Purnama Merindu

Purnama Merindu
tawar menawar dalam cinta


__ADS_3

"Mas Ariq, aku benar-benar malu."


Nayla berkata lirih saat mereka dalam perjalanan pulang.


"Aku pun malu, dua pria tengik itu seharunya tidak ada malam ini, huh mereka mengerjaikl


u habis-habisan."


Rutuk Ariq kesal pada dua adiknya.


"Kalian akur sekali, aku senang melihat kalian bergurau."


"Iya, karena memang seperti itulah harusnya saudara bukan?"


"Iya, kau benar."


Nayla membayangkan sedihnya telah kehilangan saudaranya Juna, mereka juga selalu akur dulu ketika mendiang Juna masih hidup.


"Sayang," panggil Ariq.


"Hmmmm....."


Nayla menoleh.


"Aku mencintaimu."


Nayla diam.


"Huh selalu saja tidak ada jawaban."


Mereka sampai ke kontrakan bersamaan anak-anak yang diantarkan oleh kakeknya sendiri.


"Nayla."


Nayla mendekati ayahnya disusul oleh Ariq yang segera menyalami calon mertuanya itu.


Ayah Faisal telah diberitahu oleh Nayla yang mengatakan bahwa gadis itu pergi bersama Ariq dari pesta.


"Nak Ariq," sapa ayah Faisal ramah.


"Maafkan aku paman, yang membawa Nayla tidak pamit lagi tadi, karena pesta itu ramai sekali enggan pula mengganggu paman dan bibi yang menyapa tamu."


"Yang terpenting kau sudah mengantarnya pulang, sekarang masuklah Nayla, anak-anak menunggu mu untuk tidur."


Nayla menoleh pada Ariq lalu pria itu mengangguk. Nayla pun berlalu dari dua lelaki berarti baginya itu.


"Kita bisa bicara sebentar nak Ariq?"


"Tentu paman, aku pun ada niat yang harus ku sampaikan kebetulan bertemu paman disini."


"Ayo duduklah, kita bisa bicara antara dua lelaki yang memiliki arti penting bagi Nayla, aku ayah kandungnya, dan kau lelaki yang dicintainya."


Ariq mengangguk, lalu ikut pula duduk di kursi teras kontrakan Nayla yang berhadapan.


Ayah Faisal mulai bicara, Ariq mendengarkan dengan baik. Lama mereka saling bicara satu sama lain tentang Nayla, tentang wanita yang mereka cintai.


Entah apa yang mereka bicarakan, meski terkesan serius namun mereka tampak hangat dan lebih akrab dari sebelumnya.

__ADS_1


****


Nayla tersenyum malu saat melihat cincin di jari manisnya, cincin yang mungkin akan menjadi kenangan indah semalam, kenangan yang dapat ia ingat jika masa itu ada, masa dimana Ariq benar-benar panik dalam wajah yang menggemaskan, mengira ia memang tertelan cincin itu.


Langkah kakinya terhenti saat ingin berbalik badan akan pulang dari mengantar Denia ke sekolahnya. Rahayu berdiri tepat di depan Nayla saat ini.


"Rahayu?"


"Hai Nay....."


"Kau disini?"


"Iya, aku sengaja lewat untuk bertemu denganmu karena ini jadwal kau ke sekolah Denia."


Nayla menjadi canggung saat mendapat tatapan cukup penuh arti dari saudaranya itu.


"Ingin bicara apa Rahayu? Kau tidak ke kantor?" basa basi Nayla.


"Aku ingin bicara berdua denganmu boleh?"


"Tentu Rahayu, tentu saja boleh."


"Ayo, kita bisa mengobrol di taman saja. Udara masih pagi, bagus sekali kita berjemur matahari di taman saja, bagaimana?"


Nayla mengangguk, "Aku menurut saja."


"Ayo ke mobilku!" ajak Rahayu dengan wajah yang sulit diartikan. Ia melihat terus ke arah jari manis Nayla yang terdapat cincin di sana.


Nayla mengangguk lagi.


Nayla terdiam saat mendengar ucapan dari Rahayu yang baru saja ia dapatkan dari gadis sempurna menurut Nayla itu.


"Aku tidak menyangka bahwa kau bisa sejahat itu padaku Nay...."


Nayla meneteskan air matanya.


"Kau salah paham Rahayu, aku tidak berniat menyakitimu, aku diam karena aku tidak bisa mematahkan hatimu disaat tahu mas Ariq akan dijodohkan dengan mu waktu itu."


"Kau menceritakan tentangnya secara antusias, kau bersemangat sekali saat memperlihatkan padaku fotonya saat itu, aku bahkan tidak tahu sama sekali atas perjodohan kalian. Janganlah menganggap aku jahat."


"Iya, karena aku memang mencintainya. Tapi sayang sekali pria itu mencintaimu. Betapapun aku berharap sampai saat ini seolah tetap kalah darimu. Meski aku memiliki cukup syarat yang layak mendapatkan mas Ariq."


Jantung Nayla terasa berdenyut saat Rahayu mengatakan hal itu. Syarat lengkap seolah sebagai pembanding antara mereka, sampai hati Rahayu bicara seperti ini.


"Maafkan aku Rahayu, tapi mas Ariq mengatakan padaku bahwa dia tidak menerima perjodohan kalian."


"Iya, tapi aku masih ingin berjodoh dengannya, apa salah jika aku ikut egois sekarang? Kau bahkan sungguh egois menerima pinangannya tanpa ku ketahui, aku ingin bertanya padamu Nayla."


