Purnama Merindu

Purnama Merindu
Aldric


__ADS_3

Ken muncul dengan senyum terbaiknya, menyambut Aish yang baru keluar dari IGD berniat hendak pulang.


Wajah lelah perempuan itu kembali cerah saat mendapati Ken menjemputnya untuk kesekian kali.


"Apa kau sudah lama menunggu?" tanya Aish sambil meraih botol minuman dari Ken.


"Baru saja datang, sepertinya kau sangat haus!" kekeh Ken melihat Aish minum sebotol.


"Iya, ini hari yang melelahkan, pasien banyak dan beberapa diantaranya pasien kecelakaan, jadi butuh tenaga lebih, aku memang butuh air dingin dari tadi," sahut Aish sambil minum lagi teh botolnya.


Ken tersenyum, wajah perempuan yang menghiasi hatinya sekarang. Dokter cantik yang selalu ia tunggu kepulangannya. Sudah dua minggu Ken belum absen menjemput Aish saat pulang bekerja.


Hubungan mereka kian dekat sejak Aish memutuskan membuka hati dan memberikan kesempatan pada Ken untuk membuktikan keseriusannya.


"Pulang sekarang?"


Aish mengangguk, kemudian mereka berjalan berdampingan menuju mobil Ken di parkiran tidak jauh dari IGD.


Dalam mobil.


"Sayang!"


"Hmmmm," Aish menoleh, ia sudah tidak heran dan merasa asing lagi dengan panggilan sayang dari Ken, pria itu selalu memanggilnya seperti itu sejak mereka dekat.


"Kau lapar?"


"Kau pengertian sekali," kekeh Aish.


Hubungan mereka kian dekat dalam dua pekan terakhir, Ken memang pandai merayu Aish, hingga perempuan itu tidak kuasa menolak pesona seorang Kenzo yang gencar mendapatkan hatinya.


Aish sudah tidak ingin menyangkal, ia juga telah jatuh pada pria itu, pria bar-bar yang pemaksa, namun sikap seperti itulah yang membuat Aish kian luluh, Ken pandai mengambil hati terlebih mereka berkomitmen menuju hubungan serius hingga menikah.


Hanya menunggu waktu saja, Ken sedang mengatur cuti dan Aish pun sama, Aish bahkan masih merasa mimpi, Ken benar-benar mengajaknya menikah bukan sebatas rayuan belaka.


Mereka berencana menikah bulan depan. Sungguh Ken tidak ingin membuang waktu, segala persiapan sudah mulai dijalankan.


Aish merasa sangat dihargai, padahal ia hanya seorang janda. Tidak pula ia menuntut pernikahan yang seperti apa, namun Ken memberinya melewati ekspektasi seorang perempuan janda yang tidak banyak tingkah itu.


Sampai mereka singgah di sebuah restoran cepat saji, menemani Aish makan membuat Ken bahagia dalam hati, entah kenapa ia sangat suka wajah lelah yang kelaparan seperti sekarang itu.

__ADS_1


"Kenapa menatapku seperti itu? Apa aku terlihat kelaparan?"


"Iya, makanlah pelan-pelan nanti kau bisa tersedak," ucap Ken seraya mengelap mulut Aishwa dari sisa makanan.


Aish menyengir, jiwa perempuannya kembali saat bersama Ken, pria yang pandai merayu dan humoris. Ia mulai mengenal Ken lebih dalam.


"Maaf, aku lapar." Ken hanya bisa tertawa pelan melihat wajah menggemaskan dari perempuan yang telah resmi dilamarnya itu.


Aish jatuh cinta pada pria ini, ia perempuan biasa yang tentu tidak bisa menolak pesona seorang Ken yang playboy sebelum bersamanya.


"Kenapa menatapku seperti itu? Apa ada sisa makanan lagi?" tanya Aish seraya meraba mulutnya.


"Aku merasa akan berumur pendek, hingga setiap momen bersama mu enggan ku lewatkan begitu saja, wajahmu yang menggemaskan, suaramu yang candu, aku suka semua yang ada padamu Aish, aku bertambah mencintaimu dari hari ke hari."


"Ah, bulan depan terasa sangat lama sekali. Aku sudah tidak sabar, biar wajah ini tidak pulang ke rumah lain, pulang dan tidur bersama ku sepanjang hidupku. Ah itu terlalu so sweet dibayangkan," sambung Ken lagi sambil mencubit pipi Aish dengan gemas.


