Purnama Merindu

Purnama Merindu
Kenapa tidak biarkan aku mati saja?


__ADS_3

Lama Ariq menatap wajah yang masih terpejam di atas ranjang pasien. Wajah pucat perempuan yang hampir saja ia tabrak saat melintas jalanan lengang tadi.


Dokter menjelaskan bahwa pasien perempuan itu sedang dalam keadaan tekanan yang sangat buruk, masalah kesehatan yang membuat keadaan menjadi lebih tidak baik. Nayla terbaring lemah dengan mata tertidur karena pengaruh obat.


Pria itu berdiri tepat di samping ranjang pasien, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana. Sudah cukup lama berdiri di sana namun belum ada tanda-tanda bahwa gadis yang ia tolong sebagai bentuk tanggung jawab karena hampir ia tabrak itu membuka mata.


Ariq Gunawan Pratama, pria berumur tiga puluh tahun merupakan putra sulung dari pasangan pengusaha sukses Alif Zayyan Pratama dan Aisyah Humairah Gunawan.


Pria yang memegang satu induk perusahaan milik kakek dari ibunya, kakek Imran. Ariq dikenal sebagai seorang pria yang tidak banyak bicara, tidak suka berbasa basi apalagi untuk hal yang bertele-tele.


Ia cukup penasaran kenapa wanita itu berada di tengah jalan pada saat malam hari ketika hujan lebat yang mana orang-orang akan mencari tempat berteduh bukan menenggelamkan diri dalam derasnya air hujan yang membuat genangan air di beberapa bahu jalan.


Sampai ia melihat pergerakan tangan dan mata, Ariq mendekat senyum tipis ia siapkan untuk perempuan itu.


Nayla membuka mata, ia menatap sekeliling lalu beralih pada pria yang berdiri di hadapannya, mata sayu mata lelah mata yang enggan menatap dunia.


Sejenak mereka saling memandang, Ariq dengan pikirannya dan Nayla dengan tatapan kosongnya.


"Syukurlah kau sudah sadar, maaf membawamu kemari. Aku hanya takut kau terluka meski aku yakin tidak menabrak mu tadi," ucap Ariq memecah keheningan.


Nayla diam, wajahnya tampak datar. Masih memandang Ariq dengan tatapan kosong lagi hampa.


"Nona?"


Hening.


"Nona?"


Nayla masih diam.


"Hei apa kau tuli?"


Nayla menatap Ariq tidak suka.


"Tidakkah kau ingin mengatakan sesuatu? Ucapan terimakasih misalnya?"


Diam, Nayla masih diam seribu bahasa hanya menatap pria itu dengan mata yang tidak berkedip. Tanpa Ariq sadari oleh tatapan itu pula membuatnya menjadi salah tingkah, Ariq yakin jika ia belum pernah ditatap perempuan sedalam itu bahkan oleh perempuan yang menjadi cinta pertamanya yang kini telah bersuami.

__ADS_1


Pria yang biasanya tidak banyak bicara itu terus bertanya seakan belum puas akan rasa penasaran atas diamnya perempuan cantik yang berwajah pucat tersebut.


"Aku tidak mengenalmu, aku menolongmu kemari karena kau pingsan saat menghadang mobilku," lanjut Ariq lagi, namun lagi-lagi tidak ada respon yang menarik dari perempuan asing itu.


"Terimakasih."


Hanya sebuah ucapan singkat namun efeknya cukup berarti bagi Ariq yang sudah mencoba bicara sejak tadi.


Kini giliran Ariq yang diam, ia cukup terkejut bahwa wanita di hadapannya itu memang tidak tuli dan tidak bisu.


"Huh, kau bicara juga."


Tampak Ariq menghela nafas panjang seraya tersenyum.


Nayla duduk dari baringnya, ia mulai mengatur posisi ingin turun dari ranjang. Segera Ariq membantu saat melihat wanita itu kesusahan dan terlihat lemah saat ingin bergerak.


Nayla melirik tangan Ariq yang memegangi lengannya.


"Hmmm maaf jika lancang kau ingin ke toilet bukan? Aku hanya ingin membantu, kau tampak belum kuat," cetus Ariq yang tahu arti tatapan Nayla.


Nayla tidak menjawab, ia menurut saja sampai saat hendak menginjakkan kaki ke lantai tubuhnya belum menopang dengan sempurna, Nayla benar-benar lemah seakan tidak bertenaga saat ini. Ariq menahan tubuhnya yang hampir terjatuh.


"Aku ingin pipis," lirih Nayla dengan suara lemahnya.


Ariq membantunya ke kamar mandi, pria itu menunggu Nayla dengan sabar di luar kamar mandi pasien namun sudah beberapa menit tidak ada tanda-tanda Nayla keluar dari sana.


Ariq mengetuk pintu.


"Nona, nona, nona apa kau masih di dalam?"


Belum ada respon dari Nayla.


"Apa dia pingsan lagi?" gumam Ariq mulai bingung.


Ariq ingin membuka pintu namun lebih dulu Nayla keluar dari sana dengan wajah dinginnya. Ariq tampak mengusap lehernya yang tidak gatal.


"Maaf aku kira kau pingsan lagi."

__ADS_1


Nayla tidak merespon, melainkan berjalan menuju ranjang pasien dengan infus yang masih menggantung di tiangnya yang ia dorong sendiri.


"Tidak butuh bantuanku?" tanya Ariq.


Nayla tidak menjawab, membuat pria itu kian jengkel.


Setelah sampai ranjang pasien lagi Nayla bersandar di kepala ranjang, ia menatap ke sembarang arah tanpa menghiraukan ada seorang pria di sana.


"Nona," tegur Ariq mulai kesal.


Nayla akhirnya menoleh padanya.


"Aku tidak ingin ikut campur apa masalah mu, namun kau masuk rumah sakit ini adalah tanggung jawabku, setidaknya beritahu siapa kau sebenarnya dimana alamat mu dan berikan nomor ponsel orangtuamu agar aku bisa memberi tahu kau sedang di rumah sakit ini."


Nayla diam. Membuat Ariq frustasi menghadapi gadis itu.


"Baiklah ayo kita berkenalan, aku Ariq. Aku hampir menabrak mu tadi, sebagai bentuk tanggung jawab aku bawa kau kemari. Siapa namamu?"


Nayla masih diam, ia masih saja menatap ke sembarang arah.


"Oh ya Allah, aku rasa dokter benar. Kau sedang dalam keadaan yang tidak baik saat ini. Bicara saja sangat sulit, bagaimana bisa aku membantu mu pulang."


"Aku lapar," lirih Nayla dengan suara lemah.


Ariq menajamkan pendengarannya.


"Apa?"


"Aku lapar."


"Huh, aku tanya lain jawabnya lain."


Nayla tidak membalas, melainkan kembali menatap ke arah lain. Air matanya mengalir begitu saja, membuat Ariq mendekatinya lagi.


"Hei kenapa malah menangis?"


Nayla menoleh pada pria itu.

__ADS_1


"Kenapa tidak biarkan aku mati saja?"


__ADS_2