"Apa?"


"Saat kau tidak mengatakan bahwa kau adalah kekasih mas Ariq waktu itu apa alasanmu?"


"Aku mencoba mengalah demi kebaikan bersama, aku tidak ingin mematahkan hatimu Rahayu, aku berusaha menghindar agar terlepas namun tetap saja mas Ariq ingikan aku juga."


"Jika begitu bisakah kau bersikap yang sama, tidak ingin aku terluka, bisakah kau tidak melukaiku dengan menerima mas Ariq yang ingin melamarmu kali ini?"


Nayla diam.

__ADS_1


"Ketahuilah Nayla, aku belum pernah jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada pria ini, bisakah kau mengerti maksud ku?"


"Apa kau ingin aku melepasnya untukmu begitu?"


"Aku akan memberikan apapun yang kau mau Nayla...... Aku bisa mewujudkan apapun yang kau kehendaki saat ini."


Nayla menggeleng.


"Kau seolah sedang menawar cintaku Rahayu, maafkan aku...... Aku tidak bisa."


Nayla tidak ingin larut dalam kebimbangan saat ini, ia harus mengambil sikap atas Rahayu, juga ia akan memutuskan ingin dengan siapa ia hidup.


Nayla menghargai cincin yang ia pakai saat ini, cincin bukti keseriusan Ariq padanya, jangan karena hal ini ia seolah menggadaikan kepercayaan Ariq padanya semalam, terlebih ia sudah pula dilamar di depan orangtua pria itu sendiri dengan gagahnya.


Nayla cukup berbaik hati untuk tidak bicara yang seharusnya ia katakan pada ibu Rena tentang dinginnya Rahayu padanya hanya karena soal lelaki. Lelaki yang sudah jelas sekali memilihnya dari pada wanita lain.


Ia tidak akan menyakiti Ariq dengan alasan Rahayu, ini bukan cinta segitiga menurutnya. Rahayu cinta sendirian, cinta yang membutakannya yang mampu merubah gadis itu menjadi arogan.


Tidak pula Rahayu pikir bahwa semua yang ia capai bisa berpihak padanya dalam segala hal, termasuk urusan cinta yang mengharuskan mengorbankan satu hati demi menyatukan dua hati. Rahayu masih berpikir Nayla sayang padanya dan mau melepaskan Ariq dengan alasan mereka adalah saudara yang tidak ingin saling menyakiti.


Namun tanpa disadari ia mengorbankan Nayla dalam hal ini.


Rahayu meneteskan juga airmatanya.


"Aku tidak akan memaksa mu Nayla, hanya saja kau yang harus berpikir bahwa apa yang telah banyak aku dan keluargaku perbuat untukmu dan ayahmu. Aku senang bersaudara denganmu, tapi aku tidak senang dengan cara balas budimu. Maaf jika aku lancang, aku dan ibuku cukup banyak membantu bangkitnya kau dan ayah Faisal. Aku ikhlas membantu mu Nayla, itu pula yang ku harapkan kau ikhlas untuk melepas mas Ariq untukku."


"Aku tidak menyangka kau seperti ini Rahayu."


"Bukankah, kau sudah ada mas Angga yang katanya juga sudah mengenal mu lebih dekat."


Nayla diam.


"Tidakkah itu terlalu serakah Nayla? Mas Angga kau terima, mas Vano tidak pula kau lepas juga, sekarang mas Ariq pun kau mau juga padahal sudah jelas sekali saudarimu menyukai pria itu. Berilah aku kesempatan dicintai Nayla, aku yakin mas Angga lebih cocok untukmu."


Nayla mengelap air matanya yang jatuh berlinang, bukan karena memperebutkan Ariq melainkan kata-kata Rahayulah penyebabnya. Kata-kata seolah Ariq hanya pantas untuk gadis itu saja.


"Maafkan aku Rahayu, aku mohon jangan kau bawa budi yang telah kau dan keluarga mu tanamkan pada kebaikan yang kami peroleh saat ini, aku sungguh sedih mendengarnya, apa sedangkal itu arti persaudaraan kita?"


"Maaf, ini sudah terlalu lama kita bicara, aku akan pulang sekarang kasihan Zaza bersama kak Dewi terlalu lama."


"Nayla...."


"Maafkan aku Rahayu, seperti kau yang menganggap cinta mu terlalu besar untuk mas Ariq, maka akupun sama besarnya, dan sayangnya dia lebih memilih ku dalam hal ini."


"Aku memang tidak sesempurna kau Rahayu, tapi setidaknya aku masih punya perasaan untuk tidak bicara budi dalam hal kita berdua, ayahku tidak ada hubungannya dengan urusan kita yang masih muda ini."


"Ketahuilah Rahayu ini bukan kisah cinta segitiga yang harus ada satu yang mengalah, tidak Rahayu. Tapi ini kisah cinta sendirian, kau cinta sendirian seolah aku yang harus mengalah karena terlihat seperti cinta segitiga."


"Nayla."


"Aku tidak bisa Rahayu, maafkan aku. Seperti kau yang ingin masa depan yang gemilang seperti itu juga aku yang ikut berhak menikmati dunia ini bersama orang yang ku cintai."


"Mas Ariq milikku, dia kekasihku."


Nayla memperlihatkan cincin di jari manisnya pada Rahayu yang tampak menatapnya tajam.


"Kau terlalu sombong Nayla." Gumam Rahayu pelan.

__ADS_1


__ADS_2