
"Apa kau mencintai Anara?" ulang Aish bertanya pada suaminya.
Diam, Aldric diam seperti emas.
Hening.
Karena terlalu hening, tidak ada percakapan di dalam mobil membuat Aish mengantuk lalu tertidur.
Aldric hanya bisa tersenyum melihat wajah tidur Aish yang tidak menyadari mereka telah sampai di apartemen milik mereka.
Aldric bingung, ia ingin membangunkan Aish namun tidak tega saat melihat Aish tidak bergerak sama sekali.
Namun ia ingin menggendong pun juga tidak berani takut dikira lancang oleh perempuan itu nanti. Akhirnya Aldric menunggu Aish di mobil sampai bangun sendiri.
Lelaki itu menghilangkan rasa bosan dengan memeriksa laporan kerja, lalu ia bermain ponsel, cukup lama namun tidak juga Aish menunjukkan pergerakan bangun dari tidur cantiknya.
Aldric mulai menguap, ia pun menjadi kantuk juga karena terlalu asyik menikmati wajah Aish yang menggemaskan, namun Aldric tidak berani meski ingin sekali ia menyentuh pipi Aish yang mulus itu.
Terkadang ia merutuk betapa ia payah dalam menaklukkan seorang wanita. Aish adalah istrinya yang sah, perempuan itu miliknya, tapi mengapa rasa bersalah Aldric pada Aish karena pernikahan mendadak membuatnya tidak berani berharap apalagi hingga menyentuh istrinya itu.
Terlebih Aish sendiri sudah terang-terangan menolaknya dengan telak. Jika sudah seperti ini Aldric bisa apalagi? Tentu ia hanya bisa diam, diam dalam cintanya yang kian dalam.
Aish menggeliat, ia perlahan membuka mata. Hal pertama ia lihat adalah wajah Aldric yang tertidur menghadapnya.
Aish melihat sekeliling, mereka telah sampai di parkiran gedung apartemen. Mesin mobil yang masih menyala, membuat Aish kian heran kenapa mereka bisa tertidur berdua disana.
"Mas Aldric," panggil Aish, namun belum juga pria itu bergerak.
Aish mendekat, ia hendak menggoyangkan tubuh suaminya itu, namun terhenti saat matanya singgah pada pemandangan wajah tampan Aldric yang polos saat mata elangnya terpejam.
Aish tersenyum, ia menyadari wajah Aldric tidak kalah tampan dari Ken, sungguh keturunan bibit unggul pikir Aish, ke empat putra Nayla dan Ariq semuanya tampan dan mapan.
Apa seperti itu semua putra orang kaya? Terbiasa hidup mewah dan terurus dari kecil, keluarga yang utuh, asuhan yang baik menghasilkan generasi yang luar biasa.
Aldric contohnya, ia sudah punya kantor sendiri, perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi pembangunan jalan dan jembatan, pria itu sudah biasa dengan proyek-proyek besar yang menghasilkan keuntungan yang membuat siapapun menjadi kaya raya.
Tapi Aldric cukup istimewa, ia tidaklah terlalu berlebihan pada apa yang ia punya, ia tidak banyak bicara bukan berarti ia sombong, ia memang seperti itu adanya sejak kecil, sudah menjadi karakter Aldric sebagai pria yang tidak banyak tingkah.
Jika bekerja, ia akan fokus bekerja, jika sedang mengurus sesuatu maka ia akan urus sepenuhnya, bekerja tidak setengah-setengah. Tapi satu hal ia pendiam dan pemalu jika di depan wanita.
Siapa yang tidak suka pada bos tampan itu, banyak perempuan yang mencari perhatiannya namun semua sia-sia, ia tidak suka tebar pesona seperti Ken.
Jika Ken playboy, maka Aldric adalah kebalikannya.
Aish tersenyum lagi, ia menyentuh tangan Aldric yang sedang bersilang ke dada.
