Purnama Merindu

Purnama Merindu
Kau terlalu menggemaskan


__ADS_3

Setelah dari sekolah Denia, Nayla membawa Ariq ke kontrakan barunya. Disanalah ia menceritakan kebenaran tentang empat bocah yatim piatu yang kini ia jaga dan rawat sendiri menggantikan orang tua mereka.


Ariq tertegun menatap wajah Nayla yang tampak habis menangis.


"Aku tidak bisa berkata-kata lagi tentang anak-anak malang ini, untuk sekian kalinya aku kagum padamu." Ariq berkata seraya meraih lagi jemari milik Nayla untuk ia genggam.


Nayla tersenyum tipis saja sebelum menghapus sisa airmata. "Aku tidak bermaksud menarik perhatianmu, maaf lupakan saja cerita ini. Terimakasih sudah mengantarkan kami pulang, aku harus memasak sekarang dan kau boleh pergi," balas Nayla menarik lagi tangannya dari genggaman pria itu.


Ariq terdiam menahan kesal. "Apa kau mengusirku?" tanyanya menatap Nayla yang mulai berdiri dari kursi tamu yang terbuat dari rotan sintetis yang telah disediakan oleh pemilik kontrakan.


"Maaf, aku harus memasak untuk makan siang anak-anakku."


"Bisa ku bantu."


Nayla menggeleng, "Pulanglah, sebentar lagi Arinda dan Zandi pulang, mereka pasti lapar," jawab Nayla mengelak.


"Tidak, aku akan ikut kalian makan siang di sini."


"Maaf, aku tidak memasak porsi berlebih."


"Kenapa kau pelit sekali, aku kekasihmu."


"Aku tidak bilang begitu."


"Oke baiklah, aku calon suamimu."


Nayla tampak mendengus kesal, ia beranjak dari ruang tamu tanpa menghiraukan Ariq namun tentu pria itu tidak diam saja.


"Nayla," panggil Ariq mengikuti langkah Nayla. "Mas Ariq, pulanglah aku akan sibuk di dapur sekarang," sahut gadis yang membuka kulkas memeriksa bahan yang akan ia masak hari ini.


"Aku akan makan siang disini," balas Ariq yang tidak bergerak sama sekali.


"Apa paman ini memaksa?" cetus Denia yang tiba-tiba hadir di sana.


Ariq menoleh, sambil menyengir ia berkata, "Tidak sayang, paman tidak memaksa tapi bunda mu yang mengusir paman, bukankah tidak boleh mengusir tamu penting?"


Denia tampak berpikir, ia menatap arah bibinya dengan raut bingung.


"Apa paman ini tamu penting?" tanya gadis kecil ketiga milik Nayla saat ini.

__ADS_1


Nayla tersenyum mendengarnya, ia menghardikkan bahu tanpa menjawab.


"Denia, paman Ariq ingin ikut makan siang bersama kalian boleh?" tanya Ariq yang sudah mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh mungil Denia.


"Bundnay sudah katakan kami tidak punya makanan lebih untuk orang lain," jawab gadis kecil itu polos.


"Paman bisa beli, apapun yang kalian ingin makan siang ini. Ayolah paman butuh izinmu sekarang."


Denia tampak berbinar, "Apa paman bisa beli?"


"Oh tentu saja sayang, apapun yang kau ingin makan siang ini katakan saja kita bisa membelinya jika memang bunda Nayla tidak boleh paman makan masakannya, paman akan beli saja."


"Aku mau makan ayam goreng yang banyak, cumi krispy, dan----" gadis kecil itu melirik Nayla, mulut mungilnya menjadi bungkam seketika.


"Tidak jadi, maaf." Denia beralih mendekati Nayla.


"Nay, ayolah. Aku hanya ingin menyenangkan mereka. Kau tidak perlu memasak, aku bisa beli semuanya."


Nayla terdiam sejenak, ia melirik wajah Denia yang tampak murung.


"Baiklah, hanya siang ini saja. Aku tidak menerima bantuan dihari lain," ucap Nayla.


