
Nayla bangun pagi-pagi, menyiapkan pakaian suaminya dan segera turun dari kamar menuju dapur, belum ada anggota keluarga yang ke dapur. Semua masih sibuk dengan urusan di kamar masing-masing seperti mama mertuanya yang tengah sibuk berkemas barang dan pakaian untuk kembali Amerika.
Satu minggu pasca menikah, Nayla harus pula menelan kekecewaan tentang kenyataan bahwa suaminya memang belum menidurinya. Nayla berpikir positif saja mungkin Ariq belum siap.
Hanya berciuman seperti biasa tidak sampai bersetubuh, Nayla tidak mempermasalahkan lagi hal itu jika memang Ariq belum siap pikirnya, sikap Ariq seperti biasa tidak ada yang berubah, hangat dan mencintainya.
Hanya saja mereka memang belum melakukan hubungan intim suami istri. Meninggalkan Ariq yang sedang berada dalam kamar mandi, Nayla membawa pakaian kotor menuju ruangan laundry.
Melewati pelayan-pelayan yang sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Di ruangan laundry.
Sudah satu minggu pula, ia mencuci pakaian suaminya menggunakan tangan seperti ia bekerja dulu, tanpa ada anggota keluarga yang tahu karena Nayla mencuci pagi-pagi sekali disaat semua keluarga masih di kamar masing-masing.
Hanya ia dan pelayan Rini di sana yang memang bertugas segala keperluan laundry pakaian semua penghuni rumah, kecuali pakaian Ariq yang dicuci dengan tangan oleh pelayan baru, namun setiap kali datang pelayan itu tidak ada pekerjaan karena pakaian Ariq telah dicuci oleh istrinya sendiri sudah satu minggu setelah menikah.
Satu minggu pula pelayan Rini mencemooh dan merendahkan Nayla yang dinilai tidak ada harganya di mata keluarga kaya raya itu hingga setelah menikah ia masih mencuci pakaian Ariq seperti pembantu.
Rini selalu sinis, terlebih Nayla bersikap dingin dan tidak menghiraukan apalagi menjawabnya hingga ia tidak puas jika bicara pada Nayla yang tidak acuh padanya.
"Lihatlah, bahkan sudah satu minggu kau masih saja seperti pembantu. Seperti awal kau masuk ke keluarga ini, percuma menikahi majikan tapi nasib masih jadi tukang cuci, aku heran apa kau dianggap atau tidak hingga tidak ada yang mencegahmu kemari, seharusnya kau sadar Nayla, mereka tidak benar-benar menganggapmu ada di rumah ini."
Rini kembali bicara menyindir dengan suara lantang, ia sesekali terkekeh melihat Nayla yang setiap hari mencuci pakaian suaminya padahal sudah ada pelayan yang akan mengerjakan itu nanti.
"Mencuci pakaian suami sendiri aku rasa dimana salahnya?" sahut Nayla santai, ia terus merendam pakaian Ariq dengan deterjen cair hingga berbusa tanpa menghiraukan perkataan Rini yang menyebalkan.
Ia melakukannya dengan telaten, setiap hari pula ia mencuci pakaiannya sendiri yang sengaja Rini pisahkan seperti tidak sudi mencuci pakaian Nayla meski memakai mesin. Entahlah pelayan yang jauh lebih tua dari Nayla itu benar-benar tidak suka bahkan sejak Nayla bekerja dulu, ia selalu saja sinis.
Lagi-lagi Nayla tidak acuh, ia sama sekali tidak menanggapi pelayan yang rupanya belum menikah meski sudah umur kepala tiga itu.
"Sayang, kau disini rupanya," ucap Ariq yang tiba-tiba datang membuat Rini bungkam ketakutan, ia tidak mengira bahwa majikannya menyusul kemari.
Rini terdiam dalam ketegangan. Ia takut Ariq mendengar ucapannya pada Nayla tadi.
Nayla menoleh, senyumnya terkembang menatap sang suami di ambang pintu.
__ADS_1
"Mas Ariq? Maaf mas Ariq, aku sudah mencegah nona Nayla kemari tapi...."
"Pergilah, aku sedang tidak ingin marah pagi-pagi seperti ini!" potong Ariq yang segera diangguki oleh Rini karena ketakutan.
