Purnama Merindu

Purnama Merindu
Di rumah orangtua ku


__ADS_3

"Maaf aku tidak bisa," sahut Aish lagi saat Ken kembali menarik tangannya.


Ken menatap Aish dengan wajah penuh tanya.


"Aish kau mau pulang kan?"


"Aku ada urusan lain, maaf." Jawab Aish seraya menggeleng.


"Urusan apa, ayo aku antar kemana kau mau!" kata Ken enteng.


"Jangan memaksa."


Ken terdiam, ia melihat tangan Aish kembali melepaskan diri darinya. Perempuan itu bahkan telah pula berjalan menjauh dan pergi begitu saja tanpa basa basi lagi.


Ken merasa heran, bukankah tadi pagi perempuan itu sudah melunak padanya, lalu kini kenapa Aish tiba-tiba bersikap dingin.


Ken mengejar Aish dengan mobilnya.


"Aish kau kenapa?" tanya Ken seraya mengikuti langkah Aish yang menyusuri trotoar dengan jalan kaki.


Perempuan itu bahkan tidak menghiraukan sama sekali lelaki yang berteriak memanggil nya dari dalam mobil.

__ADS_1


Ken menepikan mobilnya setelah memastikan itu adalah area boleh parkir. Ia kejar Aish dengan tanpa berpikir panjang.


"Aish!" Ken mencegah perempuan itu melanjutkan langkahnya.


"Mas Ken, aku tidak ada waktu bicara dengan mu. Lihat di sini panas, jangan halangi jalanku!" seru Aish mulai kesal sambil menatap Ken di tengah terik matahari pukul dua siang.


Ken terkejut, ia tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini dari Aishwa sebelumnya, setidaknya tidak pernah sedingin ini.


"Apa aku ada salah padamu?" tanya Ken penuh arti.


Menelan ludah, lalu bernapas panjang Aish menatap Ken lagi meski silau.


"Maafkan aku, aku hanya sedang terburu!" jawab Aish mengelak.


Aish melihat sekeliling, benar saja ia telah berjalan kaki cukup jauh.


Aish terdiam.


"Ayo, kita bisa bicara di mobil. Di sini panas," ajak Ken meraih tangan Aishwa lagi menuju mobilnya. Kali ini ia berhasil, Aish menurut tanpa membantah.


Di mobil, Aish terduduk dengan sebuah perasaan tidak nyaman di sana. Perasaan yang tidak seharusnya terjadi, kenapa ia seperti anak kecil, apa ia sedang merajuk hanya karena cerita Indah tadi pagi?

__ADS_1


Aish melirik Ken yang mulai melajukan mobil mewah itu. Pria itu memang tampan dari segala arah, orang berpunya. Banyak uang dan pekerjaan yang matang. Hingga wajar ia banyak wanita yang mengelilinginya pikir Aish.


Siapa yang tidak suka didekati dan dirayu pria itu, bagaimana pula wanita normal bisa menolak pesona Ken sedang lelaki itu cukup gencar merayu. Tidak heran pula Ken suka berganti pacar, jika ia bosan ia akan mencari pacar baru.


Tapi, Aish tidak mengharapkan perasaannya jatuh pada sosok seperti itu, ia tidak memandang fisik, ia juga tidak memandang uang, Romi misalnya. Romi cukup tampan sebagai lelaki, berbadan atletis, seorang prajurit teladan, hingga tidak heran pula ada wanita lain yang menyukai Romi meski telah menikah dengannya terlebih Aish dan lelaki itu berjauhan waktu itu.


Lalu jika memang ketampanan membuat semua pria tidak setia, maka Aish akan mengharapkan pria yang seperti apa untuk masa depannya? Aish trauma pada kisahnya yang telah lalu, itu pasti.


Ia berpacaran lama hingga menikah namun tidak ada artinya semua itu ketika sang pria dihadapkan dengan wanita lain yang memasuki kehidupan lelaki itu meski sudah menikah.


Ah, Aish jadi ingat luka itu lagi. Luka dimana wajah perempuan lain sedang menatap suaminya, wanita lain yang menghangatkan ranjang Romi padahal ia sudah punya istri.


Begitu tidak ada harga dirinya, ia bahkan dibiarkan perawan dalam waktu yang lama, sedang wanita lain menikmati haknya di sisi Romi.


Mata Aish jadi berkaca-kaca, ia melempar pandangan ke luar jendela mobil. Untuk sejenak mereka hening, pun Ken ia cukup dibuat terkejut dengan sikap Aish yang seperti ini.


Sampai pada Ken berhenti.


"Kita dimana ini?" tanya Aish heran melihat mereka telah memasuki sebuah halaman rumah.


"Di rumah orang tua ku!"

__ADS_1


"Apa?"


__ADS_2