
Nayla menoleh.
"Apa itu hotel?"
__ADS_1
Ariq menggeleng. Membuat Nayla kembali kecewa.
"Aku mengira kau sudah keterlaluan mas Ariq," ucap Nayla menoleh lagi ke luar jendela mobil. Matanya melihat lampu-lampu yang terang benderang di pinggir jalan, lampu tata kota yang indah.
Ia baru menyadari mereka sedang melewati jalan menuju pantai.
"Aku harap kau tidak berpikir seperti itu lagi setelah ini."
"Ckkk..... Meski kau selalu memperlakukanku dengan mesra tapi tetap saja aku merasa lain, seharusnya kau jujur jika memang belum bisa menerimaku. Aku cukup sabar menunggumu mas Ariq, aku rasa aku tidak akan bertahan lebih lama. Entahlah, aku merasa ini cinta yang salah. Tidak ada cinta seperti ini, percuma kita menikah tapi tidak memiliki sepenuhnya."
"Berhenti bicara seperti itu, aku tidak suka."
"Huh, lalu apa kau kira aku suka kau bersikap seperti ini? Tadi siang kau mengejarku hingga ke bis, seperti ketakutan kehilangan diriku sekarang kau malah mengajak malam mingguan di luar seperti pasangan lain, padahal tidak. Kita tidak seperti pasangan lain. Kau tidak pernah menyentuhku, aku rasa ini pula alasan kau mengajakku keluar agar kita tidak berada dalam kamar terlalu lama, hingga nanti kita pulang kau beralasan lelah lalu tidur dengan cepat."
Nayla berkata sambil menahan tangis. Namun Ariq merasa perutnya digelitiki oleh kata-kata dan suara marah nan manja istrinya itu.
"Kau bahkan tidak mengucapkan ulang tahun padaku hari ini, aku kecewa padamu," rengek Nayla mulai menangis, entah kenapa ia jadi lebih cengeng dan menangis seperti anak kecil.
"Kenapa berhenti?"
"Kau berulang tahun? Oh sayang benarkah? Aku tidak ingat, maafkan aku."
Ariq meraih tangan Nayla seraya memohon maaf.
"Aku sudah menduga, cinta apa yang sering kau agungkan itu? Hingga tanggal ulang tahun istrimu saja tidak ingat."
"Aku mencintaimu, tidak ada hubungannya dengan hari ulang tahun."
Nayla menatap Ariq lagi.
__ADS_1
"Apa?"
"Oke baiklah, selamat ulang tahun istriku......"
Ariq meraih wajah Nayla lalu mencium bibirnya dengan gemas lalu terkekeh menatap wajah Nayla yang tampak menggemaskan.
"Hanya itu?"
"Lalu kau ingin apa? Sebut saja!"
"Aku ingin pulang," ketus Nayla kesal bukan main.
"Baiklah, kita akan pulang!" balas Ariq santai.
"Aku mau pulang, kenapa malah ke pantai?" cegah Nayla.
Ariq tidak menjawab. Ia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Mas Ariq?" lirih Nayla yang menyadari mereka telah berhenti di halaman sebuah rumah yang berada di kawasan dataran tinggi sebelum bibir pantai.
Nayla melihat sekeliling. Tampak sepi, sedang ia sibuk melihat sekitar dengan perasaan heran, suaminya lebih dulu keluar mobil. Nayla masih tercengang dengan berbagai pemandangan indah di depan matanya.
Halaman rumah yang cukup luas, rumput hijau yang terawat dan terdapat sebuah gazebo di sudut kanan rumah. Sepi.
Lamunan Nayla jadi buyar saat suaminya membuka pintu dan mengulurkan tangan agar Nayla ikut turun.
"Kita dimana?"
Ariq menuntun istrinya turun mobil.
__ADS_1
"Kau akan tahu nanti," sahut Ariq yang tersenyum lagi.