
Ariq menghentikan mobilnya saat mendapat telepon dari Dirga yang mengatakan bahwa istrinya terlihat di parkir kantor iparnya itu, yang mencurigakan adalah saat Nayla hendak masuk mobil ia malah dibekap oleh seorang lelaki yang membuat Dira melihat layar cctv itu menjadi histeris.
Sebuah layar cctv terpajang di sudut atas sebelah kiri ruangan Dirga, ia sengaja menaruhnya disana agar leluasa mengontrol lingkungan kantornya dengan mata kepalanya sendiri sebagai antisipasi tindakan kejahatan yang akhir-akhir ini sering terjadi di kantornya.
Layar itu menampilkan segala sudut bagian luar kantor hingga ke parkiran. Kebetulan saat ia baru saja berbicara dengan Dira sebagai kliennya yang baru, tidak sengaja ia menangkap pergerakan Nayla yang entah sejak kapan berada di kantornya itu.
Semula Dirga menebak bahwa mungkin saja Nayla mengikuti Ariq karena cemburu, namun penglihatannya berubah saat tampak seorang lelaki mengikuti dengan gerakan mencurigakan lalu membekap mulut Nayla hingga pingsan.
Dira yang juga melihat itu menjadi panik saat tahu pria itu adalah suaminya, pria kejam yang ingin ia ceraikan dengan bantuan Dirga.
Dira dan Dirga mengejarnya, namun kalah langkah lalu mereka kehilangan arah. Menghubungi Ariq yang sudah pulang, membuat mereka kian kehilangan arah tidak tahu kemana pria itu membawa Nayla pergi.
Sampai pada Dira mengingat suatu tempat yang ia juga pernah dikurung di sana, sebuah apartemen kecil yang masih Dira ingat tempatnya.
Tidak ada yang bisa menebak perasaan Ariq saat tahu istrinya diculik oleh pria kejam yang berani memukul Dira dan menyiksa mantan kekasihnya itu tanpa belas kasihan.
Brakkkkk, Ariq menendang pintu kamar yang ia yakini ada Nayla disana. Beruntung Dira tahu password akses masuk karena dulu ia secara diam-diam menghafalnya saat sang suami menekan tombol password apartemen itu.
Demi apa saat pintu terbuka, ia menangkap sebuah pemandangan yang menyesakkan dada, membuat darahnya mendidih, marah hingga ke ubun-ubun. Istrinya tergeletak di lantai tanpa berdaya dalam keadaan terikat namun bukan itu melainkan ekspresi Nayla yang kesakitan dan menyedihkan habis dianiaya oleh pria yang masih mencengkram wajah Nayla dengan kasar.
"Jauhkan tanganmu dari istriku, akan ku bunuh kau bangsat!!!!" teriak Ariq menarik bahu suami Dira itu dengan kasar.
Ariq memukulnya tanpa ampun, pria itu tanpa bisa berkata-kata karena telah dibungkam berkali-kali oleh buku tinju dan pukulan-pukulan mematikan, wajahnya babak belur, hidung serta mulutnya penuh darah, bisa dipastikan gigi pria itu rontok oleh pukulan mantan juara taekwondo semasa SMA itu.
Ariq kalap, ia bahkan lupa pada Nayla karena terlalu asyik ingin membinasakan pria yang berani menyentuh istrinya. Pria itu terkulai, terkapar di lantai yang mana Ariq meninjunya hingga setengah mati.
Dada Ariq naik turun, napasnya cepat secepat laju kereta api, paru-parunya sesak kekurangan oksigen. Ariq melihat darah yang banyak pada wajah pria yang telah pingsan ia pukul habis-habisan itu, penglihatannya mulai buram, ia mabuk darah.
Namun suara lantang Dira dan Dirga yang membuyarkannya hingga tidak ikut terkulai ingin pingsan. Dirga telah menggendong Nayla dan Dira sejak tadi berteriak pada Ariq agar fokus pada Nayla.
"Ariq, hentikan! Dia bisa mati. Lihat istrimu, Nayla lebih penting untuk sekarang, dia kesakitan." Dira berteriak menarik lengan Ariq dari hadapan suaminya yang setengah bernyawa itu.
Ariq menoleh, ia segera menghampiri dan mengambil alih Nayla dari Dirga.
