Purnama Merindu

Purnama Merindu
Mulai terbiasa


__ADS_3

"Mas Aldric?"


Pria itu tersenyum.


"Apa kau cemburu?"


"Tidak, aku hanya tidak suka pria yang sudah beristri tapi masih menerima wanita lain ke rumahnya. Menurutku itu tidak baik, tidak sopan juga datang malam-malam," jawab Aish santai.


Pria itu hanya diam.


"Kenapa? Apa Mas Aldric berharap aku cemburu?"


Pria itu menggeleng, "Aku tahu batasan," jawab Aldric kecewa.


"Jangan kaku santai saja, bukankah kita sudah berteman. Ayolah jangan jadi orang yang membosankan, kita sama-sama bekerja, kau pusing dengan pekerjaan kantor, aku juga banyak pasien setiap hari, jika pulang ke rumah mari kita saling membuka diri sebagai teman yang baik, bicara santai agar sama-sama nyaman."


"Mas Aldric jangan sungkan lagi, aku sudah tidak marah padamu, Ken tidak akan hidup lagi, aku tidak akan menantinya dalam keputusasaan, aku ingin kita sama-sama bangkit dari duka ini, semua kehilangan Ken, tapi kita harus pula melanjutkan hidup."


Aish mulai sedih lagi, bahkan sudah pula meneteskan airmata. Setiap ia menyebutkan nama Ken, sungguh teriris hatinya mengingat wajah Ken yang ceria dan penuh cinta.


"Aku sudah tidak marah padamu, percaya lah."


Aldric menatap Aish tidak berkedip.


"Terimakasih Aish, aku memang orang yang membosankan. Aku bahkan bingung ingin mendekati mu seperti apa, aku senang kau mau berteman denganku, mau bicara banyak padaku."


"Aku mengerti perasaan mu, aku tentu tidak menuntut apapun dari hubungan ini, aku mengikuti alur takdir saja. Maaf jika aku bukan suami yang kau inginkan, tapi dengan seperti ini setidaknya aku bisa menjaga cinta Ken dalam bentuk dirimu."


"Ketahuilah, Ken tidak mau kau terluka lagi."


Aish kian menangis.


"Aku mohon jangan menangis Aish."


"Aku akan tidur lebih dulu. Maafkan aku Mas Aldric," balas Aish seraya pergi ke kamarnya.


Aldric lagi-lagi hanya bisa tersenyum kecut menatap punggung Aish yang memang tidak suka padanya.


Sampai hari-hari berikutnya, hubungan Aish dan Aldric mulai membaik. Perempuan itu sudah bersikap hangat pada suaminya, tidak seperti diawal pernikahan mereka, bahkan Aish sama sekali tidak suka bicara pada Aldric.


Kini berbeda, Aish sudah mulai ikhlas atas apa yang terjadi, mulai menerima takdir bahwa ia tidak berjodoh dengan Ken, hingga hatinya kian lapang dalam menjalani hari-hari berikutnya.


Sudah saatnya move on dari masa lalu pikir Aish, perempuan itu ingin menikmati hidup dengan bernapas lega tanpa terbayang-bayang kenangan yang mengiris hati, semua ia mulai dengan bermuara pada keikhlasan.


Aish hanya manusia biasa, ada fase menyangkal ketika diawal kepergian Ken, ada pula harus melewati fase menerima seperti sekarang. Semua harus melewati proses, semua butuh waktu.


Dan Aish mulai sembuh dari kedukaannya yang dalam. Ia mulai menjalani hari dengan hati yang lapang hingga setiap langkah terasa lebih ringan.


Sampai pada suatu pagi.


Aldric mengambil minum di dalam kulkas.


"Ahhhh," pekik Aldric yang terkejut saat menyadari Aish telah memukulnya pakai sebuah panci susu.


"Aish? Kenapa memukul ku?" Aldric meringis.


"Dasar tidak peka, kau tidak lihat aku sedang kesusahan mengambilkan itu, setidaknya bantu aku dengan badan mu yang tinggi dan besar ini," cerca Aish yang kesal melihat Aldric minum dengan santai padahal ia sedang berusaha mencapai sesuatu di lemari pantry yang cukup tinggi.


Aldric tersenyum.


"Maaf, aku kira kau tidak memerlukan bantuan ku. Oke baiklah, mana yang mau kau ambil?" kekeh Aldric yang merasa gemas jika Aish sedang marah padanya.

__ADS_1


Aish menunjuk apa yang ia ingin gapai. Aldric segera mengangkat tubuh Aish agar tangan perempuan itu sampai mencapai lemari paling atas.


