
Nayla menurut saja saat Ariq menuntunnya menuju pintu. Lalu mulai mengetuk seperti ingin bertamu.
"Mas Ariq, rumah siapa ini? Kenapa kita kemari?"
"Bukankah kau ingin pulang?"
"Mas Ariq aku serius!"
"Iya, kita sudah sampai sekarang. Ini adalah rumah kita."
"Apa?"
Bersamaan dengan itu pintu terbuka, belum juga ia menajamkan pendengarannya atas apa yang Ariq baru saja ucapkan, telah pula Nayla terperanjat saat beberapa balon meletus di atas kepalanya.
Nayla memalingkan wajah yang semula menghadap suaminya, kini ia menatap lurus ke depan. Ia hampir menjatuhkan rahang saat menyadari kehadiran wajah-wajah yang sudah ia kenal selama ini.
Mereka bernyanyi ulang tahun tepat di hadapan wajah Nayla.
Nayla menatap suaminya lagi, Ariq tersenyum lebar ia melepaskan tangan Nayla yang semula ia genggam.
Suasana mendadak ramai, heboh saat Nayla menutup mulut begitu terkejut saat ini.
Semua bernyanyi, Lia hadir di sana memegang kue ulang tahun serba cokelat, lalu Arinda memegang kue bertema unicorn, semua memakai lilin angka 20.
__ADS_1
Nayla tidak bisa berkata-kata lagi sekarang, airmatanya jatuh begitu saja sambil meniup lilin satu per satu.
Nayla menangis namun semua tertawa.
"Kenapa kau malah menangis?" tanya ibu Rena yang memeluk Nayla pertama kali.
"Kalian benar-benar jahat," Nayla menangis layak anak kecil.
Membuat Ammar menyahut.
"Mas Ariq benar-benar menikahi anak kecil, aku saja malu melihat angka lilin itu. Dia masih remaja," kata pria yang menjadi adik ipar Nayla itu.
"Diam kau! Itu artinya dia berhasil awet muda," imbuh Aziz yang menendang kaki adinya itu.
Semua heboh, hingga Nayla harus meladeni semua ucapan selamat ulang tahun dari semua keluarga yang hadir.
Oma Rika yang memberikan sebuah kalung sebagai hadiah, langsung memakaikannya di leher Nayla dibantu oleh Lia yang sejak tadi kegirangan.
Semua tampak bahagia dan menikmati pesta kecil yang dihadiri seluruh anggota keluarga dan sahabat dekat Nayla, hanya saja Annisa dan Vano tidak dapat hadir beserta bibi Arina yang kebetulan sedang keluar kota. Pun Rahayu, ia memilih tidak hadir untuk menjaga hatinya agar tidak iri saat melihat semua kebahagiaan memihak pada Nayla.
Ariq tersenyum melihat wajah tersenyum istrinya yang sedang memakan kue cokelat kesukaannya sambil menggendong Zaza, Nayla sedang asyik bicara dan bercanda bersama dua iparnya yang benar-benar menerimanya layak saudara sendiri.
"Kau bahagia?" tanya ayah Faisal untuk sekian kalinya pada sang menantu.
__ADS_1
Mereka berdiri berdampingan sambil memandang ke arah yang sama yaitu Nayla.
Ariq menoleh sejenak pada wajah teduh mertuanya itu.
"Bahkan rasa ini sulit digambarkan, satu hal..... Terimakasih ayah sudah percaya padaku tentang Nayla, percayalah aku mencintainya lebih dari yang ayah kira, aku mencintai semua yang ada pada Nayla serta kehidupannya."
"Ayah percaya padamu. Kau yang menyambung tanganku untuk menjaga Nayla, lakukan itu sebaik mungkin."
Di sisi lain.
"Lia, yang ulang tahun itu Nayla kenapa kau yang heboh seolah semua hadiah itu kaulah yang sedang berulang tahun!"
Lia menoleh pada pria yang menegurnya saat mengumpulkan hadiah yang di dapat Nayla pada satu meja, gadis itu juga tampak penasaran pada semua isi kado hingga ia mengintip satu persatu meski ia sudah dimarahi kakaknya berkali-kali.
"Ck..... Memangnya apa pedulimu? Nayla itu sahabat ku!"
"Dia adikku," sahut Dirga tanpa takut.
"Dia sahabatku!"
"Dan aku menyukaimu!"
"Sembarangan!" balas Lia kesal namun ia terdiam sejenak setelah menyadari apa yang Dirga katakan beberapa detik lalu.
__ADS_1
"Apa?" Lia terkejut bukan main.