
Aish pulang bekerja. Pikirannya tidak sedang dalam keadaan baik saat ini. Ia lesu jika mengingat Aldric dan Anara.
Ia teringat Bunda Nayla, ia juga merindukan Naina yang memberinya kabar baik bahwa iparnya itu sedang mengandung sekarang.
Aish bersiap, ia tidak mau stress dirumah karena memikirkan Aldric apalagi Anara. Maka darinya ia berniat mengunjungi mertua serta iparnya itu.
Lama ia bercengkrama dengan dengan Nayla yang bahagia Aish berkunjung ke rumah mereka.
"Bagaimana suamimu? Apa ada kemajuan?" tanya Nayla penasaran.
Aish menggeleng pelan.
"Dia memang pria yang payah, tapi Bunda jangan berpikir yang tidak-tidak tentang kami. Sejauh ini Mas Aldric baik padaku, dia sudah lebih leluasa berkomunikasi dengan ku," jawab Aish tersenyum.
"Huh, entahlah putraku yang satu itu memang sedikit payah, tapi percayalah dia pria yang bertanggung jawab. Bunda berdoa yang terbaik untuk kalian, Bunda juga harap kau bisa lebih bersabar lagi Aish. Bunda menyayangi mu Aish, jangan berpikir ingin berpisah seperti niatmu di awal. Hati orang tua mana yang tidak sakit jika rumah tangga putranya tidak baik-baik saja."
"Aku mencintai suamiku, Bunda harus percaya itu!" kata Aish menenangkan ibu mertuanya.
Pada kenyataannya Aish kerap berkomunikasi dengan ibu yang melahirkan Ken dan Aldric itu, ia banyak meminta saran terlebih saat ia mengakui telah jatuh cinta pada suaminya.
Nayla lega setelah mengetahui Aish mulai mencintai Aldric, setidaknya bayangan perpisahan anak menantunya cukup jauh dari pikirannya saat ini.
Tapi siapa yang tahu perasaan Aldric. Tidak ada, bahkan Nayla tidak tahu Aldric menikahi Aish semata karena Ken atau karena memang Aldric mencintai Aish sejak awal. Tidak ada yang tahu, pria itu menutup rapat perasaannya.
Aish tertawa saat membuka album kenangan keluarga itu saat Aldric dan saudara-saudaranya masih kecil.
Aish menatap wajah remaja Ken disana, ia merasa kian ikhlas hingga tidak ada airmata lagi yang keluar saat ini. Semua sudah kehendakNya bahwa Ken tidak berumur panjang.
Wajah Aldric yang kalem, pria itu memang sedikit misterius jika dipandang-pandang. Aish tertawa saat pose foto yang kaku dari Aldric dibanding Ken dan Alvaro yang suka tebar pesona dan bergaya seperti anak yang hits pada zamannya.
Sedang Aldric dari foto ke foto tetap seorang kutu buku yang kalem, seorang ketua osis yang pintar berorganisasi, hingga tidak ada waktu baginya bermain-main seperti Ken dan Alvaro.
Jika Al dan Ken keluyuran pulang sekolah, sibuk pacaran dan pergi bersama teman-teman mereka. Berbeda pula Aldric hanya pulang sebentar ke rumah lalu dilanjutkan dengan kegiatan ekstrakurikuler pramuka dan latihan basket.
Nayla tersenyum membayangkan betapa bahagianya ia saat itu, punya empat putra yang berbeda karakter. Menghadapi nakalnya Al dan Ken, membuat dirinya dan Ariq sering di panggil pihak sekolah, lelah berpikir oleh kelakuan Ken yang super nakal saat itu diobati pula oleh tingkah Aldric yang selalu berprestasi.
Semua saling melengkapi. Jika Al dan Ken berbuat ulah, Aldric membantu melindungi mereka dari hukuman sekolah, karena semua guru menyukai Aldric sebagai pertimbangan mereka dalam memberi hukuman pada dua pembuat onar di sekolah itu.
Masa yang mungkin tidak akan terulang lagi, Nayla terus bercerita dengan semangat, Aish mendengar semua itu kian bangga pada Aldric.
Suaminya memang tidak banyak tingkah sejak dulu.
"Dia terlalu sibuk dengan bidang akademik, hingga Aldric lupa bagaimana cara mencuri perhatian gadis-gadis. Tidak heran, dia kaku sampai sekarang," ucap Nayla terkekeh.
Aish ikut tertawa, ia membayangkan wajah menyebalkan suaminya itu, justru wajah itu pula yang membuatnya rindu sekarang.
Ah, Aish ingin segera pulang dan bertemu suaminya. Semakin mereka membicarakan Aldric semakin pula Aish merindukan pria itu.
Ia pamit setelah ikut Naina makan karena sedang mengidam nasi padang, Aish bahagia Naina mengandung, ia juga memimpikan punya anak yang lucu bersama suaminya kelak.