"Berikan padaku!"
Dirga memberikan Nayla, "Cepat bawa dia ke rumah sakit, biar aku yang mengurus pria gila ini!" ucap Dirga tanpa berlama-lama lagi.
Ariq mengangguk, ia terus memanggil Nayla sepanjang perjalanan menuju mobil.
"Sayang, mana yang sakit? Ayolah Nay, bicaralah jangan membuatku takut."
Ariq terus meracau saat melihat istrinya tidak berdaya dalam gendongannya, Nayla hanya menyahut sesekali, sebab ia juga menahan kesakitan pada perutnya yang mendapat pukulan tinju oleh suami Dira tadi. Bukan sekali namun berkali-kali pria psikopat itu memukulinya bagian perut, sungguh tidak berprikemanusiaan memukul wanita sedang hamil.
Nayla hanya bisa menangis sambil meringkuk kesakitan dalam pangkuan suaminya, Dira yang menyetir benar-benar panik melihat keadaan Nayla saat ini, ia mengemudi kencang menuju rumah sakit terdekat.
Ariq tidak akan pernah memaafkan dirinya jika terjadi sesuatu hal membahayakan nyawa sang istri, terlebih Nayla telah pingsan karena menahan sakit yang luar biasa sebelum mereka sampai rumah sakit.
Sampai rumah sakit, sedang Nayla ditangani di IGD, Ariq menghubungi orangtua serta mertuanya dan keluarga yang lain hingga mereka semua menyusul ke sana.
Ariq diperbolehkan masuk mendampingi pemeriksaan sang istri, disanalah ia melihat Nayla semakin tidak berdaya, terbaring lemah di brangkar dengan wajah penuh bekas merah dan sedikit lebam di sudut bibir yang terluka, hidung yang baru dibersihkan dari sisa darah. Membuat hatinya benar-benar hancur.
Sampai sebuah suara menegurnya.
"Maaf Pak Ariq, istri anda mengalami perdarahan. Nona Nayla keguguran, janinnya sudah dikeluarkan dari jalan lahir, penyebabnya belum diketahui namun dari pukulan yang dia terima bisa menjadi faktor utama musibah ini. Istri anda akan mendapatkan perawatan setelah ini, saya turut berduka," ucap dokter perempuan yang menangani Nayla.
"Apa?"
Dokter itu mengangguk.
__ADS_1
"Nayla?" Ariq menoleh pada perempuan yang terpejam itu.
"Sayang?"
Nayla masih diam, tidak ada pergerakan.
"Sayang!"
Ariq terbangun dari tidurnya, napasnya cepat namun dangkal hingga ia kesulitan untuk meraih oksigen yang dibutuhkan oleh paru-parunya.
Dadanya kembang kempis, keringat dingin mengalir dari keningnya, mimpi itu lagi.
Ia segera menoleh pada istrinya yang terlelap tidur dengan cantik di sampingnya itu. Setelah melihat wajah polos Nayla yang tidur dengan tenang, membuat hatinya kian lapang.
Ia mendekati Nayla, ia belai wajah cantik itu dengan lembut. Ia tidak tahu bagaimana perasaan Nayla yang mengalami hal mengerikan tempo hari itu.
Ini sudah lima bulan berlalu, namun Ariq masih sering bermimpi akan kejadian naas yang merenggut nyawa calon buah hatinya yang pertama. Hati orangtua mana yang tidak hancur.
Sejak saat itu, istrinya tidak banyak bicara. Sungguh sulit menebak perasaan Nayla setelah semua yang terjadi.
Ariq setia mendampinginya, mendampingi setiap masa sulit periode kehilangan bagi Nayla, ia takut sekali jika sampai istrinya depresi akan tekanan rasa trauma yang tercipta.
Namun hingga hari ini, Nayla semakin membaik. Dukungan semua keluarga membantu Nayla bangkit dari musibah ini.
"Mas Ariq? Kau sudah bangun? Apa sudah subuh?" tanya Nayla saat terjaga oleh kecupan-kecupan yang Ariq berikan di pipinya.
Pria itu menggeleng.
"Belum, maaf aku mengganggu tidurmu."
Nayla tersenyum, ia tahu suaminya bermimpi lagi, sebab bukan kali ini saja Ariq terjaga tengah malam. Bahkan seminggu ada tiga kali mimpi buruk yang berulang.
