
Nayla kembali membuka mata.
Ia melihat pada pria yang sedang menunduk menggenggam tangannya. Ia yakin itu adalah Ariq suaminya.
Lalu matanya berpendar ke seluruh ruangan, ia tahu sekali bahwa ruangan itu adalah kamar di rumah sakit. Sejenak Nayla terdiam mengingat sebuah kejadian mengerikan yang terjadi beberapa jam lalu.
Badannya terasa sakit semua.
Ia melirik infus yang terpasang di tangannya. Ariq terkejut saat mendapati pergerakan dari tangan yang ia genggam.
"Sayang!" seru Ariq yang langsung berdiri lalu naik ke sisi ranjang untuk memeluk istrinya yang telah duduk.
Nayla hanya tersenyum tipis. "Mas Ariq."
Mereka saling menatap dalam, butiran bening jatuh begitu saja melewati pipi mulus Nayla hingga menyentuh sudut bibir yang terluka. Nayla mengerjapkan mata menetralisir perasaannya, ia menunduk menahan airmata yang tidak terbendung lagi.
"Sayang, janin kita ----" lirih Ariq pelan sambil menahan tangis ia tidak mampu melanjutkan kata-katanya, lidahnya kelu ingin berkata sesuatu.
"Tidak perlu dijelaskan, aku sudah tahu. Aku tahu sekali rasanya," jawab Nayla yang sudah terisak menahan beban berat di dadanya.
Ariq memeluknya lagi.
"Jangan tinggalkan aku Nayla..... Semua salahku, aku benar-benar tidak mengira akan terjadi sejauh ini," ucap Ariq menyesal tidak menyadari bahwa Nayla mengikutinya sejak dari kantor.
Nayla hanya diam, ia membenamkan wajahnya disela pelukan tanpa mampu berkata-kata, ia pendam semua rasa sakit, sakitnya kehilangan jiwa yang berharga yang tidak mampu ia jaga bahkan untuk kedua kalinya.
Mama Humairah datang dari luar bersama keluarga yang lain, ia mengurungkan niat tidak ingin mengganggu Ariq dan Nayla yang tampak sedang berduka.
Perempuan paruh baya itu tahu sekali rasanya kehilangan janin yang diharapkan akan lahir, calon cucu pertamanya namun apalah dikata semua sudah ujian untuk putra sulung dan menantunya. Semua berduka atas keguguran yang dialami Nayla beberapa jam lalu.
"Mas Ariq."
Ariq melepaskan Nayla, "Kau ingin sesuatu? Kau lapar? Ingin makan?"
Nayla menggeleng, "Aku ingin ke kamar mandi," jawab perempuan itu pelan.
"Ayo, biar ku gendong saja. Kau pasti masih lemas." Ariq turun dari ranjang, ia mematikan laju tetesan infus lalu melepaskan dari tiangnya. Ia bersiap menggendong Nayla yang menurut tanpa membantah.
Membantu istrinya dengan telaten selama di kamar mandi, Ariq tahu inilah dukungan yang bisa ia berikan saat ini, membantu segala keperluan Nayla selama berada di rumah sakit.
Nayla tidak banyak bicara, namun ia juga tidak menunjukkan sikap yang sedih berlebihan, biar bagaimanapun semua sudah terjadi. Biarlah ia menahan perasaan sakit itu sendiri tanpa harus melukai banyak keluarga yang tentu ikut terpukul akan kejadian ini.
Nayla bersyukur dihadapkan dengan keluarga yang memberi dukungan emosi yang baik, semua memberinya semangat tanpa menghakimi kesalahannya yang gegabah telah berani mengikuti Ariq tanpa memberitahu siapapun waktu itu.
Tidak juga diantara mereka yang menyinggung kejadian yang tentu meninggalkan trauma mendalam bagi Nayla, trauma dianiaya oleh lelaki psikopat yang membenci perempuan hamil. Dilecehkan hingga membuat ketakutan yang besar dalam diri Nayla hingga kini.
__ADS_1
Satu hal yang ia syukuri dalam kejadian ini, ia tidak jadi korban pelecehan seksual pria itu, karena ia hamil itu pula yang membuat ia tidak jadi dinodai lelaki lain. Jika tidak Nayla tidak tahu apa yang terjadi dalam rumah tangganya jika sampai ia diperkosa oleh suami Dira itu sebelum Ariq dan Dira serta kakak tirinya Dirga datang menolong.
"Sudah cukup bu, aku sudah kenyang," ucap Nayla menggeleng saat ibu Rena ingin menyuapinya lagi dengan nasi.
"Nay...."
"Aku sudah kenyang bu, nanti jika lapar aku akan makan lagi," tukas Nayla yang tidak tahu menjadi menangis lagi setelah mengatakan itu.
Dadanya sesak saat mengeluarkan suara tangis yang tertahan.
Semua sudah pulang, kecuali ibu dan ayahnya di sana. Suami dan kakaknya Dirga sedang mengurus kasus kemarin ke kantor polisi.
Ayah Faisal berdiri dari sofa, ia mendekati Nayla lalu mendekap putrinya yang menangis lagi.
"Ayah mengerti perasaanmu sayang, menangislah.... Jangan ditahan, ayah yakin kau bisa melewati semua ini dengan baik."
Ibu Rena menaruh piring, ia mengambil gelas minum dan memberikan pada Nayla.