Itu jika Aldric berselera menyentuhnya.
Aish pulang, namun hingga malam Aldric belum juga pulang ke apartemen. Aish mandi dan melaksanakan sholat Maghrib.
Lama ia menunggu, sampai pada sebuah langkah masuk, Aish melihat Aldric dipapah oleh Anara.
"Mas Aldric?"
Aish segera menghampiri mereka.
"Maaf Aish, Mas Aldric baru saja dipukul orang tidak dikenal, aku mengantarnya pulang," ucap Anara sambil memapah Aldric ke kamar tamu setelah pria itu menunjukkan arah kemana Anara harus membawanya.
Aish hanya memperhatikan gerak gerik mereka, ia tidak suka Anara memapah suaminya sampai ke kamar melewatinya tanpa menunggu tanggapan dari Aish.
Aish menghampiri ke kamar Aldric. Ia melihat Anara memberikan perhatiannya tanpa melihat ada Aish di sana.
Anara berdiri, ia ingin melewati Aish yang berada di ambang pintu, Aish menahan tangannya.
"Aish, aku mau lewat, aku akan memberikan kompres pada luka memar Mas Aldric."
"Aku rasa kau lupa sesuatu Anara!"
Anara menatap Aish.
"Aish."
"Kau lupa bahwa Mas Aldric punya istri seorang dokter, jadi sebaiknya kau pulang. Biar aku yang mengurus suamiku," cetus Aish dengan nada dingin.
Demi apa, Anara melihat raut Aish yang marah padanya. Ia tidak mengira bahwa istri Aldric itu akan berkata demikian.
"Aku hanya ingin membantunya Aish."
__ADS_1
"Terimakasih atas perhatian mu, ada aku di rumah ini. Pulanglah!" kata Aish lagi.
Anara melihat Aldric lagi, lalu ia menatap Aish yang tepat di hadapannya.
"Ayo ku antar kau ke depan!" Ajak Aish dengan tatapan penuh arti.
Anara hendak pamit pada Aldric, namun Aish menahan tangannya.
"Sudah ku katakan, dia biar menjadi urusan ku!" tegas Aish seraya menarik Anara keluar dari apartemen itu.
Anara kesal bukan main.
"Aish kenapa kau seperti ini?"
"Maaf aku akan menutup pintu, terimakasih sudah mengantar suamiku pulang. Selamat malam!"
Tanpa menunggu tanggapan Anara, Aish telah pula menutup pintu.
"Aish," gumam Anara menahan emosi, ia tidak suka diperlakukan seperti itu oleh istri Aldric.
Di kamar Aldric.
"Anara sudah pulang?" tanya Aldric sambil terus meringis setelah Aish membantu membuka pakaian bagian atasnya.
Aish menaruh kotak P3K di sampingnya, lalu mulai membersihkan sebuah luka di dagu Aldric.
"Apa kau tidak pandai berkelahi?" tanya Aish dingin tanpa menjawab pertanyaan Aldric.
Aldric menggeleng.
"Apa ini sering terjadi?"
"Ini biasa terjadi, persaingan bisnis memang seperti itu," jawab Aldric sesekali masih meringis kesakitan saat Aish mengoles luka itu dengan cairan antiseptik.
"Lain kali belajar ilmu bela diri, biar jangan membuatku cemas jika pulang dalam keadaan seperti ini, untung tidak main senjata tajam."
Aldric melihat wajah kesal Aish yang merawat lukanya dengan telaten.
"Aku bukan Ken, yang pandai bela diri itu adalah Ken," sahut Aldric.
"Iya, Ken pandai dalam segala hal. Sedang kau hanya pandai membuat ku tidak bisa berkata-kata."
Aldric menjadi murung.
"Apa Anara sering kemari?"
Aldric mengangguk.
"Apa kau masih mencintainya?"
"Aku mencintai perempuan lain!" jawab Aldric lagi.
"Ck, selalu itu saja jawaban mu!"
Aish mengoles krim pada luka memar, sejenak ia lupa bahwa Aldric sedang tidak memakai baju sekarang.
Setelah selesai, ia baru tersadar Aldric dalam posisi yang menggoda imannya.
"Mas Aldric, aku sudah selesai. Kau boleh istirahat."
Aish menghindar. Aldric menahan tangan Aish yang hendak berdiri dari ranjangnya.
"Terimakasih Aish. Maaf merepotkan mu."
Aish mengangguk, lalu ia duduk lagi di samping Aldric.
"Aku mencemaskan mu, jangan pulang seperti ini lagi," cetus Aish seraya memeluk Aldric, perempuan itu tampak menahan airmata nya yang hendak keluar.
"Maafkan aku, aku akan berhati-hati lagi setelah ini."