"Kau bermimpi lagi?"
"Mari kita berdamai dengan takdir, mungkin sudah takdirnya buah hati kita tidak untuk dilahirkan, aku sudah ikhlas juga sudah jauh lebih baik sekarang."
Ariq mengecup kening Nayla penuh perasaan, lalu ia mengangguk saja tanpa membantah.
"Apa kau bermimpi indah? Ku lihat kau tersenyum-senyum dalam tidur."
Nayla mengangguk, "Iya, dan kecupanmu membuat mimpi itu buyar."
"Mimpi apa?"
"Mimpi aku sedang memetik buah jambu dari pohonnya, aku jadi jago memanjat di sana. Entahlah aku merasa seperti anak kecil saja. Tapi benar, jambu itu merah dan manis, aku bawa pulang, lucunya jambu-jambu itu ku bawa dalam gendongan bajuku sendiri. Aku ambil banyak saat yang punya pohon boleh."
"Jambu? Jambu apa?"
"Jambu air mas Ariq? Kau tidak tahu jambu air? Kalau musim panas seperti ini buahnya merah dan manis."
"Aku lupa apa aku pernah memakannya atau tidak," jawab Ariq bingung memikirkan buah jambu yang mana.
"Kau membuyarkan mimpiku, padahal belum juga puas memakannya."
"Maaf," cengir suaminya.
"Sebagai gantinya, kau harus carikan aku buah jambu seperti di mimpi, merah dan manis. Jambu air dari pohon kampung bukan dari bibit unggul yang sudah disilang-silang. Jambu air original."
"Nayla, mana paham aku tentang jambu. Beli saja di supermarket juga pasti banyak."
__ADS_1
"Mas Ariiiiiiq," rengek Nayla kesal.
"Memangnya ada jambu original?"
"Ada."
"Aku tidak tahu."
"Kau mana tahu, kau anak kota!"
"Memang kau tahu?"
"Tahu, aku pernah liburan waktu kecil di rumah nenek sebelah ibu di kampung, kebetulan musim jambu air. Persis di mimpi, musim panas jambu itu manis sekali. Ada juga jambu Belanda, jambu ***."
Ariq bingung.
"Jangan bingung, kau harus bertanggung jawab karena mengganggu mimpiku!"
"Huh, baiklah....." Ariq mengangguk saja tanpa membantah.
"Ayo kita tidur lagi mana tahu kau bisa menyambung mimpi makan jambu itu lagi, jadi aku tidak perlu cari pohon jambu original seperti itu. Aku saja bingung jambu yang mana."
Ariq meraih kepala istrinya lalu ia dekap ke dada. Nayla terkekeh ia tidak menyangka suaminya tidak tahu tentang jambu air.
"Mas Ariq."
"Hmmmm."
"Aku lapar."
"Kenapa jadi lapar?"
"Karena kau membangunkan ku ayo temani aku cari makan!"
"Nayla, kau bisa gemuk makan tengah malam."
"Mas Ariq, ayolah..... Aku lapar."
Ariq bernapas kasar, ia menatap Nayla lagi.
"Sayang, ini tengah malam bukan waktunya makan!"
"Apa kau keberatan aku gemuk?"
"Tidak, justru lucu jika kau gemuk."
"Mas Ariiiiiiq."
"Nayla, aku mengantuk."
"Tidak akan ku biarkan kau tidur!" ancam Nayla yang sudah duduk.
"Huh, baiklah..... Kau bebas menindasku!" jawab Ariq ikut duduk meski malas.
"Kau merasa tertindas?"
"Iya, tertindas cintamu!"
"Aaaaaa..... Suamiku sweet sekali." Nayla memuji sambil memberi kecupan bibir.
__ADS_1
"Itu maksudku, aku jadi bersemangat sekarang. Ayo!" Ariq turun dari ranjang sambil mengulurkan tangan. Dengan senyum manja, Nayla menerima.
Mereka menuju dapur, ruang televisi, lalu ke dapur lagi, ke depan tv lagi. Alhasil hingga dini hari obrolan yang diwarnai perdebatan suami istri itu tidak pernah diam. Sampai mereka tertidur di sofa ruang tv hingga subuh menjelang.