Purnama Merindu

Purnama Merindu
Nayla yang menyedihkan


__ADS_3

"Umurnya tiga puluh tahun, tidak masalah jauh lebih tua dariku, aku suka pria dewasa dan matang seperti ini, bahkan dengan fotonya saja aku sudah jatuh cinta dibuatnya."


"Ini rahasia kita Nay...... Aku malu tapi karena kita berteman sekarang, kau tahu Nay..... Aku belum pernah jatuh cinta apalagi pacaran. Aku sibuk belajar dan mengejar prestasi saja sedari aku kecil hingga sekarang, perpisahan kedua orangtuaku membuatku ingin membuktikan pada mereka yang mengejek seorang anak broken home yang mereka kira akan hidup berantakan seperti ayah dan ibuku."


"Hingga aku melewati masa remaja, masa pubertas dimana gejolak mudaku tidak ku rasakan indahnya, yang ada hanya obsesi untuk terus berprestasi agar tidak dipandang sebagai anak broken home yang lemah. Aku dan kakakku selalu menjuarai kelas, menjuarai olimpiade, ikut lomba ini dan itu tanpa sadar telah melewati masa remaja yang kini tidak akan bisa terulang lagi."


"Aku bahkan tidak punya teman akrab hingga berkuliah sekalipun. Lihatlah aku berhasil wisuda hanya dalam waktu tiga tahun menempuh pendidikan S1, sukses di organisasi, menjadi lulusan terbaik. Aku bangga pada diriku yang tumbuh tanpa kasih sayang keluarga yang lengkap namun bisa mencapai banyak hal yang sebagian orang belum tentu mampu melakukannya."


"Sampai pada umurku yang menginjak dewasa ini, aku baru pertama kali merasakan getar itu. Getar asmara hanya dengan melihat foto saja. Aku jatuh cinta padanya Nayla..... Ternyata inikah rasanya jatuh cinta yang seharusnya dirasakan saat remaja. Meski sedikit terlambat namun aku bangga bisa jatuh cinta pada pria yang jika tidak ada halangan akan menjadi jodohku."


"Aku ingin pacaran secara halal Nayla, aku berharap kami memang berjodoh, hingga bisa ku pastikan dia adalah cinta pertama sekaligus cinta terakhir ku nanti."


"Dari yang ku dengar, pria ini baik dan menghargai seorang wanita. Dia pria pekerja keras, kami sudah bertukar kabar lewat pesan. Jika tidak ada halangan saat dua keluarga bertemu nanti kami juga akan dipertemukan."


"Memang pertemuan ini bukan pemaksaan dalam perjodohan, ibuku juga tidak akan memaksa jika memang tidak cocok nanti, namun dengan melihat gambarnya saja aku sudah merasa cocok, bagaimana jika sudah bertemu nanti bukan?"


Nayla diam, diam dalam kebisuan yang membuat lidahnya kelu ingin berkata-kata. Dadanya yang kian kurang oksigen sejak melihat gambar Ariq yang Rahayu tunjukkan. Pria itu Ariq, Ariq yang merupakan kekasihnya saat ini.


Pria yang beberapa hari lalu kembali padanya dalam kehangatan sikap seperti semula, kata-kata cinta yang bahkan lebih sering dari sebelumnya. Ariq orangnya, Rahayu gadis sempurna yang berhasil menjadi pilihan keluarga dari pria itu.


Ternyata Rahayu orangnya. Memanglah tidak pantas jika ia dibandingkan dengan gadis cantik berkerudung putih itu, gadis sempurna luar dalam menurut Nayla. Tidak ada cela yang membuat pria manapun mampu menolak pesona seorang Rahayu.


Gadis muslimah, belum pernah pacaran, hidupnya dipenuhi dengan kebanggaan akan prestasi-prestasi yang gemilang, bahkan gadis ini pantas mendapatkan Ariq yang juga sempurna luar dalam. Jodoh adalah cerminan diri, Nayla merasa Rahayu sangat pantas untuk pria itu. Sebanding.


"Nay...... Kenapa kau diam? Apa aku terlalu banyak bicara? Atau kau ikut terkesima pada Mas ku ini?"


"Aku hanya tidak menyangka dunia bisa sesempit ini Rahayu, sempit sekali hingga tidak memberi ku ruang bebas untuk bernapas....."


Nayla menatap ke sembarang arah dengan tatapan kosong lagi hampa. Hampa sekali seperti hatinya saat ini.


"Maksudmu?"

__ADS_1


"Entahlah, aku merasa sangat menyedihkan."


Rahayu ingin bertanya lagi namun sebuah suara menghentikan mereka.


"Anak-anak, kemarilah. Ibu ada sesuatu yang ingin disampaikan."