"Mas Aldric."
"Mas Aldric."
Aldric terperanjat, ia terkejut saat mendengar suara Aish memanggilnya.
"Aish? Kau sudah bangun? Apa aku tertidur?"
Aish tertawa.
"Iya, kita tidur di mobil berdua," jawab Aish geleng kepala.
"Maafkan aku, karena kau tidurnya pulas sekali, aku tidak tega membangunkan, jadi aku menunggu saja kau bangun sendiri, tapi malah aku ikut tidur juga," balas Aldric tertawa canggung.
Aish menatap Aldric.
"Kau benar-benar pria yang luar biasa, mungkin aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu jika kau seperti ini terus, dasar tidak peka."
__ADS_1
"Apa?" Aldric terkejut, ia tidak menyangka Aish berkata seperti itu.
"Maaf jika aku salah," ucap Aldric kecewa.
"Iya kau memang salah, salah banyak padaku hari ini. Aku kau tinggal sendirian di halte, mengejar mu dalam hujan, beruntung kau berhenti, sekarang malah ikut tidur di sini karena tidak berani membangunkan ku," tukas Aish menatap Aldric dengan kesal.
"Seharusnya kau menggendongku dengan romantis meski aku sedang tertidur, jangan menunggu aku bangun dan kau malah ikut tidur juga, ya Allah.... Mas Aldric kau benar-benar luar biasa, aku bahkan tidak bisa berkata-kata lagi sekarang."
"Sungguh ajaib, Ken benar. Kau yang ajaib bukan dia."
Aldric terdiam, ia mendengar ocehan demi ocehan istrinya itu.
"Mas Aldric," bentak Aish yang menyadari pria itu hanya diam dan termenung melihatnya mengoceh.
"Iya."
"Apa kita akan tidur di sini sampai besok?"
Pria itu menggeleng polos.
"Ayo tunggu apalagi?"
"Apanya?"
"Tunggu apalagi, ayo turun! Ini sudah malam."
Aldric mengangguk, ia mematikan mesin mobil lalu memasukkan ponselnya ke saku celana.
Aish menunggunya.
"Ayo!" ajak Aldric.
Aish tidak bergerak sama sekali.
"Kaki ku kram."
"Jadi harus bagaimana? Mana yang kram biar ku pijit." Aldric mendekat.
Aish geleng kepala terheran-heran.
"Kaki ku kram tidak bisa berjalan, kalau mau pijit nanti setelah di apartemen saja. Sekarang aku minta gendong!" kata Aish berniat mengerjai.
Aldric tercengang.
"Ayo tunggu apa lagi? Kaki ku kram karena mengejar mobil mu tadi, kau harus bertanggungjawab!"
Aldric hanya bisa mengangguk.
"Aku harus menggendong mu seperti apa?"
Aish ingin tertawa, sungguh polos sekali suaminya ini.
"Aku mau digendong ala bridal style."
Aldric terkejut, wajahnya mendadak merah malu. Bagaimana bisa Aish minta gendong seperti itu sekarang, bukankah menggendong perempuan dengan gaya seperti itu adalah hal yang sangat romantis dan mesra.
"Baiklah," ucap Aldric seraya mengangkat tubuh Aish dengan segera.
Aish menjadi gugup sendiri, ia berniat mengerjai malah benar-benar digendong pria itu sekarang, namun entah mengapa Aish tidak kuasa menolak, ia menurut saja meski dadanya sedang tidak baik sekarang.
Pertama kalinya mereka bersentuhan dengan gaya mesra, efeknya cukup membuat Aish merasa geli pada perutnya.
Aish melingkarkan tangannya di leher Aldric tanpa malu, entah mengapa perasaan dan pikirannya tidak sejalan, ia merutuk dalam hati bahwa ia ingin menyangkal bahwa ia suka diperlakukan seperti ini oleh Aldric.
