
Nayla sedang menunggu Ariq bangun, ia terus memperhatikan wajah Ariq yang terbaring di sebuah ranjang pasien. Nayla membawa suaminya ke klinik tidak jauh dari mereka bertemu tadi.
Perasaannya gusar, ia bahkan masih merasa seperti mimpi bahwa Ariq mengejar bis yang ia naiki tadi, apa yang terjadi sebenarnya hingga membuat pria itu kacau sekali bahkan terluka hingga pingsan, belum lagi mobil suaminya yang entah kemana.
Karena tidak ingin merepotkan dan meresahkan keluarga yang lain, Nayla belum memberi tahu siapapun tentang keadaan Ariq yang tengah terbaring di sebuah klinik.
"Mas Ariq, syukurlah kau sudah bangun. Kau benar-benar membuatku takut, hanya karena melihat darah kau jadi pingsan."
Nayla meraih tangan suaminya lalu menahan tawa.
"Rupanya suamiku ini mabuk darah, itu memalukan," sambung perempuan berhijab hitam itu lagi.
"Ah aku ketahuan sekarang," balas Ariq menahan kesal, ia duduk lalu meraba keningnya yang telah diperban.
"Apa ini dijahit?"
Nayla mengangguk, "Iya kau mendapatkan dua jahitan kecil," jawab Nayla seraya berdiri lalu duduk di pinggir ranjang.
Ariq meraih tangan istrinya yang mendekat.
"Sudah lebih baik?" tanya Nayla sambil mencium bibir Ariq dengan lembut.
"Berjanjilah kau tidak akan meninggalkan ku lagi."
Nayla menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan nya dengan kasar.
"Aku tidak kabur mas Ariq, aku hanya ingin ke pemakaman, ponselku tertinggal di rumah. Kebetulan aku sedang ingin naik bis, aku heran kenapa kau seperti ini?"
"Oma benar-benar mengerjaiku."
"Memang apa yang Oma katakan?"
"Kau pergi meninggalkan ku membawa barang dan semua pakaian, kau juga menulis surat sialan itu."
Nayla tersenyum, ia tahu sekarang penyebab suaminya seperti ini.
"Kau mengejar bis seperti orang gila, itu aneh padahal aku tidak kemana-mana, hanya ingin menjemput Arinda dan Zandi setelah dari pemakaman."
"Lebih gila lagi jika kau benar-benar kabur," balas Ariq cukup kesal.
"Minumlah dulu." Nayla mengambilkan sebuah botol mineral di atas nakas samping ranjang lalu memberikannya pada Ariq.
Melihat botol sudah kosong membuat Nayla terkekeh geli.
"Kau benar-benar haus."
"Kau tidak tahu saja aku berlari sekian ratus meter."
"Itu karena kau terlalu panik, cobalah berpikir lebih realistis. Jika aku kabur tentu aku akan pulang ke rumah ayah dan ibu, kau bisa mencariku ke sana tidak perlu sampai mengejar bis segala, jadi celaka bukan? Mobilmu juga entah kemana, ah kau terlalu ceroboh. Kenapa tidak ke restoran saja? Itu bis kota bukan bis antar provinsi yang akan membawaku sangat jauh," kekeh Nayla lagi.
Ariq hanya bisa mengiyakan dalam hati.
"Karena kehilangan mu aku jadi buntu untuk berpikir."
Nayla tersenyum, ia kecup lagi bibir suaminya. Lalu Ariq menahannya hingga mereka terlarut dalam adegan ciuman panjang di atas ranjang pasien sebuah klinik kesehatan.
"Aku tidak pergi, aku ada di sini sekarang. Jangan seperti ini lagi, kau membuatku cemas, lihatlah keningmu jadi terluka, pakaianmu jadi kotor, lihat ini tanganmu juga mendapat luka lecet."
"Ini bukan apa-apa."
__ADS_1
"Bukan apa-apa tapi pingsan."
"Ck, berhenti mengatakannya. Ini memalukan!"
"Ingin pulang sekarang?"
Ariq mengangguk.
"Akan ku hubungi mas Anto saja biar kita dijemput."
"Itu terlalu lama, kita bisa naik taksi saja," sahut Nayla.
"Baiklah......" Ariq pasrah.
"Apa benar mobilmu sengaja diambil orang?"
"Ceritanya panjang, nanti saja......Lagipula bisa beli mobil baru."
"Ck..... Sombong," balas Nayla mengerling malas.
"Iya, pria itu pemulung. Mungkin dengan mobil itu dia bisa jadi bos pemulung bukan? Sudah rezekinya mungkin," sahut Ariq enteng.
"Untung dia tidak mati ku tabrak."
"Apa? Oh aku tahu sekarang, jadi kau memberikan mobil itu sebagai ganti rugi menabraknya? Mas Ariq, apa dia terluka? Kau meninggalkan nya?"
"Dia sehat dan bugar, hanya gerobaknya yang ku tabrak. Yang terluka itu aku yang tiba-tiba ditabrak pengendara motor hingga keningku akhirnya mendapatkan jahitan seperti ini."
Nayla memeluk suaminya lagi.