Aish mengangguk. Ia melepaskan Aldric yang semakin gugup dan grogi, Aish memeluknya tanpa paksaan. Aldric tersenyum senang dalam hati.
"Kau tidak ingin mandi?" tanya Aish.
"Kau baru saja mengoleskan obat luka. Seharusnya pertanyaan itu terjadi sebelum kau memberikan obat."
Aish berdecak kesal melihat raut menyebalkan dari suaminya itu.
"Baiklah, kau bisa istirahat. Aku akan kembali ke kamar!"
"Aish." cegah Aldric lagi.
__ADS_1
"Iya."
"Aku senang kau mau bicara dengan ku."
Aish mengangguk lagi.
"Aku terkadang bingung Aish."
Aish menoleh lagi.
"Kau bilang sudah tidak marah, tapi masih saja dingin. Dan itu sudah hampir beberapa hari setelah kita pulang dari luar kota."
"Itu karena kau sama sekali tidak mengerti Mas Aldric, kau sangat susah sekali dalam mengerti perasaan seorang wanita."
"Itu masalahnya," sahut Aldric kecewa.
"Lupakan, sekarang istirahatlah. Aku akan ke kamarku!"
Mereka kembali berpisah kamar.
Namun tengah malam Aish kembali melihat Aldric sekedar memastikan suaminya sedang baik-baik saja.
Aish tidak pernah salah dalam mengenali perasaannya, ia ke kamar Aldric mendapatkan pria itu sedang menderita demam.
Aish merawat Aldric dengan telaten, ia sedih jika suaminya sakit seperti ini. Aldric tidak banyak tingkah, ia menurut semua yang Aish katakan, istrinya memberi obat maka Aldric minum, istrinya menyuruh tidur maka Aldric tidur.
Aish merawat Aldric semalaman, ia bahkan tidak tidur sama sekali setelah memastikan suaminya bisa beristirahat dengan baik setelah minum obat.
Lama Aish memandangi wajah Aldric yang menggemaskan. Aish kian kagum dan mencintai suaminya yang tampan itu dalam tidurnya.
"Mas Aldric, kau sudah bangun?" tanya Aish bergegas mendekati pria yang telah duduk di tepi ranjang itu.
"Aish, kau tidak tidur?"
Aish menggeleng.
"Apa badanmu masih sakit?"
Aldric mengangguk, ia menunjuk bagian tubuhnya yang sakit akibat beberapa pukulan.
"Lain kali tidak boleh seperti ini terus, belajar ilmu bela diri!"
"Aku rasa tidak sampai seperti itu juga. Aku seperti ini karena aku tidak suka perkelahian, aku tidak melawan bukan berarti aku tidak bisa membalas, aku hanya ingin memperkecil masalah. Jika dia memukulku, aku tidak harus membalasnya, lagi pula aku tetap menang dalam tender itu."
"Bagaimana jika kau dibunuh!"
"Itu hanya ada di sinetron."
"Banyak terjadi di berita-berita kriminal, aku bahkan sering menangani korban pembunuhan yang datang ke IGD," sanggah Aish.
"Ini negara hukum, jika mereka yang membunuh ku tinggal diusut saja, beres kan?"
Aish terdiam. Ia tidak suka cara Aldric meremehkan keselamatannya.
"Aku akan bersiap bekerja, kau sudah tidak demam. Dan ingat, aku tidak suka ada wanita lain yang datang kemari, jika ada yang ingin bertemu dengan alasan menjenguk mu, kau boleh masuk rumah sakit lalu dirawat di sana maka kau boleh dijenguk, ingat itu!" ucap Aish dengan nada intimidasi.
"Apalagi jika wanita yang mengantar mu semalam!!!"
Aldric tercengang.
"Anara maksud mu?"
"Kau mengingat jelas siapa perempuan yang mengantar mu pulang!!!"
Aldric terkekeh.
"Jika cemburu, mengaku saja!"
"Tidak, aku tidak cemburu!" elak Aish.
Aldric menatap Aish dengan raut penuh arti.
Perempuan yang menjadi istrinya itu menghilang di balik pintu.
Aldric kembali kecewa, andai Aish merawatnya sebagai istri bukan sebagai dokter. Mungkin ia adalah pria yang paling beruntung mendapatkan seorang istri sebagai dokter cantik yang merawatnya penuh kasih sayang.
Aish tidak mencintainya, ia mencintai Ken. Mereka hanya teman, seperti yang sering Aish katakan. Aldric kembali merebahkan tubuhnya ke ranjang, mengingat kembali kenyataan bahwa Aish belum juga bisa menerimanya sebagai seorang suami padahal mereka telah lama menikah.
Aish baru saja turun dari gedung apartemen, di sana ia bertemu dengan Anara.
"Anara?"
__ADS_1
"Aish?"
Mereka bertemu dibawah payung yang melindungi dari rintik hujan yang mulai mereda yang turun sejak subuh tadi.