Aish terkejut, Aldric memang diluar dugaan, ia mengira akan dibantu diambilkan oleh tangan Aldric sendiri yang bisa mencapai barang itu dengan tubuhnya yang tinggi, namun lelaki itu tidak melakukannya malah membantu Aish menggapainya sendiri dengan mengangkat tubuh Aish tinggi-tinggi.


Setelah selesai, Aldric menurunkan Aish namun perempuan itu memeluk lehernya kuat-kuat.


"Kau hampir menjatuhkan ku lagi!" kata Aish setelah berhasil mendarat dengan baik.


Aldric terkekeh.


"Maaf, waktu itu aku benar-benar malu dilihat orang lain," jawab Aldric seraya terbayang kejadian menjatuhkan Aish di depan Ririn dan Dwi tempo hari.


Aish berdecak. Lalu senyumnya mengembang melihat Aldric sudah lebih leluasa bicara dengannya seperti ini.


"Kenapa melihatku seperti itu?"


"Aku baru sadar, kau sangat tampan dengan wajah belum mandi."


Aldric bersemu merah.


"Ayolah, kenapa kau jadi malu? Kita harus terbiasa satu sama lain, jangan canggung lagi. Aku akan jadi teman yang baik, aku juga tidak ingin pusing memikirkan pernikahan ini, biarlah waktu yang menentukan."


Aldric tersenyum mengangguk, meski ia sedikit kecewa atas kata teman dari mulut perempuan yang sudah tidak canggung berpenampilan tanpa hijab menutup kepala jika sedang di rumah itu.


Aish sudah tidak malu pada Aldric soal penampilan pakaiannya jika di rumah seperti ini, ia telah menjadi leluasa dan mulai terbiasa ada Aldric di sana.


Pun Aldric, pria itu menyembunyikan rasa bahagianya jika bersama Aish yang cantik dengan rambut dikuncir ke atas hingga menampilkan leher yang jenjang dan mulus.


Aldric mulai terbiasa dengan keseharian mereka berdua jika di rumah, meski belum mendapatkan hati perempuan itu setidaknya Aish tidak lagi bersikap dingin apalagi menolak kehadirannya.


Benar kata Aish, biarlah waktu yang menjawab kemana arah rumah tangga mereka setelah ini.


****


Pria itu hanya mengangguk dengan senyuman yang tulus. Aish suka itu.


Perempuan yang telah memakai jas dokternya itu melambai tangan pada mobil suaminya yang menjauh.


Entah mengapa hati Aish kian hari kian hangat, ia diperlakukan dengan baik oleh Aldric meski mereka tidak seperti pasangan lainnya.


Ingat pula ia ditempatnya berdiri saat ini, adalah tempat dimana ia bertemu Aldric untuk pertama kalinya, pria itu menarik tubuhnya dari pinggir jalan yang rawan kecelakaan oleh pengendara motor yang sedang mengebut.


Aish tersenyum lalu menggeleng, ia tidak menduga bahwa Aldric adalah saudara Ken. Ken yang menjadi alasan hingga mereka bisa menikah hari itu. Takdir tidak siapapun yang bisa mengaturnya, Aish hanya manusia biasa, hatinya terbuat dari daging, semula ia membenci Aldric karena berani menikahinya secara sepihak.


Namun sekarang, hatinya kian melunak seiring waktu, ia tidak lagi membenci meski belum bisa Aish menerima Aldric begitu saja sebagai suaminya.


Untuk sekarang mereka sepakat berteman.


Aish kembali bekerja dengan semangat yang baru, ia memantapkan hati untuk bangkit dan tidak ingin menghabiskan waktu hanya untuk meratapi orang yang tidak akan hidup lagi.


Hidupnya harus berlanjut, Aish kembali pada Aish yang sebelumnya. Menjadi seorang dokter yang melayani dan menangani pasien di ruangan IGD.


Jika sebelumnya ia cukup trauma dengan bayangan Ken terbujur kaku di ruangan yang sama dengan tempatnya bekerja sekarang, namun kini Aish sudah jauh lebih baik mengelola rasa traumanya menjadi hal yang sudah biasa ia hadapi.


Sampai pada suatu hari, ia diminta tolong oleh Aldric mengantar file yang tertinggal di rumah ke kantor pria itu, kebetulan Aish sedang libur bekerja.