"Aku mencemaskan mu, jangan seperti ini lagi mas Ariq. Kau membuatku takut."
"Yang takut itu aku, jika kau benar-benar kabur."
Ariq terkekeh, setelah puas berpelukan mereka memutuskan untuk pulang dan memesan taksi.
Di perjalanan pulang, Ariq tidak melepaskan Nayla barang sebentar, ia dekap istrinya dalam sikap posesif selama berada dalam mobil.
"Kau bilang semua yang terjadi ada alasannya?" Nayla membuka obrolan.
"Ah, aku bahkan sudah merasa gagal sekarang."
"Ayolah, katanya kau mau memberiku kejutan. Apa itu?"
"Oma menggagalkan semuanya hari ini."
Nayla heran.
"Kenapa Oma?"
"Lagi-lagi aku hanya bisa berencana, tapi Tuhanlah yang menentukan. Aku ketahuan sebelum waktunya memberi kejutan, itu menyebalkan!"
"Mas Ariq ayolah, jangan marah. Kau bisa sebutkan apa itu mana tahu aku akan terkejut sebentar lagi? Jika itu hal besar mungkin aku akan pingsan karena terlalu terkejut," goda Nayla menatap suaminya berharap tahu semua rencana Ariq.
"Entahlah, aku merasa sia-sia. Aku lelah, aku mengurus semuanya untuk nanti malam, tapi apa ini aku bahkan harus mengaku sekarang. Persiapan yang tidak mudah dan memakan waktu yang cukup panjang bahkan jauh sebelum kita menikah."
"Apa?"
"Karena drama kabur dari rumah, semuanya berantakan!" kesal Ariq lagi.
__ADS_1
"Mas Ariq apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku? Jauh sebelum menikah? Apa maksudmu?"
"Iya, seharusnya hari ini kita menikah jika sesuai rencana. Tapi kau menggagalkannya karena menerima Angga sialan itu."
"Maafkan aku, ketahuilah mas Ariq, aku juga terluka saat itu, selain mengalah pada Rahayu tidak ada yang bisa ku lakukan, mungkin dengan menerima Angga akan membuatmu melihat Rahayu, dia cinta dan terobsesi padamu. Aku takut dia melukai dirinya sendiri karena sebuah hal, aku tahu rasanya jika takdir sedang tidak memihak, dia mengalami gangguan bipolar. Ibu Rena takut jika Rahayu mencoba bunuh diri lagi jika tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan aku tentu tidak ingin hal itu terjadi apalagi melihat ibu Rena yang baik dan menerima kami apa adanya. Aku tidak sanggup jika melukai ibu Rena yang sengaja meminta aku melepaskan mu waktu itu. Aku rasa kau harus tahu alasan ini."
"Aku menerima mas Angga agar kau tidak mendekati ku lagi dan mulai menerima Rahayu."
Nayla membenamkan wajahnya di dada sang suami.
Ariq terdiam sejenak.
"Lupakan, aku tidak ingin mengingatnya lagi. Aku mencintaimu, tentu aku akan menikahimu bukan Rahayu atau siapapun meski dipaksa aku tidak akan melakukannya. Aku bukan pria bodoh yang bisa mengalah begitu saja."
"Baiklah, ayo lupakan. Sekarang mana kejutannya?"
Nayla semakin penasaran.
"Aku memang bukan pria romantis, aku selalu gagal padahal ingin terlihat romantis dan normal, tapi semuanya tidak sesuai rencana."
"Apa kau akan memberi kejutan cincin yang hampir tertelan lagi?"
Nayla tersenyum mengingat drama cincin yang hampir ia telan waktu itu.
Ariq melirik wajah Nayla.
"Kau mengejek ku?"
Nayla terkekeh.
"Tidak, bagiku kau terlalu romantis. Hanya saja memang setelah menikah aku merasa kau benar-benar berbeda."
"Haruskah itu kita bahas di sini?" Ariq melirik sopir taksi dengan ekor matanya.
"Dan aku rasa kau tahu, aku cukup terluka selama dua minggu ini. Aku menunggu penjelasan darimu."
"Aku akan menjelaskannya nanti. Nanti malam maksudku."
"Itu terlalu lama!"
"Nanti malam, jangan buat aku mengaku sekarang. Jangan sampai gagal berkali-kali. Ini memalukan."
Nayla hanya bisa memajukan bibirnya karena jawaban ambigu dari Ariq itu.
"Mas Ariq."
"Apa?"
"Ayolah, aku begitu penasaran."
"Nanti malam."
"Sekarang saja."
"Tidak bisa."
"Mas Ariq."
"Bisakah kau diam?"
__ADS_1
Ariq membungkam mulut Nayla dengan bibirnya. Membuat sopir taksi menelan ludah saat tidak sengaja melirik pasangan itu di kaca spion.
Mereka berciuman cukup lama yang mana Ariq melindungi wajah istrinya dengan sebuah koran yang ada di mobil hingga mereka tidak terlihat, sejenak lupa dimana mereka sekarang. Ada sopir taksi yang harus menahan kesal karena sejatinya sang sopir masih melajang hingga sekarang. Pemandangan itu membuat ia tersakiti lahir batin.