Purnama Merindu

Purnama Merindu
Hamil?


__ADS_3

"Mas Ariq?" lirih Nayla saat mendapati suaminya telah pulang.


Perempuan itu berbaring meringkuk di atas ranjang, ia tidak melakukan aktivitas apapun selain menunggu sang suami pulang atas permintaannya beberapa saat lalu.


Ariq pulang dengan tergesa-gesa, merasa cemas atas yang terjadi pada Nayla yang seorang diri di rumah mereka. Tadi pagi Nayla baik-baik saja namun tiba-tiba mengatakan ia sedang cemas dan takut terjadi sesuatu hingga menyuruh Ariq pulang segera karena ia mengalami perdarahan.


"Sayang apa maksudmu perdarahan? Kau menstruasi?" tanya Ariq bingung, ia tidak pernah melihat istrinya menstruasi dengan keadaan seburuk ini.


Nayla menangis tersedu, ia tidak mampu menjawab selain suara tangis yang membuat dadanya sesak terasa susah bernapas.


"Nayla ayolah katakan padaku, ada apa ini? Kau sakit? Mana yang sakit? Kau tidak demam, perdarahan apa maksudmu?" Ariq bingung menghadapi istrinya yang menangis tidak mau berhenti.


"Hei lihat aku, ada apa?" Ariq meraih tangan istrinya agar menoleh padanya.


Nayla mendudukkan dirinya dengan perlahan dan hati-hati.


"Mas Ariq, aku takut."


"Nayla bicaralah, takut apa?"


"Aku takut terjadi sesuatu pada kehamilan ku," jawab Nayla membawa tangan Ariq ke perutnya.


"Apa?" Ariq menatap Nayla tidak percaya.


"Hamil?"


Nayla mengangguk lalu menangis lagi.


"Sayang jangan bercanda! Kau hamil?" ucap Ariq hampir berteriak.

__ADS_1


Nayla mengangguk.


"Nayla, apa-apaan kau ini? Kenapa tidak memberitahu? Sayang jangan bercanda!"


"Aku tidak bercanda, aku memang hamil. Aku sudah berkali-kali memakai tes pack dan hasilnya memang garis dua. Aku sudah satu bulan tidak menstruasi, tapi hari ini tiba-tiba berdarah, aku takut sekali mas Ariq," balas Nayla lagi masih dengan tangis yang sesenggukan.


"Benarkah?" Ariq bahkan bingung ingin berkata apa lagi, semuanya kenapa seolah mendadak, mendadak hamil, mendadak pula sakit seperti ini, ia belum siap akan semua hal yang ditakutkan terjadi lagi.


"Nayla kenapa tidak memberitahu? Ya Tuhan!!!" Ariq berdiri, ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu ia duduk lagi memeluk Nayla dengan rasa bahagia yang teramat.


"Aku hanya tidak ingin sesumbar, aku hanya takut semua kecewa jika ini hanya hayalan ku saja. Tapi benar, aku tidak menstruasi sudah satu bulan bahkan lebih, aku berniat ke dokter setelah memberitahu mu beberapa hari lagi karena kau benar-benar sibuk di kantor, aku tidak ingin mengganggu fokus bekerja mu. Maafkan aku mas Ariq, sungguh."


"Tapi tadi pagi setelah kau berangkat, aku pipis lalu tidak tahunya keluar darah, cukup banyak dan darahnya merah segar. Aku takut sekali, bagaimana jika seperti kemarin lagi? Mas Ariq aku takut."


Ariq memberi usapan punggung menenangkan istrinya meski ia merasa sedikit kesal baru diberitahu sekarang.


"Ayo kita ke rumah sakit, apapun yang terjadi percayalah, aku tidak akan marah padamu. Kita berserah diri saja soal ini, meski aku juga takut terjadi sesuatu, kau tahu aku sangat mengharapkan kau hamil," balas Ariq memeluk istrinya dengan mata berkaca-kaca.