"Sayang apa maksudmu, ini bukan bantuan. Kau membuatku tersinggung, aku hanya ingin makan siang bersama mu dan anak-anak Juna itu saja."


Ariq hanya tersenyum nakal menatap Nayla dengan manja, membuat Nayla memutar bola matanya dengan malas. Ariq beralih pada Denia yang ikut tersenyum saat lelaki itu mengerlingkan sebelah mata seakan tanda kemenangan mereka dalam meluluhkan Nayla pagi menjelang siang ini.


Selang dua jam, Arinda dan Zandi pulang. Meski cukup tercengang namun mereka cepat berbaur satu sama lain saat Ariq memperkenalkan diri sebagai kekasih bibi mereka, menu makan siang yang banyak dan mewah siang ini menambah semangat empat anak kecil itu makan dengan lahap.


Nayla ke dapur hendak mengambilkan minum, sampai disana ia meneteskan airmata dalam diam, gadis ini tahu mungkin ia tidak akan pernah bisa memberi makan enak seperti yang Ariq beli siang ini.


"Hei."


Nayla menyeka sudut matanya saat mendapat sentuhan di pundaknya, Ariq menyusulnya ke dapur.


"Kau marah aku memanjakan mereka dengan makanan yang banyak?" tanya Ariq seolah menerka perasaan Nayla.


Gadis itu menggeleng.


"Tidak, justru aku berterima kasih. Aku senang melihat mereka makan dengan lahap," jawab Nayla menoleh ke arah lain.

__ADS_1


Ariq tersenyum seraya memeluk Nayla dengan gemas.


"Mas Ariq." Nayla tampak menghindar.


"Aku bisa membelikan mereka makan setiap hari, itu artinya kita akan makan siang bersama setiap hari," ucap Ariq enteng, ia meraih lagi tubuh Nayla hingga tidak bisa menghindar.


"Tidak perlu, kami bukan pengemis."


"Oke baiklah, maaf jika kau tersinggung."


Nayla kembali meronta. "Mas Ariq, lepaskan aku. Apa kau tidak malu ada anak-anak."


"Tidak, tidak akan kulepaskan kau."


"Mas Ariq berhenti bercanda."


Ariq terkekeh, ia raih dan kecup secara berulang bibir Nayla yang tidak memakai pewarna apapun.


"Mas Ariq, hentikan! Berhenti menciumku!" bentak Nayla kesal, ia berusaha lepas namun sia-sia.


Namun bukannya mendengar malah Ariq lebih gencar melakukannya, bahkan Nayla tidak bisa menyembunyikan wajah merahnya karena hujan ciuman yang Ariq berikan.


"Mas Ariq kau benar-benar gila. Berhenti atau aku berteriak."


"Teriak saja jika kau mau anak-anak menyaksikan kita bermesraan."


"Mas Ariq aku mohon, jangan seperti ini. Lepaskan aku," lirih Nayla seraya memukul dada pria itu sekuat tenaga.


"Jantungku bisa lepas jika kau pukul seperti ini."


"Biar saja, biar isi dadamu rontok semuanya. Kau membuatku kesal, aku malu dicium seenaknya, dipeluk tanpa permisi, aku bukan wanita murah----" ucapan Nayla menggantung, tangannya yang semula mengamuk kini mendadak lemas, dimulut ia ingin mengatakan ia bukanlah wanita murahan, namun dalam hati tiba-tiba mengingatkan bahwa sejak lama ia adalah gadis murahan yang penuh noda, jadi apa gunanya meronta.


Ariq melepaskan Nayla, ia raih wajah gadis itu dengan kedua tangannya. "Maafkan aku, seharusnya aku lebih menghargaimu, jangan marah oke. Aku hanya merasa kau terlalu gemas untuk dibiarkan begitu saja."


Nayla menatap Ariq tajam, pria itu menyengir lagi.


"Kau benar-benar menggemaskan, tunggulah sampai orangtua ku berkunjung kemari."


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Tentu saja untuk melamarmu sayang."


"Apa?"


__ADS_2