Pelayan itu pergi dari sana dengan jalan yang tergesa-gesa.
Ariq melangkah ke arah Nayla.
"Kenapa kau melakukan ini?" Ariq meraih tangan Nayla dari busa sabun.
"Aku mencuci pakaian kita, tidak masalah bukan?"
"Masalahnya sudah ada pekerja yang akan melakukan semua keperluan di rumah ini, kau itu istriku bukan pekerja di sini."
Ariq menarik Nayla pelan menuju keran, ia cuci tangan mulus istrinya itu dengan air.
"Kau majikan disini, bukan tukang cuci."
Ariq berkata kesal, lalu menatap wajah Nayla yang menggemaskan.
Ariq terdiam.
"Ayolah, hanya mencuci lalu menjemurnya apa yang salah dengan semua itu? Aku istrimu, aku harus pula pandai mengerjakan semua pekerjaan rumah meski sudah ada pembantu setidaknya bergerak membuat badanku bugar. Aku akan gendut jika hanya diam saja."
Ariq tersenyum, ia membelai pipi Nayla yang tampak sedikit basah kena air.
"Ayolah, sebentar lagi selesai. Tunggulah di kamar. Ini masih sangat pagi."
Ariq menggeleng, " Karena aku tahu kau tidak bisa dipaksa berhenti, maka aku akan ikut membantu mu biar cepat selesai."
"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Tidak akan lama," cegah Nayla.
"Tidak, ayo ku bantu! Bukankah salah satu tugas suami adalah membantu pekerjaan istrinya."
Ariq menarik tangan istrinya lagi menuju baskom besar yang telah merendam pakaian mereka di sana. Nayla tersenyum.
__ADS_1
"Aku harus apa?" tanya Ariq bingung.
"Aku mencuci dan kau boleh membilasnya dengan air ini, lalu keringkan ke dalam mesin pengering itu!" tunjuk Nayla pada mesin cuci.
"Aku bingung!" Ariq menggaruk kepalanya terheran.
Nayla terkekeh, "Itu karena kau hanya pandai memberi perintah saja."
"Oke baiklah, ayo tunjukkan aku caranya!"
Nayla menggelengkan kepala, sungguh ia semakin jatuh cinta pada sosok suami yang seperti ini.
"Seperti ini!" Nayla menunjukkan cara membilas pakaian dengan air bersih beberapa kali.
Ariq mulai mengikutinya. Pria itu terlalu serius, Nayla memiliki ide mengerjai suaminya. Ia usap busa sabun ke wajah Ariq dengan tawa geli. Membuat Ariq kesal padahal ia sudah mencoba belajar dengan serius.
Alhasil mereka bermain air, saling siram bahkan lari-larian sambil tertawa geli. Ariq menangkap tubuh Nayla dan mengangkatnya hingga Nayla segera meraih leher suaminya agar ia tidak terjatuh.
"Mas Ariq hentikan, perutku sakit tertawa."
Nayla diturunkan, mereka saling memandang sejenak sebelum ciuman bibir menjadi adegan terakhir aksi bercanda mereka di pagi buta seperti ini.
"Kau istri idaman sayang, aku menghargai apa yang kau lakukan sekarang. Mencuci pakaian tidak membuatmu terlihat rendah, malah semakin membuatku jatuh cinta," ucap Ariq tersenyum lagi seraya mengusap bibir Nayla yang basah oleh liurnya."
Ariq memeluk istrinya dengan perasaan membuncah, siapa yang tidak bahagia punya istri pandai dalam urusan pekerjaan rumah. Sehebat-hebatnya seorang wanita karir lebih hebat lagi wanita yang mengurus rumah tangga menurut Ariq, ia bangga pada Nayla.
"Aku akan membantumu hingga selesai."
Nayla mengangguk lagi, setelah puas berciuman lagi dan lagi akhirnya pasangan itu mulai meneruskan niat untuk menyelesaikan pekerjaan cuci mencuci.
####
Sekarang bukan urusan cuci mencuci mas Ariq yang jadi soalan kami, masalahnya kapan malam pertama, gila ya udah satu minggu dianggurin. ihhhhh jahat.
Ga gatel apa, pengen *****-grepein bini misalnya? raba sana sini kan asoiiiii tu, ih mas massssss, kamu menyebalkan!!!!
__ADS_1