Purnama Merindu

Purnama Merindu
Ayah akan bebas


__ADS_3

"Di penjara."


"Apa?"


Nayla tersenyum melihat wajah terkejut Ariq saat ini.


"Kenapa? Kau kecewa mendengarnya?"


"Tidak, aku hanya tidak tahu tentang hal ini. Maafkan aku," sesal Ariq.


"Bukan masalah, karena kita memang belum mengenal lebih jauh satu sama lain. Jika kau tidak suka ke penjara, kau boleh turunkan aku di halte biar aku naik angkutan umum saja."


"Kenapa bicara seperti itu, aku akan mengantarmu ke sana."


Ariq mulai mengemudi lagi.


Untuk beberapa saat mereka terlibat dalam keheningan yang penuh tanya.


"Nay," lirih Ariq.


"Iya?" Nayla menoleh.


"Jika boleh tahu, kenapa ayahmu dipenjara?"


"Ceritanya panjang."


"Aku akan mendengarkan," ucap Ariq seraya meraih lagi dan membawa tangan Nayla dalam genggamannya.


"Ayahku terlibat kasus korupsi."


Ariq tetap mengemudi dengan fokus meski sesekali ia terus melirik sang kekasih yang mulai berwajah sedih.


"Aku tidak tahu sama sekali, aku memang berteman dengan kakakmu tapi tidak pula tahu tentang keluarganya juga, contoh saja aku tidak tahu Juna punya adik secantik ini." Pria itu mencairkan suasana.


"Iya," Nayla melirih dengan suara berat.


"Hei, jangan bersedih.... Manusia tempatnya salah, setiap orang bisa melakukan hal buruk di masa lalu. Tergantung kita menyikapinya."


"Semuanya berubah saat ayahku terlibat kasus, bahkan tiga ratus enam puluh derajat. Ibuku meninggal, kakakku meninggal, kakak iparku juga meninggal, pamanku tidak mengakui kami sebagai keluarga karena rasa malu punya kakak seorang koruptor. Kami terbuang, bahkan jauh sekali dari kehidupan ini."

__ADS_1


Nayla menunduk, ia menahan tangis saat mengatakan semuanya.


"Jangan cerita jika kau tidak ingin mengingatnya," cegah Ariq, ia mengeratkan genggamannya pada tangan gadis itu.


"Kau harus tahu latar belakang ku mas Ariq, agar menjadi pertimbangan tentang hubungan ini. Kau akan menyesal jika telah mencintai wanita yang salah, aku tidak ada baik-baiknya. Keluarga ku sirna, akupun gadis buruk dimasa lalu. Banyak noda yang terjadi dalam hidupku, mungkin jika kau mendengarnya sampai selesai, bisa saja aku kau campakkan dengan segera."


"Aku tidak pantas untukmu, kau terpandang. Keluargamu bukan orang sembarangan, aku tidak berharap lebih dari apa yang telah kau berikan saat ini. Aku tahu batasan diriku, aku terhina, aku bukan gadis yang layak untukmu. Keluarga ku berantakan, tidak ada hal baik yang bisa kau bawa dari kehidupan ku."


Ariq terdiam, kembali kakinya menginjak rem saat mendengar penuturan sang Nayla.


"Nay......"


"Kita sudah sampai mas Ariq, aku akan masuk..... Terimakasih sudah mengantarku, pulanglah, aku bisa naik bus nanti. Mungkin aku akan lama pada kunjungan ini."


Ariq mengedarkan pandangan, benar saja tanpa ia sadari mobilnya telah berada di depan sebuah lembaga permasyarakatan kota itu.


Nayla hendak turun, Ariq mencegahnya.


"Aku akan menunggumu, aku juga akan menemanimu masuk. Aku bukan lelaki pecundang yang hanya bisa mencintai si wanita tapi tidak mau menerima keluarganya, jangan berpikir seperti itu Nayla..... Aku tidak akan meninggalkan mu."


Ariq mematikan mesin mobilnya, ia bahkan keluar lebih dulu. Suka atau tidak dengan sikap pria itu, untuk sekarang Nayla tersenyum rekah mendengar kalimat demi kalimat yang menenangkan dari Ariq.


