Purnama Merindu

Purnama Merindu
Andai takdir memihak


__ADS_3

Nayla menatap Ariq yang sedang makan, pria itu meladeni Denia dan tampak akrab berdua. Mengabaikan Nayla yang hanya diam dan memandangi dua orang itu dengan seksama.


Senyum kecut, Nayla tahu pria itu tidak mungkin menjadi miliknya meski Ariq mengatakan mencintai dan menerima masa lalunya.


Memang sebuah risiko jika sudah ternoda maka bersiaplah untuk menjadi pertimbangan berat bagi yang ingin mengambilnya sebagai pendamping hidup, tentu keluarga pria manapun akan menolak memperistri seorang yang kelam masa lalunya, ditambah pula keadaan keluarga yang tidak mendukung.


Meski dinyatakan tidak bersalah, ayahnya tetap saja seorang mantan narapidana, mengasuh empat anak yang pasti akan dianggap sebagai beban. Memikirkan semua itu rasanya Nayla pusing sekali, mungkin tidak ada yang mau menikahinya jika semua memandang seperti itu.


Mendengar Ariq menyebutkan pria itu adalah calon suaminya di depan Angga tadi membuat hati Nayla menghangat sejenak namun kembali merasa nyeri jika mengingat siapa keluarga dan latar belakang Ariq saat ini.


Tidak ingin berharap lebih, itu adalah kunci agar Nayla tidak kecewa lebih dalam nantinya jika memang akan berakhir pula kisah cintanya yang kedua ini.


"Nay...... Kau tidak makan?"


Nayla tertegun.


"Aku sudah kenyang, melihat kalian berdua makan dengan lahap."


"Benarkah?"


Nayla mengangguk.


"Aku tidak percaya, ayolah makan jangan biarkan makanan ini mubazir, kita sudah pesan tapi tidak dimakan."


Ariq menyuapi Nayla, mau tidak mau gadis itu membuka mulutnya juga.


"Aku bisa makan sendiri," ujar Nayla mengambil alih sendok yang dipegang Ariq saat ini.


"Ayo sayang, makan yang banyak biar kau tumbuh besar dengan cepat," seru Ariq pada Denia yang duduk di sampingnya. Mereka sudah akrab sekali.


Denia mengangguk namun tidak bicara karena mulutnya penuh dengan makan siangnya yang enak hari ini.


"Nay....."


"Iya?" sahut Nayla masih mengunyah.

__ADS_1


"Benar kau dan ayahmu akan membuka restoran kecil di dekat kampus Aziz?"


Nayla mengangguk, "Iya, bahkan sudah buka hari ini tapi akan benar beroperasi mulai besok. Aku akan membantu ayahku di sana, jadi aku tidak perlu mencari pekerjaan lain lagi," Jawab Nayla polos.


"Aku senang mendengarnya, aku akan sering mampir nanti."


"Terimakasih mas Ariq."


Hening sesaat.


"Nayla...."


"Iya mas Ariq? Apa kau ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?" tanya Nayla setelah meminum air putih dari gelasnya, ia menatap Ariq yang menggenggam tangannya.


"Maaf soal malam itu."


Ariq tampak ragu mengatakannya.


"Akulah yang meminta maaf, seharusnya aku jujur sejak lama, aku juga tidak tahu harus seperti apa ketika tahu bahwa Vano adalah suami adik sepupumu."


"Kenapa kau memaksa mereka berpisah? Percayalah mas Ariq, mereka serasi sebagai pasangan. Dan kau pun harus tahu, tidak terjadi sesuatu malam itu antara aku dan Vano, dia datang dalam keadaan mabuk, aku hanya keluar menyuruhnya pulang karena kasihan hujan-hujanan menungguku."


"Vano pria yang baik, dia tidak menyakitiku...."


"Tapi dia menyakiti Annisa, adikku," bantah Ariq kesal.


"Vano dan nona Annisa dijodohkan, Vano dilanda kebingungan antara aku dan orangtuanya yang mendesak. Sebagai anak yang baik rupanya dia menerima permintaan orang tuanya dan meninggalkanku dalam keadaan terpuruk seorang diri."


"Vano tidak pernah menyakitiku, dia hanya tidak bisa mengambil sikap waktu itu."


"Cihhhh, kau memujinya?" Ariq berdecih sambil memalingkan wajahnya ke lain arah.


"Semua tidak mudah mas Ariq, semua bukan kebetulan semata. Jika Vano tidak meninggalkan ku, mungkin kita tidak akan pernah bertemu. Semua sudah takdir, sudah begini adanya, inilah aku dan segala kekuranganku..... Aku tidak pernah memaksamu melihat ke arahku mas Ariq, aku sangat tahu diri dalam hal ini."


