Purnama Merindu

Purnama Merindu
Hari ke 100


__ADS_3

Hari ke 100 pernikahan Aish dan Aldric, hari ke 100 pula kepergian Ken meninggalkan semua orang terkasih.


Aish tampak mengelap butiran bening di pipinya, ia menadahkan tangan sambil mengirim doa untuk Ken yang punya tempat istimewa di hatinya sampai kapan pun.


"Aku sudah lebih baik Mas Ken, beristirahatlah dengan tenang," ucap Aish seraya mengusap pusara lelaki yang membawanya pada takdir yang berbeda sekarang.


Aish tersenyum, bau tanah yang basah dan wangi bunga yang bertaburan di makam Ken membuatnya merasa lebih ikhlas, cuaca dingin mulai berhembus lagi tanda hujan akan turun lagi.


Aish meninggalkan makam, Aish berjalan namun terhenti saat matanya bertemu mata pria yang menjadi suaminya. Aldric ternyata ada di belakangnya sejak tadi.


"Mas Aldric juga kemari?"


Aldric mengangguk saja.


"Aku sudah selesai, aku pulang duluan!" pamit Aish.


Lagi, Aldric hanya mengangguk tanpa menjawab.


Aish mendengus kesal, namun karena di pemakaman hingga ia tidak berani mengumpat.


Perempuan itu pergi begitu saja dengan wajah yang sulit Aldric mengerti. Ia menatap sekilas punggung Aish, lalu melanjutkan niat ke makam saudara kembarnya Ken.


Lama Aldric duduk, ia tampak mengirim doa sebagai orang terakhir yang datang ziarah hari ini setelah semua keluarganya datang pagi tadi.


Tanpa Aldric sadari, istrinya memperhatikannya dari jauh. Aish masih berdiri di luar pemakaman, karena Aldric terlalu lama, ia memutuskan untuk ke halte tidak jauh dari sana.


Aish yang semula hendak pulang naik angkutan umum, namun tidak jadi karena merasa kasihan pada Aldric, hingga ia menunggu pria itu selesai ziarah.


Cuaca memang sedang tidak bagus, hujan sejak tadi pagi, sekarang malah mulai merintik lagi.


Aish tersenyum, ia melihat suaminya mulai masuk mobil, ia segera berdiri lalu melangkah ke tepi jalan berharap Aldric melihatnya melambai tangan ingin menumpang.


Namun siapa yang menyangka Aldric tidak memperhatikan jika ada perempuan yang ia cintai tertinggal di sana.


"Mas Aldric!" panggil Aish sambil berlari mengejar mobil Aldric yang perlahan menjauh.


"Apa dia tidak melihatku?" gumam Aish dalam larinya, ia mulai terengah dan mobil Aldric kian jauh, ia berhenti tidak kuat lari lagi mengejar hal yang sia-sia.


Aish sungguh dibuat kesal luar biasa, namun matanya melihat mobil Aldric perlahan berhenti, tanpa berpikir panjang Aish berlari lagi mengejar mobil suaminya dengan kecepatan penuh di sisa tenaganya.


"Iya, aku menemukannya," sahut Aldric sambil memegangi sebuah map yang ia dapatkan dari bangku penumpang.


Ia kembali ke posisinya, lalu kembali berbicara lewat ponselnya dengan seseorang yang sedang menelponnya.


Tiba-tiba ia dikejutkan dengan ketukan kaca mobil dari perempuan yang sudah kebasahan oleh hujan.


Aldric melihat jelas itu adalah Aish.

__ADS_1


Segera Aldric tutup sambungan telepon secara sepihak. Lalu ia keluar mobil menghampiri Aish.


"Aish, kau belum pulang? Kenapa menyusulku?"


Aish melihat wajah Aldric mulai basah, pria itu menemuinya di luar mobil. Sungguh pria yang diluar dugaan pikir Aish.


"Mas Aldric kenapa kau keluar? Kau jadi basah juga? Kenapa kau bodoh sekali!!!!" teriak Aish kesal.


Setelah mengatakan itu Aish segera membuka pintu mobil dan masuk begitu saja. Aldric tampak bingung lalu ia pun menyusul masuk mobil.


"Aish kau kenapa?"


Aish menatapnya dengan tatapan tajam, setajam silet.


