
"Sayang!"
Nayla menoleh.
"Mas Ariq? Kau pulang?" tanya Nayla heran.
"Iya, aku merindukan ini!" jawab Ariq yang langsung mencium perut istrinya yang masih tampak rata.
Nayla memutar bola matanya yang indah, senyum senang sekaligus geli karena merasa gesekan bulu halus yang tumbuh sebagai jambang suaminya itu seperti sedang digelitiki.
"Mas Ariq, aku geli," Nayla menghindar kegelian.
Ariq tidak menggubris. Nayla akhirnya menaruh sebuah buku yang ia baca tadi ke atas meja samping tempat tidur.
"Kau tidak merindukan ku?"
Ariq menghentikan aksinya, ia beralih pada Nayla yang masih bersandar di kepala ranjang. Menatap penuh cinta.
"Oke baiklah aku pulang karena merindukan kalian berdua," cengir Ariq.
"Mas Ariq, ini baru 7 minggu. Kau berlebihan, kau pulang sepagi ini meninggalkan pekerjaan."
"Oh aku sungguh tidak sabar menjadi seorang Daddy. Sehat-sehat sayang, kau benar-benar pelengkap kebahagiaan ini," ucap Ariq lagi seraya mengecup lagi perut Nayla dengan gemas.
"Ayo katakan, kau ingin makan apa sekarang?Mengidam apa lagi selain yang kemarin?"
Nayla menggeleng.
"Aku sudah kenyang, ini masih pagi tapi sudah dapat kiriman makanan dari Oma, baru saja aku dapat kiriman lagi cemilan dari Lia, lalu kak Aqilla dan Clarissa juga mengirimkan buah, tadi aku bahkan bingung ingin makan yang mana, aku malu..... Ini terlihat manja, aku bahkan tidak boleh memasak, itu aneh. Aku hamil bukan sedang sakit. Ayah dan ibu Rena juga baru saja pulang, pagi-pagi kemari hanya ingin melihat foto USG, mereka tidak puas hanya melihat di pesan saja."
"Belum lagi suamiku ini over protective," rengek Nayla sambil mencium gemas pipi suaminya.
Pada kenyataannya, memanglah berita kehamilan Nayla menjadi heboh di keluarga Oma, betapa tidak semua menginginkan seorang cucu hadir di keluarga besar itu namun hingga kini rupanya hanya Nayla yang berhasil pertama kali hamil padahal dua adik Ariq yang lainpun sudah lama menikah.
Nayla ketahuan hamil di bulan ketiga menikah, pulang dari berbulan madu di negara Paman Sam sekaligus mengunjungi mertuanya di sana bulan lalu. Nayla hamil dalam kebahagiaan, tidak heran pula ia dimanja semua keluarga, ia akan melahirkan cucu pertama dari Alif dan Humairah.
__ADS_1
Ariq terkekeh.
"Itu artinya, semua menyayangi mu Nayla...... Semua ingin kau menikmati kehamilan ini dengan kebahagiaan sampai melahirkan nanti."
"Aku mencintaimu sayang, apapun yang ingin kau makan katakan padaku, aku akan ada untukmu selama kehamilan."
"Selama kehamilan saja begitu?"
Sejak hamil istrinya mudah tersinggung bahkan pada hal-hal kecil sekalipun.
"Maksudku, selamanya sayang, selama kau butuh aku akan ada untukmu."
"Bohong."
"Tidak."
"Jika begitu, aku ingin anak-anak kemari."
"Nay..... Mereka sekolah."
"Suruh mereka pulang."
"Aku suka rumah ini ramai."
Nayla tampak murung, membuat Ariq menghela napas menahan sabar, perdebatan seperti ini sering terjadi sejak satu bulan kehamilan.
"Rumah ini selalu ramai Nayla, mereka berkunjung hampir setiap sore."
"Baiklah, panggilkan aku bang Jhon saja."
"Kenapa bang Jhon?"
"Aku merindukannya."
"Enak saja, tidak boleh!"
__ADS_1
Nayla terkekeh, ia suka mengerjai suaminya.
"Kak Dirga saja."
"Ahhhhh apalagi dia, tidak boleh. Dia saudara tirimu ingat itu."
"Rahayu?"
"Tidak boleh," sanggah Ariq lagi.
"Kenapa?"
"Dia perempuan lajang, tidak boleh ke rumah lelaki sudah beristri."
"Ckk..... Bilang saja takut dilema jika melihat Rahayu sering kemari."
"Naylaaaaaa."
"Oke, jika tidak boleh Rahayu bagaimana jika Vano dan Annisa saja?"
"Apalagi Vano, jangan membuat aku membunuh orang pagi-pagi buta."
Perempuan itu tertawa geli.
"Aku hanya bercanda," kekeh Nayla mengecup gemas bibir suaminya.
"Kau membuatku lapar sayang," cetus Ariq lagi sambil menahan leher Nayla hingga tidak boleh menjauh, ciuman panjang pun terjadi penuh cinta.
"Kau ingin makan?" tanya Nayla melepas tautan bibir sementara.
"Ku kira begitu."
"Baiklah, jika ingin makan. Makan aku saja!"
Nayla meraih suaminya hingga mereka terlibat pergumulan di atas ranjang disinari matahari di celah gorden yang baru mulai akan meninggi di jam 10 pagi.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, ponsel Ariq terus bergetar di saku celana yang terdampar tidak jauh dari ranjang.
Andira's Calling.