Ariq menatap Nayla lagi dengan tatapan dalam.

__ADS_1


"Aku benci, tapi ku akui karena pria bodoh itu aku bertemu dan jatuh cinta padamu. Bahkan sejatuh jatuhnya. Hanya saja semuanya begitu rumit saat Nisa tidak bisa berahasia, dia memberitahu bibi dan keluargaku yang lain. Aku bingung Nay, aku bingung saat ini. Orangtua ku akan berkunjung kemari dalam beberapa hari ini."


"Apa yang kau bingungkan? Soal perjodohan?"


Ariq kembali terdiam.


"Kenapa harus bingung? Kau akan mengalami apa yang Vano rasakan dulu mas Ariq, permasalahan yang sangat klise bagi banyak kisah percintaan, wanita yang dicintai terhalang restu, namun wanita lain begitu beruntung mendapatkan si lelaki lewat jalur perjodohan."


"Kau tidak perlu bingung, kita serahkan semuanya pada sang pemilik takdir, percayalah setiap orangtua mau yang terbaik untuk anaknya, jika wanita itu cantik dan Sholehah kenapa tidak? Jika bicara cinta, semua akan ada waktunya, bisa tumbuh seiring kebersamaan setelah menikah, banyak juga yang awet meski lewat perjodohan."


"Hati kita terbuat dari daging, bukan batu. Jika hari ini kau bilang mencintaiku, setelah menikah nanti kau akan jatuh cinta pada istrimu seiring kalian sering bertemu dalam satu atap. Jangan memusingkan hal ini, orang tua tidak akan memberi yang buruk pada anaknya."


Ariq masih diam dan mendengarkan.


"Dan soal aku, tidak perlu pertimbangan lebih. Aku sudah pernah melewati ini ketika Vano meninggalkan ku menikah dengan wanita pilihan orangtuanya, aku akan baik-baik saja mas Ariq. Aku tidak pula memaksa mu untuk memilihku, tidak sama sekali."


"Turutlah apa kata keluarga mu, mereka tahu yang terbaik untuk anaknya, jangan hiraukan aku meski cinta sekalipun. Cinta bisa hilang seperti debu, sudah biasa hal seperti ini. Jangan terlalu dibesarkan, aku ikhlas. Kita bisa berakhir dengan baik. Tidak ada pihak yang dirugikan diantara kita."


"Kenapa kau bicara seperti ini? Aku tidak suka, jika bukan aku yang menikahimu lalu siapa? Vano? Mau kembali padanya dan jadi istri kedua begitu? Atau mas Angga yang tadi? Dia juga sudah menikah, lalu dijadikan istri kedua lagi, apa kau mau?" ketus Ariq menatap Nayla tajam.


"Kenapa kau berdoa yang buruk mas Ariq, setidaknya jangan istri kedua, doakan aku mendapatkan Ariq yang lain saja. Tanpa drama restu dan perjodohan lagi. Aku percaya jika bukan kau mungkin saja ada lelaki lain yang mau menerima ku dengan segala kekuranganku nanti, aku tidak lagi memusingkan ini. Aku akan menata lagi hatiku, hidupku yang baru bersama ayah dan anak-anak ku untuk masa depan yang lebih baik."


"Aku mau menikah denganmu Nayla."


"Bagaimana dengan keluarga mu? Kita menikah bukan berdua saja, dua keluarga juga akan bersatu. Latar belakang mu jauh berbeda denganku saat ini, aku gadis penuh noda, ayahku seorang mantan narapidana. Semua itu tidaklah mudah, hanya orang-orang yang berjiwa besar akan menerima ku dan ayahku nanti, aku ragu jika kau bisa meyakinkan keluargamu tentang hubungan kita."


Nayla tampak bernapas panjang, senyumnya yang manis masih terlihat meski terasa hampa.


"Terlebih kau sudah disiapkan jodoh yang tentu jauh lebih baik dariku."


"Jangan memaksa mas Ariq, aku tidak ingin terluka perasaan ayahku jika tetap memaksa namun akhirnya menjadi tidak baik, aku tidak mau dihina lagi, aku tidak bisa merendahkan harga diri ayahku hanya karena ingin menikah denganmu, keluarga mu pasti akan punya pertimbangan yang berat soal aku dan latar belakang ku."


Ariq terdiam lagi.


"Aku tahu yang terbaik untukku!" tegas Ariq lagi.

__ADS_1


__ADS_2