Perempuan itu melihat-lihat sekeliling, ia baru pertama kali menginjakkan kaki ke perusahaan Aldric. Ia terbiasa dengan suasana rumah sakit, namun sekarang ia berhadapan dengan banyak pria dan wanita karir yang lalu lalang.


"Mas Aldric kau dimana?" tanya Aish di telepon.


Setelah mendengar jelas, barulah Aish mengangguk dan mulai mengikuti arahan dari suaminya.

__ADS_1


Aish sampai pada lantai yang dituju, Aish segera menuju dimana ruangan Aldric berada, namun ia berhenti saat bersamaan Aldric muncul dari tempat yang berbeda dengan tergesa-gesa menggendong Anara menuju sebuah ruangan.


Aish terpaku, ia melihat wajah cemas dari suaminya, bahkan Aldric melewatinya tanpa menoleh. Entah Aldric sadar atau tidak jika Aish berdiri diantara karyawan yang berkumpul penasaran atas apa yang terjadi.


Aish mendekat, ia perlahan ikut masuk ke ruangan yang ia yakini adalah ruangan suaminya.


Ia berhenti setelah melewati pintu, Aldric tampak memberikan minyak kayu putih pada Anara yang terbaring lemah di sofa tamu, didampingi satu orang perempuan lain yang berpakaian rapi seperti karyawan lainnya.


Aish terdiam. Cukup lama sampai Aldric menyadari bahwa Aish telah berdiri tidak jauh dari pintu.


"Aish, kau sudah sampai? Ayo kemari, kau seorang dokter, tolong Anara tiba-tiba pingsan saat di ruangan meeting tadi."


Aish tersadar dari lamunannya, ia segera mendekati Anara dan memeriksa gadis itu.


"Apa Anara baru makan sesuatu?"


Perempuan yang mendampingi Anara mengangguk lalu menjelaskan kronologi mengapa Anara bisa pingsan setelah beberapa kali muntah di toilet.


"Anara kenapa Aish?" tanya Aldric.


Aish bukannya langsung jawab malah sibuk memandang ekspresi wajah suaminya yang tampak cemas.


"Aish," tegur Aldric.


"Iya, Anara sepertinya keracunan makanan. Sebaiknya dibawa ke rumah sakit," jawab Aish pelan.


"Keracunan makanan?"


Aish mengangguk.


"Baru diduga keracunan, nanti diperiksa lebih lengkap saat di rumah sakit," jelas Aish lagi.


Perlahan Anara membuka mata, perhatian Aldric langsung ada Anara lagi. Aish hanya diam, diam melihat reaksi suaminya terhadap apa yang sedang Anara alami.


Anara tampak lemas, wajahnya pucat serta mengeluh mual. Aldric segera membawa lagi Anara seperti yang disarankan Aish untuk segera ke rumah sakit.


Aish hanya mengangguk saat Aldric mengajaknya ikut serta ke rumah sakit. Aish mengikuti langkah Aldric yang menggendong Anara seolah tanpa beban.


Aish diam, hanya bisa diam. Entahlah, ia juga sukar menebak seperti apa perasaannya sekarang. Apa sedekat itu Aldric dan Anara? Tempo hari ia bahkan dijatuhkan Aldric karena malu dilihat orang lain saat menggendongnya.


Tapi sekarang?


Aish mengikuti hingga ke rumah sakit. Sedang Anara diperiksa, Aish menghampiri Aldric yang menunggu di luar ruangan IGD.


"Kau mencemaskan Anara?" tanya Aish memulai obrolan.


"Tentu saja, semoga dia baik-baik saja."


"Dia akan baik-baik saja, tenanglah," ucap Aish seraya menyentuh lengan Aldric.


Pria itu hanya mengangguk lalu tersenyum.


"Ini flashdisk yang kau butuhkan, aku akan pergi sekarang, maaf aku ada janji lain dengan Ratih, dia libur kerja jadi kami berjanji makan siang bersama di luar."


Aldric menerima flashdisk itu, ia menatap Aish cukup lama.


"Maaf aku tidak bisa mengantarmu, Anara sendirian. Kasihan dia," kata Aldric sambil menyimpan flashdisk itu ke sakunya.


"Aku mengerti, temani dia sampai masuk kamar rawat inap, insyaallah Anara akan baik-baik saja. Maaf aku akan pergi sekarang," pamit Aish lagi.


Aldric mengangguk.

__ADS_1


Aish pergi, perempuan itu sejenak berhenti, ia menoleh ke belakang, Aldric sibuk menelepon. Lalu Aish melanjutkan langkah dengan pikiran mulai kemana-mana.


__ADS_2