"Jika bukan terhalang Alvaro yang menikah bulan ini, mungkin kita tidak perlu menunggu bulan depan," rutuk Ken kesal mengingat pernikahan saudara kembarnya yang tertunda bulan kemarin hingga bulan ini Alvaro bisa menikah.


Perempuan itu terkekeh. Ia meraih tangan Ken dengan cincin di jari manisnya sebagai pengikat hubungan mereka secara resmi.


"Kita akan menikah, jadi bersabarlah," ucap Aish tersenyum.


"Bunda menyuruh kau mampir sebentar ke rumah."


"Ada apa? Apa aku ada salah?"


"Tidak sayang, Bunda ingin berdiskusi denganmu tentang seragam keluarga saat pernikahan kita nanti, juga seragam untuk pernikahan Al yang sudah jadi hingga kau harus mencobanya," jelas Ken.


"Baiklah, aku sudah selesai makan. Ayo kita pulang!" ajak Aish dengan senyum yang tidak luntur.


Ken menggandeng tangan Aish menuju mobil.


"Aku sudah bertemu Mas Al dan Faiz, kapan Mas Aldric pulang? Aku penasaran dengan dia, sebab aku juga pernah menangani pasien bernama Aldric tempo hari. Apa mereka orang yang sama atau tidak," ucap Aish pada Ken yang fokus mengemudi.


"Kenapa kau penasaran sekali? Jangan tanya dia, dia itu orang yang misterius, tidak banyak ulah, jadi hidupnya monoton, kerja dan kerja saja. Untung Anara mau sama pria introvert itu, jika tidak mungkin dia menjadi bujang tua diantara kami bertiga."


Aish berdecak kesal, selalu saja Ken mengatakan Aldric sebagai pria payah, namun disanalah Aish tahu bahwa Ken dan saudara-saudara nya akur satu sama lain, meski berbeda tempat tinggal.


"Tunjukkan aku fotonya!"

__ADS_1


"Tidak."


"Mas Ken, ayolah aku hanya ingin kenal siapa saudara kembar mu yang ketiga," ucap Aish.


"Kau akan bertemu sendiri nanti kalau dia pulang, awas kau sebut dia lagi aku bisa cemburu."


Aish tertawa.


"Wah mantan playboy ini bisa cemburu juga rupanya, aku hanya ingin tahu siapa yang akan menjadi iparku apa salahnya!"


"Nanti saja, kalau dia pulang nanti ku kenalkan. Kami semua pria tampan dan keren, jadi wajar saja aku takut kau malah menyukai dia nantinya, dia pria payah tapi sungguh dia yang terbaik diantara kami menurutku!"


"Kenapa bisa begitu?"


"Aldric, pria itu tidak banyak tingkah. Dia pintar dan berprestasi, menurut saja apa kata Bunda dan Ayah, bahkan dia tidak pernah berkelahi waktu kecil, pria payah yang suka mengalah, dia tidak suka keributan, dia tidak suka perempuan genit, padahal banyak wanita yang mendekatinya, dia tidak pernah bicara panjang lebar."


"Ajaib bukan?"


Aish tertawa juga akhirnya.


"Lebih ajaib lagi dirimu, aku tidak suka playboy. Tapi kau bisa meyakinkan aku tentang kita," ucap Aish meraih tangan Ken lalu menggenggamnya.


"Oh aku bersemangat sekali mendengar pujian ini," kata Ken dengan senyum lebar.


"Lebih bersemangat lagi karena kau suka didekati banyak wanita," ucap Aish menggigit tangan Ken dengan gemas.


"Aish, apa yang kau lakukan?"


"Kau menyebalkan," balas Aish dengan tatapan manja.


Ken terkekeh, "Sekarang tidak lagi, karena aku sudah punya satu wanita paket lengkap ini, jadi aku harus lebih bersabar lagi menunggu bulan depan."


Mereka saling memandang. Sejenak mereka larut dalam sebuah tawa.


Aldric lebih sering keluar kota urusan pekerjaan, jika Ken lebih suka memerintah saja dari kantor selebihnya ia menikmati hidup dengan traveling dan olahraga ekstrim bersama teman-temannya.


Berbeda pula dengan Alvaro, ia seorang dosen mengikuti jejak pamannya Aziz yang sekarang menjadi dekan di universitas ternama kota itu. Alvaro sang dosen tampan hendak menikah dengan mahasiswa nya sendiri.


Tiga saudara kembar yang menjalani hidup masing-masing, sejak mereka dewasa dan telah bekerja mereka lebih memilih hidup mandiri di apartemen, hanya si bungsu Faiz yang tidak boleh keluar dari rumah itu oleh orangtuanya.

__ADS_1


__ADS_2