Ibunya Rahayu berteriak dari dapur.


"Ayo, sepertinya mereka ingin bicara pada kita."


Rahayu berdiri lebih dulu, ia mengulurkan tangan pada Nayla, gadis itu menerimanya. Mereka keluar dari sana saling bergandengan.


"Iya bu, ada apa?" tanya Rahayu.


Nayla hanya diam saja, hanya semburat senyum tipis yang menghiasi bibirnya yang manis dengan aksen tahi lalat di sudut bibirnya.


"Hmmmmm.... Karena ibu lihat kalian sudah akrab, alangkah baiknya kami jujur pada kalian tentang hubungan ini."


Bibi Rena membuka percakapan itu cukup terlihat canggung dan malu-malu.


"Nayla, ayah minta maaf soal ini. Mohon jangan marah, jika kau tidak setuju tidak masalah kita bisa bicara baik-baik lagi setelah ini."


Menarik napas dalam ayah Faisal menatap wajah putrinya bergantian dengan Rahayu.


"Nayla, Rahayu..... Paman melamar ibumu Rena Anindita, sebagai pasangan hidup yang akan menjalani suka dan duka kehidupan yang sudah tidak muda ini, kami tidak pula memaksakan kehendak jika anak-anak kami tidak setuju."


"Rahayu, kau tahu ibu sudah cukup lama menjanda...... Tidak satu orang pun yang mampu meyakinkan ibu untuk memulai berumah tangga lagi, meski usia tidak lagi muda namun ibu yakin pada paman Faisal. Kami berniat menikah jika kalian merestui."


Rahayu memeluk ibunya dengan haru.


"Aku setuju, aku akan mendukung apapun untuk kebahagiaan ibu. Ibu sudah cukup lelah mengurusku selama ini, tidak mengira siang dan malam ibu bekerja agar kami tercukupi kebutuhan, hingga melupakan urusan pribadi yang ibu berhak juga untuk bahagia."

__ADS_1


"Aku juga suka pada paman Faisal, aku yakin paman bisa membahagiakan ibuku meski tidak muda lagi."


Menetes pula butiran bening dari telaga indah mata Nayla. Ia teringat mendiang ibunya.


"Aku pun setuju ayah, aku berpikiran yang sama dengan Rahayu. Ayah sudah cukup berat menjalani ujian hidup satu tahun ini, ayah ku pantas pula untuk berbahagia diusia yang sekarang. Aku senang ada yang memperhatikan dan mengurus ayah sepenuhnya nanti."


"Tentu niat baik tidak bagus jika ditunda, aku mendoakan yang terbaik untuk kalian."


"Terimakasih anak-anak," ucap ayah Faisal dan bibi Rena seraya meraih putrinya masing-masing dalam pelukan.


Adegan haru, mereka saling memeluk satu sama lain. Lalu Rahayu memeluk Nayla dengan gemas dan bahagia.


"Aku bahagia akan bersaudara denganmu Nayla....." kata Rahayu dengan nada manis saat memeluk calon saudara tirinya itu.


"Dan kami berencana menikah sebelum rencana perjodohan mu sayang..... Hingga ketika kau akan menikah nanti ibu ada yang mendampingi di atas pelaminan," kekek bibi Rena dengan raut merah padamnya.


Rahayu tergelak jadinya.


"Iya, andai memang kami berjodoh bu..... Aku akan senang sekali ibu dan ayah Faisal nanti duduk di pelaminan mendampingi ku."


Rahayu malu saat membayangkannya, duduk di pelaminan bersama pria yang bernama Ariq.


Berbeda dengan Nayla, ia hanya bisa tersenyum kecut. Nyeri, nyeri sekali. Betapapun ia berusaha merasa baik namun getar hati itu tetap terasa pedih jika mengingat Ariq memanglah jauh sekali dari takdirnya.


"Kau senang mendengarnya nak? Apa kau juga ingin ayah jodohkan agar tidak kalah jauh saat menikah nanti dari Rahayu?" goda ayah Faisal yang masih memeluk putrinya.


Nayla terkekeh.


"Iya, jika ada aku juga mau dijodohkan. Aku ingin juga berumah tangga meski masih muda aku tidak mau menyia-nyiakan waktu lagi. Andai ada jodoh, aku mau menikah."


Rahayu mendengarnya menjadi ikut tertawa bersama ibunya.

__ADS_1


"Jika perlu kita menikah berbarengan."


Gelak itu pecah begitu saja, tawa bahagia. Mereka bahagia namun tidak Nayla, ia merasa runtuh hatinya jika menyadari pula siapa saingannya dalam mendapatkan hati seorang Ariq.


__ADS_2