__ADS_1
Aish terdiam, Aldric pun menggendong dengan serius.
Hening, sepanjang perjalanan menuju unit mereka terlibat diam yang sangat dalam, hanya bunyi jantung yang saling bersahutan.
Aldric malu luar biasa, namun ia tahan demi Aish tidak terjatuh meski tangannya cukup merasa geli dan lemas saat menyadari perempuan itu menatapnya dari samping, jarak wajah mereka yang sangat dekat membuat Aldric kian salah tingkah.
Aish tersenyum, ia mulai menyadari garis wajah Aldric yang tegas, bersih dan berkharisma, raut yang tenang dan menenggelamkan.
Aish mulai berpikir, pria seperti Aldric mampu membuat seorang wanita jadi tergila-gila. Hanya dengan digendong saja membuat dadanya gemetaran, bagaimana jika disentuh lebih dari sekarang.
Ah, Aish merutuki pikirannya yang terlanjur jauh.
Sampai pada mereka sampai di depan pintu masuk apartemen. Ternyata ada dua orang perempuan sedang memencet bel.
Aldric terkejut, pun dua wanita tadi.
"Ahhhh," pekik Aish yang terjatuh dari gendongan suaminya karena Aldric melepaskan Aish tanpa aba-aba.
Perempuan itu memegang bokongnya yang kesakitan, lalu menatap Aldric dengan marah.
"Mas Aldric!"
"Aish, maafkan aku."
Aldric kelagapan, ia segera membantu Aish untuk berdiri.
Aish masih meringis berdiri di samping Aldric yang malu pada dua wanita itu.
"Maaf, Ririn dan Dwi kenapa kalian kemari?" tanya Aldric heran.
"Seharusnya kami yang minta maaf, kami kira Pak Aldric ada di dalam. Kami kemari ada keperluan pribadi Pak, mohon bantuannya," ucap salah satu dari wanita itu dengan raut memohon.
Membuat Aish curiga, apa dua wanita itu sudah sering datang untuk keperluan pribadi pada suaminya? Aish tiba-tiba penasaran.
"Baiklah, ayo kita bicara di dalam saja."
Mereka masuk, Aish menyusul dari belakang. Karena tidak ingin mengganggu, ia segera berlalu ke kamarnya hendak mandi dan membersihkan diri.
Ternyata setelah Aish keluar kamar, dua wanita tadi belum juga pulang, mereka tampak bicara dengan serius di ruang tamu.
Lalu Aish mendekat saat mereka hendak pamit.
"Mas Aldric, biar aku saja yang mengantar mereka keluar, kau mau mandi kan?"
Aldric mengangguk.
"Baiklah, Dwi dan kau Ririn lain kali berhati-hatilah. Gunakan uang itu dengan baik, semoga membantu," ucap Aldric pada dua gadis itu.
Dwi dan Ririn mengangguk seraya berterimakasih berulang kali.
Aish menatap dua perempuan itu sebelum menutup pintu.
"Aku harap ini terakhir kalinya kalian kemari, bos kalian sudah beristri. Jika ada keperluan tentang pekerjaan atau pribadi sekalipun bisa temui beliau di kantor saja jangan kemari seperti sekarang, itu tidak sopan!" kata Aish mengingatkan.
"Maaf Nona jika kami mengganggu, tapi kami sudah sering menemui Pak Aldric di sini secara pribadi untuk urusan pribadi pula, tidak ada maksud lain," jelas Dwi.
"Baiklah, lain kali tidak boleh seperti itu lagi. Suamiku milik kalian jika di kantor, selebihnya harus tahu batasan mulai sekarang. Pak Aldric kalian itu sudah punya istri, jadi jangan anggap biasa lagi untuk soal pribadi."
Mereka mengangguk tanpa membantah.
Mereka menghilang, Aish tersenyum puas.
"Aish?"
__ADS_1
Perempuan itu menoleh. Aldric ada di belakangnya.