"Ayo minum dulu, kau akan lebih baik," ucap Ibu Rena sambil mengusap punggung Nayla dengan sayang.
Nayla mengangguk, ia meminum air putih yang diberikan ibu tirinya.
"Percaya dengan ibu, kau akan hamil lagi nanti. Jangan sedih lagi oke! Jika kau sedih, kami semua lebih sedih, semua bisa kita lewati bersama Nayla.... Kau tidak sendiri, semua ada untukmu."
"Ibumu benar nak, kami semua menyayangimu," tambah ayah Faisal lagi.
"Terimakasih ayah, ibu...."
"Setelah kau sembuh, bagaimana jika kita liburan, anak-anak akan libur sekolah," ucap Ibu Rena memberi ide.
"Ayah setuju."
"Aku mau, tapi tidak tahu mas Ariq bisa atau tidak."
"Suamimu bahkan sudah mengatur jadwalnya dari jauh hari, dia berniat mengajakmu babymoon," ucap ibu Rena pelan diakhir kalimat.
Nayla terdiam, babymoon? Mungkin tidak akan terjadi hal seperti itu.
"Jangan sedih, kita liburan keluarga saja. Percayalah kau hanya butuh waktu sampai semuanya membaik, ibu yakin kau wanita kuat Nayla, bersabarlah kau akan hamil lagi nanti. Kau masih muda, masih banyak kesempatan."
Nayla mengangguk lagi.
Tidak lama kemudian Ariq datang memberi salam dari luar datang bersama seorang wanita.
Andira. Wanita itu mendekati Nayla bersamaan dengan langkah Ariq, menyapa ayah dan ibu Nayla dengan ramah.
__ADS_1
"Sayang, Dira ingin bertemu denganmu."
Ariq meraih istrinya yang masih duduk di ranjang pasien di dampingi dua mertuanya. Ia dekap dan cium kening Nayla cukup lama.
Nayla tersenyum pada perempuan itu.
"Terimakasih sudah mau datang kemari," ucap Nayla berbasa basi.
"Akulah yang berterimakasih, kau tetap kuat seperti ini. Kau wanita hebat Nayla, aku kagum padamu. Aku turut menyesal dan berduka, percayalah lelaki itu sudah menerima pertanggung jawabannya."
"Aku datang menjengukmu, ini ku bawakan buah dan bunga lily. Aku tahu kau suka dan mungkin bunga ini bisa mengembalikan moodmu. Aku tahu mungkin maaf saja tidak bisa mengembalikan keadaan, aku berharap kau cepat sembuh dan aku juga percaya kau akan hamil lagi nanti, jangan kehilangan harapan oke?"
Nayla tersenyum, ia menerima seikat bunga lily dari tangan Dira langsung. Ia meraih dan menggenggam tangan perempuan yang masih terdapat memar di salah satu sisi wajahnya akibat KDRT dari lelaki yang sama.
"Terimakasih nona Dira, aku juga minta maaf sempat curiga padamu, aku tahu kau juga melewati hari berat dan menyakitkan dalam hidupmu, kau pantas bebas dari semua ini. Aku sudah lebih baik sekarang, aku pun berharap yang sama padamu," ucap Nayla tulus.
Ariq mengelus lengannya dengan sayang, ia kecup lagi puncak kepala Nayla dengan perasaan bangga. Istrinya tidak marah sama sekali pada perempuan yang juga menjadi korban kekerasan pria gila itu.
Dira tersenyum menahan airmata, ia mengangguk lalu membalas genggaman tangan Nayla dengan erat. Orangtua Nayla ikut lega mendengar ketabahan anaknya.
"Kau ingin sesuatu? Aku bisa membelinya untukmu," tawar Dira.
Nayla menggeleng, "Aku hanya inginkan suamiku saat ini," jawab Nayla tersenyum lalu memeluk badan suaminya dengan manja, Ariq yang setia mendekapnya sejak tadi.
Jawaban Nayla mampu mengeluarkan tawa bahagia dari tiga orang yang menyaksikan sikap manja itu.
"Ckk.... Aku tidak akan mengambilnya darimu," kekeh Dira lagi sambil mengerling kesal melihat kemesraan itu.
Ariq terkekeh, ia membalas pelukan istrinya tak kalah erat.
"Kau dengar itu?" cetus Ariq pada mantan kekasihnya.
"Meski menyebalkan melihat kemesraan kalian, tapi ku akui kalian pantas bahagia. Tenang Nay.... Aku sudah tidak punya perasaan apa-apa pada suamimu, kami berteman tidak lebih. Percaya padaku."
Nayla melepas Ariq, lalu meraih tangan Dira lagi.
"Aku percaya padamu, semoga kau menemukan kebahagiaanmu Nona Dira."
"Amin, aku juga tidak mau menjanda dalam waktu yang lama."
"Oh, bicara tentang menjanda, aku punya pengalaman panjang sebelum bertemu dengan ayah Nayla, ingin berbagi?" tawar ibu Rena meraih tangan Dira mengajaknya duduk di sofa.
Ayah Faisal menggeleng sambil memutar bola mata dengan malas.
Ariq dan Nayla saling melempar tatap, lalu terbit senyum di sana diakhiri ciuman bibir yang cukup lama.
__ADS_1
"Ariq, ayah masih ada di sini!"
Ariq dan Nayla terkekeh, "Maaf," sahut keduanya yang saling berpelukan lagi.