Satu sisi ia bahagia mendengar berita kehamilan Nayla, namun sisi lain ia bahkan lebih cemas sekarang, kenapa bisa perdarahan lagi di kehamilan yang ini padahal Nayla tidak melakukan aktivitas berat, Ariq tahu itu. Ia menyenangkan istrinya ketika di rumah.


Teringat pula ia, memang betul akhir-akhir ini Nayla sering minta makan yang aneh-aneh dan sulit didapat, seperti jambu air yang bersusah payah mendapatkannya harus pergi ke perkampungan lebih sulit lagi ternyata pohon jambu yang dimaksud ada di pinggir sawah, itu baru jambu belum buah yang lain yang sedang tidak musim.


"Apa perutmu sakit seperti waktu itu?" tanya Ariq yang sebenarnya enggan mengingat kejadian yang menimbulkan trauma itu.


Nayla menggeleng, "Tidak, tidak sakit sama sekali hanya saja jika aku banyak bergerak darahnya masih keluar, aku takut sekali mas Ariq. Ayo bawa aku ke rumah sakit." Nayla melirih seraya memohon.


Ariq mengangguk, ia segera menggendong Nayla tanpa berkata apapun lagi. Biarlah kecemasan itu ia pendam, ia tidak ingin membuat Nayla bertambah takut dan stress menjelang ke rumah sakit guna memastikan apa yang terjadi sebenarnya.


Satu hal yang bisa mereka lakukan yaitu berdoa jika memang istrinya hamil mudah-mudahan janin mereka tidak berbahaya apalagi sampai keguguran seperti dua kehamilan yang sebelumnya.

__ADS_1


Selama perjalanan mereka tidak banyak bicara, hanya melafalkan doa dalam hati, doa agar tidak terjadi sesuatu yang mereka takutkan.


Nayla tidak ingin banyak bergerak, ia digendong suaminya menuju brangkar setelah masuk ke IGD salah satu rumah sakit terdekat dengan rumah mereka.


Belum ada satupun anggota keluarga yang mereka beritahu karena tidak ingin membuat heboh. Ariq fokus pada Nayla saja untuk saat ini.


Setelah ditanya-tanya oleh dokter jaga ruang IGD itu, barulah Nayla langsung diserahkan ke dokter ahli kandungan, ia dibawa ke ruangan USG khusus kehamilan setelah dipastikan bahwa memang Nayla tengah hamil saat pemeriksaan di IGD.


Ariq menggenggam tangan istrinya, mereka menunggu dokter yang mulai menaruh alat canggih di perut Nayla setelah mengoleskan gel.


Dokter itu melirik pasien dan suaminya yang sedang berpacu dengan degup jantung yang bersahutan karena cemas takut jika memang telah terjadi keguguran.


Hening beberapa saat saat tatapan heran dokter pada Nayla.


"Jadi maksud Nyonya Nayla ini adalah pemeriksaan yang pertama?"


Nayla mengangguk, lalu dokter itu tersenyum.


"Nyonya dan Tuan boleh perhatikan layar, apa kalian tahu artinya ini?" ujar sang Obgyn seraya mengarahkan anak panah yang ia mainkan di layar dengan tangannya yang kiri, dan tangan kanannya masih menggerakkan alat canggih di perut Nayla.


Ariq dan Nayla saling menoleh satu sama lain, beberapa saat kemudian mata mereka membesar sambil menutup mulut tidak percaya.


Dan ternyata.... Bersambung lagi pemirsah 😁


####


Maaf slow up, sibuk di dunia fana yang mana anak mulai masuk sekolah 🙏🙏


Capcus mampir ke "Ranjang Pelakor 1 Milyar" ya, maaf juga belum up di sana karena belum acc editor untuk bab berikutnya maklum antrian dalam review karena itu karya lomba, mohon dukungannya ya😘😘

__ADS_1


__ADS_2