
Ariq berhenti di lampu merah, tanpa sengaja ia menoleh ke arah taman yang menampilkan seorang perempuan yang tengah duduk di salah satu bangku taman, menatap sembarang arah dengan tatapan kosong.
Ariq mengenal wanita itu. Nayla, gadis itu lagi pikirnya. Sudah tiga kali Ariq melihat Nayla duduk di sana namun kali ini ia cukup penasaran.
Lampu hijau menyala, para pengendara yang berada di belakang mobil Ariq telah membunyikan klakson mereka tanda ingin mobil pria itu segera menyingkir.
Ariq melajukan mobilnya dengan kesal, namun pikirannya menjadi aneh, bernapas panjang sejenak lalu ia memutar arah mobil menuju taman yang terdapat Nayla di sana.
"Huh, kau membuatku penasaran Nayla. Dasar gadis aneh, apa yang dia lakukan di taman di jam seperti ini," gumam Ariq yang telah menghentikan mobilnya tidak jauh dari taman.
Ariq berhenti sejenak pada langkahnya saat menyadari ia tengah memarkirkan mobilnya di depan sebuah minimarket. Sebuah ide terlintas di kepalanya.
Lima menit berselang, ia berjalan ke arah perempuan yang masih asyik bermenung. Nayla duduk seorang diri, menatap ke satu arah sejak tadi, sesekali tampak ia menghapus butiran bening yang mengalir lembut di pipi mulusnya.
Gadis itu masih memakai seragam kerjanya, Ariq duduk tepat di sebelah Nayla tanpa berbasa basi.
"Hai, mau es krim?" tawar Ariq yang langsung menyodorkan sebuah cone es krim pada Nayla.
Gadis itu menoleh sekilas pada lelaki yang duduk tanpa permisi di sampingnya itu, lalu tatapannya beralih pada es krim tersebut. Tanpa banyak bertanya ia menerima es krim dari Ariq.
"Terimakasih," jawab Nayla singkat.
Ariq tersenyum saat gadis itu mulai memakan es krim darinya.
"Kenapa kau suka sendirian seperti ini? Ini sudah hari ketiga aku melihat mu duduk malam-malam di taman seorang diri."
"Aku memang seorang diri," jawab Nayla tanpa ekspresi.
"Tidak ada orang yang benar-benar sendiri di dunia ini," ucap Ariq yang bahkan belum memakan es krimnya.
Nayla diam.
"Kenapa kau suka sekali diam?"
"Karena keheningan lebih jelas daripada kata-kata," jawab Nayla yang tidak mengubah posisi mata yang masih menatap ke satu arah.
Kini Ariq yang diam, ia menoleh pada wajah Nayla dari samping.
"Kau sangat sulit diajak bicara, aku rasa kau butuh teman."
Nayla diam lagi tanpa menjawab, ia masih memakan es krim hingga habis.
Ia menoleh pada Ariq, mata mereka bertemu. Ariq memandang wajah lelah Nayla dengan jelas saat berjarak dekat seperti ini, wajah cantik yang kehilangan seri. Tatapan gadis itu tampak sangat rapuh.
__ADS_1
"Karena tidak ada yang harus ku bicarakan," jawab Nayla pelan, mata sayunya kembali berpaling ke lain arah.
"Bicaralah, mungkin dengan bicara kau bisa sembuh," ucap Ariq yang kian mengerti bahwa gadis itu belum baik hingga saat ini.
Nayla diam lagi, membuat Ariq kewalahan.
"Mungkin tidak akan pernah sembuh," jawab Nayla pelan seraya berdiri dari duduknya, membuat Ariq terdiam cukup lama.
Ariq ikut berdiri, ia mengernyitkan dahi saat Nayla telah berjalan meninggalkannya begitu saja.
"Ckkkk..... Baru kali ini ada wanita mengabaikan ku separah ini," umpatnya kesal menatap punggung Nayla yang menjauh.
Ia segera menyusul Nayla yang telah berjalan keluar taman.
"Kau ingin pulang?" tanya Ariq saat mensejajarkan diri dengan Nayla.
Nayla hanya mengangguk tanpa berkata-kata.
"Pulang kemana?" Ariq segera merutuki pertanyaan konyolnya.
Nayla berhenti, ia melirik pria yang jauh lebih tinggi darinya.
"Aku akan pulang ke kontrakan ku, terimakasih es krimnya. Kau bisa berhenti mengikuti ku sampai di sini."
"Lalu?"
"Aku, aku hanya merasa kau seorang perempuan tidak baik berjalan sendiri sudah hampir larut, bagaimana jika ada yang menculik mu?"
Nayla kembali berjalan, Ariq masih mengikuti nya dari belakang.
"Kenapa masih mengikuti ku?" tanya Nayla yang kembali menatap Ariq.
"Aku hanya ingin mengantar mu pulang, ini sudah malam," jawab Ariq polos.
"Terimakasih, tapi ini sudah dekat."
"Beri aku nomor ponsel mu!"
Nayla terdiam. Ia tidak menjawab melainkan meneruskan langkah menuju rumah kontrakan yang memang sudah di depan mata.
"Hei."
Nayla tidak menghiraukan Ariq yang menyusul langkahnya lagi.
__ADS_1
"Nayla," panggil Ariq yang tanpa ia sadari mencegah Nayla pergi dengan memegang tangan gadis itu.
Nayla menoleh tangan dingin pria itu pada lengannya.
"Maaf." Ariq segera melepas Nayla.
"Aku tidak punya ponsel."
"Apa? Ah itu mustahil, aku melihatnya ketika di rumah sakit."
"Sudah ku jual kemarin," jawab Nayla datar.
Ariq terdiam.
"Kau butuh uang?"
Nayla menggeleng.
"Aku butuh istirahat," jawab Nayla yang tanpa mereka sadari, ia telah berada di depan pintu sebuah rumah tempat Nayla bernaung saat ini. Kontrakan sederhana cukup untuk dihuni seorang saja.
Ariq bernapas kasar dibuat gadis itu.
"Baiklah," cetus Ariq kehilangan kata-kata.
Namun ia belum juga beranjak meski Nayla telah membuka kunci pintu.
"Aku cukup penasaran padamu," kata Ariq lagi saat mendapat tatapan dari Nayla.
"Terimakasih."
----
Ariq mengerutkan dahi lagi.
"Untuk apa?"
"Terimakasih sudah mengantarku pulang, aku akan masuk sekarang."
Ariq terdiam, ia hanya bisa mengusap lehernya yang mulai dingin karena angin bertiup ke arahnya. Nayla sungguh gadis aneh yang membuatnya penasaran, begitu pikir Ariq saat ini.
Ariq ingin berkata lagi namun lebih dulu Nayla menghilang dibalik pintu tanpa menunggu tanggapannya lagi.
"Aku akan datang lagi besok," teriak Ariq dari luar.
__ADS_1
Hening. Tidak ada jawaban.