"Kau tidak lihat aku sebesar ini? Aku menunggumu di halte, aku lihat mobilmu melewati ku tanpa bersalah, aku berlari mengejar dalam hujan kau bahkan tidak tahu sama sekali, kau benar-benar menyebalkan!!!" kata Aish yang mengelap wajahnya dengan tissu yang ia dapatkan dari dasboard mobil.


"Untung kau berhenti, jadi aku susul lagi. Tapi kau bukannya membuka pintu mobil untukku malah ikut keluar dan basah sekarang, ya Allah demi apa aku punya suami sepolos dirimu Mas Aldric!" teriak Aish lagi sambil melirik Aldric dengan mata indah yang menakutkan.


Pria itu kian bingung.


"Maafkan aku, aku sungguh tidak lihat kau menunggu ku, aku kira kau memang sudah pulang duluan," balas Aldric menyesal.


Aish masih mengatur napas.


"Ya sudahlah, ayo jalan!"


Aldric mengangguk.


"Mas Aldric."


"Iya, Aish."


"Apa kau punya handuk di mobil?"


"Ada," sahut Aldric.


"Mana? Boleh ku pinjam?"


"Tentu saja," kata Aldric sambil menghentikan mobilnya lalu ia ke belakang mengambilkan handuk yang memang ia siapkan untuk berpergian lalu memberikan pada Aishwa.


Aish mengelap tangan dan serta membuka hijabnya tanpa beban.


Aldric terkejut.


"Aish, kau membuka jilbab?"


Aish menatap Aldric sambil mengeringkan rambutnya.

__ADS_1


"Apa aku berdosa membuka jilbab di depan mu?"


Aldric langsung menggeleng, demi apa untuk pertama kalinya ia melihat Aish tanpa penutup kepala.


Jika di rumah perempuan itu menjaga penampilan di hadapannya dengan baik.


Kini, Aldric sungguh disuguhkan dengan pemandangan wajah cantik dengan rambut basah, Aishwa benar-benar perempuan cantik yang tidak terbantahkan.


"Rambutku akan bau jika dibiarkan basah dalam keadaan berjilbab, lagi pula tidak masalah juga kau melihat rambut ku, bukankah kau suamiku yang sah?"


Aldric menjadi gugup seketika mendengar kata suami dari mulut Aishwa.


"Jangan GR dulu, kenapa kau jadi salah tingkah? Aku terlihat lebih cantik tanpa jilbab?" goda Aish sambil tertawa.


Aldric hanya diam, wajahnya bersemu merah.


"Kau benar-benar kaku!" lirih Aish geleng kepala lagi.


Selebihnya mereka terlibat hening sepanjang perjalanan. Hening dalam pikiran masing-masing.


"Mas Aldric, kita kemana?" tanya Aish saat menyadari mereka singgah di sebuah rumah yang cukup besar.


"Ini rumah orangtuanya Anara."


Aish terkejut.


"Aku ada file yang harus diberikan padanya, tunggulah sebentar."


Aldric mengambil sebuah map lalu keluar mobil, Aish melihat itu menjadi diam. Apa Aldric masih sering bertemu Anara?


Aish menepuk keningnya baru teringat bahwa Anara adalah sekretaris suaminya. Apa Aish terlalu abai pada Aldric hingga ia sama sekali tidak tahu ruang lingkup pekerjaan pria itu sampai sekarang?


Apa Aish terlalu jahat hingga tidak mau peduli selama ini, perempuan itu menghembus napas panjang.


Lalu matanya melihat Anara mengantar Aldric sampai di depan mobil mereka. Cukup lama berbasa basi, Aish melihat dengan jelas wajah Anara yang menatap suaminya dengan tatapan dalam lagi penuh makna.


Aish merasa bersalah pada Anara, tapi melihat mereka berdua bicara entah mengapa ia cukup penasaran jadinya.


Aish berniat keluar namun urung saat menyadari penampilannya tanpa penutup kepala.


Lalu ia melihat Anara melambai tangan pada Aldric yang pamit kembali masuk mobil. Beruntung kaca mobil itu hitam hingga tidak terlihat dari luar, jika tidak mungkin Aish merasa sangat sungkan tidak ikut menyapa Anara.


Aldric menoleh Aish sambil menjalankan mobilnya.


"Kau kenapa?"


Aish yang semula melihat Anara memudarkan senyumnya saat mobil mereka mundur perlahan menjauh dari halaman rumah gadis itu, kini beralih menatap Aldric.

__ADS_1


"Apa kau mencintai Anara?"


Aldric menoleh sekilas, lalu tersenyum tanpa menjawab.


__ADS_2