Lagi-lagi Ariq suka sekali penampilan Nayla yang sekarang, tidak henti pria itu mengagumi Nayla dalam diam, mencuri pandang wajah dan senyum gigi gingsul gadis itu selama perjalanan menuju ruangan yang menjadi tujuan kunjungan.


"Aku kagum padamu," bisik Ariq.


"Terimakasih."


****


Nayla berpelukan dan menangis haru saat bertemu ayahnya, sejenak mereka melepas rindu dengan saling diam saling menyampaikan kerinduan yang lama tidak berjumpa.


Pria itu ada berumur sekitar lima puluh tahunan, wajahnya teduh, kacamata bertengger pada hidungnya yang mancung, tampan masih sangat tampan.


Ia mengelap airmata Nayla yang bahkan menangis sesenggukan. Begitu tabah ia menghadapi semua cobaan, istrinya meninggal tanpa ia dampingi, putra sulungnya meninggal tanpa bisa ia makamkan dengan tangannya sendiri, kini gadis manjanya berdiri di hadapannya dengan luka yang amat dalam atas semua yang terjadi.


Rasa syukur ia panjatkan saat melihat anak gadisnya tampak baik-baik saja sekarang, bahkan dengan penampilan yang ia puja dulunya, penampilan gadis kecilnya ketika masuk pesantren, kini terlihat lagi dalam wajah yang kian dewasa.


"Ayah tidak akan bertanya kenapa kau baru berkunjung setelah sekian purnama ayah menunggu mu, ayah tahu banyak hal yang kau alami dalam beberapa waktu ini. Tapi alangkah bahagianya ayah melihat kau datang dengan tegar, tidak ada yang lebih ayah syukuri selain keadaan mu yang tampak sehat dan baik sekarang."

__ADS_1


"Maafkan aku Ayah, aku bukan anak yang baik. Aku akan sering berkunjung setelah ini," ucap Nayla dengan suara tertahan oleh isak tangis.


Ariq menyaksikan itu dengan mata berkilat basah, ia tidak tahu akan seperti ini harunya Nayla bertemu sang ayahanda yang telah lama tidak dikunjungi.


"Ayo kita duduk, ayah rasa kau banyak hal yang ingin disampaikan, terutama pria yang sedang memperhatikan kita saat ini."


Nayla menoleh pada Ariq yang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Jangan berlebihan, dia bukan siapa-siapa," jawab Nayla malu.


Mengerti ia sedang ditatap, Ariq mendekat tanpa basa basi ia berani menyalami ayah perempuan yang ia cintai. Mencium punggung tangan sang calon mertua menurut Ariq ada daya magis tersendiri. Ia gugup luar biasa jadinya, inikah pria yang menjadi cinta pertama Nayla.


"Kenalkan aku Ariq paman, aku kekasih putrimu."


Nayla melirik Ariq dengan tatapan tajam.


"Jangan dengarkan dia ayah."


"Kami saling mencintai paman, aku harap paman merestui hubungan kami," kata Ariq lagi.


Pria paruh baya yang bernama Faisal itu tersenyum, "Ayo kita duduk dan bicara, sepertinya putriku malu padamu."


"Iya dia memang pemalu, tapi mau."


"Mas Ariq!"


"Aku hanya bercanda," tukas Ariq mencairkan suasana.


Ayah Faisal tertawa pelan, "Apa kau sudah tidak bersama Vano lagi?" tanyanya pada sang putri.


"Sudah lama berakhir ayah, jangan diungkit lagi. Aku tidak ingin mengingatnya, berhenti bicara tentangku. Sekarang ceritakan kabar ayah."


"Ayah sehat, semua baik. Tidak pernah sebaik ini Nayla, ayah akan bebas bulan depan."


"Benarkah?" Nayla kegirangan.


"Iya, berkat bantuan teman lama ayah yang menyewa pengacara berbakat, ayah dinyatakan tidak bersalah, karena memang bukan ayah pelakunya, ayah hanya dijebak oleh orang kepercayaan sendiri. Ayah tidak seperti yang diberitakan. Kau percaya pada ayah?"


Nayla mengangguk lagi, "Aku tidak pernah meragukan itu," jawab Nayla memeluk ayahnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2